“Apakah keputusan Kita untuk membuat Daniel menikahi gadis itu sudah benar?”
“Sudah benar Sayang."
“Tapi Daniel tidak mencintai gadis itu,”
“Cinta akan datang dengan sendirinya. Lambat laun Daniel pasti akan mencintai gadis itu. Lagi pula Kita sudah tidak punya pilihan lain. Wanita yang dicintai Daniel selama bertahun-tahun ternyata masih memiliki suami dan dia kembali pada suaminya. Gadis ini adalah adik dari wanita itu. Sedikit banyak dia pasti memiliki sifat-sifat seperti kakaknya. Daniel pasti akan mencintai gadis kecil ini.”
“Tapi usia mereka terpaut jauh. Gadis ini masih kuliah. Sedangkan Daniel sudah kepala tiga,”
“Usia bukan menjadi halangan Sayang. Aku dengar dari Tito, Alma sudah menyukai Daniel semenjak lama. Alma pasti akan bisa meluluhkan hati Daniel dan membuatnya melupakan wanita itu.”
“Benarkah seperti itu Kate? Aku takut keputusan Kita akan membuat anak Kita tidak bahagia,” Papa Edwin bertanya dengan ragu.
“Daniel pasti akan bahagia Sayang. Jangan khawatirkan hal itu. Sekarang Kita harus banyak-banyak berdoa, siapa tahu beberapa bulan ke depan Kita bisa mendengar berita bahagia?” Kate mengerlingkan matanya. Dia memeluk Papa Edwin dan mencium pipinya.
“Aku juga berharap seperti itu Sayang,” Papa Edwin balas mencium istrinya. Bayangan akan ada Daniel junior di tengah-tengah keluarga mereka membuat wajahnya tersenyum penuh pengharapan.
Papa Edwin dan Nyonya Kate kembali ke Jakarta. Tidak sia-sia mereka menyuruh asisten mengikuti Daniel. Mereka bisa menyudutkan Daniel dan membuat putra bungsu mereka menikah. Memang terdengar licik, tapi itu harus mereka lakukan agar Daniel junior hadir di tengah-tengah mereka.
***
Daniel mengantar Alma pulang. Di sepanjang perjalanan hanya terdapat keheningan. Mereka berdua sama-sama bingung harus berkata apa. Asisten Tito yang menjadi supir mereka ikut terdiam.
Sesampainya di depan rumah, tampak Akbar dan Ibu sudah berdiri di depan rumah mereka. Sepertinya mereka sedang menunggu-nunggu kedatangan Alma. Melihat Alma turun dari mobil, Ibu langsung menghampirinya dan memukul punggungnya.
“Teko endi ae Nduk? Cah wedhok jam sakmene kok buru balek?! (Darimana saja Nduk? Anak perempuan kok jam segini baru pulang?)
“Aku-aku nginep di rumah temen Bu,”
“Kok gak ngasih kabar Ibu?! Kamu tahu, Ibu dan adikmu khawatir!”
“Iy-iya, maafin Alma Bu,” Alma mencium tangan ibunya. Merasa sangat bersalah. Karena terlalu khawatir pada Daniel, dia sampai melupakan ibu dan adiknya. Mereka pasti bingung mencari-cari keberadaannya.
“Kenapa Kamu pulangnya sama Nak Daniel?” Ibu bertanya dengan bingung.
“Iy-ya Bu. Tadi Alma meminta tolong Saya untuk menjemputnya,”
“Dasar anak bandel. Kenapa minta tolong Nak Daniel? Ada adikmu di rumah. Kamu bisa minta jemput dia. Nak Daniel sangat sibuk. Dasar gadis tidak sopan.” Ibu kembali menepuk punggung Alma. “Ayo Nak, masuk dulu. Ibu sudah masak enak,”
“Maaf Bu, Saya harus kembali ke Jakarta. Ada pekerjaan yang harus Saya selesaikan.”
“Oh begitu, sayang sekali. Terima kasih Nak, sudah membawa Alma pulang. Maaf ya, kalau dia merepotkan.”
“Iya bu, tidak apa-apa. Kalau begitu, Saya permisi dulu Bu.” Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya Daniel pergi meninggalkan rumah itu.
Akbar mendekati Alma. Dari tadi dia sudah memperhatikan tingkah laku Alma dan Daniel. Timbul kecurigaan di dalam hatinya.
“Al, Kamu gak nginep di rumah temenmu kan? Kamu nginep bareng paman itu kan?”
“Apa-apaan Kamu Bar!!”
“Jujur saja Al. Kamu pasti senang kan Kak Nisha sudah nikah. Jadi Kamu bisa memiliki kesempatan untuk mendekati paman itu. Iya kan?”
“Jangan ngaco Kamu!!” Alma menjewer telinga Akbar kuat-kuat.
“Auuwww!” Akbar mengaduh-ngaduh kesakitan.
***
Malam itu Alma sedang terbaring di kamarnya. Matanya tidak bisa dipejamkan. Masih terngiang-ngiang di telinganya perkataan Daniel.
“Aku akan menikahimu.”
Aaakhhh!!! Benarkah dia akan menikah dengan Daniel? Apakah ini hanya mimpi? Alma mencubit pipinya keras-keras.
