Hari yang ditunggu-tunggu Alma
akhirnya datang juga. Alma bangun jam tiga pagi. Dia mulai dirias lengkap. Dari
wajah, pakaian, hiasan kepala sampai hiasan tangan dan kaki. Nisha menemani
Alma melalui semua proses itu. Meninggalkan Zoey dan Zico yang masih tidur.
Selesai melihat Alma dirias,
Nisha mulai mandi dan bersiap-siap. Beberapa MUA (Make Up Artist) menawarkan
untuk meriasnya, namun Nisha menolak dan memilih untuk berdandan sendiri. Nisha
membangunkan Zoey dan Zico. Meskipun sangat susah membangunkan keduanya, tapi
akhirnya keduanya bangun. Zico memandikan Zoey. Sementara Nisha mulai membantu
ibunya mempersiapkan ini dan itu.
Akad itu akan dilaksanakan pada
pukul 09.00 WIB di salah satu masjid terkenal di kota Surabaya. Jam delapan pagi,
rombongan keluarga bu Rusmi berangkat ke tempat akad.
"Al, apa Kamu yakin?" Akbar memulai percakapan. Mereka sedang berada di mobil.
"Apanya?"
"Apa Kamu yakin akan menikah? Apa Kamu yakin akan menikahi paman itu? Kamu masih muda Al. Banyak laki-laki yang umurnya jauh lebih muda dan tertarik padamu. Apa Kamu tidak akan
menyesal? Dan juga Kamu masih kuliah Al. Masa depanmu masih panjang. Kalau Kamu
menikah dengannya, Kamu akan berakhir menjadi ibu rumah tangga saja." Akbar mulai mempengaruhi. Bu Rusmi menjewer telinga Akbar.
"Jangan pengaruhi kakakmu. Dasar anak bandel!"
"Tapi Akbar bener kan Bu? Paman itu sudah tua!! Al kan cantik, bisa dapat yang lebih muda dan lebih tampan,"
"Tapi belum tentu sebaik dia!"Alma menyela dengan kesal. "Aku sangat yakin dengan pilihanku
Bar. Kamu tidak perlu mempengaruhiku dengan pemikiranmu. Aku yakin Aku akan
bahagia hidup bersamanya!"
"Ya-ya, kakak yakin itu. Sudah lah Dek, Kamu seneng banget bikin kakakmu marah." Nisha menyela dan memeluk Alma. Akbar hanya bisa terdiam sembari bersungut-sungut.
Mereka akhirnya tiba di lokasi
akad. Di dalam masjid keluarga besar Daniel sudah menunggu. Mata Alma
mencari-cari keberadaan Daniel. Tapi laki-laki itu tak tampak di manapun. Alma
mulai panik. Itu sangat terlihat di wajahnya. Sepertinya Kate bisa membaca
pikiran calon menantunya. Dia mendekati Alma dan memeluknya.
"Anak Mommy, cantik sekali,"
"Eh eum, te-terima kasih Tante,"
"Eits, jangan panggil Tante lagi. Panggil Mommy atau Mama? Sebentar lagi Kamu juga akan menjadi anakku sayang. Aku sangat bersemangat. Aku menyambut kedatanganmu dengan sangat
bahagia sayang, sini peluk Mommy." Kate kembali memeluk Alma yang masih saja kikuk.
"Eum kalau boleh tahu,"
"Daniel? Dia ada sayang. Dia sedang ke toilet. Kamu tidak perlu khawatir sayang." Kate
menepuk-nepuk bahu Alma, bermaksud untuk memberi semangat. Alma menghela napas
lega.
Tepat pukul sembilan, acara pun
di mulai. Akbar menjadi wali nikah Alma, sebagai pengganti ayah mereka yang telah tiada.
Alma didudukkan di sebelah
Daniel. Mereka mengenakan pakaian putih. Ada tudung yang menutupi keduanya.
"Bagaimana calon pengantin, sudah siap?"
"Iya, Saya siap." Mata Daniel memerah, entah karena efek kebanyakan mabuk semalam atau efek habis menangis?
"Siapa yang menjadi wali nikah?" tanya pak penghulu.
"Saya Pak." Akbar menyahut.
"Masih muda. Anda siapanya pengantin wanita?"
"Saya adiknya Pak. Mewakilkan almarhum ayah Kami."
"Oh, baiklah. Ini mau di wakilkan atau mau di lakukan sendiri?"
"Saya lakukan sendiri."
"Baiklah. Mana saksinya?
"Saya Pak."
"Saya." Papa Edwin dan Dareen menjawab bersamaan.
"Baik, kalau begitu mari Kita mulai acaranya."
Pak penghulu memberi nasihat singkat, berupa wejangan-wejangan pernikahan. Kemudian prosesi ijab qabul pun di mulai.
“Saya nikahkan engkau Daniel Vieri Nathaniel
bin Edwin Atmajaya dengan ananda Almahyra Tsalsania binti Riswanto dengan mas
kawin berupa seperangkat alat sholat dan berlian 50 carat di bayar tunai!!" (FYI : 1 carat \= $ 11.500 - $ 13.000, sedangkan 1 dolar \= Rp
13.943,- jadi di kalikan saja berapa mahar Alma ya, koreksi bila salah, hehe)
“Saya terima nikah dan kawinnya Almahyra
Tsalsania binti Riswanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!” Daniel menjawab tegas.
