Choo In Soo tersenyum menyambut kehadiran tuan bossnya yang nampak sedikit tergesa keluar dari loby hotel. Tuan mudanya yang ini sungguh pribadi yang menyenangkan dan sangat tidak merepotkan. Dalam urusan makan, penginapan bahkan tutur kata beliau saat sedang memberikan instruksi, semuanya terasa sangat bersalah. Sedikit berbeda dengan tuan besarnya, yang sedikit tersenyum dan tampak dingin. Tuan muda Namu banyak tersenyum, tak heran kehadirannya sangat dirindukan para staff dan pegawai, terutama yang wanita tentunya.
" Selamat pagi tuan muda Namu, semua laporan yang bapak minta sudah saya siapkan. Mungkin bapak ingin membacanya terlebih dahulu.... sudah ada di dalam mobil ".
" Terimakasih Mr. Choo.... kita langsung berangkat sekarang ? ",
" Baik... mari silahkan pak ".
Pria itu membungkuk dengan hormat lalu membukakan pintu untuk Namu. Tak lama kemudian mobil itupun sudah melaju menembus pagi di kota Seoul yang masih berkabut.
" Mr. Choo persiapan pernikahan adikku sudah beres ? ".
" Sudah pak. Kalau bapak ingin meninjau bisa saya antarkan ke gedungnya... atau mungkin pihak EO nya saya minta hari ini menghadap bapak ? ".
" Kalau selepas makan siang nanti bagaimana ? minta semua bertemu di gedung tempat pesta ".
" Baik pak, saya akan atur jadwalnya ".
Baru saja selesai Mr. Choo menjawab pertanyaan, tiba-tiba saja ponsel Namu berdering. Membuat pemuda itu urung untuk membuka file yang sudah disiapkan Mr.Choo.
" Assalamualaikum Om Juna ", sapa Namu.
" Wa'alaikumsalam .... maaf Namu, pagi-pagi buta menelpon ".
" Di sini sudah jam delapan Om .... tenang saja ".
" Ah ... iya ya ", Arjuna tertawa kecil. " Hari ini kami berangkat ke Korea. Tolong pesankan hotel yang sama ya. Papa mu sudah bilang padamu ? ".
" Hah ?!!! ", Namu terkejut. " Tidak..... ah belum, papa belum bilang apa-apa " .
" Kebiasaan .... ya sudah, tolong pesankan tiga kamar ya ".
" Ya Om, baik ".
" Terimakasih Namu. Nanti malam kita sudah sampai di Korea. Sudah dulu ya ..... assalamualaikum ".
" Om..... wa'laikumsalam ... ". Sebenarnya Namu ingin menanyakan satu hal lagi, tapi Om Arjuna keburu menutup teleponnya.
" Tring ", suara dering notifikasi pesan masuk membuat Namu kembali fokus pada handphone yang masih digenggamnya. Dua pesan dari dua orang wanita, mamanya dan adik sepupunya.
' Tolong pesankan tiga kamar ya, om Juna akan datang dengan rombongan '. Itu pesan dari mamanya.
' Oppa, bisa aku bertemu dengan mu. Ada yang harus ku katakan padamu '. Dan ini pesan Hyoriin.
Dua pesan itu di balas dengan satu kalimat yang sama. ' Ya '.
" Mr. Choo ... tolong buatkan reservasi untuk tiga kamar yang sama dengan ku. Hari ini keluarga kami akan tiba dari Indonesia ".
" Baik Tuan Muda ".
Namu menggeleng pelan seperti sedang mengibaskan pikirannya yang mulai mengembara, mencoba untuk berkonsentrasi lagi padahal yang paling penting yang harus segera diselesaikan.
" Hari ini agenda rapat jam berapa Mr.Choo ?", tanyanya kemudian .
" Jam sepuluh, di ruang meeting kantor. Bagaimana tuan apa anda ingin menunda atau mengajukannya ? ".
" Ehmm..... tidak, biar sesuai jadwal. Tapi bisakah kau mengantar aku terlebih dahulu ke rumah Om Teddy ? ".
" Tentu pak ". Dengan sigap, Mr.Choo yang duduk di kursi depan segera memberi isyarat untuk putar arah, pada sopir di sebelahnya.
Sementara itu Namu meraih telepon selularnya dan mengetik sebuah pesan pada Hyoriin. ' Aku mampir dulu ke rumah, kau jangan kemana-mana dahulu '.
Tidak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di kediaman Teddy. Terlihat sedikit kesibukan di rumah dua lantai itu. Yang membahagiakan Namu adalah terlihat segar dan bersemangatnya Teddy, walaupun masih dengan duduk di kursi roda. Tapi pria itu nampak ceria dengan wajah yang bersinar bahagia.
" Ini dia si ganteng ... kok belum ke kantor. Ada apa ? ", sapa pria itu menyongsong kedatangan keponakannya .
" Hyoriin ada Om ? dia meminta sedikit bantuan ku..... sepertinya urusan Lee ".
" Ooh.... dia ada di kamar. Kau temui saja langsung ".
" Ya Om ". Namupun bergegas melangkah menuju tangga yang membawanya ke lantai dua rumah itu.
Sebuah kamar dengan hiasan ranting dan bunga menempel pada daun pintu terlihat paling menyolok diantara ruangan yang lain. Namu langsung tahu kalau itu adalah kamar sepupunya.
" Tok.. tok.. tok... ", ia mengetuk perlahan.
" Masuk ".
" Hyoriin .... heiii... kenapa menangis ? " .
Pintu itu belum terbuka sepenuhnya, tapi kesedihan dan tangis Hyoriin langsung tertangkap oleh Namu. Ia masuk dan mendekati adik sepupunya yang duduk di sisi ranjang. Di tangan gadis itu ada sebuah album foto yang sedang dipandanginya dengan tetesan air mata yang mulai membasah.
" Ini appa .... ", tunjuk Hyoriin pada sebuah foto lama. Disana ada Teddy ayahnya yang sedang menggendong gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun.
" Hei.... lihat, ini kita di Borobudur ya ".
" Aku ingat, waktu itu kita naik gajah ya ". Hyoriin sedikit tersenyum dan menghapus air matanya.
Namu duduk mrnyebelahi sang adik sepupu lalu bersama-sama melihat-lihat gambar masa lalu penuh kenangan itu. Keduanya kadang tertawa bersama saat menemukan jejak kenangan yang lucu.
" Oppa, menurutmu .... tindakan ku ini sudah tepat ? ", Hyoriin bertanya di akhir halaman yang kemudian ditutup perlahan.
" Aku tidak tahu pasti, tapi inilah pilihan terbaik yang ada. Membahagiakan seorang ayah dengan memenuhi keinginan terdalamnya ".
" Apakah ini egois.... jika aku mengajukan persyaratan pada Lee. Aku .... meminta padanya .... ", Hyiriin terlihat ragu sesaat. " Aku minta dia tidak menyentuh ku dahulu .... sebagai istrinya ".
Namu tersenyum kecil, dua orang yang akan segera menikah ini mengkonsultasikan hal yang sama dengannya. Ironisnya, mereka berkonsultasi pada orang yang kekasih saja belum punya. Tapi untuk keadaan saat ini, tidak mungkin Namu hanya diam saja.
" Tentu saja tidak. Kau sudah minta baik-baik pada Lee ? ".
" Ya.... dan dia menyetujui nya ".
" Lalu apa masalahnya sekarang ? ".
" Hatiku ". Hyoriin menatap Namu sesaat lalu ia kembali menunduk. Jemarinya mengusap foto seorang bocah laki-laki yang manis, yang terekam sedang tersenyum lepas saat menjadi joki untuk kuda berwarna coklat. Bocah itu terlihat cukup tampan. " Dia.... temanku sejak dulu. Kuanggap sebagai kakak laki-laki ku..... aku selalu bergelayut manja padanya, tapi aku hanya memandangnya sebagai kakak. Aku tidak tahu ..... kalau dia mencintai ku. Tapi perasaan ku padanya ........ ".
Namu terdiam, kata-kata yang diucapkan oleh Hyoriin seperti ribuan anak panah es yang menancap telah di hatinya. Bukankah posisi Hyoriin sama dengan Cinta ? hanya saja gadis ini telah tahu perasaan Lee, tidak seperti Cinta yang belum mengetahui perasaannya. Mungkin Cinta akan bersikap seperti Hyoriin, bisa jadi akan lebih kompleks lagi konflik yang terjadi Ah.. Namu mendesah resah, tapi tatapan Hyoriin menunggu pendapatnya.
" Jalanilah dulu ..... kedepannya biar waktu yang akan menentukan. Toh ... Lee sangat tulus dalam hal ini. Kalian sudah membicarakan segala kemungkinannya bukan ? ".
Hyoriin mengangguk, tapi bayangan keraguan tak memudar dari wajahnya yang sebening pualam.
" Ini sungguh tidak adil buat Lee oppa.... ", desisnya dalam lirih.
" Orang dengan cinta sejatinya tidak akan pernah merasakan ketidakadilan. Pengorbanan itu pasti sangat sepadan dengan yang mereka rasakan. Bahagia..... melihat senyum bahagia yang tercinta. Begitulah Lee ".
Hyoriin mengangkat pandangannya dari foto Lee muda, ia pun menatap Namu dengan sedikit senyuman lega.
" Sudahlah kau tidak usah khawatir... Tadi malam Lee juga sudah berbicara banyak dengan ku. Intinya .... kalian berdua sebenarnya sama. Sekarang persiapkan jiwa ragamu untuk moment istimewa besok. Jadilah pengantin paling cantik dan paliiiiing bahagia ..... ".
Namu menyentuhkan ujung jarinya pada ujung hidung Hyoriin diiringi dengan senyuman. Adik sepupu itun membalas dengan tersenyum lebar.
" Terimakasih oppa, maaf sudah sangat merepotkan mu ".
" Husst ...... ada saatnya kau yang akan kurepotkan. Sudah ya, aku pergi dulu ".
Hyoriin mengangguk dan mengiringi kepergian Namu dengan lambaian tangan.
Apa yang terucap dari mulut terkadang begitu mudah dan manis dirasa, tapi tidak demikian kenyataan yang dirasakan. Namu berdecih samar seolah-olah mengejek dirinya sendiri. Semalam ia telah memberikan nasehat pada Lee dan pagi ini pada Hyoriin. Tapi sesungguhnya nasehat itu lebih tepat untuk dirinya sendiri.
' Kau yang penakut, pengecut.... bahkan kau menjaganya dengan rapat dari Cinta. Berharap gadis itu tidak akan pernah tahu sama sekali. Tapi kau selalu mengharapkan keberadaannya di sisi mu. Bagaimana mungkin ? memintanya saja kau tidak pernah '
Lalu Namu pun menyibukkan diri dengan segala urusan perusahaan dan urusan persiapan pernikahan Lee serta Hyoriin. Hingga petang menjelang, saat papanya mengabarkan kehadiran Om dan rombongan dari Indonesia meminta tolong untuk bisa dijemput di Incheon Internasional Airport.
" Aku akan ikut Mr. Choo. Tolong siapkan dua mobil tambahan ".
" Baik pak ".
" Kamar hotel sudah siap ? ".
" Sudah pak ".
Lalu iring-iringan kendaraan itupun melaju menuju bandara. Membawa seorang pemuda yang meremas tangannya sendiri dengan gelisah. Seperti tengah terjadi badai di hatinya. Mengaburkan pandangannya dan membawa resah yang kian pekat menyelimuti.
' Kau tidak pernah merespon ku lagi. Kau mendiamkan ku semenjak ku ungkapkan rindu ini. Apakah aku sudah membuat mu menjadi tidak enak hati ? ataukah mungkin aku sudah menyakiti mu ? '.
Namu pun kembali bergulat dengan kecamuk perasaannya sendiri.
' Aku tidak berani bertanya kepada siapapun, tapi aku sangat berharap kau akan hadir. Ku mohon .... hadirlah, aku sudah sangat rindu senyuman mu, tawa mu dan juga semua hal yang ada padamu '
Namu memejamkan mata dan duduk bersandar, seolah lelah menguasai raganya. Choo In Soo yang melihat hal tersebut sama sekali tidak berani bertanya. Selama lima hari di Seoul, tuan mudanya ini sering terlihat seperti ini. Terutama saat sedang sendirian atau sedang tidak bekerja. Pemuda ini nampak murung dan banyak melamun, terkadang berlama-lama menatap layar handphone tanpa melakukan apapun pada benda itu.
" Kita sudah sampai pak... pak .... pak Namu ... kita sudah sampai, maaf ", Mr.Choo meninggikan suaranya, setelah berkali-kali tidak mendapatkan tanggapan.
" Ya... ya... ", Namu tergeragap kaget.
Tidak menunggu lama, rupanya pesawat yang membawa rombongan telah landing beberapa belas menit yang lalu. Saat ini pasti rombongan sedang mengantri mengambil bagasi mereka. Namu merasakan debaran kencang di dadanya. Ia sungguh-sungguh berharap ada di jelita yang ikut serta bersama rombongan itu.
' Kenapa tidak kau tanyakan saja ? '. Suara hati itu kembali menggelitik. Namu pun telah membuka nomor kontak ayahnya. Tapi dia kembali termangu ragu.
