Gerimis itu terasa begitu romantis, mengiringi malam yang melarut. Gemintang tak terlihat karena mendukung yang pekat. Dua orang di dalam kendaraan yang meluncur dengan kecepatan sedang, melaju menembus jalanan kini saling diam terhanyut dalam pikirannya masing-masing.
Ada resah yang kentara disetiap tarikan nafas mereka. Gundah pun ikut serta mengiringi, membuat hati semakin terombang-ambing. Terkadang keduanya menghembuskan nafas yang berat hampir bersamaan. Tapi tetap saling diam. Hingga kemudian Namu mendengar sebuah isak yang lirih tersamar oleh helaan nafas.
" Hei.... ", pria itu menoleh menatap Cinta yang segara berpaling menyembunyikan air matanya. Mobil itupun dibawa menepi pada sebuah area parkir taman yang cukup luas. Walaupun sebenarnya, jarak rumah sudah tinggal beberapa belas menit saja.
" Ada apa ? .... ceritakan padaku ".
Namu perlahan menyentuh pundak Cinta, lalu jemarinya pun turun dan menggenggam jemari Cinta dengan lembut. Membuat gadis itu menoleh dan mendapati kakak tampannya tengah tersenyum lembut menatapnya.
" Aku lelah kak ", lirih terucap dari bibir Cinta.
" Bersandarlah..... ada kakak mu di sini ".
Perlahan Namu menarik kepala gadis itu dan menyandarkan di pundaknya. Lalu seperti yang sudah-sudah, Cinta pun akan menangis lama di sana. Dan Namu pun tidak akan beranjak sedikit pun, hingga tangisan Cinta benar-benar telah usai.
" Sudah ? ".
Cinta mengangguk sebagai jawaban. Kini sekotak tissue telah berpindah ke pangkuannya dan menjadi penghapus jejak kesedihan tadi. Namu tersenyum melihat hal itu, ia pun sedikit membuka kaca mobil dan membiarkan gerimis kecil menularkan hawa dinginnya.
" Aku..... berdebat hebat dengan mama. Apa ku turuti saja ya kak permintaannya ..... menikah. Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan kebahagiaan anaknya, bukan ?. Pasti pilihan mama itu orang yang baik ...... ".
" Kau menerima permintaan itu bukan semata-mata karena kamu jenuh. Tapi kamu harus yakin Cinta. Aku memang juga belum pernah menikah, tapi menurut ku .... saat kita sudah menikah dengan seseorang, itu artinya adalah mengikat hidup selamanya. Bagaimana jika tidak ada cinta sama sekali ? apakah bisa terus terikat bersama? bukankah hanya saling menyakiti ? ".
" Aku juga bilang seperti itu pada mama... tapi katanya, cinta itu pun bisa tumbuh seiring waktu berjalan dalam sebuah pernikahan ".
" Bagaimana jika tidak ? ".
Cinta terdiam dan sedikit menunduk. Ia kembali menghela nafas panjang sebelum berkata-kata lagi.
" Umur ku menjelang dua puluh delapan tahun..... ".
" Aku sudah tiga puluh tahun lebih sebulan ... ", sambar Namu dengan cepat.
" Tapi kau pria kak.... aku perawan tua ".
" Cinta ..... Tante Hana hanya sangat khawatir padamu dan berusaha membantu mu. Bicaralah baik-baik dengannya ..... perlu bantuan ku ?".
" Kau ..... hi.. hi.. hi.. ", Cinta tekikik. " Memang bisa membantu ku?. bantu dirimu sendiri dulu kak.... bawa pacar atau sekalian calon istri .... baruuuu aku percaya kau bisa membantu ku ".
" Oh iya ... ya.... ". Namu pun tertawa terbahak-bahak menyadari betapa ironisnya.
" Sudah ah.... ayo pulang. Biarkan saja semuanya, kupingku sudah tebal kok ".
Rumah keluarga Arjuna berada satu kompleks dengan rumah keluarga Mandala. Hanya berjarak beberapa menit saja. Malam itu sudah mulai larut saat Namu mengantarkan Cinta sampai di rumah.
" Kau tidak mampir dulu kak ? ".
" Sudah terlalu malam, pasti Om dan Tante juga sudah tidur ".
Namun kemudian Cinta mengerutkan keningnya ketika melihat Namu yang katanya tidak akan mampir, justru malah mendahului turun. Saat ia masih sibuk berkutat melepaskan sabuk pengaman, pria itu sudah siap di samping pintu sambil membuka payung lebar-lebar. Cinta tersenyum, inilah kakak yang sangat disayanginya.
" Ayo ", dan Namu merengkuh pundak Cinta membawa gadis itu berjalan mendekati pintu pagar.
Belum lagi mereka tiba didepan pintu pagar, benda itu tiba-tiba saja sudah bergeser perlahan. Seorang pria mengangguk hormat pada dua orang majikannnya.
" Terimakasih pak Jo ", ucap Cinta lembut yang disambut pria itu.
" Sendirian pak ? ", tanya Namu Kemudian.
" Dengan Kasan kok mas ", jawab pria itu ramah.
Namu mengantarkan Cinta hingga ke depan pintu rumahnya yang tinggi dan lebar. Membukakan pintu itu perlahan tanpa ikut serta masuk kedalam. Diambang pintu itu, keduanya berdiri saling berhadapan dan berbagai senyuman.
" Aku pulang ya. Ingat, dengarkan kata hatimu..... jangan mengambil keputusan apapun saat sedang marah ".
Cinta hanya bisa menganggukkan kepala tanda setuju. Ia menahan telapak tangan Namu yang membelai pipinya. Memejamkan matanya, seolah menyesap damai yang diberikan seorang kakak
" Kakakku.... ", desisnya.
" Aku pulang dulu ya .... ".
Cinta pun melepaskan genggamannya dan membiarkan Namu membalikkan badan. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu bergegas meninggalkan kediaman Om dan Tante nya. Kepergiannya seolah-olah menyongsong gerimis yang melebat.
***Pria hujan.....
Seribu boneka pemanggil hujan ku buat dengan sejuta perasaan
Aku menyukai hujan,
Karena airnya menyembunyikan air mata ku
Karena dinginnya menenangkan sukma ku
Seorang pria yang datang bersama hujan
Entah mana yang lebih aku sukai
Pria itu, atau hujan yang datang menyertai
Seribu boneka pemanggil hujan
Cukuplah hanya mereka yang memahami
Karena akupun tidak ingin mengerti
Pria yang pergi bersama hujan
Entah siapa yang membuatku sesedih ini
Pria itu, atau hujan yang mengiringi***
.................
Hari Sabtu pagi di rumah kediaman keluarga Mandala. Saat itu Orlin baru saja menyeduh sepoci teh panas di dapur, ketika sebuah pelukan dan kecupan hangat menghampiri.
" Selamat pagi mama tersayang ".
Si putra sulung datang menghampiri dengan manja. Namu terlihat segar dengan sisa-sisa air yang membasahi keningnya. Setelan joging yang berwarna biru muda menambah berlipat-lipat kadar ketampanan pria itu.
" Waaah.... nggak ajak papa sekalian nak ?".
" Nggak mah, biar aja..... papa lebih baik temani mama jalan sehat aja. Hi .. hi.. hi.. biar nggak encok ".
" Kata siapa encok ?", suara lain mengagetkan keduanya.
Mandala sudah berdiri dengan setelan joging yang hampir sama. Pria ini sudah melewati usia setengah abad, rambutnya sudah banyak yang beruban. Tapi wajahnya masih sangat tampan, dan sinar mata itu begitu lembut. Apalagi jika tersenyum seperti saat ini.
" Bukan hanya encok.... tapi kasihan mama nggak ada temennya buat olahraga pagi. Limited edition loh pah.... susah cari gantinya ", Namu mengerling menggoda.
Sambil berlari kecil melewati ayahnya, pria muda itu menepuk pundak sang ayah dengan senyuman menggoyang.
" Lihat kelakuannya.... ", Mandala tersenyum dan menunggu kedatangan sang istri. Lalu menggandeng tangan wanita tercinta ini, kemudian melangkah keluar bersama.
" Bukankah sama usilnya dengan mu. Persis seperti kamu mas " .
" Iya ... ya ... ha.. ha.. ha... ".
Dan sepasang cinta yang telah teruji dalam kurun waktu yang tidak sebentar itupun berjalan bergandengan dengan mesra. Menyusul si sulung yang telah berlari, sementara mereka berjalan dengan santai menikmati embun menyongsong fajar.
" Ingat hari dimana kita pertama kali berciuman ? ", Mandala tersenyum mengenang hari itu.
" Tentu saja ", balas Orlin dengan mantap tanpa ragu. " Diawali dari tipu muslihat di pagi hari, di track joging. Tunggu !!.... ada yang keliru... bukan pertama kali kita berciuman. Tapi pertama kalinya kau menciumku ".
" Istriku .... bagaimana mungkin aku keliru. Aku masih ingat bagaimana rasa bibir mu yang manis dan lembut itu .... tiba-tiba saja berubah menjadi asin oleh air mata. Di pinggiran jalan tol itu..... ".
" Itu ciuman paksa mu yang kedua mas ", sanggah Orlin dengan cepat.
" Yang pertama ? ", Mandala kebingungan. Padahal ia yakin sekali kalau ingatannya tidak meleset.
" Yang pertama .... di halaman parkir IGD dengan 'Blui' sebagai saksi ".
" Oh ... ", Mandala terpaku sesaat. Namun kemudian ia tertawa. " Heiii.... saat itu ya. Itu hanya sebuah kecupan kecil di pipi. Itu bukan kategori ciuman, sayang ".
" Kau ini !!! seharusnya kau turunkan sedikit kepiawaian mu sebagai playboy pada dua anak lelaki mu. Mereka seperti bukan anakmu saja ... ".
" Bukankah doa mu terkabul sayang, mempunyai dua orang anak lelaki yang santun dan setia ".
" Iya juga sih .... ", Orlin nampak mengangguk-angguk membenarkan. " Tapi tidak seperti ini juga, usia keduanya sudah lewat seperempat abad, tapi belum pernah ada satu gadis pun yang nampak menggoyahkan hari mereka .... ini menghawatirkan mas ".
" Karena standar yang mereka pake cukup tinggi. Melebihi standar yang ku terapkan. Pasti mereka memilih gadis yang minimal ..... seperti mu ".
" Oh ya.... memang aku bagaimana ? dan dari mana kau tahu itu mas ? ".
" Tentu saja aku tahu, karena mereka anak-anakku. Kamu itu....... wanita manis yang lembut, cerdas, hangat dan mampu menyempurnakan .... that's it ".
Orlin tersipu malu mendengar pujian itu. Ia pun melingkarkan kedua lengannya ke pinggang sang suami. Berbalas sebuah rengkuhan lembut. Sejoli itu pun berjalan dalam kehangatan cinta yang sudah tidak diragukan lagi.
" Tapi aku sangat berharap .... Namu dan Haidar segera menemukan tambatan hati mereka ", ucap Mandala kemudian penuh pengharapan.
" Oh ya.... kalian para pria juga jangan over protective sama Kirana. Pemuda-pemuda takut dengan kalian para bodyguard yang tampan "
" Yang takut dan tidak sesuai standar..... minggir. Minimal... yang bisa dekat dengan Kirana harus yang setara dengan ku ".
" Heiii.... ini tentang Cinta. Standar dan kriterianya hanya hati yang bisa mengukurnya. Jangan paksakan dengan semua standar dan kriteria versi kalian ".
Mandala tidak menjawab, ia hanya tertawa berderai. Ia tahu betul bagaimana sang istri yang tidak pernah silau dengan harta dan tahta. Bahkan untuk mendapatkan hati wanita ini, seluruh hartanya tidak berguna, begitu juga dengan wajah tampannya.
" Om ..... Tante... ".
Sebuah sapaan terdengar dari arah belakang mereka. Sesosok yang ramping dengan tubuh tinggi semampai menyusul keberadaan mereka. Cinta dengan rambut ekor kudanya nampak berpeluh dengan sesungging senyuman manis.
" Hei... tadi Namu sudah di depan Cinta ", kata Orlin.
" Oh ya ". Cinta tetap berlari kecil dengan arah mundur. Sehingga ia tetap bisa berhadapan dengan om dan tantenya.
" Cinta.... susul Namu. Kalau bubur ayamnya sudah buka..... booking tempat buat kita berempat ya " .
" Okay Om ..... yuk, duluan ".
Cinta pun memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Lalu berlari kembali meninggalkan Orlin dan Mandala yang masih tetap berjalan santai.
" Cinta..... bukan kah sebentar lagi usianya dua puluh tujuh tahun ya ", tanya Orlin.
" Ya.... dan dia mengikuti dua pria kita.... masih jomblo. Mba Hana sangat khawatir, ia minta tolong padaku ".
" Apa itu ? ".
" Mencarikan pria yang tepat untuknya " .
" Sudah kau dapatkan ? ", tanya Orlin dengan rasa penasaran yang meletup-letup.
" Masih ingat Rayhan dan Nilam ? ".
" Ah ya..... tentu saja. Kau jodohkan dengan putra mereka ?, yang mana ? ".
" Yang sulung, kalau si kembar sudah punya pasangan semua. Kebetulan Rayhan banyak bercerita padaku.... dan aku juga sudah beberapa kali bertemu Syailendra, anaknya Rayhan " .
" Oh yaaa..... si kecil yang cerdas berlogat British dengan sepasang mata kelabu yang bening itu ya. Waaaah... seganteng apa dia sekarang?. Mba Hana dan bang Juna setuju ? ", Orlin terlihat sangat berantusias.
" Tentu saja. Tadi malam itu... kenapa aku dan Juna sama-sama mewakilkan undangan jamuan bisnis ...... itulah misi tersembunyinya. Pasti Namu sudah sukses mempertemukan keduanya ".
" Waaaaaah.... aku tidak sabar ..... menunggu lanjutan kisah ini ". Orlin nampak berbinar-binar sesaat, namun ia tiba-tiba saja terlihat sedikit murung. " Lalu bagaimana dengan Namu ? ".
" Oh .... si oppa itu. Tentu saja ada seorang gadis pintar, cerdas, sederhana namun sangat cantik untuk nya ".
" Benarkah ? ... kenalkan padaku ", Orlin kembali terlihat sangat bersemangat.
" Kau sudah kenal kok ", Mandala hanya tersenyum tak mengindahkan tatapan penasaran istrinya. " Tunggu saja.... perlahan.... biarkan terjadi secara natural... tapi pasti ".
" Tapi harusnya mas memberitahu ku juga ".
" Sabar.... biar ku tata semuanya dulu. Biar Namu nggak curiga dan kabur. Okay ???? ".
Walaupun tenggelam dalam rasa penasaran, Orlin pada akhirnya mengangguk menyetujui. Sementara itu beberapa puluh meter di depan pasangan itu, nampaknya Cinta sudah bergabung dengan Namu yang berlari mengelilingi taman.
" Om dan Tante minta kita booking tempat di bubur ayam. Kau yang booking ya kak.... aku tambah satu putaran dulu ".
Tanpa menunggu persetujuan Namu, gadis itu mempercepat larinya mendahului. Namu hanya menggeleng kecil dan membuat statis larinya tepat di samping tenda bubur ayam. Masih dengan mengatur nafasnya, ia pun mendekati si mamang tukang bubur.
" Mas Namu..... selamat pagi ", sapa pria penjual bubur itu ramah.
" Kapling tempat untuk empat orang ya mang. Bubur nya nyusul ya ...... nunggu yang tiga sampai dulu ".
" Okay mas.... minum nya? ".
" Air putih hangat ya.... empat. Oh ya.... nanti bungkus dua ya mang ".
Pria itu menautkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya tanda mengerti. Dengan senyuman riang, iapun menyiapkan satu meja dengan empat kursi. Beberapa saat kemudian Cinta yang sudah menyelesaikan putaran terakhirnya tampak mendekat, di susul Mandala dan Orlin.
" Empat bang..... satu porsi jumbo ya ", seru Namu penuh semangat.
" Whiiiy...... porsi ngamuk ", goda Cinta sambil duduk menyebelahi Namu.
" Habisnya ..... tadi malam ada yang ngambek nggak mau makan malam ".
" Suruh siapa meninggalkan ku dengan sengaja..... diumpamakan pada para pria itu ".
" Tapi Syailendra bukan buaya loooh ...... ".
" Bukan dia.... tapi temennya yang reseh itu ".
" Berarti kalau dengan mas Alend.... mau dooooong ", Namu menyeringai menggoda.
" Diem ..... ", Cinta dengan sengaja menginjak kaki Namu membuat pria itu meringis.
" Berarti mau ya.... ".
" Ish!!! kakak ".
" Mau apa ? ", tanya Orlin yang baru saja tiba dan langsung duduk dihadapan Cinta.
" Mau sate telor mudanya dua.... oh ya, Om Mand mau ekstra bawang goreng 'kan ? ", Cinta berusaha mengalihkan perhatian.
" Pfftttt.... ", Namu menahan tawanya. Tapi sebuah hentakan yang menghantam kakinya kembali membungkam dan membuatnya meringis.
" Kenapa ? ", tanya Mandala keheranan melihat ekspresi si sulung.
" Oh .... itu pah.... ada meteor jatuh ".
" Ooooh ..... meteor ", seloroh Mandala menahan geli.
Sementara Cinta semakin mendelik kesal. Lalu pinggang ramping Namu dengan otot perut yang padat itu kembali menjadi sasaran empuk dari serangan ajian cubit maut dewi Cinta. Namu meringis, mengaduh dan juga tertawa.
" Heeeeeiiii....... kalian ini, tidak berubah.... dari kecil selalu seperti ini ", lerai Orlin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
bundanya Fa
kayaknya ada cinta di antara mereka ber 2.
2022-04-13
0
Zeeylaa To Zila
bru baca q dan seru
2022-01-21
0
sweet@archer
berkunjung lagi ke sini mbak Reeennn untuk yg kesekian kali. tapi akun berbeda. akun yg lama d bawa bang Namu kabur ke Inggris... 😅😅
tetap semangat berkarya Ay Renita. tetap jaga kesehatan dan selalu bahagia 😊 😊
2021-12-10
0