Selama tiga hari berikutnya,
Daniel kembali tidak pulang. Alma hanya bisa menunggu dengan sabar. Daniel
tidak pulang bukan karena membencinya, tapi karena pekerjaan. Alma harus
meyakinkan dirinya sendiri bahwa Daniel tidak sedang menghindarinya.
Setiap malam Alma selalu
menunggu Daniel. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV hanya untuk
menunggu laki-laki itu pulang. Tak jarang dia sering tertidur di depan TV.
Pagi ini adalah hari ke empat
Daniel tidak pulang. Alma melihat ke sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda
kehadiran pria itu. Alma mendesah kecewa. Bu Ida melihat Alma dengan tatapan kasihan.
"Tuan belum pulang lagi Non?"
"Iya Bi,"
"Non, jangan nungguin Tuan. Nanti Nona sakit. Tuan akan pulang setelah pekerjaannya selesai. Nona istirahat saja di kamar. Jangan menunggu di di depan TV terus. Bibi khawatir Non,"
"Iya Bi, terima kasih." Alma melangkah ke kamar. Dia mengambil ponselnya. Tidak ada
telepon maupun chat dari Daniel. Alma merasa kecewa. Dia ingin menghubungi
Daniel terlebih dulu, tapi dia takut akan mengganggu pria itu. Untuk itu dia menahan diri.
[Lily was a little girl, affraid of the big wide world. She grew up within her castle walls]
Ponsel Alma berdering. Dengan sigap Alma melihat siapa yang meneleponnya. Dia berharap itu Daniel. Alma kecewa ketika bukan Daniel yang menelepon. Ada nomor baru yang tak dikenalnya.
Haruskah dia mengangkat telepon itu?
Alma membiarkan panggilan itu.
Kalau itu telepon iseng, pasti akan berhenti di panggilan pertama. Namun nomor
itu menelepon terus-menerus, akhirnya Alma mengangkat panggilan itu.
"Iya, halo?"
"Honey, ini Mommy. Where are you? Kenapa Mommy tidak melihatmu di sini sayang?"
Alma berusaha menelaah suara si penelepon, dia merasa familiar dengan suara itu namun tidak bisa menebak siapa pemilik suara.
"Siapa ya?"
"Sayang, ini Mommy Kate. Kamu lupa sama suara Mommy?"
"Eh-uh Ma-ma?"
"Yeah, that right. Kamu di mana sayang? Kenapa tidak kesini?"
"Eum, Ak-aku di apartemen saja Ma,"
"Sayang, Daniel sedang sakit. Apa Kamu tidak ingin menjenguknya?"
"Hah? Apa Ma? Siapa yang sakit Ma?"
"Daniel sayang. My little boy, suamimu sayang,"
"Di-dia sakit Ma? Sakit apa?Di-dia dimana Ma?" Tubuh Alma bergetar, tangisnya sudah akan pecah.
"Kami di RS H-Hospital sayang,"
"Ak-aku akan segera kesana Ma." Tanpa memikirkan tindakannya sopan atau tidak, Alma menutup panggilan itu. Tubuhnya bergetar. Pikirannya kalut.
Daniel sakit? Sakit apa? Mengapa
sampai dirawat di rumah sakit? Pasti sakitnya parah kan? Kenapa tidak ada yang
memberitahunya? Bagaimana kondisinya sekarang?
"Bi! Bi Ida."
"Iya Non?" Bu Ida datang dengan tergopoh-gopoh.
"Pang-panggilkan Pak Tohir Bi."
"Ada apa Non? Nona mau kemana? Sudah ijin Tuan Non?"
"Panggilkan Pak Tohir Bi!" Alma berkata dengan nada sedikit keras. Pikirannya sudah kalut. Bu
Ida tampak terkejut mendengar nada suara majikannya. Dengan cepat dia segera
mencari Pak Tohir.
"Iya Non? Ada yang bisa Saya bantu Non?" Pak Tohir datang.
"Tolong antarkan Saya ke RS H-Hospital Pak." Tanpa berganti baju ataupun membawa tas, Alma segera berjalan keluar dari apartemen dengan terburu-buru. Pak Tohir mengikutinya.
"Cepat ya Pak."
"Iya Non."
Alma mulai terisak-isak. Ekpresi wajahnya tampak sangat khawatir. Pikirannya dipenuhi dengan Daniel. Tangannya gemetar, dia meremas-remas tissue di tangannya. Sesekali dia mengusap
airmatanya.
Daniel baik-baik saja kan?Dia tidak apa-apa kan? Ta-tapi kenapa harus di rawat di rumah sakit? Sebenarnya Daniel sakit apa? Kenapa tidak ada yang memberitahunya? Apa dia benar-benar
tidak dianggap sebagai istri sehingga ketika suaminya sedang sakit dia tidak
perlu dikabari?
"Pak, bisa lebih cepat."
"Iya Non." Pak Tohir memperhatikan ekpresi majikannya.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di depan RS H-Hospital. Alma segera berlari ke resepsionis dan menanyakan kamar tempat Daniel di rawat.
