" Tidak bisakah kalian lebih lama lagi tinggal di sini ? ", Teddy menatap ke empat sahabatnya penuh permohonannya.
" Iya....kami semua sudah sepakat, tiga hari lagi kami akan balik ke Indonesia. Untuk mu .... sahabat terbaik kita semua ", Mandala mewakili tiga orang yang lainnya menjawab pertanyaan itu.
" Sementara para istri akan berkeliling mencari oleh-oleh.... kita semua akan menghabiskan waktu untuk terus bersamamu ", Arjuna menimpali.
" Ya... ya... ya.... terimakasih banyak, kalian memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki ", Teddy tersenyum lebar.
" Malam ini.... kau istirahatlah, besok kami ke rumah mu. Kita akan main kartu dan catur lagi seperti dulu .... ".
" Tapi tidak dengan taruhan buka baju ya ", Bramastya menyela perkataan Ardanu dengan cepat.
Dan kelima pria paruh baya itupun tertawa bersama, dalam derai-derai rasa bahagia. Dulu mereka pernah muda, terikat dalam persahabatan yang erat dan tulus. Kini persahabatan itu semakin erat setelah teruji dengan berbagai peristiwa. Kualitas ketulusan itu terbukti dan nyata menghangatkan hubungan. Tidak hanya ada saat bahagia, tapi saling merengkuh juga dalam duka.
" Ma... ", Cinta menghampiri Hana. " Aku akan bicara dulu dengan Hyoriin.... bisa tunggu aku sebentar ?".
" Kami sudah lelah nak, kalian anak muda ... lanjutkan pestanya. Besok kami para istri mau belanja-belanja.... harus persiapan tenaga. Kamu sama Namu lagi saja ya ", Hana menolak permintaan putrinya. " Mana sih dia.... aaah... itu dia... Namu ... Namu... ".
" Ya Tante ". Namu yang masih berbincang dengan Lee dan beberapa pemuda lainnya datang menghampiri, memenuhi panggilan Hana.
" Kau pulang sama Cinta lagi ya. Dia ngobrol sebentar dengan Hyoriin ".
" Siaaaaap Tante ".
" Uwuuu maniiisnya.. ", dan Hana pun tidak kalah imut mengimbau tingkah Namu. Satu cubitan sayang didaratkan di ujung hidung menjulang si keponakan manis
Cinta sedikit mencibir melihat kelakuanku mamanya. Dan iapun bergegas berjalan mendekati Hyoriiin yang masih duduk berbincang di sebuah meja dengan dikelilingi beberapa teman wanitanya.
" Cinta ..... aku sudah dari tadi ingin ngobrol dengan mu. Maaf ya baru bisa menyapa ".
" Tidak mengapa .... 'kan baru jadi ratu sehari. Selamat ya atas pernikahan mu. Kau mendahului ku ternyata ".
" Iya ... ha... ha... ha... semoga setelah ini kau yang segera menyusul ". Hyoriin tertawa lepas, kali ini terasa begitu ringan tanpa paksaan.
" Heiii ya !, tapi yang dapat bunga 'kan si Namu oppa. Bagaimana dong .... ", Cinta terkekeh karena merasa sangat lucu.
" Iya juga ya ..... ah sudahlah, semoga kalian berdua cepat dapat pasangan dan segera bisa menyusul ku menikah. Oh ya, masih lama di sini ? " .
" Sepertinya tidak, lusa aku sudah harus pulang ke Indonesia. Ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan ", sesal Cinta.
" Tapi kak Namu masih satu Minggu lagi ".
" Jangan samakan ..... dia 'kan boss ".
" Waaah ... iya juga ya. Eh.... aku bantu bujuk deh, biar si boss besar kasih ijin. Nanti kita ke Jeju sama-sama ... ya ? bagaimana ? ".
Cinta tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya. Memberikan tanda penolakan pada Hyoriin yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh harap.
" Hyoriin... kamu pasti bisa kok. Kak Lee orang yang sangat baik .... pasti tidak akan apa-apa ".
Tiba-tiba saja Hyoriin memeluk Cinta, seperti tengah meredam ketakutannya sendiri. Dan kata-kata Cinta itu membuatnya sedikit nyaman.
" Kau sudah tahu ceritanya ya ", tanya Hyoriin.
Cinta mengangguk sambil mengusap punggung sang pengantin itu. Sementara itu Hyoriin nampak menarik dan menghembuskan nafas dengan panjang.
" Kau hebat .... hebat sekali, aku harus belajar padamu ".
" Belajar apa ? ... apa maksudmu Cinta ". Hyoriin menghela pelukannya dan menatap sepasang mata gadis dihadapannya.
