Satu Dolryeo Jireugi yaitu sebuah pukulan dengan mengait, berhasil membuat Namu terjatuh. Syailendra tersenyum, lalu mengulurkan tangannya dan membantu temannya itu untuk segera bangkit.
Keringat sudah membasahi kerah baju mereka. Juga mengalir menuruni pelipis dan menurun mulus di sepanjang leher. Wajah keduanya terlihat segar dan penuh semangat. Menemukan sparing partner yang tepat memang menyenangkan, membuat segar kembali jiwa dan raga. Setidaknya terhapuskan sudah penat dan kusut masai pikiran selama enam hari yang lalu.
" Lihat, ada yang pasang perangkap untuk adik cantik mu ".
Namu mengikuti arah tatapan Syailendra dan ia melihat Cinta sedang diajari beberapa teknik dasar oleh Glen. Pria itu memang beberapa kali pernah menanyakan tentang Cinta. Waktu itu Namu hanya tersenyum saja sambil mengatakan kalau mereka adalah sepupu. Dengan nada bercanda Glen pun mengutarakan ketertarikannya pada Cinta.
" Kau kalah start 'Lend ", tukas Namu.
" Aku tidak ikut kompetisi itu kok ".
" Loh ?!!.... ", Namu kebingungan.
" Kenapa ? ", tanya Syailendra dengan nada menggoda.
" Kita ini memang para sulung yang lelet jodoh membuat para orang tua sibuk untuk mencarikan pasangan. Kau pasti berpikir aku menyetujui rencana mereka mendekatkan ku dengan Cinta. Iya kan ? ", tanya Syailendra lagi.
" Oh okay.... tapi apa kau tidak ada ketertarikan dengan Cinta ? ".
" Hei... apa yang kurang dari gadis itu. Muda, cantik, smart, kaya dan penuh prospect masa depan. Sangat menarik ...... tapi untuk urusan rasa, aku membutuhkan lebih dari semua itu untuk bisa menggetarkan hati ".
" Waaah.... itu artinya belum ada hal bisa menyentuh citarasa pria mu ? ".
Pertanyaan Namu itu terasa ambigu didengar oleh Syailendra. Membuat pemuda itu hanya meringis kecil sambil menyeka keringat.
" Kau tidak pernah berpikir bahwa aku kehilangan cita rasa pria ku kan ? ".
" Ohooo..... sempat sih bro. Di usia mu yang sudah lewat tiga puluh tahun, kau tidak perlu dikabarkan dekat dengan wanita. Dengan tingkat pergaulan mu yang multinasional.... bisa saja 'kan... kau begitu bebas menerima pengaruh apapun . He ... he.... he.... tapi pikiran gila itu ...... ku lenyapkan ".
" Karenanya kau menyodorkan aku pada Om dan Tante mu ? ", tanya Syailendra cepat.
" Oh ... no !!! thats not me. Om Juna dan pak Rayhan bukankah kenal baik sejak lama. Aku siiiih .... ikut setuju saja ".
" Dasar kau ini .. ".
" Tapi.... kau juga tertarik dengan Cinta 'kan ? ", Namu kembali memancingnya.
" Tidak ".
" Belum ... mungkin ", debat Namu.
" Sesukamu laaah ", akhirnya Syailendra menyerah.
Sementara itu gadis yang sedang mereka bicarakan itu kini datang menghampiri tentu saja dengan Glen yang nampak begitu antusias mengajak bicara. Pria itu terus menerus memuji Cinta yang menurutnya cepat sekali menguasai beberapa teknik bertahan dan menangkis yang diajarkannya tadi. Bahkan terlihat sekali jika Glen sedang berusaha membujuk Cinta untuk mau ikut berlatih rutin.
" Hei pak polisi..... ", seru Namu. " Tidak usah kau paksa dia .... bodyguardnya sudah cukup banyak ".
" Ooh.... jadi kau seorang polisi ". Cinta ber-oh panjang.
" Iya ... ", jawab Glen. Kemudian pria hitam manis ini menatap Namu dengan pandangan sedikit sebal, " Ah kau, biarkan aku usaha sedikit kenapa sih bang ".
Dan empat orang dewasa itupun tertawa, lalu berbincang riang menghabiskan sisa siang yang mulia meninggi.
Cinta masih duduk di gazebo menunggu Namu yang masih harus tertahan bersama teman-temannya untuk sedikit membicarakan masalah klub taekwondo mereka. Saat itulah Syailendra muncul dengan membawa dua botol air mineral dingin.
