Awas Typo!!
________
Nayara berjalan menuju belakang gedung sekolah. Dia hanya seorang diri, karena Reyna dan teman baru mereka dia suruh untuk lebih dulu ke kantin.
Sebelum bel istirahat berbunyi tadi, dirinya mendapat pesan dari sang kekasih, Rey. Isinya, Rey meminta Naya untuk berjumpa di belakang sekolah.
Karena sudah lama juga tidak menghabiskan waktu dengan pria yang merupakan cinta pertamanya, Naya pun menyetujui dan dengan riang hati melangkah menemui sang pujaan hati.
Setibanya di belakang sekolah, senyuman merekah di bibirnya saat melihat sang kekasih yang tengah menanti kehadirannya.
Rey bersandar pada tembok dengan mulut yang sibuk mengunyah permen karet. Saat melihat Nayara, dia pun menegakkan tubuhnya dan menatap gadis cantik yang sedang berbunga-bunga itu dengan tatapan datar.
" Lama, " Ucapnya dingin.
" Maaf, Kak Rey. Tadi aku— ".
" Gue gak suka basa basi. Langsung aja, bilang apa loe sama Vika? " Potong Rey.
Nayara terkejut. Dia menatap Rey dengan mata sayunya, membiarkan mulutnya setia tertutup rapat. Enggan menjawab pertanyaan yang pastinya akan diakhiri dengan luka baru di hatinya.
" Perlu gue perjelas, Naya? ".
Nayara menggeleng kecil. Dia menunduk seraya menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya dia memberanikan diri manatap Rey.
" Bukan aku yang salah, Rey. Tapi Vika! " Bela Nayara.
" Dia yang bully aku, dia sama teman-temannya yang duluan seret aku ke kamar mandi terus nampar aku. Kamu tahu sendiri alasannya, Rey. Mereka ingin kita— ".
" Putus. Gue tahu, " Potong Rey. " Kalau itu yang mereka inginkan, kenapa gak loe iyain aja? ".
" Rey, " Nayara menatap kekasihnya tidak percaya.
Rey memutar bola matanya. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan sedikit membungkuk menyamakan dengan tinggi Naya.
" Tiga minggu enam hari. Tunggu semuanya berakhir, " Bisik Rey.
" Maksud kamu apa? ".
" Loe tahu sendiri nanti. Udah, yah? Gue sibuk. Sana istirahat! ".
" Kamu ada hubungan apa sama Vika? ".
Pertanyaan Nayara membuat langkah Rey terhenti. Dia yang baru membalik badan hendak pergi itu kembali menatap Nayara dan mendekatinya.
" Bukan urusan loe, " Jawab Rey memajukan wajahnya.
" Jelas urusan aku, Rey. Aku itu pacar kamu, ".
Rey tersenyum mengejek.
" Pacar aja bangga. Inget, loe bukan istri gue! ".
Nayara memejamkan matanya. Perlakuan Rey semakin hari semakin menjadi, dan semakin membuat hatinya hancur berkeping-keping.
" Kenapa berubah, Rey? Kamu gak kayak Rey yang aku kenal dulu, " Lirih Nayara menunduk.
Rey menatap jijik pada gadis dihadapannya ini.
" Jelas beda. Loe tahu gue siapa, loe tahu kehidupan gue kayak gimana. kalau dibandingkan sama elo yang hidupnya tergantung belas kasih orang lain, loe ngaca sendiri deh! ".
Jleb.
Hati Nayara sakit, sangat sakit. Pria yang selalu hadir dalam mimpinya tiap malam, pria yang selalu dia hayalkan menjadi imamnya di masa depan, justru memandangnya sama seperti orang-orang kebanyakan.
Rendah.
Nayara menghapus air matanya yang sempat jatuh, dia kembali mendongakkan kepala menatap Rey.
" Aku memang bukan siapa-siapa jika dibandingkan sama kamu, Rey. Tapi tolong, jangan katakan itu! Karena hati aku gak terima, jika mendengar kalimat yang sering aku dengar keluar juga dari mulut kamu. "
" Gue cuma ingetin, ".