" Mungkin .... aku ... juga sebentar lagi akan melakukan apa yang kau lakukan ".
" Maksudmu ? .... ", Hyoriin tetap kebingungan.
" Yaaa... menikah.... menikah demi kebahagiaan orang tua ".
Dua wanita itu saling terdiam beberapa saat, lalu saling melempar senyum kelu. Sepertinya mereka saling memahami.
" Ku pikir hanya aku yang seperti ini. Tidak ku sangka..... ".
" Yaah.... mau bagaimana lagi, aku hidup di Indonesia, dimana orang-orangnya sangat peduli dengan urusan orang lain. Memiliki seorang anak gadis berusia dua puluh tujuh tahun yang masih lajang.... tentu mereka sangat bosan sudah jadi bahan gunjingan tiap saat ".
Hyoriin yang bermata runcing itu sedikit membelalakan kedua kelopak matanya, karena kaget. Namun sesaat kemudian kedua wanita itu kemudian saling tersenyum dengan ironis. Cinta mengangkat bahunya, terkesan pasrah.
" Apakah kekasih mu juga meninggal mu ? sama seperti ku ".
" Tidak..... aku bahkan belum punya kekasih ".
" Apakah karena kau sedang menanti hati seseorang ? ", tanya Hyoriin lagi. Wanita ini sungguh-sungguh tidak bisa menahan buncahan perasaannya.
" Ehmmm.... mungkin... aku tidak mengerti perasaan ku sendiri ". Cinta terlihat ragu, dan sesungguhnya ia memang sedang bimbang oleh perasaannya sendiri.
" Aaaaah.... sudahlah. Kalau untuk ku ... semua sudah terlanjur. Lihat ..... ", Hyoriin menggedigkan dagunya mengarah pada Lee yang nampak sedang berbincang sambil meminum segelas sampanye. " Dia cukup tampan juga'kan ?.... dan lagi, dia ternyata sudah sangat mencintai ku dari dulu. Mungkin ... ah' tidak... pasti, ya pasti... aku juga akan jatuh cinta padanya 'kan? ". Hyoriin terkekeh-kekeh di akhir kalimatnya.
" Ya....... semoga kau akan segera jutuh cinta sepenuhnya ya Hyoriin ".
" Ya, semoga kau juga begitu. Atau.... kau jatuh cinta saja dengan kakakku. Oppa Namu ya....... ". Tiba-tiba Hyoriin berseru, suaranya terdengar sedikit serak. Rupanya, wanita ini sudah mulai terpengaruh kadar alkohol dari sampanye yang diminumnya.
" Kau mulai mabuk nona.... ini akan buruk untuk malam pertama mu nanti ".
Tapi perkataan Cinta sama sekali tidak diperhatikan oleh Hyoriin. Ia pun kembali menyesap minuman berwarna keemasan itu.
" Kak .... Hyoriin mulai mabuk. Bisa kau panggilkan Lee kemari ? ".
Namu bergerak cepat menghampiri Lee yang masih asyik berbincang dengan beberapa temannya. Berbisik perlahan pada pemuda itu, lalu keduanya pun menoleh ke arah dimana Hyoriin masih duduk dengan ditemani Cinta. Sementara itu, satu demi satu teman-teman wanita Hyoriin pun berpamitan.
Setelah saling berjabat tangan, satu persatu teman-teman pria Lee pun menyusul berpamitan. Kini Lee bersama Namu berjalan mendekati meja tempat Hyoriin dan Cinta masih duduk.
" Aku mau minum lagi.... ini hari pernikahan ku .... ", Hyoriin mulai meracau dan kembali menyesap cairan beralkohol itu dari gelasnya.
Cinta mengambil langkah cepat, memanggil pelayan dan meminta untuk menyingkirkan semua gelas dan botol minum yang masih ada di atas meja.
" Aigoo..... kalian ini !!!!.... ini hari pernikahan ku. Kenapa di bawa pergi ... aku masih mauinum lagi ".
Lee yang sudah berada di dekat Hyoorin segera menangkap tangan wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya itu, menghelanya agar tidak menganggu para pekerjaan para pelayan.
" Sudah ... sudah.... nanti kita minum lagi. Sekarang sudah dulu ya... ".
" Janji ?!!!!", suara Hyoriin terdengar bersemangat kontras dengan matanya yang sayu tak bersinar.
" Ayo.... kita pulang ", bujuk Lee. Tapi Hyoriin tak bergeming, wanita itu malah tertelungkup di atas meja.
" Kau butuh bantuan Lee ? ", Namu menawarkan.
" Dia.... tidak pernah membiarkan dirinya mabuk seperti ini. Hanya ..... saat sedang tertekan saja .... ", suara Lee terdengar sedih.