" Minumlah "
" Terimakasih ", dan Cinta pun menerimanya dengan senyum. Ia lalu membuka tutupnya dan membiarkan cairan bening itupun terasa segar membasahi kerongkongan.
" Mas .... apa benar kak Namu selama kuliah di Inggris dulu itu, tidak pernah dekat dengan wanita ? ".
Syailendra sekilas menatap Cinta, ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sesaat dicobanya mengakses ingatan lima tahun yang lalu. Memilahnya dengan teliti demi bisa menjawab pertanyaan gadis ini.
" Seingat ku sih tidak. Itu jika yang kau maksud adalah ..... wanita yang dekat karena spesial di hati. Kalau yang berusaha mendekati sih... buaaaaaanyak ".
Cinta terkiki, kalau hal yang terakhir itu dia sudah sangat paham. Anak sulung Om nya ini memang sangat digilai oleh para wanita, baik itu gadis-gadis bahkan juga ibu-ibu. Tentu saja karena wajahnya yang lagi trend in dunia saat ini. Yang sudah mulai bergeser dari para artis Hollywood menuju para bintang K-Pop.
" Apa di sini dia juga tidak punya pacar ? ", tanya Syailendra kemudian.
" Ada sih ".
" Oh ya....", sepasang mata kelabu yang indah itu berbinar, Syailendra membelalakkannya dengan memukau. " Siapa dia ".
" Miss Lappi ..... laptopnya ".
Jawaban itu membuat Syailendra yang tadinya begitu antusias mendengarkan, tiba-tiba saja menjadi terbengong-bengong. Tapi tak menunggu lama, pria ini kemudian tertawa terbahak-bahak. Sementara Cinta pada akhirnya juga ikut tertawa.
" Kau tahu Mas, tadi saja aku diculiknya kesni dalam rangka pelariannya dari dua wanita ibu dan anak yang mengejar-ngejarnya ............... ".
Dan cerita itupun mengalir dari bibir Cinta yang bertutur dengan manis dan penuh semangat. Sementara Syailendra yang mendengarkan dengan seksama terkadang menimpali dengan kata-kata konyol, membuat Cinta pun ikut tertawa..
Dari kejauhan sepasang manusia yang sedang mengobrol itu terlihat begitu dekat. Yang satu wanita cantik dan anggun, yang satunya adalah pria tampan yang gagah. Terlihat sangat serasi. Setidaknya demikian juga yang ditangkap oleh pandangan Namu. Ia pun memutuskan kembali lagi ke dalam Dojo, bermaksud memberikan kesempatan untuk adik dan temannya, agar punya cukup waktu untuk lebih mengenal.
' Semua orang pada saatnya akan jatuh cinta dan menemukan pasangannya. Lalu bagaimana dengan mu ? bukankah kau sudah jatuh cinta ?..... bahkan sejak lama. Kau hanya tidak berani menunjukkan perasaanmu. Kau takut dengan penolakan dan semua konsekuensinya '.
" Bahkan aku pun takut jika dia membalas perasaan ini ", desis Namu mengakhiri monolog dengan hatinya sendiri.
Pemuda ini termenung cukup lama di sebuah kamar yang cukup besar di lantai atas Dojo itu. Dulu tempat ini adalah kamar ayah dan ibu kandungnya. Sosok yang sama sekali belum tergambar jelas diingatannya. Ia tahu dari foto-foto kebersamaan mereka bertiga dulu, yang masih tersimpan cukup rapi.
Pemuda ini mengetahui jati dirinya sejak umur sembilan tahun. Sang mama yang cantik dan lembut dengan penuh perasaan haru menceritakan siapa Surya dan Ayyana. Namu sendiri saat itu hanya terdiam terpaku, sebagai seorang bocah ia hanya ingin mengingkari apa yang didengarnya. Tapi sebelum ini, ia sudah terlalu sering mendengar pergunjingan orang-orang di belakangnya. Tentu saja tentang identitas aslinya, yang bukan putra kandung keluarga Mandala.
" Kau datang menyelamatkan kami dari kesedihan, membawa begitu banyak kebahagiaan. Bagi kami, hanya ada anak-anak kami.... dan kau adalah sulung, kau kakak untuk dua adik yang sangat menyayangimu ".
Namu tak pernah lupa kata-kata yang diucapkan papa nya. Saat itu ia pun mulai menitikkan air mata dalam pelukan sang mama. Kelembutan dan kasih sayang dua orang ini, telah memenangkan hatinya. Dan semenjak saat itu iapun membuat janji pada dirinya sendiri, untuk selalu menjadi yang terbaik di keluarga ini.