" Kamu? Hah, " Nayara membuang muka, dia melipat bibirnya ke dalam dan mengusap kepalanya ke belakang.
Tiba-tiba Rey mendekat, memojokkan Nayara ke dinding dan memiringkan kepalanya menggapai telinga Nayara.
" Loe, bukan apa-apa selain debu di kaki gue. Nayara, ".
Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, Rey. Pria yang dikenal irit bicara itu melangkah pergi meninggalkan gadis yang kini ambruk di atas lantai.
Nayara, air matanya kembali jatuh dengan kepala tertunduk. Betapa sakitnya dia, betapa sakitnya hatinya. Apa salah, seorang anak panti menyukai pria tampan nan mapan seperti Rey?.
" Mungkin memang aku yang terlalu percaya diri untuk bisa bersanding denganmu, Rey. Sampai aku tidak sadar, disinilah posisiku sebenarnya. " Gumam Nayara.
Nayara menangis, dia mengeluarkan air mata sebisanya. Hatinya yang remuk, juga rasa percaya diri yang sempat dirinya bangun karena Reyna kembali runtuh dengan kenyataan yang Rey ingatkan.
Sungguh sulit mencintai orang yang tidak sederajat dengan kita. Sulit, hanya membuat sakit.
--
Di kantin, Reyna dan teman barunya baru saja menyantap makanan yang beberapa saat lalu mereka pesan. Tidak lupa juga dengan Nayara yang kini bergabung dengan mereka.
Nayara. Sungguh gadis yang pintar menyembunyikan perasaan. Lihatlah! Sendirian dia menangis, di depan orang dia tersenyum dengan lebarnya.
Bodoh Rey yang menyia-nyiakannya.
" Oh iya, gue belum ketemu Kakak loe Gel. " Ucap Freya.
Freya adalah teman baik Reyna selama di New York. Mereka akrab karena pada saat itu hanya Freya yang bisa berkomunikasi dengan Reyna menggunakan bahasa Indonesia.
Yah.. Freya adalah gadis blasteran layaknya Reyna. Usia mereka beda satu tahun, lebih tua Freya.
" Bentar lagi juga datang dia, " Balas Reyna santai.
" Gitu ya? ".
" Hm, ".
Freya gantian menatap Nayara.
" Naya, loe dari mana tadi? " Tanyanya.
" Aku dari toilet. Kebelet soalnya, " Balas Nayara tersenyum ramah.
" Toilet? Masa sih? Tadi gue ke— ".
" Freya? Kapan loe ke sini? " Ucapan Freya terpotong saat David dan Morgan menghampiri meja mereka.
" Woah.. Mas bro! " Freya memeluk David sekilas.
" Gimana kabar loe? Jarang banget kita ketemu, ".
" Iyalah jarang! Orang loe nya juga nerep di sini, " Sewot Freya.
David terkekeh. Tiba-tiba matanya terpaku pada gadis yang sedang tersenyum manis disamping adiknya. Cantik, dan.. Menarik.
" Kedip! ".
Seruan Reyna membuat David tersadar. Dia menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal lalu tersenyum kaku saat Freya menatapnya heran.
" Loe kenapa sih? Baru datang udah ngelamun. Mikirin utang yah loe? ".
" Astaga tu congor.. Minta gue gaplok ya loe?! " Kesal David membuat Freya tertawa.
" By the way.. Angel, siapa? " Tanya David dengan ekor mata menunjuk Nayara.
" Dia Nayara, temen gue. Naya, loe tahu kan dia Kakak gue? "
Nayara mengangguk kecil.
" Kenalin, gue David. " David mengulurkan tangannya, membuat Nayara dengan kaku menerima ulurannya.
" Nayara, ".
Seperdetik mereka saling tatap, dengan David yang seperti enggan melepaskan tangan hangat yang sedang dijabatnya. Dan lagi-lagi si pengganggu Reyna membuyarkan segala lamunannya.
" Ekhm! " Dehem Reyna keras.
Secepat kilat Nayara melepaskan jabatan mereka.
