Dia adalah Min Hyoriin yang manis dan lembut, berkulit sedikit gelap jika dibandingkan dengan orang-orang sebangsanya. Tentu saja karena ayahnya orang Asia Tenggara. Tapi sepasang bola mata yang besar berpagar bulu lentik, sungguh mempesona.
" Oppa... ". Gadis itu menyongsong Namu dengan sebuah pelukan. Ada sebersit bahagia di raut wajahnya yang bernuansa duka.
" Hyoriin ku yang cantik.... lihat, aku hampir tidak mengenalimu. Oh ya ... ini papa mamaku, kau ingat ? ".
Gadis itu buru-buru membungkuk dengan hormat pada Mandala dan Orlin. Terakhir kali dia ke Indonesia hampir sepuluh tahun yang lalu. Saat itu ia masih remaja, dan sempat beberapa hari menginap di rumah keluarga Mandala.
" Selamat datang Om, Tante.... terimakasih banyak sudah menjenguk ayah ku ".
" Kau cantik sekali Hyoriin.... ", puji Orlin dengan tulus.
" Aku langsung tahu itu kamu ... anak Teddy, alis mata yang lebat, bulu mata yang panjang. Kudengar kau sudah mulai bekerja di salah satu kantor berita ? ".
" Iya Om... baru mau satu tahun ini ".
" Ayahmu sangat bangga padamu. Kau anak baik ... benar-benar putri Teddy sahabatku ".
" Terimakasih Om ". Hyoriin kembali membungkuk dengan senyuman manisnya.
" Oh ya Tante, bagaimana kabar Oppa Haidar dan Kirana ? ". Tanya Hyoriin pada Orlin.
" Aah.... mereka. Haidar sudah jadi seorang dokter dan kini sedang mengabdi di daerah. Kirana bulan depan memasuki tahap terakhir dokter koas-nya. Kau masih ingat ya dengan mereka ".
" Tentu saja, Kirana kecil yang sangat pandai dan cantik, yang selalu diganggu kakak Haidar. Kupikir dia baru masuk fakultas kedokteran tahun ini, ternyata sudah dokter muda ya ".
" Adikku yang manis itu persis mama cantik ini ", Namu mewakili menjawab seraya memeluk Orlin dengan manja. " Sangat pintar.... jika orang lain butuh lima tahun, untuknya tiga tahun itupun terlalu lama ".
" Waaaah... ", Hyoriin menganga dengan takjub. " Sudah kuduga, dia sangat pintar ya ".
" Iya... tapi aku jadi cepat kehilangan gadis kecilku ", Orlin terlihat sedikit kecewa.
" Kan' selalu ada aku mamah.... yang akan menemanimu ", hibur Namu. Tapi pria itu menyampaikannya dengan nada menggoda membuat Orlin terlihat gemas.
" Kau harusnya segera menikah ... lalu memberiku gadis kecil yang imut, atau pria kecil yang menggemaskan ". Kalimat itu terdengar bersungguh-sungguh terucap dari bibir Orlin.
" He.... he.... he.... belum ketemu yang pass dihati .... ", Namu meringis.
" Oh ya Hyoriin. Ayahmu mengatakan impiannya pada ku tentang mengantarkan mu ke altar pernikahan ...... bagaimana ? ".
" Maaf ... maaf Hyoriiin", tiba-tiba Orlin menyikut Mandala yang mengajukan pertanyaan itu. " Suamiku ini sesampainya kemari, langsung berada di kamar bersama ayahmu.... jadi tidak tahu ... tentang cerita itu ".
Wajah Hyoriin terlihat tidak menunjukkan perubahan apapun. Ia pun lalu menyentuh tangan Orlin dan memberikan sebuah senyuman seolah mengatakan tidak mengapa, aku baik-baik saja.
" Om Mand, pacarku tidak mau menikah terlalu cepat. Di Korea .... menikah itu terkadang dianggap momok yang membuat karier pekerjaan menjadi hancur. Tapi aku merasa beruntung .... aku jadi tahu siapa dia, dia bukan yang terbaik untukku ".
" Ohhh... maaf, aku tidak tahu sayang ", Mandala pun terlihat sangat menyesal. Teddy belum mengetahui semua ini, bahkan sahabatnya itu semangat sekali menceritakan tentang Hyoriin yang akan segera menikah. Jika Teddy mengerti keadaan yang sesungguhnya, tentu akan sangat bersedih.