Tiga kali lipat belajar lebih giat dari anak-anak seusianya. Bahkan saat usianya baru tujuh belas tahun, ia sudah ikut perjalanan bisnis dengan Mandala, ayahnya. Sambil menyelesaikan strata satunya, ia juga part time menjadi asisten Mandala. Dialah putra kebanggaan sang ayah, dan kesayangan sang ibu. Hingga gosip tak sedap mulai berhembus tentang Namu, seorang anak angkat yang berencana menguasai singgasana.
Suara-suara dari luar begitu santer, tapi tidak mengubah sikap kedua orang tuanya. Mereka justru terlihat semakin mempercayai Namu dalam hal bisnis, dan juga dalam menjaga adik-adiknya. Tapi tidak demikian dengan Namu, perlahan ia menepi. Menjadikan alasan belajar S2 nya di Inggris untuk sedikit menjauh. Saat itulah ia bertemu dengan Syailendra dan mulai bersahabat baik dengan pria itu. Walaupun keduanya tidak mengambil jurusan yang sama, tapi hal itu tidak mempengaruhi kedekatan mereka.
Namu menyentuh foto seorang bocah yang montok dan lucu, sedang tertawa lebar di gendongan seorang wanita. Sementara seorang pria dewasa sedang terlihat menggoda bocah itu. Mereka adalah dirinya kecil, ayah dan ibu kandungnya.
" Satu hal yang membuat ku iri pada mu ".
Sebuah suara mengagetkan Namu, Syailendra kini sudah berdiri di ambang pintu. Saat Namu menoleh, pria itu mulai berjalan mendekat. Kemudian ikut memandangi foto-foto yang berjajar rapi dan cantik. Pria bermata kelabu itu pun tersenyum.
" Kau berkesempatan membahagiakan dua pasang orang tua..... pastinya akan bertambah satu pasang lagi, mertua mu ", lanjut Syailendra.
" Mereka .... aku lupa wajahnya, jika tidak ada foto-foto ini. Kau tahu ?, rasanya seperti dibenamkan dalam kolam yang dingin saat mengetahui jatidiri yang sebenarnya ".
" Apakah kau merasa sakit .... sedih...? ".
" Aku .... hanya bocah sembilan tahun yang baru saja sunat saat itu. Rasa sakit di bawah sana, seperti terkalahkan oleh beraneka rasa yang tidak bisa kejelaskan. Sesak.... ngilu ..... sedih, tidak percaya .... ".
" Heiii... aku menunggu kalian dari tadi. Jadi pulang nggak sih ? ". Suara Cinta terdengar sedikit melengking karena rasa kesalnya.
Namu dan Syailendra tertawa kecil. Tidak lagi melanjutkan pembicaraan, dan segera berbalik menghampiri gadis cantik yang cemberut itu.
" Aku sudah lapar kak.... ".
" Ayo kita cari sate Maranggi ... setuju ? ".
" Sate apapun itu.... asal mateng dan halal, dan nggak pake lama ".
Lalu cinta pun melangkah mendahului dua pria di belakangnya. Yang saling pandang sambil menyembunyikan senyum.
" Nggak usah senyam-senyum .... ".
Seperti mengetahui yang dilakukan dua pria dibelakangnya, Cinta menyentak dengan sedikit galak. Membuat Namu tak lagi menahan tawanya. Bergegas mendahului Syailendra, mensejajari langkah gadis di depannya. Lalu dengan sangat gemas melingkarkan lengan kekarnya di leher Cinta.
Membawa kepala gadis itu dalam kacaun jemarinya yang mengacak poni manis milik Cinta. Membuat gadis itu semakin kesal dan menjerit kecil sambil membalas dengan cubitan yang bertubi-tubi di perut dan pinggang Namu.
" Aku yang nyetir ", Cinta mengambil keputusan dengan cepat sebebasnya dia dari belenggu lengan Namu.
" Kalian ini..... seperti bocah saja ", gumam Syailendra.
" Lumayan, dapet sopir cantik. Kau duduk di depan ya.... jadi navigator. Aku mau bobo' cantik ".
" Sesukamulah .... oppa ".
....................
" Mas, kau sudah bicara dengan Namu tentang rencana ke Korea ? ".
Orlin menghidangkan secangkir kopi yang masih mengepul panas. Berteman dengan singkong goreng berwarna coklat keemasan yang merekah, terlihat sangat gurih.
Mandala meletakkan sebuah buku yang tengah dibacanya. Menempatkan pita penanda pada halaman terakhir yang dibacanya, lalu menutup benda persegi bersampul hijau tua itu. Melirik sesaat istrinya yang manis, lalu meraih sepotong singkong goreng yang harum gurih itu.
