" Mama.... jangan ada eoni-eoni yang ngrebut kakak. Pokoknya aku nggak ridho... " .
Suara yang terdengar merajuk manja itu berasal dari seorang gadis muda yang tampak cemberut kesal, nampak di layar ponsel Orlin. Itu adalah Kirana putri bungsunya, seorang dokter muda yang sedang menyelesaikan programnya di sebuah rumah sakit di kota Semarang. Wajah itu begitu cantik, mewarisi kesempurnaan kedua orangtuanya.
" Indonesia tidak akan rela kalau harus kehilangan oppa rasa mas-mas kayak kakak. Pokoknya nggak ada jodoh-jodohan dengan gadis Korea .. ".
" Hush !!!!... kita mau nengokkin omTeddy juga. Kamu ini... ", tegur Orlin.
" Kalau ada eoni yang ngeyel... kasih kak Haidar aja ".
" Eeh ..... masih saja ya bahas itu. Papa kamu cuekin nak ? padahal papa kangen loh ". Mandala memprotes dan segera mengambil alih. Sementara itu sang putri bungsu yang masih terlihat sedikit kesal, langsung berubah sedikit ceria saat tahu sang ayah merindukannya.
" Papa... miss you too. Baik-baik jaga mama ya, juga kak Namu ".
" Loh kirain...... , masih saja tetep si Namu yang menang ", Mandala pura-pura mengeluarkan ekspresi kekecewaannya.
" Halooo adik maniiiis ..... ", tiba-tiba sang topik pembicaraan muncul dan langsung ikut nimbrung.
" Kakak.... cari orang Indonesia aja. Jangan mau sama orang sana " .
" Okay ..... tapi tergantung yang datang sih .. ", goda Namu.
" Kakak ..... ".
" Sudah ... sudah... kalian ini ", Orlin melerai. " Rana, mama telpon Haidar berkali-kali, tapi tidak ada respon. Tolong kau kabari kakakmu itu ya ".
" Nggak ada sinyal di hutan mah. Nanti aku coba telpon lagi deh ".
" Rana ... mau oleh-oleh apa ? ", Namu kembali nimbrung.
" Boleh..... yang banyak ya ".
" Okeeee... kubawain kimchi se-kontainer ".
" Kakaaaak.. !!!!".
" Hadeeeh ... kalian ini. Sudah-sudah, bay bay Kirana ... luv yu... muaaachhh . Assalamu'alaikum ".
Dan Orlin segera menutup panggilan itu. Buru-buru menggandeng lengan suaminya. Lalu tiga orang itupun melangkah pasti menuju pintu keberangkatan internasional.
" Waduh ... ".
" Kenapa ? ", Mandala menoleh menatap putranya yang sedang menepuk jidat.
" Jangan bilang kalau pasport mu ketinggalan ", sergah Orlin dengan raut wajah sedikit khawatir.
" Aku belum pamitan sama Cinta, Mah. Bisa ngamuk dahsyat dia ".
Dengan kompak Orlin dan Mandala saling pandang lalu sama-sama geleng-geleng kepala.
....................
Pagi tadi ia tidak sempat sarapan, kini perutnya menderu menyerukan ...... lapaaaaar. Cinta melirik jam tangannya. Waktu makan siang masih satu jam lagi. Tapi dia sudah benar-benar lapar.
" Dewi, bisa tolong bawakan air putih hangat dan buah ..... kalau ada ".
" Buah apa Bu ? ", suara tanya itu terdengar dari pesawat panggil.
" Apa saja, asal jangan jeruk atau yang masam-masam ".
" Baik Bu ".
Dan Cinta pun kembali menekuri deretan angka yang berjajar manis di layar. Masih disandingkan dengan kurva dan grafik, belum lagi fluktuasi nilai finansial yang terus berubah-ubah. Sangat cukup menjadi tambahan katalisator untuk naiknya enzim pencernaan difungsi digestinya. Untung saja Dewi segera datang dengan secangkir teh hangat dan sepiring kecil cookies.
" Maaf Bu, tidak ada buah. Ini kue kering buatan ibu saya. Silahkan ibu cicipi ".
" Terimakasih ya ... its better ", Cinta mengacaukan jempolnya. Ia langsung meraih kue kering imut-imut itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
" Enak Wi, kue kacang ya ? ", pujinya masih dengan kunyahan nikmat.
" Iya Bu.... pasti ibu tadi belum sarapan ya ? "
" Iya... tapi ini benar-benar enak koq, gurih, manisnya pass dan aroma butter nya.... heeeem nagih. Besok pesen lagi 5 toples ya " .
" Baik Bu. Saya permisi dulu ".
Sekretaris itu pamit dengan wajah sumringah. Sementara Cinta kembali menghabiskan isi piring kecil itu. Lalu menyeruput teh hangat dan .....
" Aaaaah..... Alhamdulillah ".
Wanita itupun kembali menekuri pekerjaannya. Perutnya sudah kembali tenang dan ia pun kembali mendapatkan konsentrasinya yang sesaat tadi sempat sedikit menguap.
" Tok .... tok... tok ", suara pintu diketuk.
" Ya, silahkan masuk ".
Dewi sang sekretaris kembali masuk dengan sebuah senyuman. Di belakang wanita itu berdiri sesosok pria yang sudah cukup dikenal Cinta. Dia adalah Kemal, manajer perencanaan di perusahaan ini.
" Non.... makan siang yuk ".
" Hah ?!. Jam berapa ? .... ya ampun ". Cinta segera bangun dari tempatnya duduk. " Dew, ikut makan bareng yuk " .
" Sudah bu, ini sudah habis jam makan siang ".
Cinta kembali melihat jam di tangannya. Wajah cantik itu kembali terperanjat, tinggal sepuluh menit lagi jam istirahat habis.
" Ayo ", ucapnya bergegas.
" Aku sudah pesan kok... dua porsi gado-gado. Mau ? " , Kemal menawarkan sambil mengangkat satu kantong plastik yang luput dari perhatian Cinta.
" Wooow .... laaaah, kak Namu ? ".
" Looh, kamu nggak tahu ?. Boss besar 'kan tadi pagi berangkat ke Seoul ".
" Hah ?!!!!! ".
................
Namu merapikan syal yang dipakainya, begitu juga yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Sudah mulai petang saat ketiganya keluar dari pintu kedatangan internasional di bandara Incheon. Sebuah mobil khusus yang disediakan oleh perusahaan untuk menjemput ketiganya, telah menunggu. Seorang pria nampak tersenyum ramah.
" Selamat datang.... bapak ibu ", sapa pria itu dengan cukup lancar. " Saya Choo In Soo, sudah pernah beberapa kali ke Indonesia ".
" Aaah... iya iya, aku ingat ", Namu terlihat bersemangat.
" Betul bapak... mari saya antar ke hotel " .
Tak menunggu lama, tiga orang itu telah berada dalam mobil yang dikemudikan oleh Choo. Melaju melalui jalan yang lebar, dan bersih tertata menembus udara yang mulai dingin, lima derajat dibawah nol.
" Maaf, apakah ... ingin makan malam dahulu atau istirahat dahulu ? ", tanya Choo sedikit kaku.
" Bagaimana pah? mah ? ", tanya Namu.
" Makan malam bisa di hotel ? ", tawar Orlin. " Aku sedikit capek, bagaimana ? ".
" Aku ikut saja ", kata Mandala.
" Saya bisa pesankan ", Choo menimpali. " Bapak Ibu ingin hidangan apa ?, ada restoran baru yang khusus menyediakan menu Korea halal.... itu salah satu proyek perusahaan kita pak Mandala ".
" Oh... baguslah. Kau ingin apa sayang ? ", tanya Mandala pada Orlin.
" Emmh..... dumpling dan sup ... bagaimana ? ".
" Tidak mau coba bulgogi mah ? ", tawar Namu.
" Bolehlaaaah.... kau saja yang pesankan nak, mamah ikut saja ".
" Okay... ", Namu tersenyum. " Choo... tolong siapkan satu nomor dari provider di sini. Aku butuh segera, untuk papah dan mamah ku juga ya ".
" Baik pak ".
Hotel itu berada tidak jauh dari bandara Incheon. Sesampainya mereka disana, tiga orang itu langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Menghilangkan penat dan lelah setibanya dari delapan jam penerbangan.
Makan malam yang dipesan pun telah datang. Sup ayam ginseng Korea yang nikmat dan hangat, nasi putih juga beberapa lauk pendamping. Sebenarnya adalah menu rumahan, tapi dikemas apik versi bintang lima. Cukup pas di lidah Orlin yang memang lebih menyukai menu rumahan.
" Aku kembali ke kamar ya mah, pah. Istirahatlah ".
Pemuda itu mencium pipi ibunya, dan memberikan pelukan pada ayahnya. Lalu keluar dan menuju kamarnya sendiri.
" Halo ... Tante Boo Na. Ini Namu. Ya .... kami sudah sampai, besok langsung ke rumah tante. Ya ... Tante, baik. Selamat malam ".
Namu mengakhiri panggilan dengan tantenya, Boo Na adik tiri dari almarhum ibunya. Ia sejenak termenung, ada yang menggelayuti pikirannya. Sesuatu yang sangat mengganjal, seperti telah melupakan sesuatu yang penting.
Ia pun melangkah menuju jendela kamarnya, menatap pemandangan luar dibawasana. Suhu udara yang dingin membuat suasana malam menjadi semakin temaram. Bentangan jalan raya yang berhias lampu mobil disepanjangnya, seperti untaian berlian yang indah berkedip. Cinta sangat suka pemandangan malam hari dari atas gedung. Indah yang mematikan, gemerlap yang penuh muslihat. Begitulah Cinta mengumpamakannya.
Cinta....., dan Namu pun tersentak. Kini ia mengerti apa yang telah dilupakannya, apa yang mengganjal hatinya.
Ia berusaha menghubungi seseorang berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Belum menyerah, ia pun mencobanya lagi. Hingga beberapa saat, akhirnya ia pun membanting handphonenya dengan kesal ke atas kasur. Tak berapa lama ia pun melakukan hal yang sama, kali ini pada tubuhnya sendiri.
Namu berbaring dengan sedikit gelisah, ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Seperti tengah mencoba menembus ruang dan waktu. Tapi rasa lelah itu telah menguasai raganya, menuntunnya dalam lelap. Tak berapa lama, ia telah bernafas dengan irama yang teratur. Hingga dering nada panggil yang lembut itu tak di dengarnya.
Telepon seluler itu kembali bergetar dan berdering, tapi Namu telah tenggelam terlalu dalam di lelah dan lelapnya. Pada akhirnya, benda itu kembali tenang tergeletak diam. Sama seperti pemiliknya.
............. ...
...Merahasiakan perasaan mu yang terdalam. Kuncilah dalam kotak yang tak tertembus oleh pandangan, tak teretas oleh suara. Cukup hanya dirimu dan Tuhan mu saja ya mengerti...
...Lalu bagaimana aku bisa menyampaikan perasaan itu padanya ? ...
...Bukankah kau tak ingin dia mengerti ? bukankah kau takut dia akan membencimu ? Jika akhirnya tahu yang kau rasakan....
...Lalu bagaimana jika dia juga sedang menunggu ku ?, bagaimana jika dia merasakan yang aku rasakan ?...
...Seyakin itukah kau ?...
...Aku tidak tahu. Aku hanya terlalu menyayanginya saja. Dia yang terindah yang pernah ku tahu....
...Apakah hatimu tak meronta, saat dia dimiliki orang lain kelak ?...
...Entahlah ...
...Apakah kau bahagia melihatnya bersama orang lain ? ...
...Sepanjang dia tersenyum bahagia, aku pasti bahagia...
...Seandainya dia bersama orang lain, hanya karena dia sudah lelah menanti mu. Apakah engkau juga bahagia ? . Bagaimana jika semua sudah terlambat ?. Kau yang begitu bodoh dengan sikap mu.... kau yang membuatnya tenggelam dalam kesedihan....
...Lalu aku harus bagaimana ? ...
...Ada kisah cinta terindah, terahasia, hingga setan pun tak mengetahuinya. Itu adalah milik Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Tapi kau bukanlah Ali yang perkasa. Tak sekadar doa yang penuh kepasrahan yang akhirnya menyatukan keduanya....
...Aku memang bukan beliu, tapi tidak bolehkah aku memiliki cinta rahasia yang indah seperti itu ?...
...Kau tahu ?. Cinta rahasia indah itupun pada akhirnya bersatu.... setelah sang Ali memberanikan diri meminta pada sang Rasul, atas hati putri cantiknya dengan mahar baju besi yang berharga. Kau tahu, itu adalah baju besi yang melindungi nya selama perang. Kau hanya butuh satu keberanian saja....
...............
Namu terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan kelompok mata. Sedikit terkejut dengan keadaan kamar yang berubah. Lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tersadar dengan kenyataan saat ini, berada jauh dari rumahnya. Ribuan kilometer jarak yang membentang.
Tangannya refleks meraih telepon seluler yang mendengungkan suara alarm. Pukul dua dini hari, berarti di rumahnya sana belum genap tengah malam.
Ia terkejut melihat notifikasi panggilan di layar handphone nya. Ada tujuh panggilan tak terbalas dalam rentang waktu yang begitu dekat. Tepatnya satu jam setelah ia melakukan panggilan yang tak berbalas pada Cinta.
Ahh..... Namu terlihat sangat kecewa. Ia pun menutup mukanya dengan kedua tangan, yang salah satunya masih memegang handphone. Hingga tanpa ia sadari, gesekan jemarinya membuat benda itu melakukan panggilan.
" Oh.... ya ampun ". Ia pun buru-buru menghentikan panggilan itu. Untung saja ia segera tersadar saat mendengar nada monoton yang konstan terdengar.
Yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Benda itu kembali bergetar dan berdering. Namu membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Cinta..... ", desisnya. " Halo .... ".
" Halo .... ".
" Ma - maaf membangunkan mu ".
" Aku belum tidur kok ", sahut suara diseberang sana.
Namu tersenyum, lalu ia mengalihkan panggilan itu menjadi sebuah video panggilan.
" Cinta.... video call ya " .
" Ah tidak !!! jangan !!! aku tidak sedang berpakaian dengan benar "
" Oh.... maaf .... maaf Cinta ".
" Heeem.... ada apa malam-malam telepon ?. Di sana sudah jam dua malam lebih bukan ?. Kalau tidak penting, tidak usah menelpon ku ".
" Cinta maaf ya..... aku lupa pamit pada mu "
Tak ada sahutan dengan segera seperti yang sebelum-sebelumnya. Namu mengernyitkan kening, rasa ingin tahunya perlahan menjadi khawatir.
" Maaf ya Cinta....... Jangan marah ya ".
" Heeeei..... kau itu boss besarnya, sesukamu lah ", nada bicara Cinta terdengar sedikit tanpa ekspresi, nyaris berubah menjadi ketus. " Paling tidak...... ".
" Maafkan aku ..... sungguh aku tidak bermaksud tidak berpamitan pada mu. Maaf ya Cinta ..... ".
" Okey .... ku maafkan. Malas kak kalau harus ribut setiap hari dengan mu. Berarti satu Minggu ini aku akan bebas..... tanpa omelanmu. Horeeeeee...... ", suara Cinta terdengar riang.
" Cinta ..... tapi aku akan sangat rindu padamu. Apa kau tidak rindu ? ".
Mendadak keheningan merajai suasana. Yang terdengar hanya tarikan dan hembusan nafas yang terkadang seperti tengah menderu.
Apakah kau tidak merindukan ku Cinta ............
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Tysa N0a_15
akan kan cerita cinta Arjuna n Hana terulang... oh noo.... mending diungkapin dri pada dipendam walaupun nanti hasilnya akan menyakitimu setidaknya kamu sudah berusaha jujur ...
2024-01-22
0
may
Namu cinta sama Cinta?
2023-10-09
0
Agna
sakiiiit banget punya cinta rahasia ygvhrs disembunyikan
2022-12-17
0