" Hyoriin ... ", tiba-tiba saja Boo Na muncul dan menghampiri putrinya. Keduanya berbicara sesuatu yang kemudian diikuti oleh langkah Hyoriin bergegas meninggalkan ruang keluarga itu. Bahkan hingga gadis itu lupa tidak berpamitan.
Langkah Hyoriin diikuti oleh ibunya yang juga nampak tergesa.. Sementara itu, ketiga orang tamu mereka saling pandang dengan tatapan tak mengerti.
" Semoga saja sesuatu yang baik ", gumam Orlin penuh pengharapan.
Cukup lama ibu dan anak itu meninggalkan ketiga orang tamunya. Hingga kemudian datang kembali bergabung di ruang keluarga, tapi kali ini dengan tambahan satu orang pemuda bersama mereka. Pemuda itu tersenyum ramah dan mengangguk dengan sopan memberi salam. Wajahnya putih bersih dan lumayan tampan, tidak terlalu sipit dan cukup menawan ketika tersenyum. Tingginya mungkin sama dengan Namu, sekitar seratus delapan puluh centi. Badannya juga terlihat kekar, ia mengenakan seragam seorang pilot pesawat terbang.
" Perkenalkan ini Lee Mong Ryong, tetangga depan rumah. Teman baik Hyoriin ", Boo Na memperkenalkan pemuda itu yang kini kembali membungkuk, menghormat dengan sopan.
" Ini tuan dan nyonya Mandala dari Indonesia, ayah dan ibu Namu ... kau masih ingat dengan Namu ? . Kalian pernah menghabiskan liburan bersama di Jeju... saat Namu kuliah di Inggris ".
" Aaah .... ya, saya ingat ", senyum pemuda itu merekah. " Selamat datang di Korea, Namu... Om dan Tante, panggil saja saya Lee ".
" Ku kira kau tidak akan jadi masuk sekolah penerbangan ". Tiba-tiba Namu menyelutuk. Ia ingat betul bagaimana Lee dulu kebingungan menentukan pilihan.
" Ha... ha.. ha... kau masih mengingatnya Namu ya Hyung. Seperti katamu, asalkan ada tempat untuk pulang, tidak menjadi masalah terbang begitu jauh ".
Lalu dua pemuda itupun saling berpelukan dengan erat. Seperti sahabat lama yang telah terpisah dan baru kembali bertemu.
" Tante Boo Na, tentang hal yang ku sampaikan tadi.... bisakah kita membahasnya lagi ?", pertanyaan itu langsung tersampaikan saat ke enam orang itu telah kembali duduk.
Boo Na menatap wajah putrinya yang kemudian terlihat resah. Seperti meminta sebuah persetujuan.
" Maaf.... apa kehadiran kami menganggu. Mungkin ini.... ", kata Mandala menggantung.
" Tidak tuan Mandala.... kita semua adalah keluarga, dan ini juga masalah keluarga ", sergah Boo Na. " Lee... katakanlah kembali. Pak Mandala ini juga adalah sahabat baik suami ku sejak dulu. Dan kita semua yang ada disini ... bertujuan sama ... ".
Suara Boo Na tedengar bergetar di akhir kalimat. Hyoriin segera memeluk dan membelai pundak ibunya. Tapi kesedihan di wajahnya tak tertutupi.
" Jadi begini .... tuan Mandala. Saya bermaksud menikahi Hyoriin... ".
Suasana pun menjadi hening sesaat, Mandala dan Orlin saling tatap.
" Saya bukan Shin kekasih Hyoriin. Tapi .... saya benar-benar ingin menikah Hyoriin, bukan hanya karena alasan sakitnya Om Teddy. Tapi ..... sejak dahulu .... saya sudah menyayangi Hyoriin lebih dari sekedar kawan. Hanya saja.... dia tidak bisa jatuh cinta pada ku .... ". Lee tertawa kecil, tapi terdengar sangat sedih dan ironis. Lalu ia pun kembali berbicara.
" Tidak tahu diri.... mengambil kesempatan dalam kesempitan .... mungkin seperti itu adanya. Tapi sungguh .... saya akan melepaskan mu saat kau temukan orang yang kau cintai. Setidaknya .... ".
" Ya... aku mau menikah dengan mu ". Tiba-tiba Hyoriin memotong kalimat Lee dengan cepat. Terdengar tegas dan tanpa ragu. " Datang dan temui appa ... katakan bahwa kau mencintaiku sejak lama ... " .
" Baik ", Lee bergegas berdiri. " Tante.... apakah aku bisa bertemu dengan Om Teddy sekarang ? ".
