"Maksudnya Nak?"
"Status Alma sekarang masih
kuliah Bu. Akan sangat disayangkan kalau dia tidak melanjutkan kuliahnya. Demi
kenyamanannya, Saya menyarankan agar Alma tetap tinggal di sini. Mungkin
seminggu sekali Saya akan berkunjung kesini,"
"Tidak! Aku ikut Kakak ke
Jakarta saja." Alma tiba-tiba menyahut. Pikiran akan jauh dari Daniel membuatnya sangat gelisah. Dia takut Daniel akan meninggalkannya.
"Little, Kamu masih kuliah. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu,"
"Jangan panggil 'little-little' lagi. Aku sudah besar. Aku akan melanjutkan kuliah di Jakarta!" Alma tetap ngeyel.
"Kalau Kamu ikut ke Jakarta, bagaimana dengan Ibu?"
"Ibu bisa ikut ke Jakarta juga. Akbar juga." Alma tetap keras kepala. Bu Rusmi tersenyum maklum
melihatnya. Bu Rusmi tahu anaknya menyukai Daniel dari kecil, jadi wajar saja kalau anak itu bersikeras untuk mengikuti kemana pun Daniel pergi, apalagi Daniel sekarang sudah menjadi suaminya.
"Begini Nak Daniel. Sekarang kalian sudah berkeluarga. Tidak baik bagi pasangan suami istri yang baru menikah hidup berjauh-jauhan. Ibu sudah menikahkan Alma denganmu. Ibu
sudah melepas tanggung jawab Ibu terhadapnya. Sekarang Alma menjadi tanggung
jawabmu. Baiknya kalian hidup bersama saja. Biarkan Alma ikut bersamamu ke
Jakarta. Masalah kuliah kan bisa dilanjutkan di sana? Untuk Ibu, Ibu akan tetap di sini saja. Akbar juga pasti tidak akan mau ikut pindah ke Jakarta. Dia tidak akan mau berpisah dengan teman-teman motornya. Itu pendapat Ibu Nak."
Daniel terdiam mendengar penjelasan Bu Rusmi. Kata-kata Bu Rusmi memang benar, tapi dia tidak puas. Membayangkan akan hidup dengan Alma seterusnya membuat perasaannya terbebani.
Bagaimana dia harus bersikap ke depannya? Bagaimana dia akan memperlakukan
Alma? Mereka pasti akan hidup dalam kekikukan. Tapi meskipun hatinya keberatan, mau tidak mau Daniel tetap harus menerima keputusan itu. Dia suami Alma sekarang, dia harus bertanggung jawab terhadap gadis itu.
"Baiklah Bu, bila memang itu keputusan Ibu, Saya akan segera membawa Alma bersama Saya. Mengenai dokumen-dokumen, akan ada orang yang kesini untuk mengurusnya."
"Iya Nak."
"Kami harus pergi hari ini Bu. Ada pekerjaan yang harus Saya selesaikan."
"Iya Nak. Kalau begitu, Ibu akan bantu Alma untuk berkemas."
Selama hampir satu jam Alma mengemasi barang-barangnya. Hatinya berbunga-bunga begitu mengetahui Daniel mengijinkannya untuk ikut bersamanya.
Sore itu mereka terbang ke Jakarta. Daniel membawa Alma ke apartemennya yang baru. Sebenarnya Mommy Kate sudah menghadiahi mereka hunian mewah di lingkungan elit, tapi Daniel tidak mau menerimanya. Dia tetap menggunakan apartemennya.
Sesampainya di apartemen, Daniel segera meletakkan barang-barang Alma di kamar ganti dan menunjukkan pada Alma sebuah kamar.
"Al, ini kamarmu. Kamu bisa meletakkan barang-barangmu disini." Daniel membuka pintu sebuah kamar. Alma melongokkan kepalanya. Dia menatap sekeliling.
Kamar itu terasa kosong, meskipun banyak perabot di dalamnya. Terlihat bahwa kamar itu tidak pernah di huni seseorang.
"Aku tidur di sini Kak?"
"Iya. Aku tidur di kamar sebelah." Daniel menunjuk kamar lain, tepat di sebelah kamar Alma.
Alma menelan ludah dengan pahit. Dari awal dia tahu Daniel akan menolaknya. Tapi dia sedikit terkejut mengetahui kenyataan Daniel tidak ingin sekamar dengannya.
"Ba-baik Kak. Kalau begitu Aku mau istirahat dulu Kak," Alma buru-buru masuk ke dalam kamar dan
menutup pintu tepat di depan Daniel. Dia tidak ingin Daniel melihat airmatanya.
Alma menghempaskan dirinya di
ranjang. Dia membenamkan wajahnya di bantal kuat-kuat dan mulai menangis. Tidak
apa-apa kan dia menangis? Dia tidak bisa selalu kuat, dia juga butuh menangis.
Tapi dia tidak ingin Daniel melihat airmatanya. Dia ingin Daniel melihatnya sebagai wanita yang ceria. Dia sudah berjanji akan membuat Daniel mencintainya. Sikap penolakan Daniel yang seperti ini tidak akan membuatnya sakit hati. Tapi
sesekali dia menangis tidak apa-apa kan? Perasaan Alma bergejolak.
Ting...Ting... (bunyi notif pesan masuk)
Alma mengambil ponsel dan melihat pesan yang masuk. Ternyata dari Daniel.
