"Aku akan ke Jakarta. Ada pekerjaan yang harus Aku urus."
"Iya Kak."
"Titip Zoey ya. Salam buat Ibu dan Akbar. Jaga diri baik-baik. Aku akan datang lagi setelah pekerjaanku selesai."
"Iya Kak."
"Little, kuliah yang rajin. Oke?"
"Iya Kak." Daniel mengacak-ngacak rambut Alma. Dia mencium Zoey yang sedang tertidur di gendongan Alma. Wajah Daniel begitu dekat. Membuat jantung Alma berdebar tak karuan. Ingin rasanya dia mengecup bibir seksi itu. Hah, sungguh khayalan yang liar.
"Katakan padanya, Daddy-nya sedang pulang ke rumah. Nanti akan kembali untuk mengunjunginya lagi, oke?"
"Iya Kak."
"Baiklah, Aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik." Dan Daniel pun pergi dari hadapannya. Seketika kaki Alma menjadi lemah. Dia segera meletakkan Zoey di sofa dan menyandarkan tubuhnya. Dekat dengan Daniel selalu membuatnya menahan napas. Seolah-olah oksigen di sekitarnya menjadi habis. Udara di sekitarnya menjadi panas. Wajahnya menjadi terbakar karena malu.
Hah, kapan perasaan ini akan hilang? Sudah lima tahun perasaan ini tertanam. Bukannya semakin menghilang, malah semakin berkembang. Kapan cinta tak bersambut ini akan berakhir? Mengapa begitu sulit untuk menghilangkan perasaan ini? Apakah ini yang juga dirasakan Daniel ketika mencintai kakaknya?
Sungguh kehidupan yang sangat ironis. Dia mencintai Daniel selama lima tahun. Daniel mencintai kakaknya lebih dari lima tahun. Dan Kak Nisha, siapa yang dicintainya? Apa ayah Zoey? Sebenarnya seperti apa ayah Zoey? Mengapa Kak Nisha selalu berusaha menutup-nutupinya ketika Kami semua bertanya? Apakah ayah Zoey sudah menyakiti perasaan Kak Nisha dengan begitu dalam? Hah, siapapun ayah Zoey, dia tidak akan suka pada pria itu. Pria itu membuat Kak Nisha menderita, begitu pula dengan Kak Daniel.
Percintaan lingkaran setan ini sungguh memuakkan. Alma berharap suatu saat, lingkaran setan ini akan terputus dan saling berlabuh pada tempatnya masing-masing.
***
Daniel tetap mencoba menghubungi nomor Nisha. Tapi nomor wanita itu masih tidak aktif.
"Girl, sebenarnya Kamu dimana? Mengapa nomormu tidak aktif?!" Daniel berbicara sendiri sembari memukul-mukul setir mobil. Pikirannya begitu frustasi. Daniel berencana melacak keberadaan Nisha di Jakarta sebelum akhirnya ponselnya berdering.
Nisha meneleponnya. Dengan cepat Daniel mengangkat panggilan itu.
“Girl?? God bless You. Akhirnya Kamu menghubungiku. Kemana saja Kamu Girl? Kenapa nomormu tidak aktif? Kenapa Kamu susah di hubungi?”
“Eh Eumm,”
“Aku sudah berencana untuk mengerahkan orang-orangku untuk mencarimu. Dimana Kamu sekarang? Apa Kamu baik-baik saja?”
“Ye-yeah. Aku baik-baik saja,"
“Girl, ada yang Kamu sembunyikan? Katakan padaku Girl? Apa yang terjadi?”
“Ti-tidak. Tidak ada yang Aku sembunyikan.”
“Kamu yakin baik-baik saja? Apa Kamu sudah bertemu dengannya?”
“Ti-tidak. Aku tidak bertemu dengannya. Ak-aku baik-baik saja…”
“Dimana Kamu Girl? Aku akan pergi menyusulmu…”
“Jangan!! Kamu tidak boleh!!”
“Girl, kenapa Kamu berteriak? Mengapa Aku tidak boleh ke tempatmu?”
“Aku sedang berada di rumah teman. Akan sangat canggung kalau Kamu kesini,”
“Yakin Kamu baik-baik saja? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?”
“Aku baik-baik saja. Aku tidak sedang menyembunyikan apapun darimu. Aku hanya akan mengatakan hal itu. Aku tutup teleponnya.”
“Girl, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuanku. Katakan apapun masalahmu. Sebisa mungkin Aku akan membuatmu keluar dari masalah itu,”
“Aku sedang tidak ada masalah. Aku tutup dulu, bye.”
Nisha memutus panggilan. Daniel merasa lega. Setidaknya Nisha baik-baik saja. Mungkin pikirannya terlalu negatif. Dia berpikir mungkin saja Nisha sudah bertemu dengan Zico dan disekap oleh pria itu. Nisha sudah menghubunginya, itu artinya wanita itu baik-baik saja.
Daniel menghubungi asisten Tito. Dalam sekejap pria itu datang. Mengambil alih kemudi dan menyetir untuknya.