Boo Na termangu, ia sungguh tidak percaya dengan semua yang terjadi begitu cepat ini. Sesaat kemudian ia tersadar, lalu ikut berdiri.
" Sebentar.... aku lihat dahulu ya. Apakah dia masih tidur ". Akhirnya Boo Na berdiri dan melangkah menuju kamar tempat suaminya sedang terbaring lemah. Tanpa menunggu diminta, pemuda Lee mengikutinya.
Sementara itu tinggallah Hyoriin yang masih termangu tak percaya. Ia menatap kosong seolah-olah jiwanya sedang mengembara ditempat lain. Hingga akhirnya Orlin memutuskan untuk mendekati gadis itu dan memberikan dukungan dengan menggenggam jemarinya.
" Yang kau lakukan ini adalah bukti bahwa kau putri yang sangat berbakti. Kebahagiaan pasti akan bersamamu. Mungkin ... Lee adalah cinta yang sesungguhnya, hanya saja kau tidak menyadarinya ".
" Sejak kecil, dia selalu berkorban untuk ku. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai kakak. Aku tidak tahu kalau dia menyayangiku dengan ..... berbeda ".
" Lee..... pasti dia sudah cukup lama bergulat dengan perasaannya sendiri. Ia pasti berdebat hebat dengan keraguannya. Ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena takut kau akan jadi menjauh, atau bahkan jadi membencinya. Ia ..... pasti berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanian. Kau hanya butuh melihat ke dalam hatimu .... lebih dalam lagi. Terkadang .... sebenarnya, kita sudah bersama dengan apa yang kita cari. Lihat dengan hatimu sebagai wanita nak ".
Orlin berkata dengan lembut seperti sedang menasehati putrinya sendiri.
Tanpa mereka semua ketahui ada satu hati lagi yang tersentuh. Peristiwa itu seperti menampar nalarnya untuk menjadi lebih logis lagi. Dia adalah Namu, yang kini sedang menyelami persaannya sendiri. Merenungkan apa yang didengarnya. Walaupun nasehat yang keluar dari mulut sang mama sebenarnya ditujukan untuk sepupunya, tapi Namu merasa nasehat itu begitu tepat sasaran menghunjam hati.
" Hyoriin..... ayah mu menunggu. Masuklah ". Boo Na datang dengan senyum lebar memanggil anak gadisnya.
Wajah Boo Na terlihat sumringah, ia tidak bisa menyembunyikan senyum. Seperti cahaya mentari yang menyibak kabut, Boo Na kini terlihat lebih bersemangat.
" Ayo... kita semua ikut ke kamar. Jadi saksi kisah mereka, semoga inilah cinta sejati itu ".
Yang pertama melangkah sambil bergandengan adalah Orlin dengan Boo Na. Lalu di susul Mandala dan yang terakhir adalah Namu. Tak berapa lama, keempatnya sudah bergabung di kamar Teddy.
Sementara itu Hyoriin tampak duduk di sebelah ayahnya, dan menyenderkan kepala dengan jejak air mata yang masih baru. Lee, pemuda itu duduk di tepi ranjang tak jauh dari ayah dan anak itu berada.
" Pasti Tuhan telah mengirim secuil surga untukku hari ini. Kedatangan sahabat ku, keponakan ku dan bersatunya kisah cinta kalian . Sempurna sekali ". Teddy tersenyum bahagia, wajah tirusnya yang pucat sungguh tak mampu untuk menahan aura cemerlang karena hatinya yang sangat senang .
" Lee .... kau masih ingat? dulu sekali ... Om pernah menitipkan Hyoriin padamu. Ku minta kau menjaganya... dan sampai saat ini, kau masih memegang janji itu. Seterusnya ..... jagalah Hyoriin dan juga mamanya Hyoriin ... ya.. ".
Lee Mong Ryong mengangguk dengan tegas dan itu sudah sangat cukup. Seperti sebuah ikrar yang terucap dan kemudian terpatri di hati.
" Bisakah aku menikahi Hyoriin ..... dalam Minggu ini ? ". Lee menatap berkeliling memohon persetujuan. Sementara itu Hyoriin hanya diam dan mengeratkan pelukan pada ayahnya.
" Aku akan membantu mu Lee .... menyiapkan semuanya ". Akhirnya Namu yang mewakili menjawab. Ia bahkan mengulurkan tangannya dan menjabat erat tangan Lee. Lalu keduanya sama-sama tersenyum.
.................
