Kepala Sekolah menatap remeh pada siswi yang berdiri angkuh di hadapannya.
" Kamu yakin, mampu mengerjakan semua ini dalam waktu dua jam? Di hadapan Saya? " Tanyanya mengulangi pertanyaan yang sebelumnya sudah dia tanyakan.
" Ya, " Jawab Siswi yang tidak lain adalah Reyna.
Setelah Sekolah dibubarkan, Reyna memberitahu David jika dirinya akan pulang telat bersama Nayara.
Yah, Nayara. Sekarang pun teman barunya itu sedang berdiri di sampingnya, penasaran dengan keputusan yang Kepala Sekolah ambil.
" Ha.. Prosedurnya tidak semudah itu, Nak! Kamu harus melewati berbagai tes. Bukan hanya tes tulisan, tapi juga tes lisan. "
" Saya siap! " Jawab Reyna mantap.
" Jika perlu, jangan adakan tes tulisan saja. Ayo, tes Saya secara lisan! " Ujar Reyna mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah itu menahan nafasnya sejenak, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Dia menatap Reyna serius.
" Saya tahu kamu keturunan yang berada, Saya juga tahu kamu mempunyai IQ di atas rata-rata. Tapi— ".
" Maaf menyela, Pak. Bapak hanya membuang-buang waktu jika menceramahi Saya terus menerus. Saya tahu konsekuensinya apa, dan Saya juga siap menerima itu semua. "
" Jadi sekarang, nyalakan perekam suara dan ajukan pertanyaan kepada Saya! Jika Saya memang tidak pantas melewati kelas, Saya adukan pada Daddy. " Celetuk Reyna membuat Kepala Sekolahnya memundurkan sedikit badan.
" Bapak kira kamu akan menerima keputusan yang Bapak ambil. Tapi ternyata, Saya adukan pada Daddy. " Ledeknya.
" Ya karena Saya yakin. Dengan kemampuan yang Saya miliki, Saya bisa melewati kelas. Bukan hanya satu kelas, bahkan langsung kuliah saja Saya bisa jika mau. " Ucap Reyna sombong.
" Tapi Saya kasihan pada Kakak Saya, dia bodoh, masa iya adiknya kuliah Kakaknya baru kelas 12 SMA. "
Kepala Sekolah menggelengkan kepalanya.
" Pusing sendiri Saya debat sama kamu, ".
" Ayo mulai! ".
Akhirnya, tidak ada pilihan lain selain menuruti kemamuan si siswi yang katanya cerdas itu.
Di samping Reyna, Nayara menatap kagum pada gadis yang usianya lebih muda satu tahun darinya itu.
Reyna menjawab semua pertanyaan Kepala sekolah dengan lancar tanpa jeda. Bahkan untuk soal matematika, tanpa di hitungpun Reyna langsung tahu jawabannya!.
" Woh, hebat juga kamu. " Ucap Kepala sekolah mengakhiri sesi tanya jawabnya dengan Reyna.
" Baru tahu dia, " Gumam Reyna.
" Baiklah. Karena Saya akui kamu menang cerdas, kamu bisa pindah kelas. Bukan hanya kelas sebelas, kamu juga bisa langsung ke kelas dua belas jika mau. "
" Karena di antara pertanyaan tadi, Saya selipkan soal kelas dua belas dan kamu jawab semuanya dengan benar. "
" Jadi, Reyna Angelica. Kelas mana yang kamu pilih? Sebelas, atau.. ".
" Cukup, Pak. Kelas sebelas saja, " Ucap Reyna.
Kepala Sekolah mengangguk.
" Besok kamu bisa langsung masuk sekolah, tanpa mengikuti Masa Orientasi Siswa. "
" Karena Saya kelas sebelas. "
" Ya ya, kelas sebelas. " Ucap Kepala Sekolah membuat Reyna dan Nayara terkekeh.
Kepala Sekolah berdiri dari duduknya, membuat Reyna dan Nayara ikut berdiri.
" Selamat, siswi jenius sombongku. Kamu berhasil jadi kodok, yang sukanya melompat-lompat. "
Sambil menjabat tangan Kepala Sekolah, Reyna tertawa.
" Terima kasih, Bapak tanpa rambut. "
" Kualat kamu! ".
Reyna tertawa, mereka pun melepaskan jabatan tangan mereka.
" Untuk lapor dan tes lain yang kamu jalani kedepannya, akan Saya kabari lagi nanti. "
" Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih, ".
" Ya, ".
" Saya permisi, ".
" Wa'alaikum sallam, ".
" He he.. Iya, Assalamu'alaikum. " Ralat Reyna dan Nayara.
" Telat! ".
--
" Sumpah, keren banget kamu. Aku saja tidak tahu hampir setengahnya dari pertanyaan dari Bapak Kepala Sekolah tadi, " Ucap Nayara.
Mereka berjalan di lorong sekolah yang sepi. Karena para murid sudah dipulangkan dari satu jam yang lalu.
" Iyalah, gue kan cerdas. "
" Ck, iya iya. Percaya deh aku, ".
Sesampainya di parkiran, Reyna melirik Nayara.
