Namany MENTARI WILUJENG ENJING
Di Usia yang masih muda 19th. Biasa di panggil Pagi. Di usia yang masih muda, ia harus menerima kabar duka dari kedua Orang tuanya.
Dert.. Dert..
Suara telp Rumah berbunyi.
"Yaa.. Hallo? " ucap Pagi.
"Hallo Nona, Apa benar ini kediaman Bapak Suteja Asmadja". Saut seseorang di sana.
"Yaa.. Benar, Saya Pagi Anak sulungnya, " jawab pagi.
"Emm.. Begini Nona Saya Dari RS. Xx ingin mengabarkan kabar duka bahwa...
Belum sempat orang itu melanjutkan perkataanya. Pagi sudah memotong pembicaraannya karena suara yang ia dengar sedikit terganggu mungkin karena signal.
"Ada apa pak, maaf sedikit terputus putus".
"Oh, baiklah, langsung saja. Nona sebaiknya anda datanglah langsung ke RS. Xx segera. Ini mengenai otang tua anda. Ucap seseorang itu. Saya tidak bisa membicarakan ini semua lewat telp. Ma'af. Titahnya lagi.
"Baiklah pak, saya akan segera kesana. Trimakasih".
Tak.. Tak.. Tak..
Pagi menoleh kearah suara langkah sepatu yang begitu menggema itu. " Bintang.. Kamu sudah pulang dek? ". Ucap pagi.
"Iya kak, aku pulang pagi karena Ujiannya hanya satu mata pelajaran. Saut Bintang.
Yaa.. "BINTANG GERHANA". Adik satu-satunya pagi. Dia masih duduk dbangku kelas 3 SMP.
"Baguslah,.. Segeralah mandi dan ganti pakaianmu setelah itu ikut kakak ke RS. Xx".
"Kenapa ke RS. Xx.. Kakak sakit? ". Tanya bintang.
"Tidak, barusan ada telepon dari RS. Xx kalau papa dan mama ada disana. Mungkin terjadi sesuatu". Jawab pagi sedih.
"Apa " kenapa bisa.. "!!. Tunggu aku akan ganti pakaianku dulu. Aku ikut. Saut bintang.
Pagi hanya memberi anggukan. setelah melihat adiknya masuk kamar ia bergegas keluar rumah mencari keberadaan supirnya.
Pagi berjalan mendekati pria paruh baya yang sedang duduk di bangku teras.
"Paman Bram".. Sapa pagi.
"Bramantyo" salah satu supir pribadi keluarga admadja.
"Eh.. Nona". ada apa mencari saya?. Tanya supir itu.
"Paman. Abis ini tolong antarkan saya ke RS. Xx. saya ingin kesana dengan bintang.
"Baik". Emm.. Apa Nona sakit?. Kata supir itu sembari memandang anak majikanya melirik sana sini mencari sumber dari sakitnya.
"Ah.. Tidak paman".
Barusan ada telp dari RS. Xx. Kalau Papa dan mama dirawat disana. Dan saya ingin melihat keadaanya. Jawab pagi. Saya masuk dulu memanggil bintang. Titahnya lagi.
"Baik Nona". Saya akan siapkan mobilnya.
Tuan dan Nyonya ada di RS. Xx. Apa mereka habis kena musibah. Gumannya, sembari berjalan mendekati mobilnya.
Rs. Xx. Itukan tempat magang Nensy. Ahh biar aku tanyakan ke anakku, siapa tau dia bekerja hari ini, dan tau keadaan disana. Gumamnya lagi aembari mengambil benda pipih di saku celana.
Sesampainya di RS. Xx. Mereka bergegas keluar dengan tergesa-gesa. Mereka masuk menuju meja informasi untuk menanyakan nama pasien. Belum sampai kemeja itu. Dari kejauhan ada seseorang gadis melambaikan tangannya sembari memanggil nama mereka berdua.
"Pagi.. Bintang" sapanya.
"Kak Nensy.. ". Ucap pagi sembari berlari mendekati anak supirnya itu. Mereka menautkan kedua pipinya dan berpelukan.
"NENSY LARASATI" anak dari sang Supir.
Sejak kecil Nensy terbiasa diajak sang ibu untuk bekerja di Rumah keluarga Sutedja. Dan dari kecil juga mereka sudah tumbuh bersama selayaknya kakak dan adik. Karena keluarga Pak Bram sudah di anggap sebagai saudara. Sebagai rasa terima kasih untuk kesetiaanya mengabdikan hidupnya di keluarga itu. Jadi tidak di ragukan lagi keakraban mereka.karena keluarga admadja yang kaya tidak pernah memandang derajat orang lain. Oleh sebab itu Keluarga Admadja di kenal dengan keramah tamahanya dan juga dermawan.
"Kakak kerja disini". Tanya pagi.
"Iya.. Di sini tempat magangku". Jawab Nensy.
