(Present)
Alma menatap pria di depannya dengan sangat bahagia. Sudah hampir sebulan lebih pria itu tidak mengunjungi mereka. Kali ini dia datang. Meskipun kedatangannya bukan untuknya ( tapi untuk keponakan gembulnya), tapi tetap saja dia bahagia. Setidaknya dia bisa menatap wajah tampan itu berlama-lama.
"Hey kids... Please hug Me..." Daniel merentangkan tangannya. Zoey dengan antusias masuk ke pelukannya.
"Daddy!!" Katanya dengan bahagia. Daniel menggendong Zoey dan menciumi pipi tembemnya. Mereka bercakap-cakap dengan antusias. Alma berdiri memperhatikan mereka. Menunggu Daniel menyadari keberadaannya.
"Kids, where is Your Mom?" Daniel melihat sekitar untuk menengok keberadaan Nisha. Selagi melihat sekitar, pandangan matanya bertemu dengan Alma.
"Kak Nisha pergi ke Jakarta."
"Apa?!! Ke Jakarta? Kapan dia pergi?" Daniel tampak terkejut.
"Baru kemarin Kak,"
Daniel mengabaikan Alma. Dia meraih ponsel dan menghubungi nomor Nisha.
nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silakan hubungi beberapa saat lagi
"Argh, shit!!" Daniel begitu gusar. Nomor Nisha tidak bisa dihubungi.
"Onty, sit itu apa?" Zoey bertanya dengan bingung. Seingatnya daddy Niel tidak pernah mengajarinya kata-kata itu.
"Oh...oh... Sit itu artinya duduk. Ayo Kita duduk di sofa itu." Alma meraih Zoey dari gendongan Daniel dan duduk di sofa. Dengan sabar dia menunggu Daniel yang sedang sibuk menelepon nomor Nisha.
"Sejak kapan nomor Nisha tidak bisa dihubungi?"
"Kemarin masih bisa dihubungi Kak. Zoey sempat video call juga. Mungkin HP Kak Nisha ketinggalan di hotel. Atau baterainya sedang habis Kak." Alma berusaha meredam kekhawatiran Daniel.
"Oh ya, mungkin benar katamu. Hey anak Daddy, sini gendong Daddy lagi." Daniel kembali meraih Zoey.
"Dimana Ibu dan Akbar?"
"Ibu sedang ke pasar, Akbar sedang main Kak."
"Jadi Kamu hanya berdua dengan Zoey?"
"Iya Kak."
"Zoey pengen apa? Daddy akan belikan semuanya."
"Eum, Kak... Kata Kak Nisha jangan terlalu memanjakan Zoey. Takutnya nanti dia menjadi terbiasa..."
"Tidak apa-apa. Siapa lagi yang akan memanjakannya kalau bukan Kita? Anak Daddy minta apa?"
"Zoey pengen maem Mekdi. Kata temen, Zoey bisa dapat dino."
"Zoey pengen makan di McD? Ayo Kita berangkat." Daniel menggendong Zoey di lengan kirinya. Sementara tangan kanannya membuka pintu mobil. Alma masih berdiri mematung di depan pintu. Dia merasa bingung harus ikut mereka atau tidak.
"Hey Little, kenapa berdiri di situ? Ayo masuk." Daniel memanggil. Merasa mendapat lampu hijau, Alma segera mengambil tasnya. Mengunci pintu rumah dan menyusul Zoey dan Daniel. Sudah lima tahun Daniel selalu memanggilnya “Little”. Mungkin yang di maksud pria itu adalah “gadis kecil”. Alma tidak suka dengan panggilan itu. Bagaimana pun juga sekarang dia bukan gadis kecil lagi, dia sudah menjadi wanita dewasa yang matang. Tapi Alma harus menerima setiap kali dipanggil seperti itu, karena dia tidak berani melayangkan protes secara lansung kepada Daniel.
Di sepanjang perjalanan Daniel dan Zoey tampak bercakap-cakap sangat heboh. Sesekali mereka bersenandung ria. Zoey mendemonstrasikan lagu yang dipelajarinya di PAUD. Daniel ikut-ikutan bernyanyi.
Alma duduk di kursi belakang. Dia memperhatikan keakraban dua pria di depannya. Hatinya dipenuhi dengan kehangatan. Matanya tidak bisa lepas dari Daniel. Dia membayangkan, andaikan bisa menikah dengan Daniel pasti pria itu akan menjadi ayah yang hebat. Kasih sayangnya pada Zoey sangatlah dalam, padahal Zoey bukan darah dagingnya sendiri. Bisa dibayangkan bila pria itu memiliki anak sendiri? Pasti kasih sayangnya akan bertambah besar bukan?
Setiap kali pergi bertiga seperti ini, membuat Alma selalu berkhayal. Orang lain pasti akan melihat mereka sebagai satu keluarga. Dia sangat suka bila orang lain berpikiran seperti itu. Seolah-olah dia menjadi istri Daniel. Hah, kapan hal itu bisa terealisasi?
"Little, Kamu tidak kuliah?"
"Eum, tidak ada jadwal hari ini Kak."
"Oh baguslah. Kita bisa seharian menemani Zoey main."
