Alma terbangun karena suhu
ruangan yang dingin. Dia menatap sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda Daniel
datang. Alma melihat pemandangan di luar. Pantulan cahaya matahari berwarna
cerah sudah tidak ada lagi, di gantikan oleh gelapnya malam.
Alma mengambil ponsel untuk
melihat waktu. Jam di ponsel menunjukkan pukul 01.15 WIB alias jam 1 pagi!!
Alma sudah tertidur selama sembilan jam dan Daniel belum pulang?!
Alma mengelilingi ruangan,
berusaha mencari keberadaan Daniel. Namun Daniel tidak ada di ruangan itu. Alma
mengambil ponsel dan menelepon nomor Daniel. Nomor itu aktif, namun tidak diangkat. Beberapa kali Alma mencoba menghubungi, namun tetap tidak ada yang mengangkat. Setelah panggilan ke sekian kalinya akhirnya ada yang mengangkat
panggilan itu.
"Kak, Kakak dimana?" tanyanya.
"Eum, maaf. Pemilik ponsel sedang tidur di depan Saya. Dia mabuk. Apakah Anda mengenalnya?"
"Saya istrinya."
"Bisakah Anda menjemput suami Anda? Dia dari sore di sini. Ini sedikit mengganggu bisnis Kami,"
"Anda dimana? Saya akan segera ke lokasi." Laki-laki itu memberitahu lokasinya. Ternyata Daniel masih berada di gedung yang sama dengannya. Dia sedang berada di bar hotel.
Alma mengenakan baju lengkap, kemudian dia pergi mencari Daniel. Raut wajahnya di penuhi dengan kekhawatiran. Mencari Daniel di tempat seperti itu mengingatkan Alma pada malam beberapa minggu yang lalu. Malam yang membuat mereka pada akhirnya menikah.
Alma melihat Daniel duduk di depan meja bartender dengan posisi kepala tertelungkup dan menjadikan tangan sebagai bantalan. Alma segera menghampirinya.
"Saya istrinya. Saya akan segera membawanya."
"Anda yakin bisa membawanya?"
"Saya rasa bisa. Saya pernah melakukan ini sebelumnya."
"Ohh," Bartender itu menatap Alma dengan penuh kasihan. Merasa hidup Alma pasti berat karena
memiliki suami pemabuk.
"Kak, bangun. Ayo Kita kembali ke kamar." Alma menggoyang-goyang tubuh Daniel dengan lembut.
Daniel bangun, matanya merah. Sepertinya pengaruh minuman masih menguasainya.
Dia tersenyum kecut melihat Alma.
"Ohh istriii kecilku,"
"Iya, Aku istrimu. Ayo bangun, Aku akan memapahmu."
"Aku ti-dak ma-u. Biar-kan Aku ti-dur di sini," Daniel menolak. Alma malas untuk berdebat, akhirnya
dia meminta bantuan orang untuk membawa Daniel ke kamar mereka.
Alma menatap Daniel yang sudah
tertidur pulas. Beberapa kali Daniel mengigau nama kakaknya, setiap kali itu terjadi dada Alma selalu sakit. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf ya Kak, pasti berat untukmu menikahiku. Maafkan Aku karena sudah tidak jujur. Maafkan keegoisanku. Tapi Aku tidak bisa melepaskanmu. Aku tidak bisa membiarkanmu di miliki wanita
lain. Bila hanya dengan cara seperti ini bisa membuatmu menikahiku, maka Aku
akan melakukannya. Aku akan membuatmu melupakan Kak Nisha. Aku akan
memberikanmu semua cintaku untukmu Kak. Aku akan membuatmu tidak bisa menolakku. Aku mencintaimu, suamiku," Alma mengecup dahi Daniel dengan lembut. Kemudian dia ikut merebahkan diri di ranjang. Sepanjang malam yang dilakukannya hanyalah menatap wajah Daniel dengan intens. Pikirannya melayang
kemana-mana. Menjelang subuh, Alma mulai tertidur. Itulah akhir dari malam
pertama mereka.
***
Daniel merasa sangat hangat dan berat. Perlahan-lahan dia membuka mata. Betapa terkejutnya dia melihat Alma bergelung di dadanya!! Instingnya ingin segera menjauhkan Alma dari tubuhnya, tapi karena melihat wanita itu tertidur dengan nyenyak pada akhirnya Daniel
hanya bisa diam, menahan diri.
Setiap pagi, semua laki-laki dengan kondisi tubuh normal dan segar akan mengalami apa yang sedang dialaminya sekarang. Ya, tubuh bagian bawahnya sedang tertindih kaki Alma yang
mulus.
Daniel menahan napas, berusaha memikirkan hal-hal yang lucu untuk merilekskan tubuhnya yang terbangun. Ketika pikirannya sudah rileks, kaki Alma mulai bergerak ke atas ke bawah seakan-akan mengusiknya agar kembali bangun. Dan benar saja, dengan seketika tubuhnya
kembali bereaksi.
