Alma menatap wajah Daniel dengan
bingung. Dia menoleh pada Ibu yang berdiri tak jauh darinya. Memohon pada Ibu
untuk membantunya menjawab pertanyaan Daniel.
"Zoey kemana Bu?"
"Zoey ikut Nisha Nak."
"Kemana? Sejak kapan?"
"Sekitar seminggu yang lalu
Nak. Dia ikut Nisha ke Jakarta. Katanya Nisha ada pekerjaan disana,"
"Ap-Apa?!" Daniel
terlihat sangat bingung. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Dia mencoba
menghubungi Nisha. Nomor Nisha bisa dihubungi, namun tidak ada jawaban.
"Sampai kapan mereka di
Jakarta Bu?"
"Kata Nisha mungkin
beberapa bulan atau satu tahun Nak,"
"APA?!" Daniel semakin
terkejut. Di tengah usahanya dalam menghubungi Nisha, tiba-tiba terdengar suara
kendaraan berhenti tepat di depan rumah mereka. Alma mendekat ke jendela, untuk
melihat siapa yang datang.
"Itu-itu Kak Nisha Bu,"
"Mana Al? Beneran itu kakakmu?" Ibu ikut-ikutan mengintip. Dan benar saja. Mereka melihat Nisha
sedang keluar dari dalam mobil sembari menggendong Zoey. Ibu begitu sumringah
melihat anak dan cucunya datang. Beliau segera membuka pintu dan melangkah
keluar rumah dengan terburu-buru. Langkah Ibu di ikuti oleh Alma dan Daniel di
belakangnya. Ibu menyongsong Nisha dan Zoey.
"Cucu Uti sudah datang!!" Ibu segera meraih Zoey yang berada di pelukan Nisha dan menggendongnya dengan sayang.
"Glandmaaa," Zoey
balas memeluk utinya dengan sayang. Dia menciumi pipi utinya.
"Cucu Uti kemana aja? Uti kangen,"
"Zoey pelgi cali Daddy. Zoey pulang bawa Daddy. Itu Daddy Zoey Glandma..." Zoey menunjuk Zico yang berdiri di sebelah Nisha. Ibu menatap Zico dengan pandangan bertanya-tanya.
Tatapan matanya secara bergantian melihat Nisha dan Zico.
"Ib-Ibu... Kita bicarakan
hal ini di dalam. Ayo Kita masuk dulu." Nisha memecah keheningan dan
meraih tangan ibunya. Menuntunnya agar segera masuk ke dalam rumah. Di depan
pagar Nisha berpapasan dengan Daniel, yang sedari tadi memperhatikan mereka
dalam diam. Nisha tidak berani menatap wajah Daniel. Sepertinya perasaan
bersalah menyelimuti hatinya.
Daniel menatap Zico dengan
tatapan tajam. Aura ingin menghancurkan tampak dari gestur tubuhnya. Sementara
Zico menatapnya dengan penuh persahabatan. Tampak dari matanya bahwa dia sangat
berterima kasih terhadap Daniel.
Alma menatap tingkah laku semua
orang. Dia bertanya-tanya, siapa pria yang datang bersama kakaknya? Mengapa
Daniel menatap pria itu dengan tatapan membunuh? Sebenarnya apa hubungan
mereka? Zoey bilang pria itu adalah "Daddy" nya. Benarkah pria itu adalah ayahnya Zoey?
Alma melihat Ibu yang tengah
menyeret Kak Nisha ke dapur. Alma mengikutinya. Tidak mungkin dia berdiri
mematung di antara dua pria itu bukan?
Di dapur, Ibu membombardir Nisha
dengan pertanyaan. Alma menjadi orang ketiga yang mendengarkan percakapan
mereka.
"Siapa dia Nduk? Kenapa
Kamu pulang dan membawa orang asing? Apa Kamu tahu betapa bingungnya Nak Daniel
mencarimu?"
"Ibu, Nisha mohon Ibu jangan marah ya..."
"Kenapa Nduk? Ada apa ini? Siapa laki-laki itu?"
"Se-sebenarnya dia adalah ayahnya Zoey Bu..."
