Mereka pergi ke ruang makan. Ruangan itu sangat luas. Hampir keseluruhan tempat itu dipenuhi dengan ornamen berwarna emas. Ini sangat sesuai dengan karakter ibunya, yang sangat menyukai kemewahan.
Di ruang makan tampak ayah, kakak, dan kakak ipar sudah menunggu. Daniel mendekati ayahnya dan memeluknya.
"Papa, bagaimana kabarnya? Apa pinggang Papa tetap encok?" Daniel berbisik usil.
"Dasar anak nakal! Kalau tidak disuruh kemari, tidak datang menjenguk orang tuanya!" Papa memukul punggung Daniel.
"Papa tidak butuh Aku. Yang Papa butuhkan hanya Nyonya cantik itu." Daniel mengerling pada ibunya yang juga membalasnya dengan senyum lebar.
"Dasar anak nakal. Kelakuanmu tidak berubah. Ayo duduk, sudah lama Kita tidak berkumpul seperti ini." Daniel mendekati kakaknya dan memeluknya.
"My brother, bagaimana kabarmu dan kakak ipar?"
"Ya, Kabar Kami tetap sama." Dareen membalas pelukan Daniel dengan kaku. Ya, perbedaan umur mereka cukup jauh. Usia Daniel dan Dareen terpaut tujuh tahun. Karena Dareen merupakan pewaris utama perusahaan keluarga, sifat Dareen menjadi lebih kaku dan serius di bandingkan Daniel.
"Ayo duduk semua. Sudah lama keluarga Kita tidak berkumpul seperti ini. Sayangnya Mommy, duduk disini. Duduk disebelah Mommy." Nyonya Katherine menarik kursi di sebelahnya.
"Kate, jangan manjakan dia. Dia sudah dewasa."
"Bagiku, dia tetap bayi manisku. Sini my little baby, duduk di sebelah Mommy." Nyonya Kate tak mengindahkan teguran suaminya. Daniel menuruti perintah Kate. Dia duduk di samping ibunya.
Selama jamuan makan, Kate tak henti-hentinya memanjakan Daniel. Mengambilkan makan dan minum. Dia melupakan suaminya yang juga butuh untuk dilayani. Papa Edwin menatap dengan cemburu.
Pertemuan pertama Papa Edwin dan Mommy Katherine terjadi di Inggris. Mereka bertemu ketika Papa Edwin sedang menempuh pendidikan S2-nya di Inggris. Bermula dari sekedar menjadi teman satu kampus, akhirnya mereka menjadi dekat dan berlanjut ke hubungan yang lebih serius.
Edwin membawa Kate ke Indonesia. Awal mulanya hubungan mereka mendapat tentangan sangat keras dari keluarga Edwin yang masih tradisional. Bagi keluarga besar, pantang hukumnya untuk membiarkan orang berkebangsaan lain masuk ke dalam keluarga besar mereka. Ya, Katherine merupakan perempuan berkebangsaan Inggris.
Setelah melalui drama yang panjang, akhirnya keluarga besar menerima hubungan mereka dengan syarat Kate mau memeluk agama yang mereka anut. Kate setuju. Mereka menikah dan dikaruniai dua anak laki-laki yaitu Dareen dan Daniel. Dareen sudah menikah sementara Daniel belum.
"Ehem, bagaimana kabarmu Dan?"
"Seperti yang Papa lihat, Aku baik-baik saja."
"Bagaimana perusahaan?"
"Jangan menanyakan perusahaan padaku Pa. Tentu Papa sudah mendapat laporannya dari Kakak."
"Ya, Kamu tahu Papa hanya basa-basi." Papa Edwin tersenyum lebar. "Kapan Kamu bawa pacarmu kemari? Atau jangan-jangan Kamu masih mengejar wanita yang sama?"
"Uhuk!! Ba-bagaimana Papa tahu?"
"Semua orang di rumah ini tahu. Dasar pria bodoh! Kapan Kamu membawanya kemari?"
"Be-belum tahu Pa..." Daniel masih tersedak. Dia tidak menyangka keluarga besar akan mengetahui kelakuannya di luaran.
"Bawa dia kemari Darling. Mommy juga ingin mengenalnya. Mommy ingin tahu wanita seperti apa yang membuat anak Mommy yang playboy jadi seperti ini."
"Iy-ya Mom. Kapan-kapan akan Aku bawa kemari."
"Jangan lama-lama. Kamu tahu kakakmu. Dia sudah tujuh tahun menikah, tapi masih belum mendapatkan keturunan. Papa harap Kamu bisa segera memberi Papa cucu. Pikirkan juga nasib perusahaan bila belum ada penerus kecil di keluarga Kita, akhh!" Kate menyikut tulang rusuk suaminya. "Apa-apaan Kate!"
"Sudah diam. Ini momen yang sangat jarang terjadi. Keluarga Kita berkumpul lengkap. Jangan menodai pertemuan ini dengan perkataan seperti itu." Kate menyela.