" Lo pulang naik apa? Bawa kendaraan gak? " Tanya Reyna.
" Kendaraan apanya, motor saja aku selalu minjem punya Bunda kalo kerja. Enggak, Angel. Aku naik bus, ".
" Bunda? Kok ibu lo gak jemput? Yakin mau naik bus? ".
" Bunda panti maksud aku. Kalau Ibu aku, gak tahu siapa Ibu aku. "
Saat itulah Reyna sadar jika Nayara adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
" Eh, sorry sorry. Gak maksud gue, ".
Nayara tertawa, " Santai aja kali! Kamu malah orang yang paling sopan respons waktu bilang aku anak panti. Yang lain mah lebih dari itu! ".
Reyna diam sesaat, kemudian dia menggenggam tangan Nayara erat.
" Yang sabar yah? Gue tahu ini berat bagi lo, ".
" Kenap berat? Malahan aku bersyukur ditinggalin di panti, gak di tempat sampah. Kalau waktu itu orangtua aku ninggalin di tong sampah, mungkin sekarang aku jadi anak jalanan. "
Reyna berdecak kagum para cara berfikir Nayara. Rupanya keputusannya menjadi teman Nayara memang tepat.
" Angel, gak jadi pulang? Kamu pasti di jemput sopir kan? ".
" Iya, sopir gue udah dateng. Ayok! " Reyna mengganggam tangan Nayara dan menariknya pergi.
" Tunggu, kita mau ke mana? ".
" Ke rumah lo, " Jawab Reyna terus berjalan.
" Ke panti? ".
" Iya. Sebelum itu anter gue Shopping dulu, beli kebutuhan buat anak-anak di sana. "
" Gak usah, Angel! Di sana banyak anak, takutnya mereka— ".
" Gak apa-apa, ayo masuk! " Reyna mendorong Nayara masuk ke dalam mobilnya, mobil yang membawa mereka pun melesat meninggalkan halaman sekolah.
--
...Di Panti Asuhan.. ...
" Kak Rara!! " Teriak para anak-anak panti saat melihat Nayara turun dari mobil.
" Hai, sini sayang! " Nayara merentangkan tangannya, yang langsung disambut dengan pelukan hangat para anak panti.
" Kakak Rara, siapa? ".
Nayara menatap Reyna yang sibuk membantu sopir membawa barang-barang yang tadi mereka beli.
" Anak-anak, itu temannya Kakak. Nanti kalian harus sopan yah sama dia! ".
" Teman? Tumben Kakak bawa teman ke sini. Kalau gitu, pasti teman Kakak memang baik. " Ucap bocah berusia tiga tahunan.
" Iya, teman Kakak memang baik. Jadi kalian harus sopan yah?! " Anak-anak mengangguk.
" Naya! ".
" Sana! Kalian berjajar yang rapi di sana! Kakak baik itu akan memberi kalian hadiah. Ingat, jangan ribut dan harus sopan. Oke? ".
" Baik, ".
" Anak pintar. Sudah sana! ".
" Yee!! " Para anak-anak bersorak gembira, mereka berlari masuk dan berjajar sesuai permintaan Nayara.
Sementara di luar sana, Nayara menghampiri Reyna.
" Ya, Angel? ".
" Bantu gue napa? Berat nih, ".
" Oh, iya maaf. "
" It's okay, ".
" Pak, udah belum?! " Teriak Reyna pada sopir keluarganya.
" Sudah Non, mari! ".
Reyna mengangguk, mereka pun berjalan memasuki panti dengan banyaknya dus serta keresek besar ditangan ketiganya.
--
" Assalamu'alaikum, ".
" Wa'alaikum sallam, ".
Setelah menyimpan barang bawaannya, Reyna berjalan menuju Nayara yang mengobrol dengan wanita paruh baya yang Reyna yakini adalah Ibu panti.
" Siapa ini Neng? Cantik banget, ".
" Teman Naya, Bun. Angel, Ibu panti. "
" Hallo, Saya Reyna. " Reyna menyalami Ibu panti.
" Oh, Neng Reyna. Naya, kenapa kamu panggil Angel? ".
" Kepanjangan nama Saya, Bun. Reyna Angelica, " Reyna yang menjawab.
" Oalah, begitu rupanya. "
" Begini, Bun. Saya datang dengan sedikit barang dan makanan untuk para anak panti. Semoga suka, ".
" Alhamdulillah, rezeki anak-anak. Terima kasih ya, Neng. Semoga apa yang Eneng beri Allah kembalikan dengan yang lebih, ".
" Aamiin, ".
" Ya sudah, silahkan atuh dibagikan! Sekalian kenalan, " Ujar Ibu panti sambil terkekeh.
Reyna tersenyum dan mengangguk. Dia dan Nayara pun mulai menghadap anak-anak yang berjejer rapi.
" Hallo, Kak Nana! " Sapa anak-anak saat Reyna berdiri di hadapan mereka.
Mendengar panggilan itu, seketika Reyna teringat akan Morgan.
" Kok Nana sih? Panggil Kakak Angel dong, " Pinta Reyna.
" Angel susah, kayak nama Inggris. Kalau Nana, kan nama terakhir Kakak. " Ujar bocah tujuh tahunan.
Reyna tertawa kecil, rupanya anak-anak mendengar percakapannya bersama Ibu panti tadi.
" Ya sudah, gak apa-apa. Panggil Kakak sesuai kemauan kalian saja, " Ujar Reyna.
" Panggil Sayang boleh dong? ".
" Huhh!! ".
Reyna kembali tertawa, dia mengusap kepala bocah laki-laki yang kelihatannya paling tua di antara anak-anak yang lain.
" Boleh kok. Kakak juga panggil kamu, sayang. Boleh? " Goda balik Reyna.
" Boleh-boleh!! " Pekiknya senang, membuat anak-anak yang lainnya tertawa.
Nayara ikut tertawa.
" Maaf yah, Angel. Anak-anak memang gituh, ".
" Gak apa, namanya juga anak-anak. " Ujar Reyna.
" Ayo Naya, bantu bagiin makanan sama mainannya! ".
" Oke, ".
Reyna dan Nayara mulai membagikan barang serta makanan pada setiap anak-anak di sana.
" Hati-hati, satu-satu, ya... Ayo ambil. Bilang apa? ".
" Makacih, " Ucap si kecil membuat Reyna tertawa dan mencubit gemas pipinya.
" Pulang sekarang, Angel? " Tanya Nayara setelah mereka selesai membagikan makanan.
" Main dulu lah! Apalagi di sini kebanyakan anak kecil, gue suka banget sama anak kecil. "
" Ah.. Baiklah. Ayo ke taman! ".
" Yuk! ".
Berjam-jam Reyna habisakan dengan bermain bersama anak-anak panti. Mulai dari mengggambar bersama, makan, sholat berjama'ah, juga mengaji bersama.
Sampai jam menunjukkan pukul tujuh malam, dia pamit pada semua dan pulang ke rumahnya.
Di perjalanan, Reyna menghidupkan ponsel yang sempat dia matikan. Getaran kencang membuat ponselnya sedikit lambat.
" Siapa si yang nelpon? Banyak banget, sampe hp gue low. " Gerutu Reyna.
Tidak lama, nama David tertera dengan nama:
Ankam is Calling..
Reyna menggeser tombol hijau, kemudian menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
" Hallo, Kak? Kenapa? ".
" Di mana lo? Gak tahu jam berapa? Kenapa ponsel lo gak aktif dari tadi? Apa gunanya teknologi? ".
Reyna menghembuskan nafasnya pelan saat mendapat semprotan marah dari sang Kakak.
" Sorry, tadi gue main sama— ".
" Bagus, bagus lo. Baru sekolah sehari udah bikin ulah, pulang— ".
" Angel depan rumah, bye! ".
Tut.
Reyna menyimpan kasar ponsel ke dalam sakunya. Hembuskan nafas kasar terdengar dari mulutnya, membuat si sopir menoleh pada cucu majikannya.
" Tuan Muda khawatir, Nona. Maaf, Saya juga lupa bawa ponsel tadi. Jadi lupa ngabarin, ".
" Iya, ngerti kok. Gak apa-apa, ".
--
Pintu rumah terbuka lebar, dengan mobil mewah berwarna putih terparkir di depan rumah. Yang mana membuat Reyna mengira ada tamu yang datang.
" Siapa yang bertamu sepetang ini? Ck, gak ada otak bener. " Gumamnya sambil berjalan memasuki rumah.
" Hallo, Anak kampung. Angel pulang, mana nih ceramahnya!! " Teriak Reyna.
" Rain!! ".
Reyna menoleh, seketika langkahnya terhenti saat melihat auntynya Mikhayla yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan bayi digendongannya.
" Aunty, kapan di sini? ".
" Ck, harusnya Aunty yang tanya. Kapan kamu ke sini? Kok gak ngabarin Aunty sih? " Semprot Mikhayla.
" Iya, sekali ngabarin nyuruh-nyuruh. Dasar, anak Marchel. " Tambah Mikhael.
Reyna menyengir.
" Kan terpaksa, Uncle. Dari pada Angel hubungin Daddy? Hayo.. Tar dipisahin lagi loh sama Aunty Key nya, " Goda Reyna membuat Mikhael mendengus.
" Inget jalan balik juga lo, " Suara David terdengar, membuat Reyna menoleh ke asal suara.
Reyna syok, mulutnya terbuka lebar saat melihat sosok halus yang ada di samping Kakaknya.
" K-Kok, elo— ".
Morgan menampilkan wajah tengiknya, " Hallo, Adik sepupu tercintah! Kenapa? Kaget yah lihat gue yang ganteng? Jangan kaget, bahkan lebih kaget lagi kalo gue bilang mulai sekarang kita satu rumah. Seneng kan lo? Oh, pastinya. "
Reyna menggeleng kecil, " Gak mungkin, ini bencana. " Gumamnya.
_-_
TBC!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Fitria Dafina
Sepupu tengil emang Si Morgan 🤣🤣🤣
2021-08-20
1
she_happy
kocak Morgan 😁😁
2021-03-28
2