"Kak..Tolong pagi.. ". Pagi ingin mencari kamar perawatan papa mama. Katanya mereka sirawat disini. Aku sangat kawatir. Titahnya.
Tanpa sadar butiran bening menetws tak tertahankan lagi. Segera nensy langsung memeluk pagi dg begitu erat.
Pagi.. Hii.. Hii..
Nwnsy menangis begitu keras dipelukan pagi.
"Kak.. Kenapa kakak malah menangis". Ucap pagi sembari memegang pundak nensy.
"Iya.. Kak kenapa"!!. Saut bintang.
Nensy mendongakkan kepalanya, memandang lekat-lekat kedua kakak beradik itu. Dan menoleh kearah Ayahnya.
"Ayah.. ". Ucapnya lirih. Sembari menundukan kepalanya.
Pak Bram mendekati mereka. "Ayo Nak kita jenguk orang tua kalian". Sautnya.
Mereka bergegas ke suatu ruangan yang lumayan jauh. Karena ruangan tersebut adalah tempat dimana seseorang sudah dinyatakan tidak bernyawa lagi. Dengan kaki gemetar Nensy menggandeng pagi sembari mengusap air matanya yang terus saja jatuh.
Flashback.
Tutt.. Tutt..
"Yaa.. Ayah"!!. Suara seseorang disana.
"Yaa .. Hallo Nak". Apa kau sekarang bekerja.tanya pak bram.
"Iya.. Ayah ini Nensy baru saja sampai keruangan setelah mengecek keadaan pasien yang nensy pantau. "Apa ada sesuatu.? ". Ucap Nensy.
"Iya Nak..!! Ayah boleh minta tolong, cari tau dimana keadaan majikan ayah, katanya, mereka dirawat di RS. Tempatmu bekerja.
"Emm.. Memangnya ada apa dengan paman Teja ayah..? ". Apa beliau masuk sini hari ini atau kemarin. Saut nensy.
"Entahlah..!! " mungkin tadi pagi, ". Karena setau ayah. Beliau sedang perjalanan pulang di jemput sama Aryo. Tapi sampai sekarang mereka belum juga sampai. Sadari tadi ayah telp Aryo tetapi Hpnya tidak aktif." Ucap pak bram dengan cemas.
"Baiklah.. Nensy akan mengeceknya di tempat informasi. Sautnya.
10 menit kemudian.
Tutt. Tutt..
"Hallo Nak Bagaimana? ".
"Ayah..! " Hii.. Hii.. Hii..
"Kenapa kamu menangia Nak !". Ada apa? Tanya pak bram dengan panik.
"Pa.. Paman Teja beseeta Istri dan juga Bang Aryo, mereka semua telah tiada.
"Jduaarrrr....!! "
"Apaaaa..!! "Teriak pak Bram hingga satpam rumah yang berada didekatnya menoleh.
"Ada apa pak? Apa anda baik baik saja". Tanya satpam itu.
"Tu.. Tuan dan Nyonya mereka meninggal dunia karena kecelakaan". Jawabnya dengan mulit bergetar.
"Innalillahi wainnailaihi Rojiun " saut mereka yang ada disana.
Flashback Off
Sesampainya di kamar yang dituju. Pagi mendongakkan kepalanya membaca nama kamar teraebut.
"Kamar mayat". Gumamnya pelan.
Dengan wajah yang pucat, mata membelalak tidak percaya dengan pintu yang ada di depanya adalah tempat dimana jenazah di simpan.
Pai langsung membekap mulutnya dengan tangan, melangkahkan kakinya dengan gemetar dan pikiran yang menerka nerka." Apa papa mama sudah tiada". Gumamnya dalam hati dengan mata berkaca kaca.
Begitu juga dengan bintang. Mengetahui bahwa itu kamar jenazah. Ia langsung berlari mendorong pintu dengan kuat.
Brakk..
Papa.. Mama.. Teriak bintang.
Didalam ruangan ada dua petugas khusus dan satu dokte. Mereka bertiga menoleh kesumber teriakan tersebut.
"Bintang sabar Nak". Ucap pak bram berlari mendekati bintang dan langsung memeluknya.
Dengan kaki gontai pak bram dan Nensy menuntun kakak beradik itu menuju brankar majikanya yang telah terbujur kaku tak bernyawa.
Dengan tangan gemetar bintang memberanikan diri membuka kain putih yang menutupi sekujur tubuh orang tuanya.
Pagi dan bintang tak kuasa melihat orang tua yang begitu di sayanginya sudah tak bernyawa. Menangis tersedu sedu sampai akhirnya Pagi terkulai lemas pingsan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Neng Alifa
hah namanya 😄😄🤭🤭
2023-05-13
1
Enci Srimaria Tea
ya allah author ngarana meni kitu mentari wilujeng enjing di panggil pagi hehehehe unik
Suganteh d panggil een hahahaha
2021-07-15
1