Cinta itu tak kumengerti bagaimana dia telah menawan hati ku.
Memenjarakan rinduku dalam teralis jiwa yang beku dan dingin karena luka.
Tapi milyaran sel dalam diriku yang telah memindai keberadaan mu dulu
Mereka terus berpendar-pendar mengirimkan isyarat
Mungkin aku yang begitu bodoh, pasti aku yang terlalu beku
Hingga semua panggilan rindu itu tak mampu ku dengar
Menemukan mu lagi......
Membuat ku tak perlu berpikir ulang tentang perasaan ini
Aku sudah mencintai mu, bahkan sebelum kata itu terungkap oleh mulutku.
^^^......................................^^^
Ia menutup halaman yang sedang dibacanya dengan sedikit mengukir senyum. Mengisi waktu dengan membaca sebuah buku, dan ini adalah buku favoritnya. Buku fiksi yang menceritakan tentang sebuah takdir pertemuan. Bagaimana cinta itu datang dengan caranya sendiri yang unik, dan luar biasa. Ia sangat menyukai setiap kalimat yang dirangkai oleh penulis buku itu.
Pria itu bertubuh tegap walaupun otot-ototnya tidak nampak besar dan menonjol. Saat ia melepaskan kacamata minusnya, tampaklah sepasang mata kelabu dan bening dengan pendaran seperti warna hujan saat senja. Alis matanya tebal seperti elang tengah terbang melayang mengawasi daratan dari angkasa raya. Rambutnya sedikit ikal tertata rapi, dengan potongan army yang semakin menampakkan aura tampan sang pemilik.
Syailendra atau Alend, pria muda itu pun lalu berdiri dan melangkah menuju pintu keluar, sesaat setelah ia membaca pesan singkat yang baru saja masuk di layar telepon selularnya. Saat ia sudah keluar dan berada di titik penjemputan, sebuah mobil menghampirinya. Kaca mobil itupun terbuka
" Maaf .... lama menunggu ya ", wajah bersih Namu menyembul beserta seringai konyolnya.
" Its okay... heiiii adik cantik ikut juga ", suaranya beratnya terdengar ceria.
" Dipaksa ", kelakar Cinta menyahut candaan Syailendra.
Tak berapa lama tiga orang itu telah berlalu dengan mobil yang mereka tumpangi. Melaju menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak seramai biasanya, tentu saja karena masih perayaan Chuseok.
" Banyak Restoran dan rumah makan yang tutup, tapi yang di hotel masih buka kok. Kau sudah lapar ? ", tanya Namu.
" Belum... belum terlalu ", Syailendra menjawab sebelum balik bertanya. " Kau jadi memesankan kamar untuk ku bro ? ".
" Tentu.... sudah siap ".
" Okay.... terimakasih banyak ya. Oh ya Cinta... kau jadi tetap pulang besok ? ".
" Iya, jam 10 siang... GIA no transit ", jawab Cinta yakin.
" Heiiii.... kau tidak bilang padaku. Bagaimana bisa ? ", Namu memprotes.
" Oh .... maaf, aku lupa kak ", sesal Cinta kemudian.
" Hal sepenting ini tidak kau katakan padaku ", Namu masih bersungut-sungut kesal.
" Ih .... aku 'kan sudah meminta maaf ... lupa itu 'kan wajar ", Cinta membela diri.
" Pffft.... ha... ha... ha... ", tawa Syailendra tiba-tiba pecah tak tertahan. " Kalian ini..... persis seperti suami istri .... ha.. ha... ha ".
Tawa yang membahana dari arah belakang mereka, sontak langsung membuat keduanya terdiam. Cinta nampak salah tingkah begitu juga dengan Namu.
" Kemarin saja, satu Minggu kelimpungan ... galau berat... bingung akut pas nggak ada kak Namu. Begitu bersama lagi..... kumat!!!! cakar-cakaran lagi ".
Apa yang dikatakan oleh Syailendra itu memang sembilan puluh persen tepat. Tapi mengetahui ada orang lain yang bisa memahami, entah mengapa baik Cinta ataupun Namu merasa begitu malu.
" Heeeeeiiiii...... kok jadi diam ?????.... kalau begini 'kan ketahuan kalau sudah jadian ".
" Kau ini ngomong apa sih ... Narita - Incheon itu dekat nggak mungkin membuat mu jetlag sampai agak koplak begini 'kan Lend ? ". Namu berusaha melucu, tapi dia terlihat begitu gugup.
" Heiiii ", tiba-tiba saja Syailendra mendekatkan wajahnya tepat berada diantara kedua kursi sopir dan penumpang. " Kalian tidak usah begitu dihadapan ku.... dari awal dulu aku sudah paham, pasti ada apa-apa diantara kalian . Dan si nona cantik ini.... satu Minggu kemarin, walaupun ia berpura-pura tidak membutuhkanmu ..... tapi sangat rindu looh ... iya 'kan ?. Wis tow ... aku wis mudeng, ora usah isin-isin ".
" Halaaaah.... ngomong apalagi sih itu ", Namu menggerutu. " Kau ke Seoul mau apa ? ".
" Loh ?!! .... ya mau ketemu kamu. Kalau nunggu di Jakarta.... kelamaan masbro. Cinta, kamu nggak bilang ? ".
" A-aku.... aku bilang kok. Kak Namu yang terlalu sibuk.... jadi lupa kali dia ". Cinta tergeragap menjawab pertanyaan yang tiba-tiba itu.
" Oh yaaaaa.... ", Namu melirik Cinta meminta penjelasan.
" Aku sudah bilang padamu kak..... ".
" Aku mulai lapar nih.... sudah, sudah.... melihat kalian seperti ini tambah lapar. Ayo cari makan ", Syailendra menengahi.
" Ada kedai makanan rumahan halal disekitar sini, dan kebetulan buka .... disitu saja ya ".
" Kapan kau pernah melihat ku rewel soal makanan ? ".
" Iya siih.... rewel gebetan iya ", tukas Namu cepat seraya tertawa. Sepertinya ia merasa sedikit puas bisa membalas temannya ini.
" Sesukamu laaaaah... yang penting makan ", Syailendra mendengus pasrah.
Ketiganya duduk mengelilingi meja yang lumayan besar. Dihadapan mereka tersaji beraneka ragam sayur dan lauk. Terlihat sangat menggoda, dengan warna hijau mengkilap, merah menggiurkan serta coklat keemasan yang sedap dipandang.
" Wuuuuuuiiiiiih..... ini sih warung makan Padang ya ?. Apa orang Korea selalu seperti ini kalau makan. Lihat ..... satu, dua ....... sembilan lauk dan sayur. Bagaimana ini makannya ", Syailendra terlihat bersemangat sekaligus kebingungan.
" Ini set menu makan siang biasa loh. Lauknya cuma tiga, ikan bakar, Nori panggang, dan telor puyuh. Kimchi, sop tauge, daun perila, bulgogi, ini sup ikan pedas dan yang ini lalapan dengan aneka pasta cabai .... ".
" Ini gimana makannya... harus semua begitu ! ", tanya Syailendra lagi.
" Hadeeeeh ... kayak yang belum pernah ke restoran Korea saja ".
" Iya.... tapi tidak semeriah ini. Paling cuma pesan bulgogi, dimsum udah... lah ini.... ".
" Bapak-bapak ....... bisa nggak, nggak usah pake berisik gitu. Malu dilihat orang ". Cinta menyela sambil menautkan kedua alisnya pertanda ia mulai kesal.
" Sudah makan saja .... makanya sesekali nonton drama Korea juga.... biar nggak malu-maluin ".
Dua pria itu kompak nyengir dan mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Cinta. Pada akhirnya mereka pun mulai menikmati hidangan yang tersaji. Dengan sesekali sambil berbincang. Hingga tak terasa seluruh hidangan itu licin tandas.
" Waaah... rekomended juga nih nasi Padang ala Korea ", Syailendra terlihat puas dan kenyang. " Namu, kau harus melihat ini... baru saja ku kirim ke email pribadi mu ". Syailendra menunjukkan layar telepon selulernya yang menampakkan notifikasi keberhasilan pengiriman pesan berupa sebuah dokumen.
" Kenapa tidak kau katakan langsung saja ? ", terdengar sedikit memprotes Namu mengucapkannya.
" Aku mau istirahat dulu. Kau harus mempelajarinya dulu. Maksud ku kalian berdua.... heiii ..... itu menyenangkan bukan ? ".
Syailendra mengedipkan matanya pada Namu dan Cinta bergantian. Membuat kedua orang ini menjadi serba salah, saling berdehem' dan beringsut sedikit menjauh.
" Tidak usah khawatir .... rahasia kalian aman bersama ku. Lagian... kenapa nggak berterus terang saja sih ", sambung Syailendra dengan tawa yang tak lagi disembunyikannya .
" Lend !!! ", Namu memanggil dengan sedikit memukul meja. " Apa maksudmu sebenarnya ? kau tahu 'kan bagaimana hubungan kami ".