"Huumm?" Alma mendesah. Kemudian dia mulai membuka mata. Daniel buru-buru menutup matanya, pura-pura tertidur.
Alma melirik Daniel yang masih tidur. Kemudian tatapan mata Alma beralih pada kakinya yang sedang menindih tubuh Daniel.
"Akhhp!!" Alma terkesiap. Tanpa sadar dia berteriak sembari menutup mulutnya. Alma cepat-cepat memindahkan posisi kakinya. Dia kembali melirik Daniel yang masih tertidur
dengan sikap aneh. Alma buru-buru turun dari ranjang. Mata Alma tanpa sadar
kembali menatap bagian tubuh Daniel. Wajah Alma kembali memerah karena malu.
Dia segera keluar dari kamar itu, dan memilih ke kamar mandi.
Selepas Alma pergi, Daniel langsung membuka mata. Dia cepat-cepat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Rasa malu membakar seluruh tubuhnya. Rasanya sangat memalukan Alma melihatnya dalam kondisi seperti itu. Meskipun mereka berdua pernah melakukan hubungan
itu, tapi saat itu dia sedang tidak sadar sehingga tidak bisa mengingat kejadian itu dengan jelas.
Daniel masih bertanya-tanya, bagaimana dia bisa berakhir seranjang dengan Alma lagi? Seingatnya kemarin sore dia masih minum-minum di bar, kenapa pagi ini dia sudah berada di ranjang? Apa
Alma kembali mencari dan membawanya pulang? Hah, dia benar-benar laki-laki yang menyusahkan.
Sebenarnya sore itu Daniel sengaja meninggalkan Alma sendiri. Bukan karena dia benci Alma, tapi dia butuh waktu untuk memikirkan segalanya dan menata perasaannya. Saat ini dia sudah
berstatus sebagai suami Alma. Meskipun dia tidak mencintai Alma sebagai wanita,
tapi dia menyayangi Alma seperti adik kandungnya sendiri. Rasanya akan sangat
tidak adil bagi Alma bila dia terus-terusan memikirkan Nisha. Mungkin dia selamanya tidak akan bisa mencintai Alma, tapi dia tetap harus melupakan Nisha. Wanita itu sudah tak terjangkau lagi. Apapun yang dilakukannya tidak akan
membuat wanita itu menjadi miliknya lagi. Dia harus mengubur perasaannya dalam-dalam.
Memikirkan akan melupakan Nisha
membuat Daniel stres. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya melupakan segalanya
hanyalah dengan minuman. Untuk itulah dia minum sore itu. Sebagai perayaan bagi
keputusannya untuk melupakan Nisha. Mengatakan memang mudah, tapi mempraktikkannya pasti berat. Entah butuh waktu berapa lama baginya agar bisa melupakan Nisha?
Sore itu mungkin dia minum terlalu banyak, sehingga pada akhirnya dia kembali berakhir di pelukan Alma. Sungguh laki-laki bodoh, hah.
Karena pernikahan mereka sangat
mendadak, masih banyak hal yang belum dia bicarakan dengan Alma. Misal masalah
tempat tinggal? Sepertinya dia harus segera melakukan pembicaraan serius dengan Alma.
Daniel membuka selimut dan turun dari ranjang. Kemudian dia duduk di kursi yang terletak di ruang santai. Dengan tenang dia menunggu Alma keluar dari kamar mandi.
Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya Alma keluar dari kamar mandi.
"Al ada yang harus Kita bicarakan."
"A-apa Kak?" Alma kaget melihat Daniel sudah duduk dengan tenang.
"Mengenai masa depanmu. Tapi sebaiknya Kita pulang dulu. Kita bicarakan masalah ini bersama dengan keluargamu."
"Aku bisa membuat keputusan sendiri Kak,"
"Jangan. Kita bicarakan di rumah saja. Siap-siap, Kita akan segera check out."
"Eh iya Kak,"
Alma menuruti perintah Daniel. Dia segera membereskan barang-barangnya dan mereka segera check out dari kamar super mewah itu. Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Mereka terlalu sungkan dengan satu sama lain untuk memulai pembicaraan. Beberapa puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Bu Rusmi. Daniel menatap sekelilingnya, dia
berharap Nisha dan laki-laki itu sudah pulang. Harapannya berhasil, keluarga Nisha sudah kembali ke Jakarta. Daniel menghela napas lega.
"Ada apa ini Nak? Sepertinya ada hal penting yang mau di bicarakan?"
"Iya Bu, ini masalah masa depan Alma."
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Supartini
pelan pelan alma
2023-10-08
0
Dini Lestari
danil msh merasa canggung ya wajarlah dari adik jdi istri ,tpi lama kelamaan mgkin danil bisa menerima, semoga saja
2023-09-21
0
SUGA 💙💚💛💜💝💘
yakin nih gc bakal bisa cinta sama alma?? ok gpp 😊 semoga aja alma banyak cogan beruang yg mendekati hehehe karma cinta biasanya ada
2023-07-15
1