Sesampainya di makam, pagi menyapa kedua orang tuanya sembari mengelua batu nisan yang tertera nama mereka. Tidak lupa juga menabur bunga yang sempat ia beli si jalan. Setelah itu BerDo'a.
Tidak ada lagi air mata menetes yang selama ini selalu datang dengan tiba tiba. Menandakan bahwa ia memang sudah mengikhlaskannya.
Setelah selesai dengan ritual do'anya pagi memberi kesempatan untuk tantenya. Pagi berdiri langsung berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
"Tante pagi pamit pulang dulu, ini sudah jam 2 siang. Sebentar lagi bintang pulang". Saya harus segera menjemputnya. Sautx lagi.
"Baiklah pulanglah dulu, tante masih ingin menemani kakak disini". Sembari mengusap air matanya. Ny. Yuana memeluk sebentar keponakanya itu dan kembali lagi duduk mengusap- usap batu nisan milik kakaknya.
"Pagi, salam untuk bintang". Tante akan sering- seeing berkunjung menjenguk kalian di rumah agar tidak merasa kesepian". Ucapnya lagi dengan hanya menengok ke arah pagi.
" Dengan senang hati Tante.. ".
Pagi melangkah menjauh, kembali ke mobil. Belum sempat membuka pintu mobil, ada yang memanggil namanya.
"Pagi.. Tunggu..? ". Teriak seseorang dari kejauhan.
"Mallesss..!! ". Gerutunya sembari menoleh kesumber suara.
"Yaa.. Om ada apa? "..
"Ohh tidak.. Saya hanya ingin meminta nomor ponselmu saja. "Eh.. Maksud saya Yuan yang meminta agar tali silaturahmi keluarga tidak putus. Tuturnya sembari ngis ngosan karena berlari.
"Emm.. Baiklah".
Pagi membuka dompet menganbil kartu nama milik keluarganya. " ini kartu nama rumah saya Om..di situ ada nomor telpon rumah ". kapan saja tante ingin menghubungi kami, silahkan saja".
"Ehh.. Maksud saya nomor ponselmu sendiri bukan nomor rumah". Om Arman bingung dan gugup harus beralasan apa.
"Ma'af Om.. Sepertinya saya tidak menbawa HP dari tadi. Dan tak hafal dengan nomor ponselku sendiri. Sautnya dengan tersenyum paksa." Ngapain aku harus kasih nomerku ke kamu gak guna kalee..!! " yang ada aku akan risih dengan sapaanmu rayuan gombalmu itu. "Najiss... ". Gumamnya dalam hati.
" Baiklah tak apa, ini sudah cukup". Saya akan kasihkan ke yuan nanti, Terima kasih". Ucap Om Arman sembari melangkah maju mendekati pagi seperti ingin menciumnya.
Dengan sigap pagi memundurkan tubuhnya untuk menghindar. Dari salam mobil mata pak bram selalu fokus memperhatikan percakapan mereka. Mengetahui Om genit itu mendekati Nonanya, beliau langsung membuka pintu kaca mobilnya.
"Nona.. Segeralah masuk nanti kita terlambat menjemput Den Bintang.
"Shitttt...!! ".
Gumam Om arman menghentikan langkahnya.
"Baik paman ayo.. ".
"Om ma'af saya harus pergi, selamat sore". Ucap pavi membungkukkan badanya dan langsung masuk kedalam mobil.
Senyum manis di pertunjukkan untuk pagi. Dengan melambaikan tangannya. Hal itu hanya di pandang dari dalam mobil oleh pagi tanpa melambai balik.
"Sok manis banget dah.. Om Om berUban. Wkwkwk..
Di dalam mobil
Pagi memandang jalan sembari melamunkan sikap Omnya yang selalu ganjen didepannya. Dan mengingat di saat ia masih duduk di bangku SMP. Setiap Om dan tante ya berkunjung, pasti Om itu selalu mendekatinya tiba tiba menggendong serta mencium pipinya dengan paksa.
"Sepertinya memang dia kelainan". Ucapnya lirih.
"Siapa yang kelainan Nona". Tanya supir itu.
" he.. He.. He..paman mendengarnya yaa.. ". Saut pagi cengengesan.
"Apa yang Nona maksud Tuan Arman". Tanyanya lagi.
" Siapa lagi kalau bukan dia paman. Om Om beruban kegatelan". Sautnya kesal.
"Awas saja kalau macam-macam denganku. Dia pikir aku takut dan tertarik dengan sikapnya yang sok perhatian itu. "Aisstttt... Rasanya ingin sekali menendangnya jauk sampai ke kutub. Biar jadi mangsa beruang lapar di sana". Gerutunya dalam hati dengan cengar cengir sendiri.
Pak bram yang kala itu memperhatikan gelagat Nonanya yang aneh. Tersenyum sendiri. Sontak mengerutkan dahinya.
"Kenapa dengan Nona". Apa dia kesurupan hantu makam?". Gumanya dengan bergidik ngeri menghentakkan bahunya berulang-ulang sembari fokus mengemudi.
Di saat itu juga pagi mengetahui supirnya dengan gelagat yang aneh.
"Paman kebelet pipis yaa..? ". Tanyanya.
"Ehh Tidak Nona.. ".
"Kenapa badan paman bergetar, seperti orang sedang menahan kencing saja".
"He.. He.. He.. Tidak Nona, hanya saja.... Pak bram menghentikan perkataanya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mau ngomong apa.
"Kenapa paman bicaralah.. ".
"Emm itu.. " saya kira Nona kesurupan hantu makam disana tadi. Dari tadi saya melihat nona senyum senyum sendiri. Jadi ngeri lihatnya.
Pagi melongo membulatkan mulutnya seperti huruf O bundar.
Mereka berdua tertawa bersama di dalam mobil hingga sampai ke tujuan. Yaitu sekolah Bintang.
*
*
*
Dukung Novelku ini, tuliskan jejak kalian di kolom koment. Semoga kalian syuka..
Happy Reading..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments