Alma berteriak-teriak memanggil
Daniel yang tengah berjalan ke pintu utama gedung dengan diikuti belasan pria
di belakangnya. Daniel menoleh, untuk mencari suara yang memanggilnya. Tatapan
matanya bertemu dengan Alma. Raut wajahnya terlihat sangat terkejut. Tanpa
sadar Daniel menghentikan langkahnya.
"Kak, ini Aku! Aku bawa makan siang." Alma berjalan ke arah Daniel sembari melambai-lambaikan bekal yang di bawanya. Raut wajah Alma terlihat sangat senang bisa bertemu
dengan Daniel.
Daniel tersadar dari terkejutnya. Sebelum Alma lebih dekat dengannya, dia memalingkan wajah dan meneruskan langkahnya dengan cepat.
"Kak! Kak Daniel! Tunggu Aku. Aku bawa makanan kesukaan Kakak." Alma berusaha mengejar, namun tubuhnya ditahan oleh pihak keamanan yang berjaga di sana.
"Le-lepaskan Pak. Aku bukan orang jahat. Aku mau ketemu dengan Kak Daniel."
"Maaf Nona, sepertinya Anda harus membuat janji dulu untuk bertemu beliau. Beliau sedang tidak bisa ditemui sekarang."
"Ta-tapi Aku hanya mau memberinya makanan ini."
"Maaf Nona, tidak bisa."
Alma berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa. Pihak keamanan baru melepaskannya setelah melihat bos mereka memasuki mobil.
"Silakan Nona pulang. Buatlah janji lebih dulu sebelum bertemu dengan beliau agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
Alma terduduk dengan lemas. Dia yakin Daniel melihatnya, tatapan mata mereka bertemu. Tapi mengapa Daniel mengacuhkannya? Apa Daniel malu melihatnya? Apa Daniel malu memiliki istri
seperti dirinya? Tanpa sadar mata Alma mulai berkaca-kaca. Lama dia duduk di
kursi lobby gedung itu sebelum memutuskan untuk pulang.
Alma pulang ke apartemen dengan
sedih. Di sepanjang perjalanan dia menangis. Sesampainya di apartemen, dia meletakkan bekal buatannya di meja dan berjalan ke kamarnya.
"Kok sudah pulang Non? Sudah bertemu dengan Tuan? Kenapa bekalnya masih di sini?" Wanita paruh baya bernama bu Ida itu mengikuti Alma.
"Bekalnya Bibi aja yang makan. Aku mau tidur aja Bi." Alma masuk ke kamar dan menutup pintu. Di
dalam kamar dia mulai terisak-isak lagi. Dia sedih karena Daniel berpura-pura tidak mengenalnya. Mungkin dia memang tidak pantas berada di sisi pria itu. Dia yang tidak tahu diri. Seharusnya dia tidak ke kantor pria itu dan mempermalukannya. Kejadian ini sepenuhnya adalah kesalahannya.
***
Daniel masih berusaha untuk menormalkan debaran jantungnya. Dia terkejut melihat Alma berada di perusahaannya. Untuk apa gadis kecil itu datang? Apa karena dia lama tidak
pulang? Atau karena terlalu banyak waktu luang? Ah ya!! Dia lupa mendaftarkan Alma di kampus!! Pantas saja gadis itu memiliki waktu untuk berkeliaran di perusahaannya! Gadis itu pasti bingung harus melakukan apa. Maka dari itu gadis
itu datang mencarinya.
"Setelah meeting ini selesai, antarkan Aku pulang."
"Siap Bos. Mau bertemu dengan istri kecil ya Bos?" bisik asisten Tito jail.
"Diam." Daniel mendelikkan mata pada Tito yang masih tersenyum jail.
Meeting dengan para petinggi grup H itu selesai dua jam kemudian. Tito langsung mengantar bosnya ke apartemen.
"Tadi Kamu melihatnya kan?"
"Nyonya kecil? Ya, Saya melihatnya. Kasihan sekali dia. Seharusnya tadi Anda menghampirinya,"
"Ada banyak mata yang memperhatikan."
"Dia pasti sedih."
"Tidak mungkin. Alma bukan orang yang seperti itu. Dia gadis yang kuat, tidak mungkin sedih karena hal sepele seperti ini."
"Tapi bila menyangkut Anda, Saya yakin dia tidak sekuat yang Anda kira Bos."
"Maksudnya?"
"Hehe, tidak ada maksud apa-apa,"
"Untuk apa dia datang ke kantor? Apa Kamu tahu alasannya?"
"Hemmm," Tito tampak berpikir. "Tadi Saya melihat dia melambai-lambaikan kotak makan. Mungkin dia datang untuk membawakan makan siang untuk Anda?"
"Serius?"
"Sepertinya begitu Bos. Coba Anda tanyakan langsung padanya."
Tito melajukan kendaraan, menembus arus lalu lintas yang padat. Sesampainya di apartemen, Daniel langsung mencari Alma.
"Dimana dia?" tanya Daniel pada bu Ida.
"Tu-tuan sudah pulang? Nona di kamarnya Tuan." Bu Ida menjawab dengan takut-takut.
Daniel segera pergi ke kamar Alma. Dia mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tok...Tok...Tok...
"Al, ini Aku. Buka pintunya."
Tidak ada jawaban.
"Al? Aku buka pintunya ya." Daniel memegang handle pintu, bersiap-siap untuk membuka. Tapi
sejurus kemudian pintu terbuka dari dalam.
"Iya Kak?" Mata Alma bengkak karena menangis.
"Kenapa matamu bengkak?"
"Gak apa-apa Kak. Ada apa Kak?" Alma bertanya dengan takut-takut.
