Bernaung pada langit malam yang kelam berhiaskan ratusan cahaya lentera berkedip seperti mata seorang gadis yang manja. Saling menatap, begitu dekat seperti lekat dan suasana pun menghembuskan getaran rasa yang semakin menguat. Merasakan degupan jantung yang berdetak dengan ritme seperti tengah berkejaran dengan para detik, seolah berlompatan dan berusaha saling mendahului. Tapi bibir keduanya terkatup rapat, tidak seperti sepasang mata mereka yang saling menukik tajam, menyelam seolah-olah mengaduk-aduk palung terdalam. Apa yang kau sembunyikan ?, desis hati mereka tanpa saling mengerti.
Tiba-tiba saja waktu seperti berhenti berputar, terkalahkan oleh percikan rasa yang menyintas batas. Ah tidak.... mungkin sang waktu yang sengaja mengalah untuk dua insan ini.
'Hei .... kuberikan kalian kesempatan' , seru sang waktu. 'Pergunakanlah sebaik mungkin ...' , seru sang waktu lagi dan kali ini dengan gemasnya. Karena dua insan itu hanya saling diam dalam tatapan, mungkin keduanya telah tersesat terlalu dalam.
' Bodoh !!!! , kalian berdua bodoh ', angin musim gugur pun membelai mengingatkan, tak kalah gemasnya dengan sang waktu. Hingga sang pembawa dingin di hari itupun memutuskan untuk bertiup sedikit lebih kencang. Mengantarkan partikel-partikel beku yang kemudian membelai pipi dua insan itu. Membuat mereka sedikit menggigil dan saling merapat perlahan.
' Aku bantu kalian ', seru sebuah aliran yang menerpa dan dialah sang takdir pembuat cerita. Kemudian sang waktu pun kembali berjalan membuat seseorang berbadan tegap dengan tak sengaja terhuyung kebelakang karena kehilangan keseimbangan, dan.... brugh! menyurugkan tubuh Cinta semakin merapat di dada sang pemuda.
Namu merasakan sepasang benda yang lembut membentur dadanya yang keras, dan ia pun tersipu saat menyadari apa itu. Namun nalurinya sebagai pria yang santun terkalahkan oleh refleks kedua lengannya. Ia sudah memegang pinggang dan punggung gadis ini, dan menahannya semakin rapat. Membuat nafasnya serasa tercekat karena ada yang perlahan mengalir ke inti tubuhnya, dan membuatnya terbangun menggeliat.
Sementara itu, tiba-tiba saja Cinta seperti berubah menjadi avertebrata. Tak bertulang belakang dan tak bertulang antar ruas, tubuhnya mendadak lemas. Ia hanya mampu menyandar pada bidang dada yang keras ini. Sambil berusaha untuk tetap bernafas dan memastikan dia masih menjejak bumi. Meskipun perasaannya melayang bersama ratusan lampion terbang dengan lenternya yang berkedip-kedip indah.
" Cinta .... ", Namu mengucapkannya dengan sangat lembut. Selembut helaian sutra saat membelai bibir yang tipis merekah merona. Pria itupun tak mengerti, kenapa ia seperti mengesahkan nama itu saat memanggilnya.
Sementara itu Cinta terdiam, tapi dia menunggu bibir yang indah itu untuk berucap kembali. Hembusan nafas terasa hangat menerpa wajahnya, apalagi saat namanya terdengungkan. Ia menanti dengan geletar perasaan tak menentu, meletup-letup karena kecemasan. Tapi pemilik manik coklat yang terang membuai itu masih terdiam.
" Kak...... Namu ". Sama saja.... Cinta hanya bisa balas memanggil saja, lidahnya kelu.
Tiba-tiba saja kerumunan itu bergerak serempak, berlomba merangsek ke satu tempat. Membuat Namu dengan nalurinya semakin mempererat pelukan, membuat Cinta memilih menyembunyikan wajahnya di dasa pemuda itu. Wangi lembut vanila yang maskulin itu membuai jiwanya, hingga Cinta terhipnotis semakin mengeratkan pelukan.
" Mereka menuju ke sana, sepertinya pesta masih akan berlanjut. Kau mau ikut ? ".
Cinta tersadar, disekitarnya sudah tak seramai tadi. Tapi pelukan Namu tak sedikitpun mengendur. Ia pun sedikit menghela tubuh pemuda itu, jujur ..... ia sedikit merasakan kehilangan. Apalagi saat celah diantara mereka mulai terisi oleh hembusan angin. Dan kekecewaannya semakin sempurna saat Namu benar-benar melepaskan pelukannya.
" Semua akan minum Soju bersama.... kau mau ikut ? ".
" Tentu saja tidak, aku tidak minum alkohol. Hei.... kau minum ya ? ".
Namu tersenyum, suara yang sedikit melengking itu pertanda jika gadis ini telah kembali seperti biasa. Namu pun menggeleng memberikan jawaban.
" Kita pulang ? ", tawar Namu.
" Ehm..... bisakah menemani ku sebentar ? ".
" Kemana ? ".
Gadis itu nampak berfikir, tapi sejurus kemudian dia tersenyum. Dan menggeleng perlahan.
" Nggak ah..... takut nyasar. Kita pulang saja ya ".
" Kalau nyasar .... minta Mr.Choi untuk menjemput ".
" Ih .... dasar kejam, tidak berperasaan..... ini malam Chuseok, hari berkumpul dengan keluarga. Teganya kau.... nggak ah. Ayo pulang ".
Namu pun tertawa kecil, gadis itu berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya, mendahului dengan langkah cepat. Kedekatan yang baru saja terjadi dan seolah akan menghanyutkan keduanya, seakan tidak berpengaruh lagi. Ia pun merasa sedikit lagi, tapi ada yang meremas nyeri di dalam hatinya. Tersamar oleh pandangan, tapi terasa nyata Namu pun akhirnya menjadi tersenyum dengan getir.
" Hei.... Namu. Namu yaaaaa..... ", sebuah seruan mengalihkan perhatian.
Sepasang pemuda dan seorang gadis terlihat bersemangat menghampiri dengan senyum yang mengembang. Namu mengernyitkan keningnya, ia merasa sangat mengenal kedua orang ini.
" Hyun Jong ? ..... Chun Hee ? .... ".
" Aigooooo.... kau masih mengingat kami ", dan pria itu melompat memeluk Namu dengan erat.
" Kau juga masih ingat padaku. Apa aku boleh sedikit berharap ? ", si wanita itu tertawa lebar dan menjabat tangan Namu.
" Chun Hee...... kau tidak sadar juga, pria ini sangat berharap cinta mu. Jangan kau kejar aku ... atau akan ada perang dua negara nanti ", Namu berkelakar.
" Lihat .... ", pria yang di panggil Hyun Jung itu menggenggam tangan si gadis dan mengacungkan nya, memperlihatkan sesuatu yang melingkar indah di jari manis mereka. " Kami sudah menikah ".
" Wouuuuw... astaga, waaaah ... selamat ya ", Namu takjub.
" Hei... tak kau kenalkan pada kami si cantik itu ? ", tiba-tiba Chun Hee menggrdigkan dagu mengarahkan pada keberadaan Cinta.
" Ah ... maaf... ". Namu tersadar dan buru-buru meraih jemari cinta, menarik lembut gadis itu kedekatnya.
" Si cantik ini .... dia Cinta, atau Sarang dalam bahasa Korea ". Namu memperkenalkan, dan Cinta tersenyumlah dengan sedikit semburat malu di wajahnya. " Ini .... teman kuliahku di Inggris, kini mereka sudah jadi suami isteri. Tuan Hyun Jong dan Nyonya Chun Hee... perkenalkan ".
Saling berjabatan tangan dan melemparkan senyuman, Cinta dan sepasang suami istri yang ternyata adalah kawan lama dari Namu. Perbincangan hangat keempat orang itu pun berlanjut, sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir kendaraan mereka.
" Aku akan mengunjungi mu .... janji. Tapi kau juga harus ke rumah kami ".
" Baiklah ... aku masih ada waktu satu minggu lagi di sini. Akan ku jadikan agenda nomer satu .... mengunjungi keluarga Jong ".
" Kau harus berkenalan dengan bayi kecil kami ", sambung Chun Hee sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
" Oh ya .... kalian sudah punya bayi rupanya. Waaaaah..... hebat ... hebat kau Mr.Hyun "
Dan pria bermata sipit itupun tersenyum dengan bangga menerima pujian dari Namu.
" Semoga kalian juga lekas mempunyai bayi yang lucu ..... ". Itu adalah doa yang sangat manis dari Chun Hee, disusul dengan lambaian tangan saat wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Tapi sungguh bagi Namu dan Cinta, doa itu terasa aneh. Keduanya hanya membalas lambaian itu dengan kaku. Sedikit menyesal karena tidak berkesempatan menjelaskan kesalahan pahaman yang terjadi, tapi lebih tersiksa karena rasa canggung yang menerpa keduanya.
" Sayang, lusa aku harus segera pulang ", gumam Cinta mencoba mengurai suasananya.
" Pasti akan ku sampaikan salammu pada bayi lucu mereka.... ".
" Jangan lupa belikan hadiah untuk si lucu. Eh... tadi laki-laki atau perempuan ya ? ".
" Aduh..... lupa nanya ", Namu menepuk jidatnya sendiri.
" Kalau begitu ... berikan segala sesuatu yang berwarna putih, kuning atau hijau. Jangan pink atau biru ".
" Baiklah ... mau menemaniku belanja besok ? ", pinta Namu.
" Boleh... sekalian cari oleh-oleh buat Rana ".
" Dia mau pulang ? ", Namu penasaran. Adik bungsunya itu sedang koas di sebuah rumah sakit di kota lumpia. Dan akhir-akhir ini selalu beralasan tidak dapat pulang karena sibuk.
" Aku yang ada jadwal ke Semarang .... Rabu depan. Kau masih ingat dengan proyek kita 'kan ? . Mas Allend meminta ku meninjau langsung. Ah ya ...... dia sudah jadi mengabarimu ? katany kalau sempat mau nyusul kemari ".
" Oh ... belum ", Namu menjawab dengan sangat pendek. Cinta hanya mengangkat baju, dan buru-buru masuk kedalam mobil.
Suhu udara malam ini semakin dingin, membuat telapak tangan dan jari-jarinya serasa kebas karena membeku. Namu yang menyusul masuk kedalam mobil, langsung menyalakan penghangat.
Rupanya butuh waktu yang lumayan tidak sebentar untuk menghangatkan udara di dalam kendaraan itu. Cinta yang kedinginan meniupkan hangat nafasnya ke kedua telapak tangan dan ia juga nampak mulai menggigil.
" Sini .....". Tiba-tiba saja Namu mendekat, menarik kedua tangan Cinta.
Mendekatkan telapak tangan yang terlihat sedikit pucat, dingin dan mulai agak berkerut itu ke arah mulutnya. Lalu dihembuskan nafasnya yang panas, mencoba menghangatkan. Beberapa saat ia melakukannya, hingga penghangat di dalam mobil itu sudah mulai tersadar. Namupun segera menghentikan perbuatan yang dilakukannya. Ia menatap Cinta yang masih membeku, tak bergerak, tak bersuara. Namun kali ini, tidak ada senyuman sama sekali dari bibir pemuda ini.
" Kita pulang ya sekarang ".
Cinta hanya mengangguk mengiyakan. Sesaat kemudian mobil itupun sudah melaju menembus malam, membawa dua insan yang saling terdiam, tenggelam dalam hayalan dan kecamuk pikirannya masing-masing. Namu menatap lurus ke jalan raya, tapi hatinya bergeser dan memeluk wanita yang kini duduk di sebelahnya.
" Kau tidak ingin lebih lama di sini ? .... membantu sedikit pekerjaan ku disini ? ", Namu bertanya memecah hening.
" Tidak !! ... aku sudah terlanjur membuat jadwal untuk minggu depan. Akan terlihat sangat tidak profesional saat aku mengundurnya ...... nggak enak dengan mas Alend ".
Namu kembali terdiam, tiba-tiba saja ia merasakan atmosfer disekitarnya menipis dan membuat asupan oksigen menurun drastis. Sesak itu mulai menggulung dadanya.
" Mas Alend terkenal dengan etos kerja yang tinggi..... aku tidak mau membuat perubahan kita terlihat tidak profesional di matanya ".
Dan seluruh oksigen itu serasa benar-benar telah menyusut hingga batas terendah. Namupun semakin merasakan sesak di dadanya.
" Dan Mas Alend..... dia satu-satunya pria yang bekerjasama sama denganku dengan sangat professional. Dia hebat.... saat bekerja ... ya bekerja..... tidak ada hal lain, modus-modus tersembunyi seperti kebanyakan pria yang selama ini kalian sodorkan. Mas Alend membuat ku merasa nyaman ...... Mas Alend ..... ".
" Kau menyukainya ".
Cinta terkejut, tiba-tiba saja Namu memotong dengan pertanyaan yang disampaikan bernada menyentak. Gadis itu menatap pemuda di sebelahnya yang terlihat mencengkeram kemudi mobil dengan erat, rahangnya tampak mengetat. Sementara sinar mata itu..... Cinta tak pernah melihat sinar mata seperti itu sebelum-sebelumnya.
" Aku..... aku tidak tahu. Tapi aku merasa nyaman bekerja bersamanya ", jawab Cinta pada akhirnya.
" Ya.... selamat kalau begitu ", suara Namu terdengar sangat dingin.
" Kak..... kau kenapa ? ". Cinta benar-benar merasakan semua perubahan itu. Dan ia sangat penasaran.
" Kenapa memangnya ? ".
" Ah sudahlah ... ".
" Kak .... apa aku salah ? ".
" Kenapa bertanya seperti itu ? ".
" Karena kau kelihatan tidak suka ".
Serasa sebuah godam menghantam kepalanya, menciptakan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke seluruh raganya. Namu menoleh sesaat pada Cinta, dan mendapati gadis itu sedang diam menatapnya dengan lekat.
" Kupikir ..... mas Alend orang yang baik, dan satu-satunya pria yang tidak mengejar ku.... dan kupikir kau setuju. Makanya .... aku berusaha mendekatkan diri. Tapi, kalau kau tidak suka, aku akan segera berhenti mengambil inisiatif untuk mendekatinya..... Kak.... ".
Cinta menyentuhkan ujung jemarinya pada lengan Namu, seolah-olah ada rasa takut yang tiba-tiba saja menguliti hatinya. Sementara Namu Semakin kuat mencengkram dan kini berpaling kembali menatap jalanan yang sedikit temaram berselimutkan kabut.
" Aku akan berbicara dengan Syailendra .... ".
" Kak.... untuk apa? berbicara apa ? ", Cinta menyampaikan dengan nada penuh kehati-hatian dan juga rasa ingin tahu tak terbendung.
" Perlu .... sebagai kakakmu. Ini pertama kalinya kudengar kau menyebut nama seorang pria dengan begitu dekat. Pertama kalinya bagimu tidak menghindari seorang pria yang berusaha mendekati mu .... dan bunga pengantin itu .... bukankah ini pertanda ? ".
" Kak.... ", Cinta menatap Namu. Entah mengapa ada perasaan ngeri saat mendapati pria ini mengetatkan rahangnya, seperti sedang menahan kemunculan sesuatu yang mengerikan dari dasar persaan. " Ini pertama kalinya engkau bersikap seperti ini .... ketika ada pria yang mendekati ku .... kenapa? apakah mas Alend itu bukan pria yang baik ?. Kalau memang demikian.... kenapa tidak sejak awal .... kau mencegahnya ... seperti yang sudah-sudah ".
Hati Namu sepertinya telah mulai sedikit terkoyak, ia tak bergeming dalam resah. Apa yang disampaikan Cinta itu ada benarnya. Dirinya pun tiba-tiba saja seperti sebuah kapal dalam pusaran gelombang samudra yang menggelegak, tak berdaya dan hanya mampu menunggu bagaimana nanti akan terhempas. Satu tarikan nafas panjang dan gelengan kecil pada kepalanya mengembalikan nalar. Namu mulai mengendurkan cengkeramannya dari kemudi mobil.
" Tapi bunga itu.... kau yang mendapatkannya, kau berikan padaku. Dan ... hei..... sejak kapan kau percaya tahayul seperti ini ? ".
Deg, jantung Namu tiba-tiba saja seperti terhenti. Ya, benar ia yang mendapatkan lemparan bunga itu. Tanpa perlu berpikir lagi, seluruh anggota badannya telah refleks menuntunnya pada gadis ini. Hanya gadis ini yang ada dalam benaknya, dan sudah sangat dikenali oleh semua organ tubuhnya. Bahkan ia pun terkadang tidak memahami bagaimana akal sehatnya menjadi begitu lemah sehingga tidak bisa mengontrol gerak anggota badannya sendiri, jika itu sudah berkaitan dengan Cinta.
Namu tiba-tiba saja berbelok tajam, minggirkan kendaraannya. Jalanan malam itu tidak terlalu ramai, dan kabut mulai pekat merambat. Malam Chuseok, orang-orang lebih memilih untuk tetap berada di rumah menghangatkan diri bersama keluarga. Mereka yang masih berada di jalan, sebagian besar juga sedang menuju rumahnya.
Cinta menatap Namu yang tiba-tiba saja menghentikan mobilnya dan membiarkan kendaraan itu tetap menyala. Wajah pria ini mengguratkan sesuatu yang lembut, tapi ada percikan yang tidak dapat di pahaminya. Dan itu terasa sedikit mengerikan, entah mengapa demikian.
" Aku .... aku... tidak ingin kalian saling terluka ". Ironis .... saat ini, dirinya sendirilah yang merasakan hatinya tertusuk. Namu terdiam sesaat dan menatap Cinta. Gadis bermata indah sekelam malam.
Puluhan tahun ia telah mengenalnya, memahami gestur dan kebiasaan gadis ini. Tapi tidak seharipun ia merasa bosan memperhatikan semua gerakan gadis yang kini menatapnya dengan tatapan bingung. Lihatlah setangkup bibir yang merona indah itu, setiap ia menatapnya selalu semakin cantik. Ah Cinta..... dan Namupun kembali kehilangan kesadaran atas kontrol tubuhnya, ia merangsek mendekat.
...Ah .... Cinta......
...Kau membuatku seperti tak terkendali...
...Apakah engkau memang tercipta dari senyawa yang memabukkan ?...
...Atau memang aku yang begitu lemah kendali atas dirimu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Anik Supriyanto
aaahhh ..berdebar aku
2023-12-31
0
bundanya Fa
jantungku ikut bergemuruh... kau menghanyutkanku.
2022-04-14
0
Zeeylaa To Zila
namu jngan buat cinta bigung
2022-01-23
0