"Belum lengkap kalau belum ada cucu di keluarga Kita!" Papa Edwin mengomel. Daniel tidak berani memandang wajah Dareen dan kakak ipar. Dia yakin kakak dan istrinya akan sangat tersinggung dengan ucapan ayahnya.
Sudah tujuh tahuh mereka menikah, tapi mereka belum memiliki anak. Berbagai cara telah dilakukan. Dari program bayi tabung, konsumsi obat kesuburan, inseminasi buatan, suntik hormon, pola hidup sehat, bahkan akupuntur. Timbul ide untuk melakukan donor sel telur, namun Dareen tidak menyetujuinya. Dia ingin sel telur langsung dari istrinya, bukan dari wanita lain.
Ketidakberhasilan mereka dalam menghasilkan keturunan membuat kecewa keluarga besar terutama Papa Edwin. Beliau menginginkan segera ada pewaris, sehingga selalu mendorong Dareen untuk segera mendapat keturunan. Mungkin kali ini beliau sudah lelah melihat usaha Dareen yang tak kunjung berhasil, sehingga sasaran selanjutnya adalah Daniel.
"Jangan khawatir Pa. Papa pasti akan segera mendapat cucu, Aku yakin itu..."
"Iya, Papa harap Kamu segera memberi Papa cucu. Cepat bawa wanita itu kesini. Akan Papa nikahkan kalian segera! Apa perlu Papa yang membawanya kemari?!"
"Uhuk!!" Daniel kembali tersedak. "Ti-tidak perlu Pa. Aku pasti akan membawanya kesini. Papa santai-santai saja disini. Orang yang sudah tua dan pensiun harusnya bersantai-santai. Papa cukup menjaga kolesterol Papa agar tidak naik dan encok tidak kumat. Urusan yang lain akan Aku selesaikan sendiri..."
"Dasar anak nakal!! Kamu pikir Papa sudah tua?! Sembarangan!" Papa Edwin memukul punggung Daniel dengan keras.
"Aauuuwww, hahaha!!" Daniel mengaduh. Papa Edwin dan Mommy Kate tertawa keras. Sementara Dareen dan istrinya melihat mereka dengan hampa.
Hari itu Daniel menghabiskan waktu bersama keluarga. Menjelang sore hari Dareen dan istrinya pamit pulang. Daniel melakukan hal yang sama, namun segera ditahan oleh Papa dan Mommynya. Pada akhirnya Daniel tinggal di villa itu lebih lama. Orangtuanya selalu menyibukkannya dengan segala aktivitas. Mommy Kate meminta Daniel untuk menemani belanja, nyalon, dan memamerkan Daniel pada teman-teman sosialitanya. Papa Edwin mengajak Daniel berkuda, memancing, bermain golf dan lain-sebagainya. Kegiatan Daniel yang padat sedikit banyak membuat Daniel melupakan Nisha dan Zoey. Tujuh hari sudah berlalu tanpa terasa.
Daniel memohon pamit kemudian dia kembali berkutat pada pekerjaan yang ditinggalkannya selama seminggu. Kesibukannya sangat luar biasa. Hampir setiap hari Daniel lembur. Tidak jarang dalam waktu sehari dia mengunjungi dua sampai tiga negara untuk melakukan kesepakatan bisnis.
Tanpa Daniel sadari, sudah dua minggu dia tidak menghubungi Nisha dan Zoey. Biasanya meskipun dia jarang bertemu dengan mereka, dia akan tetap menghubungi mereka. Timbul niatan dalam hati Daniel untuk memberikan kejutan. Dia akan ke Surabaya tanpa sepengetahuan mereka.
Keluarganya sudah tahu mengenai Nisha. Keluarga memintanya agar membawa Nisha bersamanya. Dia harus berbicara serius dengan wanita itu. Apa dia harus melamar Nisha? Mungkin dengan melakukan hal itu Nisha akan yakin bahwa perasaannya benar-benar tulus dan dia serius dengan Nisha? Tapi bagaimana kalau lamarannya di tolak? Apa yang akan dilakukannya selanjutnya?
Hah, ini benar-benar dilema baginya. Di satu sisi keluarga menuntutnya untuk membawa pasangan yang ingin dinikahinya. Di sisi lain dia tidak yakin wanita yang ingin dinikahinya mau menerima lamarannya. Apa yang harus dilakukannya?
Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Daniel memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Untuk memastikan perasaan Nisha terhadapnya.
***
Hai readers sayang 🥰
Semoga masih setia menunggu novel ini update ya 🤗
^ErKa^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Sweet Girl
Waduh waduh.... Ndak safek Niel....???
2024-12-07
1
Borahe 🍉🧡
anak bungsu kesayangan
2023-11-28
1
Supartini
dan jawabannya di tolak kasian daniel
2023-10-07
0