Pria itu membuka jasnya, lalu menyelimutkan pada punggung Hyooriin yang putih lembut dan terbuka. Dengan sayang pria ini lalu duduk disebelah istrinya, membelai rambutnya dengan penuh kelembutan. Kemudian terciptalah senyum tipis namun ironis.
" Aku sangat mencintaimu sayang.... sejak dulu. Bahkan mungkin saat nanti kau sudah menemukan cinta mu yang lain lagi, saat kau akan pergi meninggalkan ku, saat semua ini harus usai...... aku tidak yakin..... kalau saat itu aku sudah bisa berhenti mencintaimu ".
Kata-kata itu begitu tulus dan indah, namun nada yang tersampaikan begitu menyakitkan. Lee Mong Ryong yang mencintai tanpa syarat, tak membutuhkan jawaban, tak membutuhkan balasan. Mungkin di hati pria ini sudah sangat penuh oleh cintanya pada Hyoriin, sehingga sudah tidak ada tempat lagi untuk jenis perasaan lainnya.
" Namu yaa hyungnim.... bisa kau bantu aku meminta petugas valet untuk mobilku ? akan ku gendong Hyoriin .. ".
" Tentu saja ", Namu segera menyanggupi. " Kau tunggu di sini dulu. Biarkan mobilnya siap dulu ". Namu pun bergegas keluar dari hall itu segera setelah ia menerima kartu valet parkir dan kunci mobil dari Lee.
" Lee ... ", Cinta mencoba mengalihkan kesedihan yang terpancar jelas dimata Lee. " Percayalah padaku, tadi Hyoriin berkata..... ia sangat beruntung punya suami yang tampan dan sudah sangat mencintainya sejak dulu. Dan dia bilang.... pasti akan jatuh cinta padamu ".
" Dia pasti sudah mabuk saat sedang mengatakan hal itu...... ", Lee tersenyum miris.
" Bukankah orang yang sedang mabuk itu malah berkata jujur ? ".
" Oh ya ... ha... ha... ha... kau benar ", Lee tertawa, tapi kegetiran itu..... Cinta pun bisa merasakannya.
" Ayo .... mobil sudah siap ", seruan Namu dari seberang ruangan mengalihkan suasana.
Lee dengan sigap menggendong tubuh Hyoriin. Dalam pondongannya wanita itu terlihat lunglai dengan sepasang mata terkatup rapat. Sementara Cinta membantu membawakan sepatu pengantin wanita itu.
Ketiga orang itu tidak banyak bicara saat berada di dalam lift. Mereka seperti tenggelam dalam kecamuk pikirannya masing-masing. Bahkan hingga saat sudah berada didepan lobi. Namu hanya sesekali berbicara mengarahkan saat Lee membawa tubuh Hyoriin dan meletakkannya perlahan di kusri samping sopir.
" Terimakasih banyak ..... untuk semua nya ", Lee memberikan pelukan yang sangat erat pada Namu. " Kami .... sangat berterimakasih pada kalian ... ", dan sepasang mata Lee berkaca-kaca penuh rasa haru.
Mobil itupun perlahan melaju, meninggalkan Namu dan Cinta yang masih berdiri terpaku menatapnya. Kala itu sore sudah mulai menjelang, dan angin musim gugur yang mulai dingin menggetarkan itupun membelai kulit pundak Cinta yang terbuka. Gadis itu buru-buru mengenakan mantelnya sambil sedikit menggeretakan giginya karena dingin.
" Kita pulang sekarang ya ".
Cinta pun mengangguk mengiyakan ajakan Namu. Lalu keduanya menunggu sesaat mobil mereka datang. Cinta mengerutkan keningnya saat menyadari tidak lagi ada sopir yang akan mengantar jemput mereka.
" Kau bawa sendiri mobil ini ? memang tahu jalannya ? ", ragu Cinta saat Namu terlihat begitu percaya diri menerima kunci kendaraan yang kini sudah sedia menanti mereka.
" Kalau nyasar .... tanya eyang Google. Atau ... telpon Mr.Choi....beres ".
" Waaaah ... ". Cinta masih ternganga tak percaya. Tapi ia tetap ikut masuk kedalam kendaraan itu.
" Kita akan menikmati tur bulan purnama ".
" Apa itu ? ", Cinta terlihat sangat penasaran.
" Kita akan ke Gwanghwamun Square, Istana Gyeongbokgung adalah salah satu tempat wisata di Seoul yang juga dikenal dengan nama Istana Gyeongbok, adalah istana terbesar dari Lima Istana yang dibangun di Seoul pada zaman Dinasti Joseon. Ada festival Chuseok ... kau pasti suka ".
" Ouuh oppa.... so nice. Trus kita lihat apa di sana ? ", Cinta terlihat begitu bersemangat.
" Ada acara musik tradisional.... kata Mr.Choo akan ada festival lampion juga. Karena negara China ikut ambil bagian kali ini " .
" Wouw.... Daebak... eh sudah benar pengucapan ku ? ".
Namu tidak menjawab, ia menyentil hidung Cinta dengan gemas. Dan tetap kembali fokus memegang kemudi kendaraan itu. Tentu saja dengan sesekali melihat digital map yang memandunya. Sementara itu Cinta yang sangat bersemangat, justru sangat tidak membantu dengan segala bentuk ke khawatirannya dan juga tingkah over excitingnya. Tapi Namu justru tersenyum gemas, hal yang sangat dirindukannya hampir satu minggu ini sudah hadir kembali.
" Waaaaaaah ...... ".
" Husss... jangan norak ".
Namu menahan lengan gadis itu dengan sentakan lembut. Mereka tiba di istana Gyeongbokgung, di sebuah pelataran besar terbuka yang kini dilengkapi dengan sebuah panggung cukup besar ditengah-tengahnya. Sudah banyak orang yang melingkar panggung itu, mendengarkan alunan musik yang lembut mengalun.
" Aku tidak mengerti bahasanya .... tapi musik ini indah sekali. Seperti sedang berada pada masa kejayaan dinasti Joseon ya ".
" Jangan berisik..... nikmati saja ".
Cinta ingin memprotes sikap Namu yang selalu melarang ini itu. Tapi musik yang mengalun dengan nada tinggi itu terdengar begitu agung dan seolah menghipnotis Cinta untuk kembali diam dan menikmatinya. Gadis itu benar-benar terpaku, terpesona. Ia berdiri seperti mematuhi terhanyut oleh nada yang dalam menggiring lembut perasaannya.
Sementara Namu yang berdiri tepat dibelakangnya, justru kembali terhanyut oleh kecamuk perasaannya sendiri. Aroma wangi mawar yang lembut membumbung menyentuh indra penciumannya, berasal dari rambut gadis ini. Sungguh membuat pria ini seperti sedang menghirup aroma candu. Membuatnya semakin kehilangan kewarasan. Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mencoba mengendalikan seluruh emosi yang sedang dirasakannya.
Hingga pertunjukan musik itupun usai. Dan kini semuanya bergerak menuju salah satu bagian istana ini, yang ternyata adalah sebuah kuil. Lampion-lampion berwarna putih dan merah telah mulai dinyalakan. Ada beberapa yang bergantung pada tangkai kayu, ada juga yang di pasang menghiasi sepanjang dinding. Namun yang paling menarik perhatian adalah yang berbentuk lentera yang bisa terbang. Mirip dengan balon udara, tapi ukurannya berlipat kali lebih kecil. Sehingga memungkinkan dua orang saja yang memeganginya.
Cinta terpekik karena takjub saat dalam satu aba-aba serempak puluhan lentera itu berterbangan. Ah ... tidak sepertinya ratusan, saling susul menyusul. Dan gemuruh tepuk tangan itupun membahana.
Langit yang sedikit gelap karena kabut musim gugur, kini benderang dengan cahaya dari lentera. Cinta menengadah sambil mengedarkan pandangannya, ia kembali memekik dengan takjub. Begitu terpesonanya, ia seperti hilang kendali dan terus menengadah tanpa memperhatikan pijakannya. Hingga suatu ketika ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya limbung.
' Brugh ', tubrukan itu perlahan. Cinta tersurug ke arah dada Namu yang tadinya ada dibelakangnya tapi kini menjadi berhadap-hadapan. Cinta yang masih menengadah, kini menemukan sumber cahaya lainnya. Cahaya benderang yang lembut namun tajam menghunjam ke dasar rasanya. Wanita itu terkesima dan tidak dapat beralih dari cahaya itu.
......................
Aku tidak buta,
Hanya takut melihat kenyataan saja
Aku bukannya tidak peka,
Hanya menjaga jalinan yang sudah terikat begitu lama
Aku tidak mengerti,
Kenapa begitu sulit berpaling darimu
Aku tidak mau apa-apa lagi
Selain tetap berada dalam mimpi rindu ini
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Zeeylaa To Zila
namu q padamu
2022-01-23
0
ᰔᩚ 𝙼𝚊𝚖 𝚄𝚖𝚎𝚢𝚜 ♡ᰔᩚ
akankah mereka bersatu
2021-11-18
0
daryn
Bacaan dan tulisan yang berkualitas 👍
2021-08-08
0