" Belum, setelah ini aku akan bicara dengannya ". Dan Mandala pun mulai menikmati snack tradisional bercita rasa rindu yang otentik itu.
" Tadi Boo Na menelponku. Dari suaranya, begitu jelas ia sangat bersedih. Aku pun pasti juga begitu jika jadi dia ".
Orlin menggeser duduknya merapat pada suaminya, lalu menyandarkan kepala di pundak pria yang sudah menemani lebih dari separuh waktu hidupnya. Mandala tak berucap apapun, ia tetap menikmati potongan demi potongan singkong goreng itu dan mengakhirinya dengan menyeruput kopi yang nikmat.
" Aku akan selalu berusaha untuk tetap sehat .... dan tentu saja selalu memohon pada Yang Maha Kuasa untuk tetap sehat, agar bisa lebih lama menemani mu sayang ".
" Iya.... aku juga begitu mas. Tapi kita harus siap dengan kondisi apapun. Bukankah begitu ? ".
" Asalkan ada Meisya Adonia Orlin disamping ku ..... rasanya semuanya bisa terlalui dengan baik-baik saja ".
Orlin pun tersenyum, ia pun mengeratkan pelukan pada tubuh Mandala. Dengan tubuh ini, pria gagah ini selalu menjadi sebuah pelindung untuknya. Merengkuh hatinya yang terombang-ambing kesedihan saat ia kehilangan seorang anak dan juga kehilangan seorang ayah dulu. Membuatnya merasakan tidak lagi dua orang yang berbeda, tapi satu jiwa yang saling berangkulan erat.
" Boleh aku ikut ke Soul ?. Mungkin Boo Na juga butuh seorang teman.... tempatnya menumpahkan kesedihan. Pasti... di hadapan bang Teddy ia menutupi semua kesedihan itu. Pasti dia pura-pura kuat ya ".
" Tentu saja kau harus ikut. Kita bertiga akan berangkat ke sana sayang ".
" Mau kemana pah ? ", tiba-tiba saja Namu sudah berada di ruang keluarga itu. " Siapa yang mau pergi bertiga ? ".
" Om Teddy sakit, kau sudah tahu ? ".
Namu menggeleng. Ia pun lalu duduk di hadapan kedua orang tuanya. Menunggu sang mama melanjutkan berbicara.
" Sebenarnya, sudah dua tahun ini Om mu itu berjuang melawan kanker getah bening. Kemoterapi yang sudah dijalaninya kurang begitu berhasil " .
" Tidak mencoba pengobatan yang lebih .... canggih lagi ?".
" Namu.... sek kanker itu sangat unik. Ia begitu mengetahui bagaimana kondisi inangnya..... ia adalah bahaya laten. Tapi keberangkatan kita ke Korea, salah satunya untuk membicarakan pengobatan ke Jerman ".
" Bertiga dengan ku ? ".
" Tentu saja sayang ", jawab Orlin cepat.
" Ada urusan perusahaan yang harus kau selesaikan juga di sana. Seluruh berkasnya sudah ada di mejamu ...... ".
" Sayaaaaang .... ", Orlin melepaskan pelukannya dan menatap sang suami dengan tatapan protes. " Ini masih hari Minggu sore, dan anakmu juga baru saja sampai rumah. Kau ini.... ".
" Tenang saja mah...... aku juga sudah rindu laptop ku ".
Namu menyeruput kopi milik papahnya sambil mengacungkan jempolnya. Tersenyum menggoda sang mamah, mengambil beberapa potong singking goreng. Dan mengakhiri rangkaian gerakannya itu dengan satu kecupan manis di pipi sang mama.
" Hei nak.... kopi papah seharga kesuksesan di Korea....".
" Siiiiaaaap bossmaaaaand .... ". Sambil berlalu pergi menuju ruang atas rumah besar itu.
" See.... that our son ", kata Mandala dengan bangga.
....................
Keluarga itu tidak berbatas pada rekatnya genetika
Namun lebih pada kasih sayang yang mengaliri deru nafas penjaga hidup mu
Jangan pernah menanyakan tentang sebuah hubungan
Karena kita yang lebih tahu
Bagaimana hati kita sudah menjadi satu
Keluarga......
Itu adalah karena kau menyayangiku dengan hatimu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
kusgrisela
aku sukan keluarga ini 👍😍😍
2022-04-01
0
Zeeylaa To Zila
oppa..
2022-01-22
0
Nana BR
Sepertinya...Namu sukanya sama Cinta, lanjut ah dari pada penasaran.
2022-01-18
1