Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Bu Rusmi begitu terkejut dengan kabar yang dibawa anaknya. Dia tidak menyangka anak
perempuannya yang nomor dua akan menikah dengan menantu idamannya. Ungkapan
rasa syukur tidak henti-hentinya keluar dari mulut bu Rusmi. Beliau segera memberitahu kabar bahagia itu pada anak sulungnya. Nisha tak kalah terkejut mendengar kabar itu. Tapi dia ikut bahagia mendengar kabar itu. Nisha
memutuskan untuk pergi ke Surabaya.
Dia membawa Zoey bersamanya. Sebenarnya Zico ingin ikut, tapi karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, akhirnya Zico memutuskan untukmenyusul mereka setelah pekerjaan selesai.
Begitu melihat Alma, Nisha langsung menghambur ke arahnya dan
memeluk adiknya itu dengan sangat sayang.
“Sayangku, selamat atas pernikahanmu. Aku ikut senang mendengarnya.” Nisha menciumi pipi Alma dan kembali memeluknya.
“Te-terima kasih Kak,”
“Ceritakan padaku, bagaimana tiba-tiba kalian memutuskan untuk menikah? Bahkan ini belum lewat satu bulan semenjak terakhir kali Kakak
kesini?” Nisha bertanya dengan kepo. Alma membuang muka. Dia terlalu malu untuk
menceritakan yang sebenarnya. Ibu sepertinya memahami hal itu.
“Sudah-sudah, ayo masuk dulu. Kamu baru datang Nduk, pasti capek. Sini biar Ibu yang gendong Zoey.” Bu Rusmi mengambil Zoey dari gendongan
Nisha. “Mana suamimu? Tidak ikut?”
“Dia masih ada kerjaanmu Bu. Nanti kalau pekerjaannya selesai, dia akan menyusul.”
“Oh begitu. Ya sudah Kamu istirahat dulu. Kamu tidak boleh capek-capek, kasihan bayimu.”
“Hehe, iya Bu. Sini sayang, ikut Aku.” Nisha menarik tangan Alma ke dalam kamar.
“Sayang, Aku ikut bahagia mendengar kabar ini. Rasanya masih tidak percaya adik kecilku sudah akan menikah. Semoga kalian selalu di berikan
kebahagiaan,” Nisha memeluk Alma dan menitikkan air mata. Dia tahu Alma menyukai
Daniel sejak lama. Dia hanya berpikir bahwa itu pasti hanya cinta monyet. Dia masih benar-benar tidak menyangka bahwa dua orang yang di kasihinya akan terikat dalam pernikahan. Ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan.
Sedikit banyak rasa bersalahnya terhadap Daniel terhapus mendengar kabar seperti ini.
“Iya Kak, terima kasih atas doanya. Doa yang sama juga untukmu Kak. Oh ya Aku dengar dari Ibu, katanya Kakak sudah hamil lagi? Selamat
ya Kak atas kehamilannya. Sepertinya Kak Zico benar-benar gerak cepat.” Alma mengerlingkan matanya. Nisha tersipu-sipu malu. Ya bagaimana mungkin dia tidak hamil? Mereka melakukannya hampir setiap malam, benar-benar maniak tuh si Zico.
“Oh ya, bagaimana acaranya? Ibu menyuruhku kemari, katanya akan ada pertemuan keluarga?”
“Iya Kak, besok akan dilakukan pertemuan keluarga sekaligus acara lamaran."
Dan mereka pun melanjutkan obrolan. Nisha begitu antusias dengan pernikahan adiknya. Meskipun dia sudah menikah, tapi dia belum pernah mengalami masa-masa melakukan persiapan menikah. Dia ingin mendampingi Alma
dalam menyiapkan semuanya.
Menjelang malam, Nisha mengangkat panggilan video yang dilakukan Zico.
"Sayang,"
"Hem?"
"Aku merindukanmu," Wajah Zico terlihat sedih.
"Aku nggak."
"Jawabanmu selalu seperti itu. Mana Zoey?"
"Dia tidur dengan Uti-nya."
"Dia tidak menanyakan Aku?"
"Nggak tuh."
"Kalian berdua benar-benar kejam. Aku di sini merindukan kalian, tapi kalian tidak merindukanku."
"Jangan lebay, ingat sama umur, hihihi." Nisha
terkikik. Zico sedang berada di luar negeri. Sistem software yang dibuatnya mulai menarik minat investor luar negeri untuk berinvestasi dalam skala besar terhadap perusahaannya. Mau tidak mau Zico harus meninggalkan Nisha dan Zoey.
Andaikan pertemuan itu di Jakarta, mungkin dia masih bisa wira-wiri untuk menemani Nisha.
"Sayang,"
"Hem?"
"Beneran Daniel mau nikah?"
"Iya, memang kenapa?"
"Aku ikut senang."
"Kenapa Kamu senang?"
"Setidaknya Daniel tidak akan mengganggumu lagi, hehe."
"Dasar licik. Ingat, Daniel sepertinya masih belum
memaafkanmu."
"Iya, Aku tahu itu." Zico tiba-tiba merasa sedih
lagi. Hormon kehamilan simpatik sepertinya masih menguasainya.
"Sayang, makan apa hari ini?" Nisha berusaha
mengalihkan pembicaraan.
"Jeruk."
"Hanya jeruk?"
"Ya."
"Kasihan sekali,"
"Aku akan baik-baik saja bila di dekatmu Sayang. Begitu pekerjaan ini selesai, Aku akan segera ke tempatmu. Beri Aku ciuman." Nisha
memonyongkan mulutnya, berlagak seperti orang yang akan mencium. Zico melakukan
hal yang sama. Rasanya sangat menggelikan melakukan hal seperti itu di usia mereka yang sudah tidak muda lagi.
"Sayang, perlihatkan dadamu,"
"Jangan mesum!!"
"Aku benar-benar merindukanmu. Ayolah Sayang, Aku ingin melihatnya,"
"Yang Kamu rindukan tubuhku, bukan Aku! Dasar pria mesum!"
"Ini bukan mesum. Ini adalah salah satu perwujudan cintaku, ayolah Sayang,"
Lama mereka melakukan panggilan video. Sementara Alma yang sedang berbaring di kamar sebelah (kamar Alma dan kamar Nisha bersebelahan) mendengarkan percakapan itu sembari tersenyum-senyum. Meskipun percakapannya agak saru, namun Alma iri dengan hubungan kakaknya. Kak Nisha benar-benar
wanita yang beruntung. Dia dicintai oleh dua orang laki-laki dengan sangat besar. Alma berharap, Daniel juga akan mencintainya seperti itu.
***
Siang itu diadakan pertemuan keluarga atau istilah umumnyalamaran. Bu Rusmi dan keluarga menunggu kedatangan tamu kehormatan mereka.
Alma, Nisha dan Bu Rusmi mengenakan krudung, sementara Akbar mengenakan kopyah dan baju panjang. Nisha mendandani Alma dengan sangat cantik.
Menjelang siang, rombongan keluarga Daniel datang. Karena Alma ingin acara di adakan sesederhana mungkin, maka acara lamaran diadakan di rumah, sehingga keluarga Daniel yang datang pun hanya keluarga inti.
Orang jawa mengatakan bahwa acara itu adalah acara lamar kawin. Jadi melamar sekaligus menentukan tanggal pernikahan. (koreksi bila
salah 😁). Pertemuan berlangsung dengan lancar.
Karena suami Bu Rusmi sudah meninggal, jadi yang mewakili keluarga beliau adalah Akbar. Pria muda itu bertindak sebagai kepala keluarga.
Dari pertemuan tersebut di sepakati bahwa pernikahan akan dilangsungkan dua minggu kemudian. Pernikahan akan dilangsungkan secara
sederhana mengingat Alma masih kuliah. Resepsi besar-besaran akan dilakukan ketika Alma sudah lulus kuliah.
Di sepanjang pertemuan, Daniel tak henti-hentinya menatap Nisha. Campuran rasa bersalah, sedih dan juga cinta terpancar di matanya. Nisha
pura-pura tidak melihat. Dia tidak ingin menyakiti hati Alma lebih dalam. Dari awal dia sudah curiga, bahwa telah terjadi sesuatu antara adiknya dan Daniel.Tidak mungkin Daniel segampang itu melupakannya. Bukannya dia besar kepala,
tapi perasaan manusia tidak akan berubah secepat itu. Dan dugaannya benar. Tatapan Daniel masih seperti dulu. Masih ada cinta di mata pria itu. Nisha berharap semoga keputusan Alma untuk menikah dengan Daniel merupakan keputusan yang benar. Semoga pernikahan Alma dan Daniel akan bahagia, seperti
pernikahannya saat ini.
Menjelang sore, para tamu mulai berpamitan pulang. Mereka mulai saling bersalaman. Tibalah giliran Nisha bersalaman dengan Daniel.
"Selamat ya Uncle Niel, akhirnya benar-benar jadi
Uncle-nya Zoey." Nisha berusaha untuk tampak ceria, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ya, terima kasih." Daniel menjawab pendek. Ekpresi wajahnya tampak sedang menahan sakit hati mendengar kata-kata Nisha.
"Semoga pernikahan kalian di penuhi dengan
kebahagiaan."
"Amin." Daniel mengangguk kaku dan berlalu dari
hadapan Nisha.
Selepas kepergian keluarga Daniel, Nisha menghampiri Alma dan memeluknya.
"Selamat ya Sayang, Aku harap pernikahanmu akan bahagia."
"Terima kasih banyak Kak." Alma balas memeluk
Nisha, matanya tampak berkaca-kaca.
Dari awal pertemuan sampai akhir pertemuan, Alma tahu pandangan Daniel tertuju pada siapa. Meskipun hatinya sakit, tapi dia masih
bisa menahannya. Dia hanya bisa berdoa, semoga saja suatu saat nanti Daniel akan melihatnya sebagai seorang wanita, bukan sekedar adik dari Tanisha.
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
mereka selalu gemessssss🤭😍
2024-06-20
0
Supartini
cintamu butuh kesabaran yg mendalam alma
2023-10-08
0
Sarah Harona
kunjung kesini msh penasaran trus sm ceritanya pasangn Zico Nisha lum bs move on thanks thor keren ❤
2023-07-23
0