“Auuuww!” Dia mengaduh kesakitan.
Ya, dia sedang tidak bermimpi. Daniel benar-benar akan menikahinya. Apakah mimpinya selama ini untuk menjadi pengantin Daniel akan menjadi kenyataan? Dia sangat bahagia. Benar-benar sangat bahagia. Meskipun cara yang ditempuhnya salah, tapi dia benar-benar bahagia. Tidak ada yang mampu mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Rasanya dia ingin terbang ke awang-awang!!
Tapi, bagaiman dengan Daniel? Laki-laki itu pasti terpaksa menikahinya. Daniel pasti tidak bahagia. Haruskah dia bersikap egois dan menutup mata dengan perasaan Daniel? Alma tahu Daniel tidak mencintainya. Yang dicintai Daniel hanya Kak Nisha. Tapi Kak Nisha sudah kembali pada suaminya. Sudah tidak ada kesempatan bagi Daniel untuk bisa bersatu dengan kakaknya. Bila Daniel tidak bisa menikah dengan kakaknya, maka dia tidak akan membiarkan Daniel untuk menikah dengan wanita lain. Daniel harus menikah dengannya!!
Mungkin saat ini Daniel belum mencintainya. Tapi dia akan membuat Daniel lambat laun mencintainya. Dia akan membuat Daniel melupakan Kak Nisha! Dia akan menunjukkan pada Daniel cintanya yang besar. Alma yakin suatu saat nanti Daniel akan luluh hatinya.
*Al, sudah tidur? (tiba-tiba ponsel Alma berbunyi, ada pesan dari Daniel)
-Belum Kak
*Al, pikirkan ucapanku baik-baik. Aku serius dengan ucapanku.
-Iya Kak
*Aku benar-benar minta maaf dengan kelakuanku. Aku tidak bermaksud untuk merusak masa depanmu. Aku terlalu mabuk untuk sadar bahwa itu Kamu.
-Iya Kak
Alma menghela napas. Daniel mengira telah terjadi sesuatu antara dirinya dan Daniel. Laki-laki itu benar-benar lupa dengan apa yang terjadi kemarin malam. Malam itu sebenarnya tidak ada yang terjadi. Selepas Daniel menghiba-hiba untuk tidak ditinggalkan, Alma memutuskan untuk menemaninya. Alma memeluk Daniel dengan sayang. Selebihnya, Daniel tertidur dalam pelukannya. Pada akhirnya Alma ikut tertidur. Paginya Alma mendapati dirinya tertidur dalam pelukan Daniel.
*Katakan padaku waktu yang tepat. Aku akan datang ke rumahmu untuk memintamu langsung pada Ibu.
-Iya Kak
*Baiklah, selamat tidur Al. Sekali lagi Aku benar-benar minta maaf.
Pesan itu membuat Alma merasa bersalah. Daniel menikahinya karena menyangka dia sudah merusak kehormatannya. Padahal pada kenyataannya tidak. Haruskah dia mengatakan pada Daniel bahwa malam itu tidak terjadi apa-apa antara mereka? Tapi bila dia melakukannya, akankah Daniel masih mau menikahinya?
Alma begitu dilema. Sepanjang malam dia berpikir dan menimbang-nimbang. Setelah semalaman tidak tertidur, akhirnya Alma memutuskan. Jiwa egoisnya menang. Dia tidak akan memberitahu Daniel kejadian yang sebenarnya!!
Selama beberapa hari selanjutnya, Alma selalu memperhatikan emosi ibunya. Emosi bu Rusmi naik turun. Itu karena kedatangan menantu yang tak diinginkannya. Setiap hari suami Kak Nisha datang ke rumah mereka, namun Ibu tidak pernah mengijinkannya untuk masuk. Ibu belum memaafkannya. Emosi bu Rusmi yang seperti itu membuat Alma mengundurkan niatnya untuk memberitahu niat Daniel terhadapnya.
Seminggu pun berlalu. Tiba-tiba Bu Rusmi sudah akrab dengan pria bernama Zico. Ibunya itu bahkan ikut Zico ke Jakarta. Meninggalkan Alma bersama Akbar. Lagi-lagi niat Alma untuk berbicara pada ibunya harus kandas.
Dua minggu pun berlalu. Daniel masih terus menunggu jawabannya. Alma menjadi tidak enak hati dibuatnya. Akhirnya Bu Rusmi pulang ke Surabaya. Alma melihat suasana hati ibunya sedang bahagia. Mungkin Bu Rusmi sudah merestui hubungan kakaknya. Ibu pasti bahagia karena bisa berkumpul dengan anak, cucu dan menantu. Mungkin ini saat yang tepat bagi dirinya untuk mulai melakukan pembicaraan serius dengan ibunya.
“Ibu, ada yang mau Alma bicarain sama Ibu. Ibu ada waktu kah?”
***
Happy Reading 🥰🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Supartini
gak papa alma nti lambat laun daniel akan cinta
2023-10-08
0
Lindaaja Linda
Alhwmdulillah Ibu Rusmi sdh memberi restu buat Zico dan mudah-mudahan ibu Rusmi juga memberi restu huat Alma juga
2023-07-04
0
Rania Rafaella
Daniel.,.. kamu gentlemen sekali. love you Daniel 😘😘
2023-05-05
1