"Mohon maaf Ibu, pasien
tersebut tidak menerima kunjungan Bu,"
"Saya istrinya! Kenapa Saya tidak boleh mengunjunginya?!" Alma menjadi emosi. Air mata marah dan khawatir memenuhi wajahnya.
"Mohon maaf Bu, tetap tidak bisa." Resepsionis itu menatap Alma dengan bertanya-tanya. Wajahnya
terlihat tidak percaya bahwa wanita di depannya itu adalah istri dari putra pemilik rumah sakit. Setahu dia, Tuan Muda Daniel belum menikah.
Alma mengambil ponsel dan mulai menelepon Mommy Kate.
"Ma, Aku sudah di rumah sakit. Nomor berapa kamarnya Ma?"
"Sayangku, Kamu sudah di bawah? Maafkan Mommy tidak bisa turun. Akan ada orang yang menjemputmu. Tunggu di situ sayang."
Alma menuruti perkataan Mommy Kate. Tak berapa lama kemudian, seorang pria berpakaian rapi mendekatinya dan memandunya ke kamar VVIP.
Rumah sakit H-Hospital adalah rumah sakit milik grup H. Merupakan satu dari sepuluh rumah sakit terbesar di Jakarta. Alma tidak terlalu memperhatikan kemewahan RS tersebut, pikirannya hanya fokus pada Daniel.
Kamar Daniel terletak di lantai
paling atas. Kamar yang di desain khusus untuk para direktur-direkdur pemilik
perusahaan besar. Di depan pintu kamar terdapat dua bodyguard yang sedang berjaga.
"Dia di rawat di sini Pak?"
"Iya Nona, silakan." Pria itu mempersilakan Alma untuk masuk ke dalam kamar. Tanpa diminta dua kali Alma langsung membuka pintu itu dan menerobos masuk. Pandangan mata Alma
langsung tertuju pada sesosok yang terbaring di ranjang. Sosok itu terbaring lemah dengan tangan yang sedang di infus.
"Ka-kakak," Alma mendekati sosok itu. Airmata kembali mengalir di wajahnya. "Ka-kakak sakit
apa?"
Alma mengambil tangan Daniel dan menggenggamnya. Daniel membuka mata. Dia tersenyum begitu melihat Alma.
"Little,"
"Ka-kakak sakit apa? Ke-kenapa tidak ada yang memberitahuku? Ka-kakak kenapa? Sebenarnya Kakak sakit apa?! Huuuu," tangis Alma pecah. Dia memegang tangan Daniel dengan erat. Tubuhnya bergetar karena tangis.
"Ssshhhh, Al, kenapa menangis? Aku tidak apa-apa,"
"Kalau Kakak tidak apa-apa, tidak mungkin Kakak di rawat disini!! Huuuu..." Alma memeluk tubuh Daniel. Seolah-olah takut ditinggalkan oleh sosok itu.
"Sayang, dia tidak apa-apa. Jangan menangis lagi." Tiba-tiba Mommy Kate datang dan merangkul bahu Alma dari belakang. Alma tidak menyadari kehadirannya karena terlalu sibuk fokus pada Daniel.
"Ma? Se-sebenarnya dia sakit apa Ma? Kenapa harus di opname?"
"Sakitnya tidak seserius itu sayang. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan sayang."
"Ta-tapi Ma,"
"Tidak ada tapi-tapian. Berhubung istrimu sudah datang, Mommy akan pulang dulu." Mommy Kate
mengambil tas dan bersiap-siap untuk pulang.
"Untuk selanjutnya, Mommy serahkan dia padamu sayang. Tolong jaga dia untuk Mommy ya." Kate
menepuk-nepuk pundak Alma dan memeluknya. "Mommy pulang ya semuanya, see you soon." Dan Mommy Kate pun menghilang di balik pintu.
Pandangan Alma kembali fokus pada Daniel. Bulir-bulir airmata masih ada di sudut-sudut matanya.
"Kakak sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Aku baik-baik saja Al. Kamu pulanglah,"
"Aku tidak mau pulang!! Aku akan tetap di sini!"
"Aku beneran gak apa-apa Al,"
"Kak, sebenarnya Kakak sakit apa?"
"Aku hanya lelah Al. Aku tidak apa-apa,"
"Karena Kakak tidak mau memberitahuku, Aku akan bertanya langsung pada dokter!"
Alma pergi mencari dokter yang menangani Daniel. Hatinya berdebar-debar. Dia takut Daniel sakit parah dan berusaha menyembunyikan hal itu darinya. Tapi Mommy Kate berkata bahwa sakitnya Daniel tidak serius. Semoga saja apa yang di ucapkan Mommy Kate sesuai dengan
diagnosa dokter.
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
duhh Alma udh digituin SMA Daniel masih bgtu bgt khawatir nya kalo aku sih males ya hahaha🤭
2024-06-25
0
Supartini
kasian sih sama alma tp ya sudah harus dijalani
2023-10-08
0
Dini Lestari
mungkin daniel lelah karna blm bisa nerima alma ,lma banget hti daniel luluh nya iihhh geregetan jdi nya
2023-09-21
0