"Bagaimana saksi?"
"SAH!!" Para saksi dan orang-orang yang berada di sana menjawab bersamaan.
"AlhamduLillah. Barakallahu
laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin."
"Amin,"
Alma meneteskan air mata. Begitu
pula dengan Bu Rusmi dan Nisha. Mereka sangat terharu. Kedua pengantin menandatangani beberapa berkas, kemudian Alma mencium tangan Daniel. Dengan kikuk Daniel balas mencium kening Alma.
Kemudian beberapa tamu undangan
mulai menyalami mereka. Zico mendekati Daniel. Sudah lama dia ingin bertemu dengan Daniel, tapi pria itu selalu menolaknya. Zico menjulurkan tangannya.
"Selamat atas pernikahannya Tuan Daniel" Katanya.
"Ya, terima kasih." Daniel mengabaikan uluran tangan Zico dan pergi menjauh dari pria itu. Nisha
melihat kejadian itu, dia mendekati Zico.
"Sabar sayang. Suatu saat nanti dia pasti akan menerima kehadiranmu."
"Begitukah?"
"He'em. Ayo pergi. Bayinya sudah lapar." Nisha mengelus-ngelus perutnya.
"Bukan bayinya, tapi ibunya. Ini sungguh tidak adil sayang. Kamu bisa makan sebanyak-banyaknya, tapi Aku tidak bisa." Zico mengomel.
"Ini sangat adil sayang. Ingat ketika hamilnya Zoey? Siapa yang paling menderita?"
"Iya tahu, tapi Kamu juga menyiksaku dengan permintaan aneh-aneh. Ayo." Zico mengambil tangan Nisha dan menggandengnya.
Acara dilanjutkan di hotel bintang lima di kota tersebut. Acara itu bertujuan untuk menjamu tamu-tamu yang datang. Daniel harus tersenyum palsu pada semua orang. Dia dan Alma
berkeliling, menyalami tamu-tamu penting ayahnya. Selama berkeliling matanya
selalu saja mencari-cari keberadaan Nisha. Matanya di penuhi kecemburuan begitu
melihat Nisha dan Zico bersama. Dia segera memalingkan wajahnya. Matanya mulai
berkaca-kaca. Alma melihat hal itu. Dia segera mengalihkan perhatian Daniel.
Hari sudah sore ketika acara itu selesai. Papa Edwin dan Nyonya Kate sengaja memesan kamar presidental suit di hotel bintang lima itu. Kamar itu ditujukan untuk Daniel dan Alma. Daniel
menolak, tapi Nyonya Kate memaksa dengan keras sehingga mau tidak mau Daniel
harus menerima hadiah itu.
Semua keluarga memutuskan untuk pulang. Keluarga Daniel langsung terbang ke Jakarta menggunakan jet pribadi. Sementara keluarga Alma berkumpul di rumah Bu Rusmi. Tinggal Daniel dan Alma di kamar itu.
Kamar itu di desain dengan sangat elegan dan mewah. Semua properti di kamar itu di dominasi oleh warna coklat kayu dan krem. Kamar itu terdiri dari satu ranjang king size, ruang santai,
ruang kerja, ruang makan, ruang ganti, kamar mandi super mewah dan akses
pemandangan yang indah.
Alma begitu takjub melihat sekelilingnya. Dia merasa bukan berada di sebuah kamar, tapi di sebuah apartemen atau hunian mewah. Meskipun Nisha terbilang sukses, tapi kakaknya
tidak pernah membawa keluarga mereka menginap di tempat semewah itu. Alma
tercengang melihatnya.
Mata Alma menelusuri satu persatu perabotan di kamar, kemudian matanya menangkap ranjang besar yang kehadirannya sangat menonjol. Wajahnya langsung memerah karena terbakar.
Pikirannya mulai berkelana kemana-mana. Membayangkan hal-hal yang diinginkannya? (Hehe)
"Ehem." Suara Daniel membuyarkan lamunan Alma. Seketika dia berbalik dan menatap Daniel yang telah berdiri di belakangnya.
"Al, Aku mau keluar dulu. Kamu bisa mandi, nonton TV atau terserah mau ngapain aja."
"Oh iya Kak. Kakak mau kemana?"
"Aku, Aku ada urusan. Kamu di sini saja ya."
"Iya Kak."
Selepas mengatakan hal itu, Daniel langsung menghilang dari hadapan Alma. Mengikuti saran Daniel, Alma berganti pakaian, membersihkan riasan dan mandi. Setelah itu dia mulai duduk di
depan TV, menunggu kedatangan Daniel dengan sabar. Karena kelelahan Alma mulai
mengantuk, pada akhirnya dia tertidur.
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
Alma akan bahagia GK ya🥺 duh Daniel kmu itu move-on orang Nisha udh bahagia kok SMA Zico jdi jgn kamu ganggu2 lgi😡
2024-06-21
0
Supartini
beneran orang kaya mahanya fantastis
2023-10-08
0
Dini Lestari
danil susah sekali maapin zico mudah2an kedepan nya hti danil bisa luluh maapin zico
2023-09-21
0