Di rumah Pagi mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Banyak kertas- kertas berserakan sana sini, tidak hanya di lantai. Sofa Dan meja pun penuh Dengan buku dan kertas.
"Huh.. Susah sekali". Gumamnya.
"Kenapa si botak itu selalu memberi tugas se rumit ini, rasanya aku ingin sekali kali menjitak jidadnya yang lebar itu". Gerutunya lagi.
Sadari tadi ia sibuk menelpon satu persatu teman sekelasnya untuk menanyakan perihal tugas yang harus di seleseikan minggu depan. "Apalah jadinya kalau aku tidak bisa menyeleseikan tepat waktu. Bisa bisa aku di hukum lari lapangan 10 kali. " gumamnya. Sembari menunggu panggilan telp.
"Aistt.. Kenapa mereka enggak ada yang bisa. Malah ada yang ingin mencontek pekerjaanku. Trus aku mencontek siapa? ". Pony.., enggak mungkin. Aku yakin dia pasti juga kebingungan". Ucapnya sembari memainkan bolpoinnya.
"Achhh.. Kenapa semakin lama aku semakin bodoh". Gerutunya dengan menepuk kepalanya sendiri frustasi.
Dari lorong rumah ada sorot mata yang terus memandanginya. Melihat kesibukan Pagi ia memurungkan niatnya untuk menyapanya. Hanya memandangi sembari tersenyum melihat tingkah Pagi yang menurutnya lucu.
Sampai akhirnya ia merasa bahwa seseorang itu sedang kebingungan. Menggigit ujung bolpoinnya, kadang meremas kertas dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Apa perlu bantuan". Akhirnya Rey pun bersuara.
Mendengar perkataan dari seseorang, Pagi mendongakkan kepalanya. "Asisten Rey.. Kau di sini". Ucapnya.
Rey hanya mengangguk dan berjalan mendekati Pagi dan duduk bersila di lantai mensejajarkan tubuhnya dengan Pagi yang kala itu juga bersila menghadap meja.
"Apa yang kamu kerjakan". Kenapa ruangan ini sudah seperti TPU sampah". Ujarnya.
"Ahh.. Aku kesulitan mengerjakan tugas ini, ingin rasanya ku maki orang yang sudah memberi tugas sesulit ini". Sautnya dengan menahan emosi.
Rey menyunggingkan bibirnya. "Apa perlu bantuanku!! ". Tanyanya.
"Apa kamu bisa Kak Rey..? ".
" Emm.. Mungkin ". Jwb Rey.
"Apa ada masalah di kantor sampai Kak Rey datang Malam begini".
" Kalau nggak ada yang penting, mana mungkin aku datang. Ini tentang perusahaan. Sebenarnya saya ingin menyampaikannya minggu kemarin tapi tidak ada sempat. Baru hari ini saya bisa datang". Ucap Rey menjelaskan.
" Maaalah apa..!! ".
" Ini masalah pertemuan dengan Kolage baru yang akan bekerja sama dengan perusahaan".
"Lalu".
"Itulah masalahnya, dari pihak mereka menginginkan bertemu dengan pemilik/penerus perusahaan. Hanya untuk memastikan saja bahwa perusahaan masih memiliki pemimpin".
"Apa itu artinya, Aku harus ikut pertemuan itu". Tanya pagi.
"Kalau bukan kamu siapa lagi". Tidak mungkin Bintang, dia masih terlalu belia untuk mengurusinya".
"Enggak mau.. Itu bukan bidangku". Saut pagi.
"Kamu hanya menemani saya, untuk yang lain biar saya yang akan tangani dengan sekretaris Luna". Ucap Rey.
"Bagaimana.. ". Sambungnya.
"Baiklah.. Tapi ada Syaratnya..!! ".
"Apa..? ".
"Aku akan ikut dengan kalian. Tapi tugas kampusku menumpuk. Belum lagi akan ada acara disana. Jadi selama seminggu Kak Rey harus mau mengerjakan tugasku ini". Ucap Pagi sembari tersenyum.
"Apa.!! ". Teriak Rey.
"Mengurus masalah perusahaan Aja kepalaku sering pusing. Di tambah harus mengerjakan tugasnya dalam seminggu. Bisa bisa kepalaku pecah". Guman Rey dalam hating membayangkan nasibnya dalam seminggu ini.
"Kak Rey.. ". Tanya Pagi sembari melambaikan tanganya. Membuyarkan lamunan Rey.
"Hemm.. ". Saut Rey.
"Bagaimana apa Kakak Mau ha..!! ".
Dengan berat hati Rey menganggukan kepalanya. Menuruti kemauan Pagi. Agar pertemuanya dengan Kolage berjalan dengan lancar. Lagipula dengan tugas barunya, ia bisa setiap hari bertemu dengan anak majikanya itu.
"Aku akan melakukan apapun untuk melihatmu selalu tersenyum". Gumam Rey dalam hati.
Melihat anggukan dari asistennya itu, Pagi bersorak ria kegirangan hingga meloncat loncat di atas sofa. Karena ia akan terbebas dari tugasnya. Dan bisa bermain sepuasnya dalam benaknya.
Rey melempar Map di atas meja. "Tolong pelajari ini. Agar kamu tidak terlalu bodoh di depan kolage nanti". Ucapnya.
Mendengar kata bodoh yang di lontarkan untuknya. Pagi langsung melototkan matanya. Tidak terima.
"Asisten Rey kau sangan menyebalkan". Teriaknya.
"Sebagai ganti aku akan mengerjakan tugasmu". Saut Rey.
"Sama aja bo'ong.. ". Gerutu Pagi sembari memanyunkan bibirnya dengan terus bergumam tidak jelas.
Rey hanya tersenyum melihat tingkah Pagi yang begitu menggemaskan.
***
Dukung selalu karyaku. Dengan cara Like dan sumbang inspirasi untuk meneruskan isi Novelku di kolom komentar. Dan jangan lupa Vote.. Trimakasih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments