" Sungguh ? ", suara Hana terdengar tidak percaya.
" Iya.... tapi jangan buru-buru mba. Yang jelas Namu bilang untuk kali ini Cinta tidak menunjukkan ekspresi penolakan ".
" Syukurlah.... semoga ini awal yang baik untuknya. Terimakasih banyak ya adikku "
Dan Hana pun menutup telepon itu, wajahnya terlihat sumringah. Sementara itu Arjuna memperhatikan istrinya dengan tatapan penasaran.
" Semoga yang kali ini berhasil ".
" Dengan yang mana ? ", tanya Juna sambil menerima semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepul dan beraroma wangi nikmat.
" Yang dari Semarang itu.... anaknya .... Rayhan atau ... siapa ya tadi ".
" Ooh Rayhan... ya aku kenal, mereka teman di Inggris dulu. Kisah cinta Rayhan dan istrinya sungguh luar biasa' ".
" Oh ya .... boleh dong aku diceritain "..
Arjuna tersenyum sambil menikmati bubur kacang hijau yang manis, gurih dan hangat itu. Lalu ia pun sedikit bercerita.
" Rayhan dan Nilam istrinya, terpisah enam tahun. Lalu di negara seribu peri dengan berhiaskan bunga bluebell itu... mereka kembali bertemu. Cinta yang indah, tulus... dan luar biasa ".
" Waaaah.... ", sepasang mata Hana berbinar-binar. " Berarti nggak salah dong kalau Cinta kita jodohkan dengan anak mereka ".
" Heeem ..... jodoh itu hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai orang tua hanya berikhtiar ".
" Iya sih.... , tapi ngomong-ngomong.... sudah pernah bertemu dengan anak itu? Syailendra maksud ku ".
" Pernah dua kali. Tinggi... tampan .... tapi senyumannya sedikit dingin. Dan sepasang matanya.... sebening warna gerimis yang kelabu ".
" Waaaaah ...... jangan-jangan malah aku yang jatuh cinta duluan nih ".
" Coba saja kalau berani ". Arjuna mengacungkan tinjunya gemas, Hana pun tertawa.
" Sayang, .... apa pernah terlintas di benakmu ?. Jika sebenarnya Cinta memang tengah menunggu seseorang ? ", tanya Juna kemudian.
" Aku sungguh tidak berharap penantian seperti yang kita alami ..... juga dirasakan olehnya. Iya kalau pria itu paham.... dan punya perasaan yang sama. Kalau tidak ? ", wajah Hana terlihat murung diakhir kalimat.
" Apa tidak sebaiknya kita tanya dia baik-baik ", usul Juna
" Cinta...... dia seperti ku. Tidak mungkin mau bercerita. Dia akan memendamnya sendiri ".
Sejenak sepasang orang tua itu terdiam, memikirkan sulung mereka.
" Sayang, siapa pria kelihatan dekat dengan putri kita. Maksudku .... dalam pengamatan mu ? " tanya Hana kemudian.
Arjuna terlihat berpikir sejenak. Pria yang dekat dengan putrinya, seseorang yang mungkin sebenarnya sudah mereka kenal hanya saja tidak menyadarinya. Siapa pria itu ?
" Seperti nya tidak ada . Cinta terlalu tertutup memang. Atau kita yang sudah abai dengannya ? ".
" Itu yang aku takutkan. Mungkin kita terlalu disibukkan dengan masalah-masalah yang dibuat Raka. Ah, anak itu ..... ". Hana memegang keningnya.
" Sudahlah .... doakan saja yang terbaik untuk anak-anak. Kau menikah dengan ku juga usia tiga puluh lebih. Cinta masih dua puluhan .... ", hibur Arjuna.
" Iya juga sih.... kini aku paham yang dirasakan almarhum papa dulu ".
" Aku nanti akan bicara dengan Namu... siapa tahu dia mengerti sedikit banyak tentang Cinta. Mereka berdua 'kan cukup dekat selama ini ".
Hana pun mengangguk menyetujui apa yang disampaikan suaminya.
....................
Siang itu belum terlalu terik saat Namu mendengar suara mamanya bercakap-cakap dengan seseorang di dapur. Bukan suara ibu tukang masak yang biasanya. Benar saja, ada tiga orang wanita yang sibuk dengan berbagai peralatan dan bahan makanan di dapur yang cukup luas itu.
" Naaaah.... ini dia si sulung. Namu ... kenalkan, ini Tante Lita dan Astrid putrinya ", Orlin memanggil Namu yang terlihat di ambang pintu
Dengan sedikit canggung, pria muda ini pun datang menghampiri. Sementara seseorang yang disebut sebagai tante Lita itu nampak tersenyum lebar, wajahnya terlihat bersemangat.
" Halo Namu, kami baru pindah ke kompleks ini dua bulan yang lalu ". Wanita yang terlihat sangat modis itu menyapa dengan riang. Sepintas usianya terlihat seperti tiga puluhan, walau pastinya sudah mendekati atau mungkin lebih dari lima puluh tahun.
Namu membalas dendam tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Menjabatnya sesaat dengan gesture hormat.
" Astrid anak tante yang bungsu. Baru selesai magister di Leiden Holland. Biar mandiri gitu ... jadi ya kita kirim ke sana..... bla... bla... bla..... ".
Namu meringis kecil dan memberikan isyarat jengah pada Orlin mamanya. Wanita ini masih sibuk bercerita membanggakan putrinya. Orlin hanya tersenyum saja melihat ekspresi Namu. Sementara si topik pembicaraan nampak tersipu dan tersenyum sambil sesekali mencuri pandang pada Namu.
" Eh Astrid.... ayo kenalan dong ".
" Astrid ", akhirnya gadis itupun memperkenalkan dirinya pada Namu.
" Namu ".
" Kalian ini .... kok malah pada kayak anak SD gitu. Ngobrol dong .... ".
Namu melirik Orlin, berharap pertolongan dari mamanya. Dalam posisi seperti ini untuk kesekian kalinya tetap saja masih membuat pemuda itu tidak bisa menemukan jalan untuk kabur.
" Assalamualaikum .... ", tiba-tiba sebuah salam menyeruak. Masuklah seorang gadis cantik tinggi semampai mengenakan celana jeans dan t-shirt merah muda yang manis. Rambut ekor kudanya bergoyang seirama langsung riang, sementara senyuman manis pada wajah dengan make up minimalis itu terasa sangat memikat.
" Wa'alaikusalam ....", jawab serempak empat orang yang ada di situ.
" Ada tamu rupanya ". Cinta yang baru saja datang langsung memeluk dan mencium Orlin sesaat .
Pemandangan yang tak luput sama sekali dari dua orang tamu di keluarga Mandala, tiba-tiba saja merubah gesture dan mimik Lita. Wanita itu nampak kurang nyaman dan merasa seperti tersaingi.
Namu tersenyum dalam hati menyadari perubahan itu. Inilah kesempatan untuk melarikan diri, pikirnya.
" Kok kesiangan ?. Aku hampir meninggalkan mu ".
" Hah ?!!", Cinta bengong. Tapi tidak butuh waktu lama karena ia sudah harus mengikuti langkah Namu dengan terpaksa. Pemuda itu menggelandangnya tanpa kompromi terlebih dahulu.
" Mohon maaf ya semua, ada urusan penting dan genting dengan nona ini.... saya permisi dulu Tante, Astrid ... ".
" Ah .... ya... ya.... maaf. Permisi dulu Tante ... ", Cinta dengan tergeragap mengikuti tingkah polah kakaknya.
Sepeninggalan Namu yang menyeret Cinta, Orlin menangkap aura tidak suka dari Lita. Ia pun merasa tidak nyaman dan akhirnya harus meluruskan semua prasangka yang pastinya sedang berkecamuk di hati wanita yang kini terlihat cemberut di hadapannya.
" Itu Cinta, putri sulung mba Hana ... kakaknya suamiku. Rumahnya juga dikompleks ini kok. Mereka memang dekat sejak kecil. Kali ini baru ada proyek yang dikerjakan bersama ".
" Ohhhh.... ". Nampak sekali kelegaan di wajah Lita. " Kalau begitu..... mungkin Astrid bisa ikut bantu-bantu dong.... ya sekalian biar bisa lebih akrab lagi ".
Orlin yang sangat memahami arah pembicaraan ini hanya bisa tersenyum saja. Tidak menolak dan juga tidak mengiyakan. Hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Akhirnya Orlin pun mulai terbiasa.
..................
" Calon untuk mu ya kak ? ". Pertanyaan itu sama sekali bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tapi lebih untuk menggoda. Cinta yang masih setengah diseret oleh Namu untuk mengikuti langkahnya yang panjang, terkikik geli.
" Ikut aku.... ". Hanya itu yang terucap. Tanpa melepaskan tangan Cinta, iapun juga membawa serta adiknya itu masuk ke dalam kamar.
" Tunggu sebentar ".
Tanpa menunggu lagi, Namu melepaskan pegangan tangannya lalu berjalan menghampiri lemari pakaian. Mengambil sebuah atasan bergaya casual berwarna coklat pekat. Berurutan, ia melepaskan kaos santai yang dipakainya dan segera mengganti dengan atasan casual yang baru saja di ambilnya. Tanpa rasa canggung memperlihatkan deretan otot kekar yang berbarid rapi di selebar dada dan perutnya.
" Bruk ", dengan iseng melempar kaos bekas dipakainya ke arah Cinta.
" Iiih..... dasar!!!. Bau tau ... ", gerutu Cinta dengan kesal.
" Wangi kaleeee ..... masa abang ganteng bau... ".
" Halah.... ganteng tapi nyalinya kecil. Tante-tante macam itu saja takut ".
" Bukan takut.... ngeri ".
Dan Cinta pun tak kuasa menahan tawanya. Air matanya sampai keluar karena tawa yang lepas.
" Kita pergi yuk ... ke rumah lama ku ".
" Nggak ah ... jauh ".
" Lah... bukannya kamu kesini mau bayar utang?. Nggak usah bakso Gajah deh... temani aku saja ".
" Kak.... sandiwara barusan ? tidak termasuk pembayaran ? ".
" Sudah beda cerita adiiiik.....".
" Aaaww.... ".
Namu tertawa puas melihat Cinta yang mengaduh saat ia berhasil memencet hidung yang manis itu. Perbuatan yang berbuah satu tinjuan di pundaknya. Tapi pemuda itu hanya tertawa saja.
" Kita langsung ke bawah, nggak usah pamit mamah. Masih ada duo gurita di sana ".
"Pfffft.. hi.. hi ..hi..", Cinta berusaha keras menahan tawanya yang tak urung terloloskan juga.
" Cewek ini ....iiih ".
Dengan cepat Namu membekap mulut gadis itu. Tapi yang terjadi adalah tawa itu akhirnya tak bisa terkendali. Bahkan keduanya kini tertawa berderai-derai. Sambil melangkah cepat menuruni tangga dan bergegas menuju garasi, menghindari dapur tentunya.
Tapi tingkah dua orang sulung yang kompak itu terekam dengan baik oleh sepasang mata yang tajam mengawasi.
" Maaf ya ... boleh aku tanya sesuatu padamu. Tapi kalau tidak berkenan, tidak usah kau jawab ... ".
Orlin menatap Lita yang tiba-tiba saja menjadi sangat serius sekembalinya dari menerima telpon tadi. Menutupi rasa penasarannya, Orlin mengembangkan senyum.
" Boleh mba, apa yang ingin mba tanyakan ".
" Ini tentang Namu dan sepupunya itu. Mereka sepertinya sangat dekat ya. Kau tidak khawatir ? ".
Mendengar pertanyaan itu, Orlin mengernyitkan kening. Mencoba memahami maksud dari wanita ini.
" Maksudnya mba Lita apa ya ? ", Orlin balik bertanya.
" Yaaa... walaupun keduanya bersaudara, tapi mereka 'kan tetep saja pria dan wanita. Kedekatan seperti itu bukankah cukup .... ".
" Mengkhawatirkan ? ", sergah Orlin dengan cepat. " Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Cinta sangat menyayangi Namu sebagai kakaknya. Mungkin karena di usia toddler, keduanya sudah punya adi, akhirnya timbul perasaan saling mendukung yang kuat, membuat mereka sangat dekat. Kedekatan dua orang sulung ".
" Oh begitu ....... tapi, kalau orang yang tidak tahu, pasti mengira mereka pasangan kekasih. Akhirnya yang pada mau mendekat jadi mundur ..... nggak khawatir dengan usia mereka ? ".
Orlin tidak segera menjawab, ia sebenarnya merasa risih dengan topik pembicaraan ini. Apalagi yang mengajak bicara hanyalah sekedar tetangga baru yang belum dia kenal dekat. Walaupun para suami sudah cukup lama saling kenal dalam hubungan bisnis, tapi bukan berarti istrinya harus ikut campur terlalu dalam. Tapi Orlin kembali hanya mengulas senyum.
" Terimakasih mba Lita perhatian sekali. Tapi biarlah mereka menemukan cinta dengan alami.... mereka sudah dewasa ", kata Orlin dengan bijak.
" Mau ku bantu cari jodoh buat Namu ? ".
" Hah ?!!!!! ".
..................
" Kenapa kau tidak bilang kalau ada dia ", Cinta menggeram dengan gemas pada Namu yang cengar-cengir.
" He... he... he.... memang sudah janjian sejak kemarin. Kehadiran mu adalah bonus ".
" Bonus ??? .... hei!!!! aku menyelamatkan mu dari dua gurita tadi ya. Kini malah kau umpankan aku ".
" Waduuuuh..... sadis amat mba. Nggaklah... mungkin kalian memang benar 'jodoh' ". Penekanan pada kata terakhir yang diucapkan Namu tentu saja membuat Cinta kembali menggeram.
Tapi sosok tinggi yang semakin dekat menghampiri itu pada akhirnya membuat Cinta mengubah sikapnya. Ia tersenyum dengan manis seperti yang dilakukan Syailendra. Sementara Namu cengar-cengir tanpa dosa.
" Wah ... Cinta ikut juga nih. Bisa taekwondo juga ? ".
" Hah ?!! .... ah nggak nggak kok. Ini .... disandera abang bengal ini ". Tentu saja maksud kata-kata itu merujuk pada Namu yang nampak pura-pura bodoh.
Berada diantara dua pria rupawan dengan postur yang mempesona tentu saja sangat menyenangkan. Apalagi kau bisa bergelayut manja pada salah satunya, karena dia kakakmu. Tapi ternyata tidak seindah itu juga kenyataan.
Semenjak dari keberangkatan mereka dari hotel tempat Syailendra menginap hingga tiba di rumah lama keluarga Namu yang kini sudah beralih fungsi menjadi 'dojo tempat latihan taekwondo, Cinta tak henti-hentinya menerima tatapan iri. Tentu saja dari para gadis-gadis yang mereka lewati. Tentu saja, gadis mana yang tidak akan terpesona dengan oppa Namu. Apalagi mereka yang penggila K-Pop, pasti akan klepek-klepek begitu Namu memperlihatkan sebaris gigi-giginya yang rapi seperti untaian mutiara dalam senyuman yang menawan.
Sekarang malah ditambah satu lagi pria limited edition yang mempunyai sepasang mata kelabu, bening dan sangat berkharisma. Perawakan Syailendra yang menurun dari ayahnya, membuat pria ini seperti seorang panglima dari kerajaan Turki Utsmani. Perpaduan genetik antara bangsa yang membuatnya nampak demikian indah.
Cinta tersenyum sendiri, melihat dua orang pria ini yang saling mencengkeram kerah baju latihan mereka dengan kaki berusaha saling jegal untuk melanjutkan. Pasti beberapa kerumunan gadis-gadis itu sedang membayangkan seandainya mereka adalah piala untuk hadiah pertandingan itu.
" Hai.... ".
Cinta menoleh saat sebuah sapa membuyarkan lamunannya. Seorang pria tersenyum dan tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya.
" Aku pernah melihat mu sebelumnya. Kau saudaranya Namu 'kan ? ".
" Iya ... ".
" Aku Glen... ", pria itu mengulurkan tangannya.
Sesaat Cinta nampak ragu. Ia memperhatikan pria ini. Dari seragam taekwondo atau dobok yang dikenakan, Cinta tahu kalau pria ini berasal dari satu Dojo dengan Namu. Tapi pernah bertemu dengannya, sungguh ia tidak ingat sama sekali.
" Tidak apa kalau kau tidak ingat. Namu tidak pernah mengajak gadis kesini selain Kirana adiknya dan tentu saja kau ". Glen menarik uluran tangannya yang tidak kunjung disambut oleh Cinta.
" Ah ... maaf, ya Glen. Aku benar-benar tidak ingat kalau kita pernah bertemu. Namaku Cinta ". Akhirnya Cinta pun membalas perkenalan dari Glen.
" Ha.... ha... ha... aku paham kok. Pasti Namu sangat protektif padamu ya Cinta.... nama yang indah, cocok sekali dengan kecantikan mu ".
" Terimakasih .... kau bisa saja Glen ".
" Oh ya, mau ku ajari beberapa teknik pertahanan diri ? ".
" Aku ? ", Cinta menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Iapun lalu tersenyum garing sambil berkata, " Tidak ah... aku nggak cocok untuk oleh raga ini ".
" Kata siapa ?. Justru sangat cocok untuk wanita secantik dan semenarik kamu. Akan sangat berguna untuk berjaga-jaga ..... mau ya ? ".
Cinta terdiam sesaat sambil mengernyitkan keningnya, kemudian dia mengangguk. Glen tersenyum penuh semangat.
" Ayo..... kita mulai, di sana ".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Zeeylaa To Zila
seruuuuuuuuuuuuuu
2022-01-22
0
sumiati
ada typo ya mbak author...mungkin harusnya membalas dengan senyuman 😊
2022-01-09
0
sweet@archer
nyopo thok Mbak Reeennn...
ra iso coment opo opo. lk wes moco intine nge blank... the best
tetap semangat berkarya Ay Renita. tetap jaga kesehatan dan selalu bahagia 😊 😊
2021-12-10
2