"A-APA?!!" Ibu tampak
kehilangan keseimbangan. Nisha segera menahan tubuh Ibu agar tidak goyah. Dia
segera mengambil Zoey dari gendongan Ibu dan menyuruh Alma untuk menemani Zoey
bermain.
Alma ikut terkejut mendengarnya.
Benar kata Zoey, pria itu adalah ayahnya. Sekarang ayah kandung Zoey
benar-benar sudah datang. Lalu bagaimana dengan nasib Daniel?! Apakah pria itu
akan berakhir dengan ditinggalkan?!
Ibu terduduk di kursi. Rupanya
beliau masih terkejut dengan berita yang disampaikan putrinya.
Alma menggendong Zoey dan
membawanya keluar dari dapur. Sebenarnya dia ingin mendengar cerita kakaknya
lebih lanjut. Tapi Ibu dan Kak Nisha mengusirnya secara halus. Mau tidak mau
Alma harus pergi dari tempat itu.
Di ruang tamu Alma bertemu
dengan kedua pria yang saling bertatap-tatapan dingin. Aura ruangan itu menjadi
lebih pekat dibanding biasanya. Alma tidak ingin ikut campur, dia cepat-cepat
membawa Zoey pergi dari ruangan itu. Sebelum menghilang di balik pintu, dia
menoleh untuk menatap wajah Daniel. Hatinya sangat sakit ketika menatap wajah
pria itu. Terbayang rasa sakit yang dirasakan Daniel ketika melihat kakaknya
membawa pria lain ke rumah mereka.
Alma membawa Zoey bermain di
lingkungan sekitar. Dia ingin menjauhkan anak itu dari drama yang mungkin saja terjadi.
***
Daniel menatap Zico dengan penuh
kemarahan. Ingin rasanya dia memukul habis wajah pria itu. Bagaimana bisa Nisha
kembali bersama Zico?!! Kapan hal ini terjadi?! Mengapa dirinya tidak
menyadarinya?!! Sejak kapan hal ini bermula?!!
Tubuh Daniel gemetar menahan
amarah. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Daniel. Kepalanya dipenuhi dengan
kemarahan dan nafsu ingin membunuh. Hatinya sangat sakit. Ingin rasanya dia
berteriak untuk mengungkapkan segala rasa sakit hati dan kecewanya.
Zico balik menatapnya. Pria itu
tersenyum hangat kepadanya. Dia muak dengan senyum itu!! Seolah-olah senyum itu
sedang mengejeknya, karena sudah kalah dalam memenangi hati Nisha. Ingin
rasanya Daniel meninju wajah itu sampai tak berbentuk!!
Di tengah suasana ruangan yang
mencekam, tiba-tiba Nisha datang.
"Ehem.. Zi, Aku akan keluar sebentar dengan Daniel."
"Kemana?"
"Ada yang ingin kubicarakan."
"Apa Aku perlu ikut?"
"Ti-tidak perlu. Kamu di sini saja. Ibu ingin lebih mengenalmu."
"Ba-baiklah."
Daniel menelan ludah. Nisha
memanggil Zico dengan panggilan "Zi"?? Mesra sekali!! Hatinya panas karena cemburu. Tapi Daniel diam. Berusaha menahan gejolak hatinya yang berkobar. Dia keluar, mengikuti Nisha yang berjalan di depannya.
Di sepanjang jalan, mereka
terdiam. Bila dalam kondisi normal, akan banyak canda dan tawa yang akan mereka
lakukan. Tapi saat ini suasana menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikirannya
masing-masing.
Nisha membawa Daniel ke sebuah
cafe di dekat rumah.
Daniel memperhatikan Nisha
dengan sangat intens. Campuran emosi sangat terlihat di wajahnya. Nisha menjadi
gugup dan salah tingkah. Nisha tidak berani menatap wajah Daniel secara
langsung. Yang bisa dilakukannya hanya tertunduk.
Banyak hal yang ingin ditanyakan Daniel. Tapi dia terlalu gugup untuk mendengar jawaban Nisha. Daniel menghela napas dalam-dalam. Berusaha untuk menyiapkan hatinya mendengar setiap
jawaban Nisha. Daniel pun mulai bertanya.
"Jadi Kamu memutuskan untuk kembali padanya?"
Pertanyaan pertama itu sepertinya membuat Nisha tertegun. Daniel bisa melihat ekpresi yang terpancar dari wajahnya.
"Di-dia ayah Zoey,"
"Ya, Aku tahu. Kamu belum
menjawab pertanyaanku."
"Zoey membutuhkan
ayahnya,"
"Jangan jadikan Zoey
sebagai alasan. Aku menanyakan hatimu Girl. Apa Kamu masih mencintainya?"
Daniel menelan ludah. Pertanyaan yang sangat takut untuk ditanyakan akhirnya
meluncur juga dari mulutnya.
"Daniel, jangan bertanya
seperti itu,"
"Jawab Girl, apa Kamu masih
mencintainya?" Nisha terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Daniel. Daniel
merasa sangat nyeri di dadanya. Sepertinya dia sudah tahu dimana hati Nisha
berlabuh.
"Diammu Aku anggap sebagai 'iya'."
Daniel berkata dengan sendu. Dia berusaha untuk tidak berteriak. Mengguncang-guncang tubuh Nisha dan mempertanyakan pilihannya. Bertanya mengapa Nisha tidak memilihnya?! Apa yang kurang dari dirinya? Maka dia akan berusaha
memperbaikinya!
"Daniel," Nisha memegang tangan Daniel.
"Jangan katakan apa-apa
Girl. Aku tahu apa yang ingin Kamu katakan. Katakan padaku, apa sekarang Kamu
bahagia?"
"Iy-ya," Nisha menjawab ragu.
Meskipun wajahnya berusaha untuk
menahan emosi kesakitan karena patah hati, tapi Daniel tersenyum dengan tulus.
"Jika Kamu dan Zoey bahagia, maka Aku juga bahagia. Semoga Kamu dan Zoey akan bahagia selamanya Girl, " Setiap kata yang di ucapkannya, menimbulkan kepedihan di hatinya.
Daniel mencoba untuk tegar, hanya di depan Nisha saja. Dia mengambil tangan Nisha dan mengecup buku jarinya. Nisha tak kuasa menahan tangis. Airmata mulai mengalir di sudut matanya.
"Maaf-maafkan Aku,"
"Tidak ada yang perlu di
maafkan Girl." Suara Daniel tampak gemetar, dia berusaha menahan airmata
yang akan keluar. Daniel mengigit bibirnya dalam-dalam.
Daniel sudah tidak kuat lagi.
Bila dia berlama-lama bersama Nisha, dia pasti akan memeluk dan bersimpuh di
kaki wanita itu. Memohon-mohon pada Nisha agar tidak meninggalkannya. Sebelum
dia kehilangan harga dirinya, Daniel memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
Daniel berdiri. Dengan cepat dia
memeluk Nisha dengan erat dan mencium keningnya. Kemudian dia pergi menjauh
secepat mungkin.
"Sampai berjumpa lagi Girl.
Titip salam buat Zoey." katanya sembari melambaikan tangan tanpa menoleh
pada Nisha. Meninggalkan Nisha sendirian di cafe.
Daniel segera berlari ke
mobilnya. Dia mendengar suara Alma memanggil, namun tak di hiraukannya. Daniel
memacu kendaraan dengan cepat. Hatinya sangat sakit. Dia menangis dengan sangat keras.
"Arrghhh!! Arrrghhh!! Nishaaa!! Arrggggh!!" Daniel menangis sembari memukul-mukul kemudi
mobilnya. Pada akhirnya, dia benar-benar patah hati!!
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Wa Ode Reni Sulfianti Hakim
kasian banget babang Daniel 🥲
2024-08-28
0
Nindi Silvana
lah dasar Daniel kocak,kamu yg bawa Nisha kabur dari Zico bisa-bisanya kamu marah SMA Zico GK jelas🙄
2024-06-20
0
She Imoed
aku padamu bang Daniel yg udah gentle menerima keputusan Nisha
2023-10-25
0