(Flashback) Alma POV
Pada umur 15 tahun, Alma mulai mengenal cinta. Kehadiran pria itu bagaikan pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya dalam kemiskinan. Pria itu datang di saat yang tepat.
Alma tinggal di rumah berdindingkan bambu berukuran kecil. Dia tinggal bersama ibu dan saudara kembarnya. Kakak perempuannya yang bernama Nisha pergi merantau, mengais rezeki demi menghidupi mereka bertiga. Ayahnya sudah meninggal ketika dia masih kecil, sementara ibunya sering sekali sakit-sakitan. Dengan mengandalkan uang kiriman dari kakaknya, mereka mencoba bertahan hidup.
Sering kali Alma maupun Akbar membantu ibu dalam menyelesaikan pekerjaan. Tanpa sepengetahuan Nisha, ibu sering kali menerima pekerjaan sampingan dari para tetangga-tetangga yang kasihan terhadap mereka. Biasanya ibu mencuci ataupun menyetrika baju. Terkadang juga membersihkan rumah.
Beberapa bulan ini Nisha selalu mengirimi mereka uang berlebih. Mereka bahagia, sekaligus juga khawatir. Mereka berharap Nisha selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam mengais rezeki. Mereka tidak bisa menghubungi Nisha langsung, karena mereka tidak memiliki ponsel. Setiap kali kakaknya transfer, mereka akan meminjam ponsel tetangga untuk menanyakan kabar kakaknya.
Sudah tiga bulan berlalu, namun kakaknya belum ada kabar. Meskipun uang transfer masih terus mengalir, tapi kabar tak kunjung datang. Keluarga mulai harap-harap cemas. Setiap hari ibunya yang bernama bu Rusmi selalu menangis. Mempertanyakan kabar putri sulungnya. Mereka bertiga tidak bisa apa-apa. Nomor Nisha tidak bisa di hubungi. Mau menyusul ke Jakarta pun, mereka tidak tahu pasti dimana kakaknya itu bekerja. Sebenarnya Niisha sedang berada dimana??
Di tengah-tengah kebingungan itu, seorang pangeran tampan datang ke rumah mereka. Kehadirannya menyilaukan mata. Alma jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Perkenalkan, nama Saya Daniel. Saya temannya Tanisha." Pangeran tampan bernama Daniel memperkenalkan diri. Mata Alma tak bisa berkedip. Dia begitu terpukau dengan apa yang di lihatnya. Selama lima belas tahun dia hidup, baru kali ini dia melihat pria yang menurutnya paling tampan.
"Ta-tanisha?!! Kamu temannya Nisha Nak? Dimana anak Ibu Nak??" Ibu langsung menggenggam tangan Daniel. Matanya tampak bersinar-sinar, menatap dengan penuh harap.
"Tenang Bu. Nisha sangat aman. Dia tinggal di Surabaya. Tujuanku kemari adalah untuk membawa ibu sekeluarga bertemu dengan Nisha..."
"Be-benarkah Ibu bisa bertemu dengan dia?! Kamu tidak bohong Nak?"
"Benar Bu. Untuk apa Saya berbohong?" Daniel diam sejenak, dan melanjutkan. "Nisha tinggal sendiri di Surabaya Bu, Saya ingin Ibu dan keluarga tinggal bersamanya..."
"Ya Nak, Ibu mau. Ibu mau ketemu dengan putri Ibu. Sudah tiga bulan dia tidak ada kabar Nak. Ibu sangat khawatir."
"Ya Bu, Saya mewakili Nisha datang untuk meminta maaf. Selama tiga bulan ini Nisha mengalami masa-masa berat, oleh karena itu dia tidak bisa menghubungi Ibu. Maafkan dia ya Bu."
"Ya Nak, tidak apa-apa. Asalkan Ibu bisa bertemu dengannya, Ibu akan memaafkan semua kesalahannya. Kapan Kita berangkat?"
"Saya berencana untuk memboyong Ibu sekeluarga. Kita akan menetap di Surabaya secara permanen. Tentunya banyak berkas yang harus Kita selesaikan. Misalnya berkas kepindahan anak manis ini." Daniel menatap Alma sembari mengedipkan mata dengan lucu. Alma menutup wajahnya. Dia malu karena Daniel memergokinya sedang melihatnya.
"Oh, Alma dan Akbar? Mereka baru saja lulus SMP Nak. Ibu ingin menyekolahkan mereka tapi belum ada biaya. Jadi untuk sementara waktu mereka masih menganggur dulu,"
"Waktu yang sangat tepat Bu. Saya akan menyekolahkan mereka di Surabaya. Kita bisa pindah secepat mungkin."
"Beneran Nak? Kalau begitu, Kita akan siap-siap dulu,"
"Tapi Bu, Ibu harus berjanji satu hal." Daniel menahan bu Rusmi.