"Untuk apa Papa mencariku?"
"Sepertinya ada yang ingin Chairman sampaikan."
"Ya Aku tahu itu. Kalau tidak ada yang ingin di sampaikan, Papa tidak mungkin mencariku." Daniel memelototi asisten yang sudah menemaninya selama lima tahun. "Rupanya faktor umur sudah membuat kecerdasanmu semakin menurun."
"Bos, kata-kata Anda tajam seperti biasa."
"Ya, sengaja kulakukan. Agar kadar otakmu tidak menurun."
"Hahaha. Bos, biasanya Anda berkata jahat ketika Anda tidak berhasil melaksanakan misi. Ada apa? Apa Nona Nisha kembali menolak Anda?" Asisten Tito tertawa renyah. Ingin sekali Daniel menoyor kepalanya bila tidak mengingat perbedaan umur mereka. Asisten Tito lebih tua empat tahun di banding dirinya.
"Tertawalah sepuasnya. Cek saldomu bulan depan." Daniel berkata dengan jahat. Setiap kali Tito menghinanya, ancamannya selalu saja sama. Dan ancaman itu selalu berhasil.
"Ampun-ampun. Ampuni hambamu yang tak berdaya ini. Tolong jangan potong gaji Saya. Anak Saya masih kecil-kecil. Yang pertama SD kelas 3..."
"Yang kedua SD kelas 1, yang ketiga masih berumur 4 tahun." Daniel melanjutkan kata-kata asisten Tito. "Perkataanmu selalu saja sama. Bosan Aku mendengarnya. Apa tidak ada alasan lain lagi?"
"Tidak mungkin Saya mengatakan istri Saya bertambah kan Bos? Bagaimana mungkin Saya menambah istri sedangkan ada pria merana kesepian mengejar wanita yang sama selama lima tahun berturut-turut tapi tidak kunjung berhasil?"
"FIX. Gajimu dipotong setengah bulan ini!" Daniel menyilangkan tangannya, pertanda keputusannya sudah final. Asisten Tito memohon-mohon, tapi Daniel tidak menghiraukannya.
Asisten Tito adalah asisten pertama dan satu-satunya. Pria itu sudah mendampinginya semenjak ayahnya mengangkatnya sebagai wakil direktur. Ayahnya sudah pensiun dan menyerahkan posisi direktur kepada kakak laki-lakinya. Daniel tidak mempersalahkan hal itu. Memang sudah sewajarnya posisi direktur dipegang anak pertama.
Asisten Tito banyak membantunya dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja. Dalam waktu yang singkat, dia sudah menguasai bidang pekerjaannya. Mungkin karena pembawaannya yang santai membuat asisten Tito tidak lagi sungkan terhadapnya. Mereka semacam memiliki ikatan yang tak terlihat. Mereka berdua menjadi akrab satu sama lain.
"Katakan padaku, apa yang ingin disampaikan Papa? Aku bisa menyiapkan jawaban dulu kalau Kamu memberiku bocorannya."
"Saya benar-benar tidak mengetahuinya Bos. Mungkin berhubungan dengan pengangkatan Anda sebagai direktur baru?"
"Jangan sembarangan bicara. Kakakku lebih dari sekedar kompeten untuk menjadi direktur utama. Jangan bicara aneh-aneh."
"Saya hanya menebak saja Bos. Siapa tahu beneran terjadi. Pasti asyik memiliki direktur utama seperti Anda Bos..."
"Ya, Kamu pasti akan lebih ngelunjak." Jawaban Daniel disambut tawa asisten Tito.
Mereka pergi ke landasan pesawat jet pribadi. Kemudian pesawat lepas landas, menuju Ibu Kota Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, supir langsung membawa mereka ke villa pribadi. Chairman sudah pensiun, sehingga memutuskan untuk tinggal di villa pribadi. Dengan didampingi oleh Tito, Daniel memasuki villa itu. Di depan villa, seorang wanita paruh baya yang sangat cantik sudah menunggunya.
"My little boooyyy..." Sambutnya sembari memeluk Daniel dengan hangat.
"Moommm..." Daniel memeluk tak kalah hangat.
"Coba Mommy lihat wajahmu. Haduh, kasihan sekali. Wajah imutmu jadi semakin kurus kering seperti ini. Tito, apa bocah ini belum memiliki pacar?"
"Lapor Nyonya. Selama lima tahun Tuan Muda jomblo." Daniel menyikut tulang rusuk Tito. "Auuwww!!" Tito mengaduh.
"Ayo-ayo masuk. Papamu sudah menunggu."
***
Happy Reading 🥰🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
lebih suka aspri nya Daniel dri pd Zico
2023-11-28
0
Asiah Blueway
gokil aspri nya Daniel 🤣🤣
2023-10-29
0
She Imoed
lapor nyonya bos,bos masih menunggu cintanya yg digantung kya jemuran,sampai kurus kering😅😅
2023-10-25
1