Namu melewati hari kedua di negara ginseng ini dengan rapat dengan para manajer di kantor. Setelahnya, ia meminta bantuan seorang staff event untuk membantu seluruh persiapan pernikahan Hyoriin dan Lee. Semuanya sudah harus siap dalam waktu tiga hari. Sesuai dengan permintaan ayahnya, seluruh biaya akan ditanggung oleh ayahnya itu. Keberataan dari Teddy dan keluarganya tidak diundang. Karena hanya ini yang bisa diberikan keluarga Mandala sebagai hadiah, begitu alasannya.
Sebelum memasuki kamar hotel tempatnya menginap, ia mengunjungi kamar orang tuanya. Dan hanya mendapati ayahnya yang masih sibuk membuka laptop. Ibunya masih belum pulang dari menemani Hyoriin memilih wedding dress nya. Karena Lee ada jadwal penerbangan dua hari kedepan. Pernikahan yang sangat mendadak ini membuat pria itu bisa memperoleh cuti tepat satu hari sebelum hari pernikahannya. Itupun sudah sesuatu yang sangat luar biasa.
Sekarang Namu sudah masuk ke dalam kamarnya. Melepaskan mantel lalu menggantungnya dengan rapi. Kemudian mulai bersiap untuk mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat. Saat itulah telepon seluler nya berdering. Sebuah panggilan dari nomor asing. Dan panggilan itu berulang. Namu pun memutuskan untuk merespon panggilan itu.
" Halo "
" Halo Namu, ini Lee ", suara diseberang sana terdengar ceria.
" Ah Lee... ya. Bagaimana ? ".
" Terimakasih banyak telah membantuku. Entah bagaimana ceritanya jika tidak ada kau dan keluarga mu. Aku sangat berterimakasih ".
" Sudah seharusnya Lee... Tante Boo Na, Om Teddy dan Hyoriin ,.. mereka keluarga ku ".
" Iya ... tapi aku tetap sangat berterimakasih. Tapi Namu, sebagai sesama pria bisakah aku meminta pendapat mu ? ".
" Tentu saja... ada apa ? ".
" Ehmmm... ", terdengar nada jeda penuh keraguan. " Menurut mu .... apakah Hyoriin bisa jadi mencintai ku ? ".
" Untuk hal itu.... pasti kamu yang lebih mengerti. Tapi apa sih di dunia ini yang tidak mungkin ? ".
" Ha.. ha.. ha... kau bisa saja menghibur ku. Menurut mu ..... aku ini pria licik atau bukan ? ", tanya Lee lagi.
" Tergantung dengan niatmu Lee. Jika niatmu tulus menikah Hyoriin.... karena kamu mencintainya dan ingin membahagiakan orang tuanya... tentu kau tidak licik "
" Aku sangat mencintai Hyoriin, sejak dulu ".
" Dan sepertinya Om Teddy juga lebih paham tentang hal itu. Bahkan ada janji antar pria segala ya .... ha..ha..ha... ".
" Ya... ya.. aku juga tidak menyangka kalau Om Teddy masih mengingat hal itu. Padahal itu .... saat aku masih kelas empat sekolah dasar dan Hyoriin baru kelas dua "
" Menurut ku .... itu memang sudah pertanda Lee. Kau memang untuk Hyoriin ".
" Tapi aku masih takut dia........... ".
" Kalau begitu, kau harus menahan apapun hasratmu sampai Hyoriin sendiri yang menyerahkannya.... ah.... maksudku.... setelah menikah nanti ".
" Begitu ya ..... ooh Namu ya, kau sangat pengertian. Bahkan kau tahu isi hati ku ".
" Lee.... kita ini sama-sama lelaki. Pasti punya pikiran yang sama tentang wanita yang kita cintai. Apalagi setelah menikah..... mau apa ? selain .... itu ".
" Ha.... ha.... ha... ha.... ya ... ya... ya... kau benar, benar sekali. Terimakasih ya Namu... kau sudah sangat membantu ku. Pria pengertian seperti mu..... waah pasti istri mu sangat bahagia ya. Oh ya Namu ... aku tutup dulu teleponnya. Sekali lagi terimakasih.... selamat malam ".
" Lee .... aku ... belum punya istri .... yah, ditutup teleponnya ". Namu hanya mengangkat kedua bahunya pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
HununNurlaela
Dan tahukah kamu Orlin,?katamu bagai anak panah terlepas dari busurnya,,,,,Jleb....langsung mengenai pusat hati Namu,putra sulungmu!
2022-04-16
0
Zeeylaa To Zila
namu msih menunggu..
2022-01-22
0
ce_ngOh
wah lee mong ryong,kamu hianati chun hyang heh?
2021-08-30
0