" Hah ?!! ", terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Namu. Syailendra kemudian memasang wajah bingung dan juga menyesalnya. " Apa ... apa ... aku salah ? kalian tidak saling mencintai ? tidak jadian ?.... tapi .... Cinta kemarin itu ???.... heiii.... jangan mempermainkan ku ya !!!! " sentak Syailendra.
" Katakan .... kau ada dipihak mana ? ", Namu menyorongkan wajahnya mendekat pada Syailendra. " Ada dengan Cinta ? apa yang kau tahu ? ".
" Dia... ", Namu menunjuk Cinta yang terlihat berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerona tomat. " Dia menangis karena rindu dan kesal padamu... air mata dan ingusnya sampai merusak bajuku ".
" Hah ?!!! ", Namu melongo, ternganga tak percaya.
Sementara itu Cinta mengaduh pelan sambil terus membuang pandangan berusaha menyembunyikan rona malunya. Gadis yang terpergok, ketahuan karena sudah menyembunyikan sebuah perasaan. Cinta benar-benar mati kutu sekarang.
...............
Indonesia, lima hari yang lalu.
Seorang gadis nampak uring-uringan, bekerja di balik mejanya dengan perasaan campur aduk tak menentu. Kesal, jengkel seolah memenuhi rongga dadanya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya berkali-kali berharap ada sebuah pesan atau panggilan dari si penyebab porak-porandanya hati.
" Tok.. tok.. tok.. ", suara ketukan di pintu membuatnya mengangkat wajah.
" Masuk ", ia pun mempersilahkan.
" Bu ada pak Syailendra.... saat ini di ruang meeting dengan pak Kemal juga. Ibu di tunggu ... ", Dewi membertahu Cinta.
" Sejak kapan ? ... waduh ... kok aku gak ditelpon ya ", Cinta terlihat sedikit gugup.
" Sepertinya belum lama Bu, sekertaris pak Kemal yang barusan telpon saya ".
" Oke.. oke aku ke sana ".
Cinta tergesa merapikan rambutnya dan juga beberapa dokumen yang menurut intuisinya, memang harus di bawa. Lalu membiarkan Dewi sekretarisnya yang membawa file itu. Langkahnya bergegas menuju lift, beruntung tepat waktu saat pintunya terbuka. Dengan lincah iapun melesat masuk.
Sesampainya di depan sebuah pintu ruang meeting yang dimaksud, Cinta meminta dokumen yang tadi di bawa Dewi. Lalu dengan isyarat meminta gadis itu meninggalkannya.
" Siap ya ' Wi... ".
" Baik Bu ".
Dan Cinta pun membuka pintu itu, kemudian masuk kedalam ruangan dimana sudah menunggu beberapa orang di sana. Tersenyum dengan ramah Syailendra yang duduk berdampingan dengan Kemal dan beberapa orang dari divisi perencanaan, divisi research development and evaluation juga nampak sudah menunggunya.
" Mohon maaf..... saya baru tahu kalau akan ada pertemuan seperti ini ".
" Tidak mengapa Cinta, ini juga mendadak dan kebetulan mumpung masih di Jakarta ", suara Syailendra terdengar sangat ramah, walaupun wajahnya nampak begitu serius.
" Bisa kita mulai sekarang pak ? ", Kemal menyela.
" Ya... ya.... sudah hadir semua bukan, silahkan pak Kemal ".
Dan pada akhirnya, dari waktu Dhuha hingga Dzuhur rapat mendadak itu berlangsung tanpa terasa. Kedatangan Syailendra itu sebenarnya sudah sedikit diprediksi oleh Cinta, mengingat begitu detailnya pria ini dalam bekerja. Hampir menyamai om nya Mandala yang menjadi direktur utama perusahaan ini. Tak jauh berbeda juga dengan ayah nya yang menjabat sebagai direktur keuangan.
Satu hal yang membuat Cinta gemas adalah sang wakil direktur yang sama sekali tidak melakukan komunikasi dengannya, padahal jelas-jelas proyek ini diserahkan padanya. Ya, sang wakil direktur yang membuat Cinta gemas itu tentu saja Namu yang kini masih berada di Korea.
Tidak masalah, setiap orang punya kepentingan keluarga dan kepentingan pribadi. Tapi seharusnya untuk masalah seperti ini, dia paling tidak sudah diberi tahu dahulu. Beruntung Cinta juga bisa membaca beberapa kejanggalan dari dokumen salah satu investor, sehingga ia pun berinisiatif melakukan penyelidikan sendiri. Dan benar saja, tepat seperti dugaannya.
" Aku sudah berbicara langsung dengan pak Mandala tadi, dan beliau minta kita bentuk tim kecil untuk menyelidiki perusahaan cangkang itu. Siapa sebenarnya yang ada di baliknya. Tapi tetap dalam penampakan seolah-olah kita tidak tahu semua ini ".
" Bagaimana dengan wakil direktur? apakah sudah di hubungi ? ", Cinta menyela.
" Pak Dirut memintaku secara khusus untuk tidak menghubungi dulu, beliau yang akan menyampaikannya langsung nanti. Katanya .... tiga hari lagi akan menyusul ke Korea ".
Cinta mengangguk-angguk, tapi sebenarnya ia sedang berusaha memahami sesuatu.
" Cinta ... ".
" Ya pak ", jawab Cinta dengan cepat saat Syailendra kembali memanggilnya. Dan pria dihadapannya terlihat tersenyum.
" Besok aku dan beberapa orang berencana mengunjungi lokasi, kuharap kau bisa ikut. Dengan beberapa orang timmu tentunya ".
" Ya pak .... saya ikut serta ".
" Okey semuanya, terimakasih banyak... rapat kita akhir dulu. Untuk keberangkatan besok, mohon dipersiapkan sebaik mungkin ".
" Ya pak ", hampir serempak dijawab oleh yang hadir.
" Cinta ", Syailendra menahan langkah Cinta, dan membuat gadis itu kembali duduk.
" Ya pak ".
" Santai ... panggil saja seperti biasanya. Aku hanya ingin bertanya padamu tentang Namu ".
" Ah ya mas Alend, ada apa dengan kakak ku itu ?".
" Apa benar dia akan menikah di Korea ? ".
Hngiiiiiiiiiiiiiing......... suara itu seperti dengingan tembakan supersonik yang menghunjam di gendang telinganya. Cinta seketika membeku, bahkan pandangan matanya kini seperti berkabut.
" Cinta... Cinta .... hei ... kau kenapa ? ".
" Mas.... apa benar seperti itu ?", Cinta seketika terduduk. Dadanya turun naik dengan sedikit tak beraturan. Perlahan ia pun bersandar sambil berusaha mengatur nafas.
" A-aku bertanya pada mu .... maaf. Tadi aku mendengar pak Mandala dan pak Arjuna berbicara tentang pernikahan .... pernikahan Namu di Korea ".
" Oh ..... begitu ya. Pantes ..... dia sama sekali tidak menghubungi ku ".
Raut wajah Cinta menjadi sendu, bahkan terlihat sesudut air mata yang sudah hampir meluncur. Syailendra mengerutkan keningnya, menatap gadis ini dengan seksama seolah-olah mencoba menggali yang tersembunyi di dalam hati Cinta.
" Kau baik-baik saja Cinta ? ".
" Iya... aku baik-baik saja ", tapi suara itu terdengar serak dan bergetar. Seperti kedua tangannya yang gemetaran saat mulai merapikan dokumen yang di bawahnya. Perlahan air mata itupun tak tertahankan lagi. Meluncur satu demi satu, bergulir membasahi dan membuat jejak di pipinya.
Syailendra tertegun, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang akan didapatkannya dari menanyakan hal yang secara tidak sengaja di dengarnya tadi. Kini ia sangat kebingungan harus bersikap bagaimana. Ia pun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sementara gadis cantik dihadapannya ini terlihat berusaha keras meredam tangisnya sendiri.
" Cinta .... maaf .... aku ... ".
" Aku yang minta maaf .... mas Alend pasti bingung dengan sikapku ". Cinta mengeluarkan sapu tangan dan mengelap air matanya sendiri. Menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.
" Aku..... aku hanya sedikit marah ... karena seperti tidak di hargai. Kami tumbuh bersama.... dia kakak tersayang ku .... tapi ada hal sepenting ini.... dia tidak memberitahuku. Dasar !!!! ... aku kesal sekali ".
" Ya Cinta..... aku mengerti ".
Mungkin seperti itu yang diucapkan Cinta, tapi ada pijaran redup yang menyampaikan sebersit rasa sakit. Sakitnya hati seorang wanita, dan Syailendra bisa melihatnya dengan jelas. Lalu ia pun tersenyum lembut dan menatap gadis itu.
" Cinta ...... aku mengerti. Sangat mengerti ..... hei' ... mau berbagi dengan ku ? ".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
may
Mas Alend peka banget si🤭
2023-10-09
0
Zeeylaa To Zila
mas alend tempat curcol nya cinta
2022-01-23
0
ᰔᩚ 𝙼𝚊𝚖 𝚄𝚖𝚎𝚢𝚜 ♡ᰔᩚ
mau marathon baca terkendala sinyal😢
2021-11-19
0