"Mana makan siangku?"
"Hah?"
"Tadi Tito melihatmu melambai-lambaikan kotak makan, bukankah itu makan siangku?"
"Hah? Eh iy-ya Kak,"
"Dimana sekarang? Aku lapar."
"Eh sebentar Kak, tadi Aku taruh di meja, Aku ambilkan dulu Kak," Masih dengan perasaan bingung Alma pergi ke ruang makan, mencari-cari kotak bekal yang di siapkannya tadi.
"Cari apa Non?"
"Eh bekal yang di sini tadi mana ya Bi?"
"Bekal yang Nona buat? Sudah Bibi makan Non. Katanya bekalnya buat Bibi?" Bu Ida bertanya dengan bingung.
"Eh iya sih. Berarti sudah habis ya Bi?"
"Iya Non, kebetulan Bibi juga lapar banget. Kenapa memangnya Non?"
"Nggak, nggak apa-apa Bi." Alma melangkah lunglai. Daniel mencari makanannya dan makanan itu sudah habis, apa yang harus di lakukannya? Haruskah dia memasak lagi? Sudikah Daniel untuk
menunggu?
Alma pergi ke ruang kerja, dia melihat Daniel sedang berbicara dengan asistennya.
"Emm Kak,"
"Ya Al? Mana makananku?"
"Kak, Aku masakin lagi ya. Tadi makanannya sudah habis. Kakak mau menunggu kan?" Alma berharap-harap cemas.
Tadi dia begitu khawatir Daniel akan marah dan menceraikannya. Dia sudah menyiapkan hati bila laki-laki itu marah. Ternyata Daniel tidak marah, laki-laki itu malah datang untuk menanyakan
bekal makan siang yang dia buat. Bukankah ini kejadian yang sangat langka? Dia tidak boleh membuang kesempatan ini. Dia harus melayani Daniel dengan baik, dalam hal apapun termasuk makanan.
"Nggak apa-apa Al. Nggak usah masak lagi. Nanti malah merepotkan Kamu. Aku akan makan di luar,"
"Nggak-nggak Kak. Sama sekali
nggak merepotkan. Tunggu ya Kak, setengah jam lagi makanannya siap." tanpa menunggu jawaban Daniel, Alma segera pergi ke dapur dengan terburu-buru.
Alma memasak bahan yang tersisa
dan mudah untuk dibuat. Dia membuat sushi. Tangannya bergerak dengan cepat.
Sementara Bu Ida hanya memperhatikan dengan takjub. Dua puluh menit kemudian,
sushi buatannya selesai. Alma segera pergi ke ruang kerja Daniel lagi.
Laki-laki itu tampak sendiri. Asisten Tito tidak tampak di manapun.
"Kak, makanannya sudah siap."
"Oh ya? Cepet banget Al?"
"Iya Kak, Aku masak seadanya,"
Mereka pergi ke ruang makan. Daniel tampak antusias melihat sushi di depan matanya. Dia duduk dan menyantap sushi itu dengan lahap. Alma menatap Daniel dengan harap-harap cemas.
"Ba-bagaimana rasanya Kak?"
"Ini sih enak banget Al. Nggak kalah sama restoran bintang lima. Belajar darimana Al? Pinter banget Kamu masaknya."
"Beneran Kak? Kakak nggak bohong kan?"
"Mana mungkin bohong? Untuk
apa bohong sama adik sendiri?" Daniel terus mengunyah. Dia tidak sadar dengan pemilihan kata-katanya membuat Alma mengernyit menahan sakit.
"Kalau Kakak suka, Aku akan buatkan kapan pun Kakak mau,"
"Beneran ya?"
"Iy-ya Kak,"
"Little,"
"Iya Kak?"
"Tadi Aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkanmu. Banyak mata yang melihat. Lain kali jangan ke kantor lagi ya."
"Iy-ya Kak. Aku juga minta maaf Kak. Aku yang salah. Aku ke kantor tanpa memberitahu Kakak. Kakak pasti," Malu terlihat mengenalku.
Malu terlihat bersamaku. Karena Aku tidak sepadan dengan Kakak. Benar seperti
itu kan?
"Lain kali Aku tidak akan ke kantor lagi Kak,"
"Gadis baik," Daniel menepuk-nepuk kepala Alma dengan lembut. Seperti tepukan orang tua kepada
anaknya. "Kalau ada apa-apa hubungi Aku saja. Aku akan segera datang. Meskipun status Kita sudah menikah, tapi hubungan Kita akan tetap sama seperti dulu. Anggap Aku sebagai kakakmu. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan.
Oke?"
"Iya Kak," Alma menelan ludah yang terasa pahit.
"Aku lupa mendaftarkanmu kuliah Al. Tito akan mengurus semuanya. Mungkin minggu depan Kamu sudah bisa kuliah."
"Iya Kak." Sebenarnyabila diharuskan memilih, Alma lebih memilih berada di sisi Daniel dibandingkan harus kuliah. Tapi Daniel pasti tidak akan setuju.
"Untuk beberapa hari kedepan Aku akan jarang pulang, tapi begitu pekerjaan selesai Aku usahakan untuk pulang. Selama Aku tidak ada di rumah, ada Bu Ida dan Pak Tohir yang akan
menemanimu. "
"Iy-ya Kak,"
"Aku akan kembali ke kantor lagi."
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
harus banyak sabar Al menghadapi Daniel, biarin nnti kamu dikampus ketemu seseorang biar Daniel tahu rasa tuh haha
2024-06-25
1
Nindi Silvana
kurang ajar ya si Daniel😡
2024-06-25
0
She Imoed
harus banyak sabar ya Alma
2023-10-26
0