Reyna menghembuskan nafasnya kasar. Dia berdiri dengan kedua tangan yang bersembunyi dibalik baju tebal tanpa kancing yang dikenakannya.
Hamparan ombak yang menerpa daratan dan membasahi kaki telanjanggnya membuat Reyna dapat merasakan dinginnya air pantai dimalam hari.
Yah, Reyna memang menginap di rumah Morgan. Tentu karena Mikhayla yang meminta. Berbeda dengan Nayara yang menolak dan kini sedang diantar pulang oleh Kakaknya.
Rumah Morgan memang kecil, namun terkesan mewah dengan isi serba mahal yang berada di dalam dan luarnya. Jangan lupa juga dengan pantai yang lumayan luas dengan letak disamping rumah.
Reyna menghembuskan nafasnya pelan. Membuat deru nafasnya terlihat karena cuaca malam yang sangat dingin ini.
Ekor matanya menatap kayu yang bertumpuk tak jauh dari tempatnya berdiri serta tempat duduk buatan yang sepertinya akan sangat nyaman jika dia duduki.
Ah.. Memikirkannya saja sudah membuat Reyna ngiler. Segera dia beranjak untuk menyalakan api kecil yang mampu sedikit menghangatkannya di cuaca yang dingin ini.
Rencananya Reyna juga akan membawa beberapa daging untuk dia panggang, tidak lupa dengan beberapa kaleng soda yang selama ini menjadi favoritnya.
Reyna berhenti melangkah saat melihat Morgan yang mendahuluinya membakar api dengan beberapa potongan daging dan ikan yang dibawanya.
" Morgan? ".
Dengan senyum tanpa beban, Morgan menjawab:
" Sini, Na! Gue punya ikan sama daging sapi, kuy bakar-bakar! ".
Enggan membalas, Reyna pun kembali melanjutkan langkahnya dan terduduk di samping Morgan yang sibuk menyalakan api.
" Nih! ".
Mata Reyna berbinar. Dia menatap Morgan bahagia dengan sigap menarik sekaleng soda yang pria itu sodorkan padanya.
" Thanks, ".
" Ck, dasar elo. "
" Tapi kok soda? Bir gak ada yah? " Protesan itu terdengar seperti rengekan manja di telinga Morgan.
Sambil mulai membakar ikan dan daging, Morgan menjawab:
" Gak ada! Masih untung gue beri elo yang gituan, Na. Kalau enggak, ya gak dapet. "
Reyna cemberut. Dia kesal dengan Morgan yang setelah kejadian malam itu selalu memantau dan melarangnya meminum bir maupun minuman lain yang menjadi kesukaannya.
" Perlu gue ulang, Na. Soda gak baik buat rahim jika dikonsumsi berlebihan! Loe tahu, semua yang berlebihan itu tidak baik. Kecuali cinta gue sama elo. Mau sebesar apapun gak bakalan jadi penyakit, " Celetuk Morgan.
" Cih, racun! ".
" Serius gue, Na! ".
Reyna membuka penutup kaleng dan meneguk soda yang Morgan berikan dibanding meladeni ucapan pria yang dia anggap ungkapan kata semata.
Sedangkan Morgan yang menyadari tingkah Reyna hanya terkekeh dan kembali fokus membakar sampai matang.
Setelah diberi bumbu sebelum dan sesudah dibakar, Morgan menyerahkan sepotong besar daging sapi yang sebelumnya sudah ia potong-potong dengan ukuran sedang pada Reyna.
" Nah, makan mumpung masih anget! ".
Reyna menerimanya, " Thanks, ".
" Gak cukup! ".
" Terus? " Ucap Reyna sambil mengunyah.
" Cium gue! ".
" Uhuk.. Ap— Uhuk!! ".
Morgan tertawa. Dia menyodorkan segelas air minum pada Reyna dan menepuk pelan tengkuk gadis itu.
" Calm down, Babee! Gitu amat respon loe, padahal gue cuma bercanda loh. "
Reyna menatap Morgan tajam, " Bacott! ".
Morgan tertawa. Mereka pun mulai makan dengan damai ditemani angin malam yang berhembus kencang serta suara ombak yang begitu sangat jelas di indra pendengaran mereka.
Setelah makan dan bercuci tangan, Morgan dan Reyna masih terduduk menghadap laut dengan tangan yang menjulur mendekati kehangatan api kecil yang Morgan buat.
Mata Morgan menatap lurus pada hamparan air laut di depan sana. Senyum tipis terukir di bibirnya tanpa bisa tertahankan.
" Pantai. Meskipun kejadiannya bukan di sini, tetap saja si Rey kalo diajak gak mau. Hah.. Mungkin phobianya belum ilang, " Gumam Morgan.
" Lo bilang apa? ".
Morgan menoleh. Bukannya menjawab, dia hanya tersenyum nakal pada Reyna.
" Enggak. Gue cuma mikir aja, alangkah indahnya kita bercinta dengan disaksikan oleh ombak yang menghantam pasir. Sama seperti pusaka gue yang menghantam habis sarang loe, ".
Reyna mendengus. Diliriknya tajam si mesum yang hanya menampilkan senyuman tanpa dosanya.
" Nyesel gue ajak loe ngomong. Gak guna, percuma bicara sama orang miring. " Ucap Reyna sambil berdiri.
" Eh, mau ke mana Na? " Teriak Morgan sambil membalikkan tubuhnya menatap kepergian Reyna.
" Masuk! ".
" Sekarang? Tadi gue becanda kali, Na. Masa iya gue masukun loe di sini. Dingin tahu, ".
" Sinting, " Decis Reyna. Gadis itu terus melangkah memasuki rumah kecil milik Mikhayla.
