Di Rumah sakit Gio memeriksakan Hidungnya yang bengkak yg tak kunjung pulih. Di temani dengan Boby sang asisten yang sudah menjadwalkan untuk membuatan janji dengan dokter sekaligus temannya diwaktu SMA.
Berhenti di depan pintu masuk ruangan sang dokter yang terbuka itu, di sambut oleh seorang perawat yang sedang mengambil berkas yang di tinggalkan oleh sang pemilik ruangan.
"Permisi dimana dokter Juan, "Tanya Boby.
"Silahkan masuk Pak, "apa bapak sudah membuat kanji, "Saut perawat itu.
"Iya kami sudah membuat kanji lewat sambungan telpon kemarin sore".
"Oh.. Baiklah, saya akan memanggilkannya, beliau sedang memimpin breaving pagi ini, "saga permisi". Ucap perawat itu dan berlalu keluar ruangan dengan membawa berkas di tangannya.
Media prima itu memandangi kepergian perawat itu.
"Bos apa aku kelihatan setua itu, " Tanya Boby.
"Memangnya kenapa".
"Kenapa perawat itu memanggilku bapak".
Gio memicingkan matanya mendengar pertanyaan yang di lontarkan sang asisten.
"Apa kamu berharap perawat itu memanggilmu Mbak, " Ucap Gio dengan menekan kata Mbak sembari menyunggingkan senyuman.
"Itu lebih baik dari pada sebutan bapak".
Belum sempat membalas perkataan asistenya itu. Dari arah pintu terdengar deheman seseorang.
"Eghmm.., " Gionino, "sapa dokter itu.
"Hay Man!!" saut Gio sembari memeluk teman lamanya itu.begitu juga dengan Boby mereka berpelukan. Bukan seperti teletubies yaa, mereka berpelukan layaknya seorang pria.
"Bob, "Semakin lama kamu semakin cantik saja, "ucap Juan.
"Ahh.. Kamu bisa ajah, "jawab Boby dengan gaya manjanya.
"Kenapa kamu malah memuji banci kaleng ini, "saut Gio.
"Banci kaleng".
Ucap Juan hingga tidak bisa mengontrol tawanya.
"Iya.. Oma yang menjuluki sebutan itu untuknya, "jelas gio.
"Oh yaa!!, "
"Sudah sudah bahas yang lain saja, "tukas boby
Mereka bertiga tertawa kembali.
"Baiklah aku sudah tau kedatanganmu kemari, ayo kita keruang Lab saja sekarang".
Di perjalanan menuju ruang Lab mereka berbincang bincang membahaa tentang luka yang di alami temannya itu. Dan menceritakan sikap Omanya yang malah mendukung perbuatan gadis itu.
Dokter Juan hanya tertawa membayangkan kekesalan temannya. Dia akui kalau temannya itu jago berkelahi sejak SMA. Tapi hanya dengan seorang gadis ia bisa babak belur seperti itu.
Setelah pemeriksaan selesei mereka kembali ke ruangan Juan.
"Bagaimana dengan hasilnya, " tanya Gio.
"Hasilnya akan keluar nanti Siang, "ucap juan.
"Aku akan mengantarkannya kerumahmu kakau kau mau, ".
"Itu lebih baik, "
"Aku akan ShareLook setelah pulang".
"Apa Bos tidak ke kantor hari ini, "Tanya boby
"Dengan mukaku seperti ini"Tidak"aku akan libur beberapa hari, "saut Gio.
"Tapi besok kita ada meeting dengan beberapa Kolage di gedung milik perusahaan Admadja".
"Kau saja yang mewakiliku".
"Selalu saja begitu, " gerutu boby
Gio hanya tersenyum mendengar gumaman asistenya itu. Setelah pemeriksaan itu selesei Gio kembali ke kediamannya.
"Sayang.. Kenapa sudah pulang, " tanya mama Gio.
"Aku mau istirahat saja mami, badanku berasa pegal semua, "ucap Gio.
"Ya sudah istirahatlah!! ".
"Apa perlu mami buatkan bubur untukmu Nak, " Tanyanya lagi.
"Tidak usah!!.
Setelah kepergian Gio Ny Selly menanyakan keadaan anaknya kepada sang asisten itu.
"Kenapa dengannya Boby, apa dia sudah berobat".
"Sudah mama Bos, saya barusan sudah mengantarkannya ke Rumah sakit untuk melakukan foto Rontgen".
"Bagaimana hasilnya".
"Belum tau, "hasilnya akan keluar nanti siang dan akan di antar langsung oleh Dokter Juan".
"Ohh baiklah mama akan tunggu kalau begitu".
"Baiklah mama Bos saya mau pamit ke kantor kalau begitu".
"Apa kamu tidak ikut libur juga hari ini".
"Tidak mama Bos pekerjaanku masih banyak di kantor. Besok ada pertemuan denga kolage saya harus mempersiapkannya hari ini".
"Emm.. Kalau begitu pergilah, " terima kasih boby". Sambungnya.
"Jangan berterima kasih mama Bos itu sudah tugasku". Ucap boby dan berlalu.
Ny selly sangat beruntung anak semata wayangnya di dampingi oleh orang sejenius boby yang sangat bisa di andalkan. Tak sia-sia beliau mengangkatnya sebagai anak. Dalam benaknya.
***
Siang harinya Sokter Juan datang ke kediaman keluarga "GEORGE"dengan membawa hasil Lab. Rumah mewah bernuansa klasik khas eropa dengan dua pilar yang menjulang tinggi dengan orname rumah bak istana. Dinding kokoh Dengan perpaduan warna crem dan emas.
"Waw.. Aku seperti masuk di istana Bucking ham, "puji sang dokter melihat kemegahan rumah temannya itu.
"Selamat siang Tuan, " sapa seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu.
"Selamat siang, "saya temannya Gionino apa dia ada dirumah". Tanya juan.
"Ada tuan silahkan duduk saya akan memanggilkannya".
setelah kepergian sang pelayan. Juan masih menikmati keindahan rumah tersebut sampai ia mendengar deheman dari seseorang.
"Selamat siang Ny. Selly apa anda masih mengingat saya, "sapa dokter juan.
"Siang, jangan memanggilku dengan sebutan itu, panggil saja tante seperti teman Gio lainnya". Ucap mama Gio.
"Baik".
"Ternyata kamu menjadi seorang dokter juga juan, " tanyanya.
"Iya tante saya mengikuti jejak mama, "jelas Juan.
Mama Gio tersenyum sembari memperhatikan anak muda di depannya yang seumuran dengan anaknya itu terlihat gagah dan rapi.
Tidak lama kemudian Gio datang dengan baju santai khas rumahan. Memakai kaos putih polos dan celana pendek warna crem. Sangat pas di kulitnya yang bersih.
Mereka mengobrol membahas tentang hasil lab.
"Tidak masalah tidak ada keretakan, " hanya pembekuan darah yang mengakibatkan pembekakan, "Ucap Juan menjelaskan.
"Apa sembuhnya akan lama, "tanya Gio.
"Paling cuma dua hari asal kamu jangan lupa mengolesi salep yang sudah aku kasih tadi pagi".
"Terimakasih kamu sudah membantu, " Ucap Gio dengan menepuk pelan punggung temannya.
"Tak masalah itu sudah tugasku, " jawab Juan.
Usai perbincangan itu dokter juan kembali pulang.
***
Jangan Lupa
LIKE
KOMENT
&
VOTE
Sebanyak-banyaknya..
Happy Reading..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments