Selama hampir dua minggu
keluarga Bu Rusmi sibuk menyiapkan ini-itu. Meskipun pernikahan yang diadakan
hanya akad saja (tanpa resepsi), tapi persiapan dilakukan dengan benar-benar matang.
Nisha mendampingi Alma mengurusi
semuanya. Dari fitting baju, make up, catering dan lain sebagainya. Zico beberapa kali datang untuk sekedar temu kangen dengan Nisha dan Zoey, setelah itu dia kembali ke Jakarta.
Selama dua minggu penuh, Alma
dan Daniel dilarang bertemu. Menurut adat, mereka harus di pingit. Menjelang
H-1 dari acara, Zico kembali datang.
"Bagaimana perasaanmu sayang? Kamu pasti deg-degan ya?" Nisha menggoda adiknya.
Mereka sedang berkumpul di ruang
keluarga. Akbar sedang memangku Zoey, Alma meletakkan kepalanya dipangkuan Bu
Rusmi. Sementara Nisha duduk di sebelah Zico yang sedang menempel ketat padanya.
"Ya, deg-degan Kak,"
"Kenapa sayang? Kamu ingin
menikah lagi?" Zico berbisik usil. Nisha mencubit paha Zico.
"Diam."
"Aku lihat sepertinya Kamu lebih antusias dalam pernikahan ini di banding Alma. Siapa tahu sayangku ingin menikah lagi, hehe."
"Siapa yang membuat pernikahanku tidak istimewa?! Kamu pelakunya."
"Oh ampun sayang. Semua
salahku," Zico memeluk Nisha erat-erat. Sikap mesra mereka sedikit membuat risih orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Nduk, awakmu sesok wis
bakal dadhi bojone wong. Awakmu kudu ngerubah watakmu. Awakmu kudu manut dek
bojomu. Ojo ngeyelan. Bojomo ngomong opo ae kudu mbok turuti, ngerti ora?
(Nduk, Kamu besok sudah jadi istri orang. Kamu harus merubah sifat-sifatmu. Kamu harus patuh sama suamimu. Jangan suka membantah. Suamimu ngomong apapun harus Kamu turuti, mengerti?)
"Enggeh Bu." (Iya Bu)
"Bu, dia suka bantah omongan Saya. Dia tidak pernah menuruti Saya. Malah sebaliknya, Saya yang diharuskan untuk menuruti dia Bu. Tolong kasih dia nasihat juga Bu." Zico
mengadu sembari menunjuk istrinya. Nisha mencubit perut Zico keras-keras.
"Auww, ampun sayang."
"Jangan ngaduan."
"Nduk, awakmu pisan. Awakmu
kudu jaga perasaan bojomu. Duwe bojo kudu di openi, di sayang-sayang. Ojok
malah bojone di dadhikno mbabu seng mbok kongkon mrena-mrene gelem. Opo maneh
saiki bojomu gantikno awakmu ngidam. Awakmu kudu luweh perhatian ning bojomu,
paham?!"(Nduk, Kamu juga. Kamu harus menjaga perasaan suamimu. Punya suami
itu harus diurus, disayang-sayang. Kok malah suamimu Kamu jadikan sebagai pembantu, yang Kamu suruh kesana-kemari mau. Apalagi sekarang suamimu menggantikanmu ngidam. Kamu harus lebih perhatian sama suamimu, paham?!)
Bu Rusmi memberi nasihat dengan suara yang tegas. Nisha hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan patuh. Zico tersenyum penuh kemenangan.
"Ehem, sepertinya sudah malam. Saatnya Kita beristirahat. Besok pagi Kita akan melalui hari yang panjang." Bu Rusmi menyudahi percakapan malam itu.
"Mihh, Zoey tidul baleng Mommih," Zoey beranjak dari pangkuan Akbar dan berlari ke Nisha.
Bu Rusmi segera mengambil Zoey dan menggendongnya.
"Zoey tidur sama Uti saja. Tiap malam kan tidurnya juga sama Uti."
"Nggak, nggak. Zoey tidul sama
Mommih. Daddy dateng, nanti Daddy ambil Mommih." Zoey bersikeras.
"Hahaha," Orang-orang di rumah tertawa bersamaan. Zico mengambil Zoey dari gendongan bu Rusmi.
"Ya, Zoey tidur sama Mommy dan Daddy, oke?"
"Yeah."
"Zoey nggak kangen Daddy?" Zico bertanya.
"Nggak tuh."
"Beneran gak kangen?"
"Nggak!"
"Ibu dan anak sama saja." keluh Zico dan kembali membuat tertawa orang-orang di sekitarnya.
Malam itu Zoey tidur bersama Nisha dan Zico. Nisha tidur di tengah-tengah mereka. Zico tidur memeluk Nisha dengan erat.
"Sayang, Aku kangen."
"Baru tiga hari nggak ketemu, sudah kangen?"
"Ya, kangen tiap hari. Ini bukti kangenku." Zico menempelkan tubuhnya yang mengeras di bok*ng Nisha yang mencubit lengan Zico dengan keras.
"Aauww! Sakit."
"Biarin. Mesumnya kok nggak hilang-hilang sih?"