"Iy-ya Kak..."
"Zoey, katanya besok ada hari ayah ya?"
"Yeah. Daddy day. Bu gulu nyuluh Zoey bawa Daddy ke sekolah."
"Pinter banget. Zoey langsung menghubungi Daddy. Toss dulu."
"Yeeeyy!!" Mereka berdua toss. Alma tersenyum-senyum sendiri.
"Little, besok ada jadwal kuliah kah? Kalau tidak ada, besok Kita bisa menemani Zoey ke sekolah."
"Ti-tidak ada Kak. Besok kosong Kak." Alma menjawab dengan antusias.
"Oke, sip." Daniel mengedipkan mata senang. Wajah Alma menjadi merah karena malu.
***
Hari itu mereka datang ke sekolah Zoey. Hampir setiap anak ditemani oleh orang tua mereka. Hanya Zoey saja yang tidak. Ibunya pergi ke Jakarta, sedangkan ayahnya tidak tahu dimana rimbanya. Untung saja ada Daniel dan Alma. Mereka menemani Zoey layaknya pasangan suami istri yang sedang menunggu anaknya di sekolah.
Mereka menunggu giliran untuk diperkenalkan. Setiap anak mengenalkan orang tuanya masing-masing pada teman sekelasnya. Alma melihat Daniel. Pria itu menggunakan jas hitam yang elegant. Tema hari ayah tahun ini adalah tentang pekerjaan ayah. Daniel semakin tampan dengan balutan jasnya.
Selagi menunggu giliran, Alma melihat Daniel tampak sibuk menelepon. Entah yang di telepon rekan bisnis, asisten atau Kak Nisha? Ahh, setiap kali memikirkan pria itu sedang mencoba untuk dekat dengan kakaknya, membuat hatinya sakit seperti teriris sembilu. Alma mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah tampak berkaca-kaca. Dia takut airmatanya akan jatuh bila tidak segera dihentikannya.
"Ayah dari Zoe Achazia Axelle, silahkan memperkenalkan diri." suara guru mulai memanggil. Alma langsung menyentuh pundak Daniel, mengingatkan pria itu bahwa sudah gilirannya untuk tampil.
Daniel memperkenalkan diri sebagai ayah dari Zoey. Dia menggendong Zoey di bahunya. Zoey tampak sangat senang. Sepertinya Zoey puas karena sudah bisa membuktikan pada teman-temannya bahwa dia juga memiliki seorang ayah sama seperti yang lainnya.
Kegiatan di sekolah hari itu di habiskan dengan bermain bersama ayah. Menjelang siang hari, kelas dibubarkan. Zoey pulang dengan perasaan bahagia.
"Mau kemana Kita Kids?"
"Zoey pengen naik mobil-mobilan."
"Kenapa naik mobil-mobilan kalau sekarang Zoey naik mobil beneran?"
"Pokoknya Zoey mau itu!"
"Oh oke-oke. Ayo Kita pergi." Daniel mengalah.
Mereka pergi ke mall dan mencari game center. Daniel menemani Zoey main sepuasnya. Alma hanya berdiri melihat mereka. Keberadaannya memang hanya pelengkap. Daniel benar-benar tidak menganggapnya.
Mereka pulang menjelang sore hari. Alma menggendong Zoey, sementara Daniel sibuk bertelepon.
"Kenapa nomor kakakmu masih tidak aktif? Kemana saja dia?"
"Saya kurang tahu Kak..."
"Apa tadi malam Kamu tidak berkomunikasi dengannya?"
"Tidak Kak. Tadi malam Saya menyelesaikan laporan. Jadi belum komunikasi dengan Kak Nisha..."
"Sebenarnya kemana wanita itu? Bikin khawatir saja." Daniel mengigit-gigit bibirnya. Kebiasaan yang sering dilakukannya ketika gugup dan panik.
Alma bertanya-tanya, mengapa Daniel begitu gugup? Kak Nisha hanya pergi ke Jakarta. Dan itupun karena pekerjaan. Kepergiannya pun tidak akan memakan waktu yang lama. Apa Daniel takut kakaknya akan kecantol pria lain? Itu tidak mungkin bukan? Alma tahu kakaknya seperti apa. Pada pria seperti Daniel yang menemaninya dalam suka dan duka selama lima tahun saja kakaknya tidak bergeming, apalagi dengan pria baru. Jadi apa sebenarnya yang di khawatirkan Daniel?
Apa dia takut Kak Nisha diculik orang dan hilang? Haha, ada-ada saja. Mana mungkin orang setua Kak Nisha diculik? Yah, mungkin kekhawatiran Daniel di dorong karena perasaannya yang begitu besar untuk Kak Nisha. Memikirkan hal itu membuat Alma tersenyum kecut. Kapan dia akan diperlakukan seperti itu oleh Daniel?
***
Happy Reading 🥰🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
Daniel takut kk nishamu diculik suaminya, dan itu benar hahahaa🤣😍
2024-06-20
1
She Imoed
Daniel takut Kakakmu diculik Suaminya dan balikan lagi Alma🤭
2023-10-25
1
Supartini
alma kesabaranmu patut diacungi👍👍
2023-10-07
0