David kesal, dia mendelik pada Reyna yang seperti menahan tawa.
" Matanya matanya, " Ledek Reyna.
Ketika asik menertawakan wakah kesal sang Kakak, secara tidak sengaja mata Reyna tertuju pada tiga pria yang sedang berkumpul di meja yang tidal jauh dari tempat mereka berada.
Rey, mata tajamnya menatap tidak suka interaksi antara David dengan gadis yang masih berstatus sebagai pacarnya. Dan tatapannya itu disadari oleh Arzan dan Erza yang terduduk bersamanya.
" Jangan bilang loe jealous, Rey. "
Suara Erza membuat Rey tersadar. Dia tertawa, menatap Erza yang mempertanyakan hal sampah kepadanya.
" Jealous? Seorang Rey Bramasta Jealous sama wanita yang didapatkan dengan cara taruhan? Ah come on men! Enggak lah! " Elaknya tertawa garing.
Arzan menatap Rey dengan matamemicin.
" Jangan bohongin hati loe sendiri men! Kalo loe emang suka sama Nayara, udah seriusin aja! Lagian dia udah jadi milik loe, meskipun awalnya cuma taruhan doang. " Ucapnya.
" Bener tuh! Loe mesti gercep, Rey! Keligatannya si David suka sama mainan loe, " Sambung Erza.
" Wanita bukan mainan, Erza. " Larat Arzan. " Loe tahu sendiri, kita pernah menyesali perbuatan kita yang malah membuat taruhan dengan melibatkan gadis tak berdosa itu. " Lanjutnya.
" Hem, gue inget. Bukan pernah, malahan sampai sekarang juga gue masih ngerasa berdosa. Apalagi Naya anak yatim, gak seharusnya kita jadiin dia korban. " Timpal Erza.
" Kalau David ataupun Morgan tahu perbuatan kita bulan lalu, habis kita! " Seru Arzan.
" Hm. Kita layaknya bajingann men! ".
Rey hanya mendengar tak mendengar percakapan antara kedua sahabatnya. Dia menyeruput jus dengan tatapan terpokus pada Vika yang melayangkan senyuman kepadanya.
Rey mengangkat tangannya, menampilkan jari jempol dan jari manisnya lalu dia goyang-goyangkan di sisi kepala. Mengisyaratkan jika dia akan melpon Vika sesegera mungkin.
Dan kode darinya itu disambut dengan ciuman jarak jauh dari si centil Vika.
Bodohnya Rey malah tertawa tanpa suara, meraba hatinya seolah terpikat dengan apa yang Vika lakukan.
Di tempaynya, Reyna mengepalkan tangannya kuat. Dia benci pria bajingann seperti Rey, dia benci pria yang suka memainkan wanita. Apalagi wanita itu temannya, seorang gadis baik-baik yang polos dan tidak tahu apa-apa.
" Naya, cantik banget sih. "
Ucapan David membuat Reyna tersadar, dia menatap sang Kakak yang menggombal dan beralih menatap wajah temannya yang bersemu malu.
" Jangan percaya sama dia, dasar playboy! " Semprot Freya memukul David.
David.. Menyukai Naya? Mungkinkah Kakaknya yang akan berhasil membawa Nayara keluar dari sisi gelap yang Rey buat dan mengumpulkan serpihan-serpihan hati temannya yang hancur?.
David. Yah.. Reyna bisa memanfaatkannya untuk memberi Rey pelajaran.
" True, ".
Seringaian terbit di bibir Reyna, dia menggeser kursinya mendekati David yang memang sedang terduduk di sisinya.
" Sini! ".
" Hem? " David mendekatkan telinga pada Reyna.
Reyna mendekat, memposisikan mulutnya pada telinga sang Kakak. Dia berbisik:
" Loe mau dapetin dia? Gue bantu! ".
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Topik Hidayat
lanjut thor
2021-04-13
1
she_happy
aku lebih tertarik sama cerita Batara,David & Rey 👏👏👏
2021-04-12
1
Na_ernaauk
asek lanjot
2021-04-11
1