"Jangan salahkan dia. Setiap kali melihatmu dia selalu terbangun dan tegang. Kamu harus bertanggung jawab sayang," Zico mulai mengendus-ngendus leher Nisha dan menjilati
telinganya.
"Jangan macam-macam, ada Zoey di sebelah Kita."
"Iya, huft," Zico menghela napas dalam-dalam. Nafsunya sudah berada di ubun-ubun namun sayangnya tidak bisa di salurkan.
"Sayang, beneran sayang nggak mau melakukan resepsi?"
"Iya, untuk apa?"
"Beneran nggak bakal menyesal? Sayang nggak iri melihat Alma menikah?"
"Ngapain iri sih. Kamu itu aneh. Sudah ada Kamu, Zoey dan calon bayi Kita, untuk apa iri?? Asalkan ada kalian semua, mau hidup seperti apapun Aku akan bahagia sayang." Nisha
mengecup bibir suaminya. "Ayo tidur."
"Hemm..." Nisha tidur memeluk Zoey, sementara Zico memeluk keduanya.
***
Malam itu Alma tidak bisa tidur. Pikirannya melayang kemana-mana. Dia memikirkan Daniel. Bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Daniel sekarang? Apa yang dipikirkan Daniel? Besok adalah hari penting mereka. Mereka akan terikat dalam ikatan pernikahan. Apakah Daniel
menyesal? Apakah Daniel marah? Pasti Daniel kesal karena harus menikah dengannya. Laki-laki sesempurna Daniel pasti akan mendapatkan wanita yang jauh di atasnya dalam hal apapun. Bagaimana kalau tiba-tiba saja Daniel membatalkan pernikahan ini? Bagaimana bila Daniel tidak datang di pernikahan mereka besok?
Apa yang harus dilakukannya?
Bila hal itu benar-benar terjadi, Alma sudah tidak mampu hidup lagi. Balutan rasa malu dan terluka akan memenuhi dirinya. Alma bergidik memikirkan kemungkinan itu. Alma berharap besok akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.
***
Tito menatap atasannya dengan perasaan sedih. Daniel sedang mabuk-mabukkan sekarang. Mungkin itu adalah ungkapan kekecewaan dia akan kehidupan yang tidak berjalan sesuai rencananya.
"Hahaha, Ti-to...Be-sok Aku
a-kan me-nikah. ME-NI-KAH!! hahaha!! Uhuhuhu," Emosi Daniel berubah-ubah, dari tawa menjadi tangis, tangis menjadi tawa begitu seterusnya.
Tito menatap Daniel dengan prihatin. Gelombang perasaan bersalah menghantuinya.
Meskipun kedatangan orang tua Daniel pada malam itu bukan karena laporan dari dirinya, tapi
Tito merasa bersalah karena membiarkan Alma dan Daniel pulang berdua malam itu. Kalau dia tahu bosnya akan semenderita ini karena harus menikah dengan Alma, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur,
takdir yag sudah digariskan tidak bisa di ubah lagi.
"Tito... Bagaimana Aku a-kan me-nikahi wa-nita yang su-dah Ku ang-gap sebagai A-DIK sendiri?!
Bagai-mana Aku me-nikahi adik dari wanita yang Ku cintai?! Apa-kah Kamu bisa membayangkan perasaanku? De-ngan me-nikahi Al-ma, Aku akan se-ring bertemu dengan-nya. Hatiku sakit setiap kali melihatnya, sakiiitt
sekali, uhuhuuu," Daniel kembali menangis.
"Hati-ku sangat panas. Mem-bayangkan dia bersama laki-laki ******** itu!! Hatiku terbakar!! Sampai kapan perasaan ini akan ada!! Kapan perasaan ini akan hilang? Jawab Aku Tito!!"
"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak ingin melihat senyum bahagianya. Mungkin Kamu pikir Aku adalah laki-laki picik dan egois. Tapi hatiku benar-benar sakit. Aku tidak rela
dia bahagia bersama laki-laki itu!! Huuuuu," Daniel memukul-mukul dadanya. Menunjukkan rasa sakitnya. Ketika dia akan mengambil botol minuman lagi, Tito segera menjauhkan botol itu dari jangkaun tangannya.
"Cukup Tuan. Besok Anda akan menikah. Sebaiknya Anda tidur sekarang." Tito bergerak ke sebelah Daniel dan mulai memapah laki-laki itu menuju kamarnya. Tito membaringkan Daniel di
ranjang. Malam ini dia mendapat tugas untuk menjaga Daniel sampai besok pagi karena orang tuanya khawatir anak laki-lakinya itu akan kabur dari pernikahannya besok. Semoga esok kan baik-baik saja, itu harapan Tito.
***
Happy Reading 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Nindi Silvana
udahlah Daniel terima aja takdirmu, Nisha emng bukan ditakdirkan untuk kamu tapi untuk ZICO😍😍
2024-06-21
0
Supartini
ya gimana ya daniel semua sudah terjadi jalani dng ikhlas aja
2023-10-08
0
A Yes
tuuuh kan, ngerinya pas tahu dibohongi dan kaya dijebak Daniel berubah ke Daris ckckckck
2023-04-13
0