Diakhir musim yang terasa sedikit dingin ini
Aku mulai mengerti sesungguhnya aku mencintaimu
Dan semua kenangan itu kuingat dengan sangat jelas hingga kesetiap kepingnya
Karena engkau selalu terlihat bergitu cemerlang, bersinar seperti mentari musim semi yang hangat
Di akhir musim yang indah ini
Aku memeluk mu dengan kedua tangan ku
Bukan hanya sekedar mimpi
...........
Namu tidak melepaskan genggamannya pada jemari Cinta, semenjak dari taman itu. Wajah yang putih bersih nampak semakin cerah karena berhiaskan senyuman yang tak putus. Kini keduanya berhenti di sebuah food court yang menyediakan aneka street food lezat dan menggiurkan. Berjalan bergandengan sambil sesekali saling merapatkan diri jika harus bersimpangan dengan rombongan pengunjung. Senyuman tak pupus dari wajah keduany dan bahagia itu seperti berpendapar dari tubuh mereka.
Kini keduanya tengah menanti kue berbentuk ikan yang sedang dipanggang. Aroma madu yang manis serta harum gurihnya butter membumbung di udara sekitar mereka. Penjual itu memasukkan isian seperti pasta yang terbuat dari kacang merah dan coklat ke badan kue ikan, lalu menutupnya dengan adonan dan kemudian membakarnya lagi. Menggunakan panggangan berbentuk ikan koi.
Tak berapa lama sepuluh roti ikan yang mereka pesan itu telah siap, mengepulkan aroma yang nikmat. Satu kantong dipegang oleh Namu, sementara mereka memegang masing-masing satu ekor kue ikan dan sedang berusaha memakannya.
" Enaaaak... tapi panas ". Cinta tertawa sambil berdesis-desis tapi tak berhenti menggigit pinggiran roti. Rasa laparnya melibas rasa panas dari kue berwarna cokelat keemasan itu.
" Seperti kamu ..... manis dan panas ", Namu berbisik menggoda.
Cinta melirik tajam dengan menampakkan wajah cemberutnya. Namu tertawa, terasa riang dan ringan. Lalu keduanya duduk di sebuah bangku di dekat kedai kopi, sekalian memesan minuman panas untuk mereka. Duduk bersebelahan sambil menikmati kue ikan yang mengepul panas dan manis dan ditemani secangkir capuccino, sungguh perpaduan yang sempurna.
" Tante Hana tidak menelpon ? ", tanya Namu sambil mengambil kue yang keempat.
" Kalau perginya dengan mu, tidak akan pernah ada telepon dari Mama ".
Namu tersenyum, lalu ia merangkulkan lengannya pada pundak Cinta. Menarik lembut gadis itu semakin merapat padanya.
" Ini sudah lewat jam sembilan malam ... masih mau disini? ".
Cinta menggeleng, tumit dan betisnya sudah terasa pegal. Dari siang tadi hingga malam high heels yang hanya tiga sentimeter itu sudah berhasil mengalahkannya.
" Pegal ya ? ". Tiba-tiba saja Namu kini sudah berlutut dihadapan Cinta. Tanpa meminta persetujuan apapun, pria ini melepaskan sepatu indah yang dikenakan Cinta. Lalu dengan lembut namun bertenaga, ia memberikan pijatan bergantiian pada tumit dan betis gadis ini.
Cinta tak mampu mengeluarkan kata-kata, ia hanya sedikit ternganga cukup lama. Sejurus kemudian sebuah senyuman indah terukir di bibirnya, seperti kelopak mawar yang merekah. Saat itulah Namu sedikit mendongakkan kepalanya dan tepat menatap Cinta yang sedang tersenyum.
" Kau cantik sekali .... apalagi dengan senyuman seperti itu ".
Entah untuk keberapakalinya perkataan Namu kembali membuat kelopak-kelopak sakura bermekaran di pipi Cinta. Merona karena malu, dan tersenyum tersipu-sipu karena bahagia.
" Aku sering melihat mu tersenyum .... sering sekali, tapi senyummu malam ini .... begitu cantik. Kenapa ? ".
" Aku tidak tahu... kau yang melihatnya ".
" Heeem..... atau karena kau sudah tidak menahannya lagi ? ".
" Apa ? ", Cinta mengerutkan keningnya.
" Perasaan mu pada ku ".
Dan Cinta pun kembali tersenyum dan tersipu malu.
" Tuh kan..... cantik sekali ".
Aahh..... Cinta semakin tersipu dan salah tingkah. Tapi Namu yang semakin gemas melihat tingkah yang alami seperti itu, semakin merasakan hatinya berdebar-debar dan tidak ingin menghentikan semua perkataannya. Sesuatu yang sudah ditahannya selama belasan tahun.
" Aku.... benar-benar jatuh cinta pada Cinta. Hei ....nona, kau dengar itu... aku jatuh cinta padamu ". Tidak ada keraguan ataupun nada usil menggoda dari perkataan itu. Namu mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh seperti kerjap sepasang matanya yang benderang.
" Ya ... Cinta juga mencintaimu ..... sejak dulu ". Dan Cinta pun membalasnya walaupun dengan nada yang masih malu-malu.
Langit malam yang kelam dan tersapu kabut, tanpa gemintang terlihat. Tapi pasti mereka tengah mengintip dengan gemas dan malu-malu, melihat bagaimana sang pemuda menautkan bibirnya perlahan dan dengan penuh kelembutan pada bibir sang gadis. Kedua tangan mereka saling terjalin, seperti hati keduanya yang telah saling merengkuh dengan erat.
Namu hanya merasakan sesaat berhasil menautkan bibirnya, tiba-tiba saja tangan gadis ini melepaskan jalinan dan mendorong dadanya, membuat pertautan bibir yang manis dengan sisa aroma kue ikan itu terlepas.
Cinta terlihat salah tingkah, dalam sekejap tadi ia hanyut. Benda kenyal dan sedikit tebal itu terasa lembut, awalnya hanya menempel dan sedikit tertaut tanpa hasrat. Tapi saat ia merasakan ada yang mulai menerobos perlahan walaupun itu dengan sangat lembut, ia pun mulai merasakan debaran yang semakin tidak menentu. Maka di dorongnya tubuh tegap itu menjauh.
Dan pada detik berikutnya, sungguh ia tak mengira akan seperti ini. Tiba-tiba saja asa rasa hangat yang beranjak, sedikit penyesalan menyusup di relung hatinya. Penyesalan ? karena apa? ..... Cinta sungguh tidak mengerti. Tapi kini ia tertunduk, menyembunyikan seraut wajahnya yang merona.
" Kita pulang ya ..... ", suara Namu menyadarkan angannya. Cinta mengangguk tanpa mengangkat kepala. Karena saat itupun Namu tengah menunduk sambil tetap bertumpu pada lututnya, memasangkan tali pasa sepatu yang dikenakannya.
" Sudah .....ayo ".
Dan lihatlah ..... tangan itu terulur menantinya untuk segera berdiri. Senyuman mempesona itu berasal dari wajah yang bergaris rahang tegas dengan dagu persegi. Warna matanya coklat terang dan sangat menawan. Kini pria ini mengulurkan tangan menantinya.
Tanpa berkata-kata, Cinta bangkit berdiri dan memberikan tangannya. Serta merta kehangatan itu tercipta, menelisik perlahan, menyusup dengan pelan dan membuainya dalam langkah yang tenang.
Namu kembali menjalinkan jemarinya pada jemari Cinta, lalu memasukkan tautan tangan mereka dalam saku mantelnya. Kemudian berjalan dengan tenang sambil sesekali bertatap mesra. Tak perlu lagi ada kata-kata, cukup sudah semua debaran di dada mereka saling bercerita.
Malam pun merayap menggulirkan cerita dua insan. Mereka yang telah terlalu lama dalam diam saling mencintai, kini telah menyatukan hati. Sesekali dalam langkah yang tenang itu keduanya saling bertatapan dan berbagi senyum, masih tanpa kata. Namun hangatnya tatapan mereka saling bercerita tentang betapa bahagianya saat ini karena kita ternyata mempunyai perasaan yang sama.
Musim gugur dengan anginnya yang berhembus dingin, kali ini bercerita tentang kehangatan dua hati yang saling mencintai. Menceritakan pada semesta tentang akhir musim dimana dua insan itu tidak mengetahui bahwa saling mencintai. Kini dengan hanya menatappun, keduanya begitu memahami bagaimana cinta itu ternyata sudah ada sejak lama. Mengiringi langkah mereka, menguatkan hati mereka dan mengajarkan mereka tentang rindu yang sesungguhnya.
Musim itu telah berlalu...........
..........................
Disaat cinta itu baru mulai merekah, walaupun masih harus dengan diam-diam saling memandang, tapi debaran rasa itu tidak pernah berdusta. Kehadiran seseorang yang sangat kita cintai seperti membuat hangat atmosfer disekitarnya. Senyumannya yang terkembang seolah menjadi magnet sihir yang membuat terpaku tak mampu melepaskan pandangan.
" Hei... ".
" Ah ... ", Namu tersadar karena teguran mamanya. Ia telah menuang cukup banyak madu pada pancake -nya.
" Nggak terlalu manis itu ? ", tanya Orlin pada putranya. Ia sedikit heran, karena anak ini sebenarnya kurang menyukai madu.
" Aduh... iya nih mah. Mau bertukar dengan ku ", Namu menawarkan.
" Untuk papamu saja... kau ambil yang baru. Sekalian bilang papa sudah diambilkan sarapan ".
Namu mengangguk lalu buru-buru bangkit dan melangkah menghampiri papa nya yang masih berbincang dengan beberapa orang teman. Pria paruh baya yang masih sangat tampan itu mengangguk lalu menoleh ke arah meja dimana istrinya masih menunggu. Dengan isyarat tangan, Mandala memberi isyarat pada Orlin. Meminta wanita itu untuk menunggu sebentar.
Sementara itu Namu yang sudah menyelesaikan tugas, kini kembali mengambil sarapan. Mendekat perlahan pada sang penyebab madu tertuang begitu banyak di pancakenya. Tentu saja karena dirinya sendiri yang kehilangan kendali ketika melihat senyum menawan gadis ini. Cinta yang berbincang hangat dengan ibunya sambil mulai memenuhi piringnya dengan menu sarapan.
" Ini bubur wijen hitam dengan potongan kue ketan ... kata kak Namu rasanya sedikit pahit, tapi menyehatkan. Cocok untuk menyegarkan badan ", Cinta menjelaskan pada Hana ibunya.
" Betul itu Namu ? ", tanya Hana yang sudah sedari tadi menyadari kehadiran Namu di belakang putrinya.
" Iya, betul Tante. Cobalah ". Namu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi memagari lidah, dan membuat senyumnya semakin mempesona.
Cinta yang terkejut menoleh dengan cepat dan mendapati senyuman yang sejak tadi malam kemarin membuai mimpinya. Sedikit canggung ia tersenyum membalas senyuman itu. Dan wajahnya kembali merona manakala ia menangkap sekilas kedipan isyarat dari sosok pria yang telah berhasil mengikat hatinya.
" Boleh deh....eh kau duduk di bareng mama mu itu ? ".
" Iya ..", Namu menoleh ke arah yang dimaksud Hana. Terlihat kedua orang tuanya sudah mulai menikmati sarapan.
" Kau cari tempat lain ya ... biar itu buat Om dan Tante saja , kau temani Cinta ya ... ".
" Siaaap Tante ku yang cantik .... ".
" Aaiih... anak tampan ". Hana menepuk pipi Namu dengan ekspresi senang.
Demikian juga dengan yang mendapatkan tepukan, senyum tipisnya tidak mampu menyembunyikan rona bahagia. Bukan karena pujiannya, tapi lebih karena bagaimana keberuntungan itu beralih padanya.
" Lihatlah .... bahkan semesta pun berpihak pada kita ", kata Namu setengah berbisik saat Hana sudah beranjak pergi. " Tadi malam kau tidur nyenyak ? " .
" Ya .... tentu saja ", Cinta menjawab cepat sambil mulai melangkah mencari tempat duduk.
" Heii... kau curang ", Namu mengikuti dengan sedikit tergesa. " Aku tidak bisa tidur "
Cinta akhirnya memilih satu meja bundar yang disediakan khusus untuk couple, letaknya tepat di sisi jendela yang menghadap pada taman dari greenhouse. Menyajikan pemandangan musim semi yang penuh dengan bunga tropis dan tanaman segar yang menghijau dari rumah kaca dengan suhu buatan yang hangat. Ia segera menyesap secangkir susu panas dengan nikmat, lalu mengigit creeps dengan selai nanas yang terlihat legit menggiurkan.
" Heiiii.... kau harus bertanggungjawab karena membuat ku tidak bisa tidur semalam .... dengan nyenyak ", Namu berusaha mengalihkan perhatian Cinta.
" Memang apa yang sudah kulakukan ? ..... aneh ".
" Aku merindukan mu sepanjang malam ".
" Ish.....", Cinta berdecih kecil seraya mengulas senyum tipis yang sedikit sinis di sudut bibirnya. Tapi hati gadis itu melonjak-lonjak dengan gembira. Pria ini ternyata begitu manis dan romantis, sisi lain yang baru saja dimengertinya.
" Tidak percaya ? ", tanya Namu lagi sambil menyeruput kopi hitam beraroma harum.
Cinta menjawab dengan mengangkat kedua bahunya bersamaan. Lalu menatap Namu dengan kerlingan mata yang sedikit sayu, mendayu manja. Membuat Namu semakin gemas, dan mendekat pada Cinta. Menatap dara jelita itu dengan intens tanpa melepaskan senyuman.
" Jika saja dada ini tidak terlatih menahan pukulan.... pasti sudah jebol.... karena jantungku melompat keluar .... ".
Cinta terkikik geli, ia perlahan melihat sekeliling. Seperti memastikan keadaan disekitarnya aman. Perlahan ia pun menyentuh rahang tegas yang memukau dengan aura maskulinnya ini. Membelainya perlahan sambil memberikan senyuman terindahnya.
" Kakak tampanku yang romantis ...... sepertinya aku belum mengenalmu selama ini. Kau .... ternyata perayu ulung ya... ".
" Ini berkat dirimu adik cantik kekasih ku .... ".
" Sssttt..... ", Cinta mendelik dengan kesal sambil memberi isyarat untuk Namu supaya memelankan suaranya.
" Tidak ada yang tahu kita ngomong apa.... kecuali rombongan emak dan bapak di sanaaaaa ... itu ".
Bersamaan dengan itu terdengar penggalan nada dari sebuah lagu, mengalun berulang dan mengalihkan perhatian dua orang itu. Telepon selular milik Cinta berbunyi. Dari layar terbaca sebuah nama yang sedang melakukan panggilan. ' Syailendra RBB', begitu tertera tulisan disana.
" Haloo.... Assalamualaikum mas ". Cinta mengangkat panggilan itu dan dengan sengaja menyalakan speakernya.
" Wa'alaikusalam Cinta. Kau masih di Seoul ? ", tanya suara di seberang sana.
" Iya ... aku masih disini. Mas jadi ke mari ? ".
" Iya, penerbangan siang ini jam sepuluh. Tolong sampaikan pada Namu ya ... aku akan menemuinya di sana ".
" Kakak ada di sebelah ku .... langsung saja bicara dengannya mas ".
" Oh hai... bro... kau kemanskan HP mu. Kutelpon dari tadi ... ".
" Aduh.. maaf, ketinggalan di kamar. Maaf ya, nggak tahu kalau ada telpon darimu ", sahut Namu kemudian.
Selanjutnya yang berbicara adalah dua pria itu, sedangkan Cinta hanya mendengarkan saja. Sambil terus mengunyah renyahnya creeps dan sesekali menyeruput susu hangat.
" Cinta .... ", suara Syailendra beralih.
" Iya mas ", Cinta menjawabnya.
" Sudah dulu ya, sampai ketemu lagi nanti ".
" Iya mas sampai nanti ".
" Wuuuuuiiih....mas Alend, mesranya ", nada itu terdengar seperti sindiran.
" Kenapa memangnya ? mau ku panggil mas Namu juga ? ".
" Nggak ah.... tetep aja panggil kakak.... kakak sayang ".
Cinta menahan tawanya. " Kakak cemburu ... pasti cemburu ".
" Kalau iya kenapa? wajarkan .... aku mencintaimu. Dan diantara begitu banyak pria, hanya dia satu-satunya yang bisa mendekati mu ", suara Namu terdengar begitu menyimpan kesal.
" Kau tahu kenapa begitu ? ". Cinta menatap Namu sambil menyentuh tangan pria yang kini terlihat kesal. " Karena dia satu-satunya pria yang tidak mengejar ku, satu-satunya pria yang murni berbisnis. Dan dia.... satu-satunya pria yang menyadarkan ku tentang perasaan cinta ku yang sebenarnya ".
" Hah ?!!!! ".
Namu terperangah dan menatap gadis dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Kemudian senyuman cantik seperti memberikan ketenangan untuk jiwanya yang bergolak sesaat.
" Bagaimana dia menyadarkan mu ? ".
Cinta tersenyum saja, tidak menjawabnya pertanyaan itu. Bahkan sorot mata penasaran dari Namu seperti diabaikannya.
" Kita harus cari hadiah untuk kedua temanmu 'kan? Kau sudah janji akan berkunjung siang ini. Ayo.... atau kau mau keduluan para emak yang akan menyandera ku untuk menemani mereka belanja ? " .
" Ouh no... tidak, ayo!!! kalau begitu kita berangkat sekarang ".
Dan Namu pun mengikuti Cinta yang beranjak berdiri, bersiap untuk melanjutkan langkah di hari ini. Keduanya berjalan dalam langkah yang riang dan ringan, sambil tak lepas mengembangkan senyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
may
Cinta juga menCINTAimu😁
2023-10-09
0
Zeeylaa To Zila
mas alend siapakah jodohmu?
2022-01-23
0
sumiati
kakak sayaaang😘❤️
2022-01-11
0