' Ah tidak , kalau aku bertanya seperti itu.... bukankah itu membuka celah kecurigaan ", tolak sisi dirinya.
' Bodoh....!!!!! kau bisa bertanya siapa saja rombongan itu, tidak usah menyebutkan nama '.
Tapi Namu kembali menggeleng dan tersenyum pahit. Sudahlah ..... desisnya menenangkan diri.
" Sudah datang pak ", suara Mr.Choo menyadarkan perdebatan di hati Namu.
Pandangan mata pemuda itupun menelusuri menemukan sosok-sosok yang sudah sangat dikenalnya. Ada Om dan tantenya, Arjuna dan Hana. Di belakang mereka berturut-turut ada pasangan suami istri Ardanu dan Namira serta Bramastya dan Larasati. Mereka adalah sahabat dari papahnya, yang pastinya juga sahabat Om Teddy. Namu tersenyum
menyambut tiga pasangan usia emas itu.
' Dia tidak ada di sana. Sudahlah, sejak awal kau pun sudah mengerti. Kau saja yang terlalu berharap banyak keajaiban '. Kembali sisi lain di hati Namu bertutur, kali ini dengan nada yang sedikit menyindir. Tapi memang benar adanya, dia terlalu banyak berharap. Tapi terlalu takut untuk mencoba dan berusaha. Aahhh.... si bodoh ini, geram Namu pada dirinya sendiri.
" Dingin sekali ..... waaah, kau begitu membaur di sini. Tapi tetep keponakan terganteng Tante ", Haba langsung berkomentar. Namu tersenyum dan membalas pelukan Hana.
" Ayo ... kita langsung ke Hotel ", ajak Namu.
" Ah... Namu, bisa langsung kau antar kita ke rumah Teddy ? ", sela Arjuna. " Kami sudah membahasnya tadi. Nanti malam kita baru ke hotel ".
" Oh baiklah. Pasti Om Teddy senang sekali. Ayo .... mobilnya sudah siap ".
Namu memberikan isyarat pada Mr.Choo dan dua orang sopirnya untuk membantu membawakan koper-koper dari para rombongan Om dan tantenya. Namun saat ia akan segera berjalan mendahului, sebuah sentuhan dipundaknya menahan langkah.
" Namu .. ", rupanya itu Arjuna.
" Ya Om ". Dengan segera Namu menghentikan langkahnya.
" Om mau minta tolong satu hal lagi padamu. Tapi ini .... seandainya kau longgar saja sih ".
" Wah ..... ada apa nih Om ".
Arjuna terlihat sedikit merasa tidak enak, ia menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. Sebelum melanjutkan berkata-kata.
" Kalau kamu tidak sibuk.... Om minta tolong soal Cinta ".
Namu mengernyitkan keningnya, ia tidak berani menduga-duga hal apa yang akan diminta untuk Cinta. Tapi rasa penasaran yang membuncah itu tak urung membuat dadanya berdebar dalam gelegak prasangka yang menghimpit.
" Sudah sangat longgar hari ini .... ada apa Om ?".
" Itu..... bisa kau jemput... ah maksud ku kau tunggu Cinta datang. Ia transit di Changi, karena kebingungan ..... jadi mau ikut atau tidak. Akhirnya nggak kebagian tiket pesawat yang sama dengan kami .................. ".
Kalimat yang selanjutnya tidak tercerna oleh nalar Namu. Ia hanya mampu menatap bibir Arjuna yang bergerak-gerak saja. Hatinya begitu riuh oleh luapan rasa senang. Seperti ada arak-arakan pawai yang gegap gempita di ruangan kalbunya yang luas. Ia tersenyum lebar.
" Tolong ya..... ".
" Baik Om, akan ku tunggu dia ".
" Jangan lupa bilang padanya untuk langsung istirahat saja di hotel ..... tidak usah tunggu kami. Okay ... ".
" Ya Om .... ", Namu sedikit berseru karena Om nya sudah mulai berjalan menjauh.
Apa itu tadi..... aaah inilah keajaiban, rasanya tak sabar menantikan si jelita itu. Bukankah ini kejutan yang sangat indah ?. Walaupun masih dua jam lagi... aku akan menunggu mu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Agna
saking senangx nih...pasti hati namu penuh bunga dan kupu2 yg beterbangan
2022-12-17
1
Zeeylaa To Zila
pucuk d cinta ulam pon tiba
2022-01-22
0
sumiati
jadi ikut berbunga bunga ❤️❤️❤️
2022-01-10
0