Bodoh..... !!!!
Tapi itulah kata yang paling tepat untuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa sampai orang lain yang jadi lebih mengerti apa sedang kau rasakan. Seperti mengenakan topeng kaca saja, sehingga ekspresi mu tetap bisa terbaca.
" Aku kesal saja mas, sungguh ...... dan lagi kak Namu juga sama sekali tidak berpamitan dengan ku ", elak Cinta dari tatapan Syailendra. " Dan lagi..... bagaimana mungkin kau bisa ??? ... hei Om Mandala juga sudah di Korea, dia berangkat bersama Tante dan juga kak Namu... kau dengar darimana ? ".
Cinta tiba-tiba merasakan suatu kejanggalan. Tapi ia sudah terlanjur terpuruk sesaat tadi. Dan kini, ia semakin merutuki kebodohannya sendiri.
" Ya ... itu, tadi aku mendengarnya .... pak Juna sedang bertelepon. Dan itu pasti suara pak Mandala ... aku hafal betul. ' Namu sedang mengurus pernikahan ', itu yang ku dengar jelas. selebihnya ..... rencana mau ke kesaba atau apalah. Manajer mancung itu keburu datang ".
" Oh... bang Kemal ".
" Iya... si Arab itu ".
Dan cinta pun mengangguk-angguk mengiyakan. Perlahan ia mulai kembali berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
" Cinta.... maaf ya, sudah membuat mu ...
jadi kesal. Aku pikir kalian memang sangat dekat jadi aku bertanya ".
" Ya . Mas, besok jadi kita berangkat ke Semarang ? ". Cinta berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Kalau aku malam ini ..... Cinta mau ikut bersama ku ? ".
" Ya ".
Sungguh diluar dugaan, gadis itu menjawab menyetujui dengan cepat seolah tanpa pikir panjang. Membuat Syailendra melongo keheranan.
" Tapi Tim nya berangkat besok pagi-pagi dengan pesawat ....".
" Aku ikut mas Alend ", kata Cinta dengan begitu yakin.
" Tapi aku naik kereta ... ".
" Ya, aku ikut ".
" Tapi ... itu..... oh ya, sudahlah. Jam 19.15 berangkatnya. Ehm ... mau ku jemput di rumah ? atau ? ".
" Boleh ".
" Okay ... jam lima sore aku jemput. Lebih baik kita nunggu di stasiun dari pada ketinggalan kereta ".
" Aku belum beli tiketnya ".
" Hem... pake tiket asisten ku. Biar dia yang naik pesawat besok ".
Cinta mengangguk tanda setuju. Dan hari itupun ia memilih pulang sedikit lebih awal untuk bersiap-siap. Dengan tergesa segera menuju kamarnya, tapi keberadaan sang mama di ruang keluarga membuatnya harus singgah sebentar menghampiri perempuan tersayang itu.
" Loh, tumben sudah pulang. Wajahnya ditekuk lagi.... ada apa ? ", Hana menyapa putrinya yang baru saja masuk rumah.
Tapi Cinta hanya menyeringai kecil, mencium punggung tangan ibunya lalu bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan Hana yang melongo kebingungan.
" Cinta .... lusa mama sama papa mau nyusul ke Soul, kamu mau ikut berangkat bersama kami ? ", seru Hana.
' Keterlaluan ', Cinta mengumpat dalam hati. ' Bahkan tidak ada satupun yang memberi tahukan alasannya pada ku '.
" Nggak mah. Aku ada tugas ke Semarang. Malam ini berangkat ", balas Cinta dengan berseru pula. Dan tubuhnya pun segera menghilang di balik pintu kamarnya.
Hana yang ada di ruang bawah hanya mengangkat bahu tak acuh. Mungkin hanya berusaha untuk maklum saja. Anak muda yang sedang aktif-aktifnya bekerja, begitu hibur dirinya sendiri. Padahal ia tidak bermaksud berbicara panjang lebar dengan putri sulungnya itu.
Waktupun bergulir dengan kecepatan seperti biasa, tapi terasa berbeda bagi pribadi yang berbeda. Ada yang merasa waktu berjalan seperti lelehan lahar dari kubah berapi, panas, menyesakkan dan begitu cepat melibas. Namun ada pula yang merasakannya seperti hembusan angin musim semi yang hangat dan menyenangkan. Tapi ada juga yang tidak terpengaruh apapun. Seperti seonggok batu yang hanya menikmati apa adanya musim, hingga perlahan lebur luruh saat waktunya telah usai, termakan lumut dan tumbuhan perintis. Setidaknya semua punya cerita sendiri-sendiri dengan sang waktu itu.
Begitu pun dengan Cinta yang tergesa mengimbangi guliran waktu berlari. Ia merasa pengap dan terengah-engah menyesuaikan geraknya dan detakaan waktu berjalan. Sambil terus memindai barang yang akan dibawanya, menyingkrongkan dengan cheklist di pusat pikiran, jangan sampai ada yang terlewat. Melirik penanda waktu yang terpojok manis di sebuah meja, gadis itu bersyukur masih ada sisa dua puluh menit untuknya mandi dan bersiap-siap. Setidaknya ia akan merasa segar saat berangkat nanti.
Sementara itu tetep beberapa di bawah, Hana yang juga baru saja selesai mandi kini tengah menyiapkan sepiring kue kering homemade. Tercium wangi jahe yang harum, sepertinya itu kue bangket jahe, benar saja kue kecoklatan dengan sedikit taburan biji wijen diatasnya. Wanita itu tersenyum puas melihat hasil karyanya. Tepat saat ia akan menyeduh teh melati, saat itulah seorang asisten rumah tangganya menghampiri.
" Bu, ada temannya mba Cinta menjemput. Namanya .... Syailendra ".
" Hah!!??.... ah ya...ya... suruh masuk dulu. Suruh tunggu di dalam saja. Setelah itu kamu bawa suguhan ini ya... persilakan dulu sana ".
Hana pun begitu bersemangat. Sementara asistennya kembali menemui Syailendra untuk mempersilahkan, Hana segera menyeduh sepoci teh melati yang harum. Kembali bergegas menuju ruang tamu.
Pria muda tersenyum dengan sopan sambil berdiri bregitu menyadari kehadiran sang ratu rumah. Di mata Hana pria ini sangat sempurna, lebih tinggi beberapa sentimeter dari suaminya, memiliki sepasang mata yang indah dan juga tubuh yang kekar bagus. Hana pun membalas senyuman itu tak kalah ramah.
" Waaah... Syailendra ya, lama sekali ya tidak ketemu. Kamu makin tampan saja ".
" Ah Tante... yang makin mempesona itu Tante. Seharusnya Tante yang dapat pujian ", Syailendra tertawa.
" Tante sudah kepala enam tahun ini sayang.... sudah tua ".
" Bukankah wanita itu semakin bertambah cantik karena kedewasaannya..... ".
" Aduuuuh..... kamu ini, bikin jatuh cinta saja ", Hana tertawa dengan sedikit tersipu. Ia sungguh sangat menyukai pria muda ini.
" Cinta sudah siap Tante ? ".
" Loh ? ada janji ? ".
" Cinta belum bilang ya? kita berangkat ke Semarang malam ini ".
" Ah.. ya.. ya.. baru saja dia bilang. Tadi tergesa-gesa dia, mungkin masih mandi "
Saat itulah seorang wanita yang bekerja membantu urusan rumah tangga datang dengan membawa sebuah baki cantik. Berisi stoples kecil kue kering dan juga sepoci teh yang mengepul harum. Hana dengan sigap menuangkan cairan coklat keemasan itu ke cangkir dan disajikan pada Syailendra.
" Terimakasih Tante, malah merepotkan ".
" Tentu tidak.... kebetulan ini baru mateng, ayo dicicipi dulu. Tante yang bikin loh ".
" Wah..... hebat, masih sempat ya Tante ".
" Halaaaaah..... mumpung longgar sedikit. Itu kue kering favorit papanya Cinta. Ayo dicicipi lagi, Tante panggilkan Cinta dulu ya ".
Hana pun berlalu meninggalkan Syailendra tanpa menunggu jawaban pria itu. Wajah wanita itu terlihat lebih sumringah, berjalan dengan riang menapaki tangga rumahnya dan menuju lantai dua. Seulas senyuman terus terlihat menghiasi wajahnya.
" Mah ? ", tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka. Nampak Cinta sudah siap dengan celana panjang warna coklat tua dengan satu atasan casual feminim warna biru segar, terlihat sudah siap dengan satu koper kecil dan juga sweaternya.
" Oh kau sudah siap... ", Hana tersenyum. " Itu ... Syailendra sudah menunggu di bawah ".
" Jam.... waduh tepat waktu sekali dia ", Cinta melirik jam tangannya.. Tepat pukul lima sore.
Dua wanita itupun berjalan beringan menuruni tangga dan menemui tamu mereka. Tamu yang datang menjemput, untuk segera berangkat ke stasiun kereta.
" Waaaah..... on time nih ", Cinta menyeringai lebar. " Mah aku berangkat dulu ya .... ". Cinta merangkul mamanya dan memberikan ciuman lembut.
" Eh.... lusa bener nggak mau ikut ke Korea ".
" Lihat bagaimana nanti aja mah.... udah dulu ya ", Cinta terlihat kurang peduli dengan masalah Korea itu. Bahkan dengan satu isyarat, ia meminta Syailendra untuk bergegas.
" Ayo mas Alend.... mah, berangkat dulu ya ".
" Kita pamit dulu Tante ", Syailendra pun ikut berpamitan.
" Ah ya... ya... ya... hati-hati ya kalian berdua. Nak Syailendra ... titip jaga Cinta ya ".
" Ya Tante ".
Melihat keduanya melangkah pergi, mengantarkan sampai ke halaman rumah dan melambaikan tangan saat mobil yang membawa mereka mulai bergerak. Entah mengapa perasaan Hana menjadi begitu hangat. Ada sesuatu yang mekar di hatinya, dan itu adalah sebuah harapan. Wanita itupun tersenyum bahagia.
.................
Nasi goreng dari reservasi restoran di kereta eksekutif itu lumayan sedap bagi seorang gadis seperti Cinta. Ia melahapnya dengan nikmat tanpa banyak bicara dan terlihat begitu menikmati mengunyah kerupuk udang sebagai pelengkap. Syailendra tersenyum saja melihat hal itu, ia pun sangat sepakat dengan gadis disebelahnya ini, jika nasi goreng ini cukup lumayan.
" Sebenarnya... Yang dijual mamang-mamang di jalan masuk kompleks ku itu lebih sedap dari ini dan lebih murah. Aku biasanya pesan yang ekstra telur muda dan rawit iris ". Seperti menyadari tengah diperhatikan, Cinta pun berseloroh.
" Kapan-kapan aku traktir di sana ya ".
" Beres, yang rekomend nasi goreng babatnya .... mantap abis ".
" Oh ya ? ".
" Ya, itu favorit kak Namu ..... Dia.... ".
Kalimat itu mengambang, tak terselesaikan. Gadis itu, yang telah menyelesaikan suapan terakhirnya segera meraih sebotol air mineral. Lalu meminumnya perlahan.
" Kenapa Dia.... Dengan nasi goreng ", kentara Syailendra memancing.
" Dia ... tidak suka irisan timunnya, tapi selalu minta tambahan irisan kol mentah ". Cinta melanjutkan perkataannya dengan sedikit lirih.
" Kau sudah dapat penjelasan tentang pernikahan itu ? ".
Cinta terdiam kembali. Ia menoleh sesaat sambil tersenyum, terasa ada kesedihan dalam lengkungan senyum tipisnya. Syailendra sangat bisa menangkap semua guratan perasaan pada tatapan gadis ini.
" Aku hanya ingin .... Dia yang mengatakan langsung padaku. Bukan aku yang harus bertanya.... Harusnya........ ".
Kalimat itu terjeda cukup lama dan sang pengucap seperti tak sanggup mengutarakan apa yang dirasakannya. Wajah itu tersaput oleh rona kesedihan berseling dengan kemarahan. Dan Cinta pun membuang pandangannya pada jendela kereta. Pepohonan, rumah, dan tiang-tiang pancang penyangga kabel listrik itu seperti berlarian dengan cepatnya, fenomena tipuan optik saat kita berada pada obyek yang bergerak sangat cepat. Dan Cinta merasakan, saat inipun ia tengah larut dalam tipuan rasa yang menyakitkan.
" Harusnya dia memberitahumu dahulu .... begitu ? ", Syailendra memutuskan untuk menerka sendiri akhir dari kalimat itu.
" Ah .... Sudahlah. Pasti ada alasan yang kuat .... Sehingga sampai tidak sempat memberitahu ku ". Seperti melakukan penghiburan pada dirinya sendiri, Cinta menarik nafas panjang.
" Kalian berdua sangat dekat, aku paham yang kau rasakan. Tapi Cinta ...... ".
" Ya mas ", kali ini Cinta yang menatap Syailendra dengan tatapan menunggu.
" Pernahkah kau jujur dengan dirimu sendiri ?.... Dengan perasaan mu sendiri ".
Cinta seperti berdiri dibawah sebuah genta besar yang dipikul bertalu. Dadanya terasa nyeri dan sesak, sementara telinganya berdenging hebat. Sepasang mata kelabu itu seolah menguliti jiwanya.
" Aku tidak berharap aku salah. Di pengelihatan dan rasaku ..... Kalian berdua memiliki rasa yang sama.... Tidak hanya sebagai saudara, tapi .... sebagai pria dan wanita ".
" A- apa .... maksud mas Alend ? ", Cinta tergagap dan tiba-tiba saja menjadi sangat salah tingkah.
" Cinta ..... umurku sudah tigapuluh tiga tahun ini. Aku pernah punya cinta yang luar biasa...... Sinar mata kalian berdua, sama seperti sinar mataku dulu saat sedang jatuh cinta dengan dalam. Kalian hebat..... Sangat hebat, saling merahasiakan, saling menjaga cinta itu.... Tapi kalian sangat bodoh ..... Kalau saling diam, bagaimana bisa saling mengerti ".
Cinta terpaku, membisu dan terbekukan oleh rasa terkejut luar biasa. Bagaimana mungkin ?, desis hatinya tak percaya. Tapi sinar mata pria ini menyiratkan kesungguhan.
" Mas.... mas Alend ... Apa benar demikian ? ".
" Apa kau pikir saat ini aku sedang menghiburmu ?. Aku hanya menyampaikan yang kulihat dengan hatiku ".
Syailendra meraih jemari Cinta dan meremasnya perlahan. Terasa lembut dan hangat, seperti jari tangan seorang adik cantik yang sedang nestapa karena cinta dalam diamnya. Gadis ini cantik dan pintar, tapi dirasa hatinya hanya seorang adik tersayang. Saat ia bersedih, bukankah harus membantunya untuk tersenyum kembali ?.
" Cinta..... Namu itu punya kepribadian yang sangat lembut. Yang jadi prioritas selalu keluarga, harus menjadi kebanggaan keluarga Mandala Arsenio. Tanpa ada turunan genetik, ia telah tumbuh dengan identik Mandala Arsenio saat bekerja. Dan kebaikan hati serta perasaannya yang halus... bukankah itu dari mamanya?. Hingga ia memilih mengabaikan perasaannya sendiri .... Kau tahu .......??".
" Apa ? ", Cinta beringsut mendekat dengan rasa penasaran yang tak lagi tertutupi.
" Di London..... Itu adalah masa pelariannya darimu. Ia berusaha menjauh darimu ... Eh malah kau menyusul kesana. Dia jadi blingsatan sendiri.... antara bahagia dan juga bingung ".
" Eh.... Oooh pas aku magang itu ya ? ".
" Iya.... Betul. Kau tahu, ia seperti orang mabuk ..... Aku selalu menertawakannya. Apalagi dua malam kau tidur di apartemennya..... Waaaaah..... Seperti menaruhnya dalam panggangan. Ha .... Ha.... Ha ... ", Syailendra tertawa lepas tapi buru-buru menghentikannya saat sadar sedang berada di dalam kereta yang penuh penumpang.
" Waktu itu 'kan nunggu dapat apartemen untuk ku.... Aku tidak bermaksud membuatnya begitu ". Cinta sedikit cemberut.
" Hei Cinta ..... Kau tahu apa yang dirasakan seorang pria normal saat berada didekat gadis yang sangat disukainya ? ".
Cinta menggeleng, ia menatap Syailendra dalam dengan tuntutan penjelasan. Sebuah sentilan kecil mendarat di hidungnya. Tapi Cinta tidak memprotes ulah Syailendra, ia menunggu pria ini menjelaskan kembali maksud pertanyaan itu.
" Rasa cinta Namu padamu sangat tulus dan dalam..... tapi dia juga seorang pria normal yang punya hasrat normal juga pada seorang wanita. Tentu..... dia sangat takut tidak bisa menahan dirinya sebagai seorang pria padamu. Tapi....... yang lebih ditakutkan lagi adalah rasa marah mu atau bencimu ... saat perasaannya yang tersembunyi itu.... terungkap ".
" Kak Namu..... takut.... aku jadi membencinya .... dia juga takut......", wajah Cinta bersemburat malu, ia tersenyum tersipu. Bukankah ini sesuatu yang sangat indah terdengar ?.
" Ta.... tapi.... tapi .... kini dia akan segera menikah ".
Senyum itu hanya sesaat terlukis, kembali kesedihan itu yang mewarnai. Cinta mengalihkan pandangannya kembali pada jendela kereta yang saat ini menampakkan hamparan kelam persawahan. Seperti hatinya yang kelam, di luar sana pun nampak demikian.
Lalu air mata itupun jatuh, luruh berderai-derai perlahan. Hingga menjadi Isak tangis tidak tertahankan. Kedua bahunya berguncang hebat, Cinta menangis dan menumpahkan semua rasa sedih dan kecewanya yang dalam.
" Adikku yang cantik ..... begitu Namu selalu menghibur mu bukan ?. Menangislah..... " .
Dan Syailendra pun menaikan sandaran tangan yang juga berfungsi sebagai pembatas kursi mereka. Lalu menarik Cinta dalam rengkuhannya dengan sayang. Membiarkan gadis itu melepaskan seluruh rasa marah, sedih dan nelangsanya cinta dalam diam.
.................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Tysa N0a_15
wah AQ jadi sangat menanti kisah alend. semoga manusia setengah purnama segera up lagi... blm baca sih baru baca sinopsis depannya KLO itu kisahnya alend liat part-nya baru dikit. semoga ini selesai lngsung nyambung kesana. penasaran. pasti bukan AQ aja nie yg nunggu... yg lain juga... semangat kak ..m
2024-01-23
0
Zeeylaa To Zila
mas alend peranmu sangat hebat..
2022-01-23
0
Maya Kitajima
aahhh...ga tau mo ngomong apa lagi..aku bener bener ikut terhanyut dengan kisah ini..serasa mengalami sendiri...kk otor emang benar benar👍👍👍👍👍👍👍👍
2021-12-30
0