Di tempatnya, tawa khas Morgan saling bertabrakan dengan suara nyaring ombak. Jangan lupakan juga dengan cuaca dingin yang membuat si mesum sedikit mengangkat bahu.
" Gila, asli ini mah dingin banget. Si Nana, bukannya stay with me malah go leave me. " Dumel Morgan.
" Huftt.. Nasib alone, " Lanjutnya menunduk pasrah.
" Yakin loe alone? ".
Morgan mengangkat kepala. Seketika wajah tidak enak dipandang milik David terlihat di sampingnya.
" Kenapa loe? Datang-datang tu muka udah di tekuk aja? ".
" Gak, ".
" Elah.. Baperan amat, ".
" Siapa? ".
" Monyet! " Kesal David.
Keduanya diam sesaat, mata mereka sama-sama menatap hamparan ombak di depan sana.
" Tadi gue godain Ara, ".
Morgan masih diam di tempat, tak bergeming. Dia menunggu curhatan selanjutnya si bule rasa lokal yang sedang patah hati.
" Dia tersipu, pipinya merah. Gue suka itu. Bahkan entah kenapa melihatnya jantung gue berdebar-debar. Mungkin memang benar, gue mulai suka sama tu anak, Mor. Tapi.. ".
" Tapi apa? " Morgan tiba-tiba penasaran.
" Dia udah punya orang, " Jawab David menunduk lesu.
" Apa?! " Morgan terbelalak, menatap David dengan mulut terbuka.
" Nayara, punya pacar? ".
" Hm, ".
" Ya iyalah! Orang dia pacarnya si Rey. Elo sih, naksir orang gak lihat kanan-kiri. Jadinya kepentok pacar temen sendiri, " Ungkap Morgan.
" Jadi rumor itu.. Emang beneran? " Tanya David.
" Hm. Jangan patah hati, Vid! Cewek bukan Nayara doang! Jangan sampai persahabatan loe sama Rey hancur karena wanita, " Seru Morgan.
David hanya diam. Dia masih belum mengerti pada perasaannya sendiri. Apa ini memang cinta, atau perasaan lain yang dia miliki untuk Nayara.
Yang jelas, David nyaman saat bersama Nayara. Dan hanya saat ada Nayaralah dia tidak muntah jika menaiki bahkan mengendarai mobil. Aneh memang. Gadis itu bagaikan obat yang perlahan menjadi candu untuknya.
" Vid! ".
Sambil berdiri, David berkata:
" Cewek juga bukan hanya sepupu loe, Morgan. Jangan karena rasa gila yang loe miliki, adik gue Daddy tarik ke New york. "
" Apa— ".
" Sepupu. Ingat status kalian! " Potong David.
Dengan perasaan dongkol mengingat perkataan Nayara saat dia antar pulang tadi, David melangkah pergi tanpa menyadari perkataannya yang membuat jiwa Morgan terusik.
" Sepupu. Ingat status kalian! ".
" Sepupu. Ingat status kalian! ".
" Sepupu. Ingat status kalian! ".
Morgan tertegun. Seketika helaan nafas panjang terdengar keluar dari mulutnya.
" Gak elo, gak Daddy, keduanya larang gue. Emang apa salahnya sih, kalo gue suka sama Reyna? Bahkan mungkin udah cinta. Di mana letak kesalahanya, David? ".
Morgan menunduk. Matanya terpejam kuat dengan tangan yang saling bertautan erat di bawah sana.
" Reyna hanya sepupu, bukan adik gue. Mencintainya bukanlah sebuah dosa, " Gumam Morgan.
Tanpa disadari, ucapannya telah mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya.
Morgan mulai mencintai Reyna. Tidak, lebih tepatnya dia telah mencintai Reyna. Bahkan Morgan merasakan sakit dan tidak rela saat bayang-bayang ucapan David dan Ayahnya yang melarang keras dia untuk jatuh cinta pada Reyna.
Dosa. Itu terjadi jika kita mencintai Kakak atau adik kandung kita sendiri.
Tapi sepupu? Bukankah mencintai sepupu bukanlah sebuah dosa?.
--
Di kamarnya, Reyna merutuki dirinya sendiri saat bayangan senyum nakal Morgan terus mengisi kepalanya tanpa mau menghilang.
Rasanya sungguh kesal dan ingin memusnahkan sepupu gila yang berhasil membuat dia kepikiran.
" Sialan. Seharusnya gue gak mikirin si mesum itu. Astaga Angel.. Otak loe tercemar, " Gumam Reyna menepuk-nepuk pelan kepalanya.
Reyna terdiam saat bayangan percakapan dan senyuman mesum Morgan kembali menghantam ingatannnya.
Reyna akui Morgan memang tampan, bahkan lebih tampan dari Daddynya. Dan dia juga tahu jika Morgan itu orang baik, namun tertutup oleh tingkah dan sifat mesumnya.
Baik? Tentu saja! Meskipun otaknya dipenuhi dengan dada dan paha, tapi Morgan tidak pernah bertindak kurang ajar kepadanya. Bahkan seingat Reyna, Morgan selalu berbuat baik kepadanya, juga kepada Kakaknya.
Membayangkan segala tingkah tengil dan wajah menyebalkan Morgan dengan perkataan mesumnya membuat senyuman kecil terbit di bibir Reyna. Hingga tanpa sadar dia berucap:
" Loe ganteng, tapi sinting. Sayang, gue gak bisa suka sama loe, Morgan. "
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
maestuti dewi saraswati
lanjut thor
2021-09-10
1
Topik Hidayat
lanjut thor
2021-04-30
1
Mikeyy Nouna Muda
smangat thor lebih sering up nya biar bacanya makin smangat
2021-04-30
4