"Janji apa Nak? Ibu akan melakukan apapun asal bisa bertemu dengan anak Ibu."
"Ibu di larang memberitahu siapapun mengenai kepindahan ini. Ini hanya akan menjadi rahasia Kita."
"Iya Nak, Ibu akan melakukannya. Ibu siap-siap dulu."
Dan semuanya berjalan dengan sangat cepat. Mereka pergi meninggalkan rumah di desa di waktu hari sudah mulai gelap. Mereka pergi tanpa diketahui oleh tetangga sekitar. Kepergian mereka bagai hilang ditelan bumi, tak berjejak.
Di sepanjang perjalanan Alma menatap wajah tampan di depannya. Dia tidak fokus dengan percakapan ibunya. Yang dia lihat hanya sosok itu. Laki-laki itu bertubuh tinggi dan berbadan kekar. Wajahnya sangat kebarat-baratan. Bila dilihat sekilas, orang-orang pasti akan mengira bahwa laki-laki itu bule. Tapi bila sudah mengobrol dengannya, orang-orang akan tahu bahwa wajah bule ini dilahirkan di Indonesia. Tutur katanya sopan dan sangat menghormati lawan bicaranya.
"Lihat apa?! Jangan ganjen. Kamu masih kecil, dia sudah tua." Akbar menyikut tulung rusuk Alma dengan sedikit keras. Membuat Alma mengaduh kesakitan.
"Apa-apaan sih Bar?!" Alma menjambak rambut Akbar. Mereka memang sering berkelahi, namun tetap saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.
"Hei, lihat itu jenggotnya. Pria itu lebih cocok jadi paman Kita. Tutup matamu, jangan dilihat lagi." Akbar menutup mata Alma dengan kedua tangannya. Alma berusaha menyingkirkannya.
"Bukan urusanmu. Mau dia tua, mau muda yang jelas dia lebih tampan dari dirimu! Dasar cebol." Alma mencubiti lengan Akbar.
"Apa-apaan kalian ini. Tiap hari kok kerjaannya bertengkar terus?"
"Alma ganjen Bu. Dari tadi dia liatin om itu terus." Akbar mengadu.
"Ya wajar kalo dilihat toh Le, kan omnya ganteng. Iyo kan Nduk?"
"Hehe, enggeh Bu." Alma mesem-mesem nggak jelas. Daniel tersenyum lebar. Dia menyentuh kepala Alma dan Akbar secara bersamaan.
"Sekolah yang rajin ya."
"Iya Om."
"Iya Kak," Alma dan Akbar menjawab bersamaan. Keduanya saling berpandangan dengan tatapan bermusuhan. Daniel tertawa melihatnya.
"Iya, terserah kalian mau panggil dengan sebutan apa. Mulai saat ini, Aku akan menjaga kalian semua."
"Iya Kak, terima kasih Kak," (Jawaban Alma)
"Terserahlah." (Jawaban Akbar)
Mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam. Menjelang tengah malam, mereka tiba di tujuan. Ibu tampak sangat antusias.
Mereka memasuki perumahan minimalis yang tertata dengan apik. Diam-diam Daniel membuka pintu. Sepertinya laki-laki itu ingin membuat kejutan terhadap kakaknya.
"Satu, dua, tiga, surpriseeee!!" Mereka berempat masuk secara bersamaan. Di ruang tamu Alma melihat kakaknya sedang duduk di depan TV. Kak Nisha tampak kaget melihat mereka semua. Dia berdiri dan menghampiri mereka.
Tiba-tiba mata Alma menangkap sesuatu yang sangat janggal. Kakaknya tampak gendutan, terlebih di bagian perutnya. Alma memperhatikan perut Nisha dengan seksama. Dugaannya tidak salah lagi. Kakaknya sedang HAMIL!!
Sejak kapan? Dengan siapa? Kapan menikah? Pertanyaan itu berputar-putar terus di kepala Alma. Tiba-tiba Alma menoleh pada pria tampan di sebelahnya. Apakah kakaknya sudah MENIKAH dengan bule pribumi ini?!! Apakah kakaknya HAMIL anak bule ini?!! Kapan? Dimana? Kenapa?!
Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepala Alma. Tubuhnya menjadi lemas dan tak bertenaga. Cinta pertamanya yang baru saja bersemi, harus kandas di hari yang sama. Dia sudah jatuh cinta pada KAKAK IPARNYA sendiri!!
***
Happy Reading 🥰🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Mommy Ken
Thor mau nostalgia dulu terkahir baca 2020 🤗😘
2025-01-11
0
Shinta Yanofa
aq balik lagi thor, pdhal udh berpa kali baca 😅
2024-12-15
1
VS
pangeran tampan berkuda roda empat 2 pintu yaaa
2024-11-15
0