*Al, Aku akan keluar sebentar. Ada pekerjaan yang harus Aku urus.
*Akan ada ART yang datang, jika Kamu lapar minta saja dibuatkan makan.
Alma menghempaskan ponselnya dengan kesal. Selalu saja alasan yang sama. Apa malam ini Daniel akan mabuk lagi? Sampai kapan laki-laki itu akan melakukan rutinitas yang sama? Hah...
Selama beberapa hari selanjutnya, Alma jarang bertemu dengan Daniel. Setiap harinya dia hanya berdua dengan ART yang dipilih Daniel. Pria itu jarang pulang ke rumah. Alma berusaha
menghubunginya, tapi alasan Daniel selalu sama. Ada pekerjaan yang harus di urus!
Alma mulai tidak sabar. Dia sangat merindukan pria itu. Dia ingin melihat wajah Daniel. Timbul niat dalam hati Alma untuk datang ke perusahaan suaminya itu.
Alma tahu Daniel sangat kaya. Hanya dengan mengetik nama Grup H, semua hal tentang grup itu akan muncul di laman gugel. Grup H memiliki ratusan anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Tapi Alma tahu gedung yang hanya di huni oleh para petinggi grup itu.
Alma menyiapkan makan siang. Daniel menyukai makanan oriental, jadi menu siang itu adalah makanan Jepang.
"Nona, biar Saya saja yang masak,"
"Tidak perlu. Aku ingin dia makan masakanku."
Alma memasak sushi, ebi furai, karaage, salad sayur dan jus jeruk. Dia menyiapkan semuanya dengan hati yang riang. Dia berharap Daniel akan senang melihatnya datang dengan membawa
makanan.
Alma mencari alamat gedung pusat di browser. Kemudian dia memulai memesan taksi online.
"Nona, Tuan tidak akan suka melihat Anda keluar dengan taksi. Ijinkan Saya untuk menelepon supir
pribadi,"
"Tidak perlu Bi. Kalau pakai supir pribadi, bukan surprise lagi dong."
"Tapi nanti Tuan akan marah,"
"Dia tidak akan marah."
"Tapi Nona,"
Alma tidak menghiraukan suara pengurus rumah lagi. Dia buru-buru keluar dari apartemen dan masuk ke dalam taksi online. Setelah hampir empat puluh menit akhirnya taksi berhenti di depan sebuah gedung megah. Alma menatap gedung itu dengan takjub. Dia merasa semakin
rendah diri. Merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan
Daniel.
Dia hanya wanita biasa, yang menikahi Tuan Muda super kaya. Betapa tidak tahu diri. Seharusnya Daniel bisa mendapatkan wanita yang setara dengannya, tapi karena dirinya yang egois dan
tidak tahu malu, laki-laki itu harus menikah dengannya. Alma merasa malu dengan
dirinya sendiri.
Tapi dia mencintai Daniel dengan
tulus. Andaikan Daniel menjadi pria miskin pun dia akan tetap mencintainya. Bukankah cintanya sudah cukup untuk membuatnya berada di sisi Daniel? Atau belum kah?
Alma bingung harus masuk ke dalam gedung itu atau tidak. Kemudian dia menatap masakannya. Pada akhirnya dia mengumpulkan kepercayaan dirinya dan masuk ke dalam gedung.
Alma mengambil ponsel dan menelepon Daniel, tapi pria itu tidak mengangkatnya. Alma akhirnya memutuskan untuk bertanya pada resepsionis.
"Selamat siang Ibu, ada yang bisa Saya bantu?"
"Ehm, Saya mau bertemu dengan Kak Daniel,"
"Kak Daniel? Mohon maaf, bisa lebih spesifik Bu? Dari divisi mana? Atau jabatannya apa?"
Resepsionis bertanya dengan sabar.
"Emm, Kak Daniel Vieri Nathaniel. Dari divisi apa ya? Lupa juga Kak,"
"Pak Daniel, wakil direktur maksudnya Bu?"
"Iya Kak,"
"Apa Ibu sudah membuat janji?"
"Belum. Saya sengaja datang untuk membuat kejutan."
"Mohon maaf Bu, Ibu tidak bisa menemui wakil direktur Kami sebelum membuat janji."
"Janji? Janji gimana maksudnya ya?"
"Anda bisa langsung confirm ke sekretaris beliau, nanti sekretaris yang akan menentukan Pak Daniel bisa menemui Anda atau tidak."
"Kok rumit sekali prosesnya Kak? Kak Daniel sudah empat hari tidak pulang Kak. Saya kangen, ingin bertemu." Alma berkata dengan polos. Resepsionis menatap Alma dengan pandangan aneh. Seolah-olah berpikir bahwa Alma adalah gadis aneh yang datang untuk mengacau.
"Beneran tidak bisa ketemu Kak? Padahal Saya sudah bawa makanan,"
"Iya mohon maaf belum bisa bertemu Bu,"
"Ohh, itu Kak Daniel. Kak!! Kak!! Ini Aku, Alma! Kak Daniel!!"
***
Happy Reading ^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
ThaRoe🍌🍆🌀
tetap sesak bacanya thor🤧
2025-01-11
1
Nindi Silvana
yaampun Alma sedihh bgt loh kamu😭
2024-06-25
0
Isni Alfatih Rahman
sedih aku lihat kamu Alma 😢😢😢 baca yg kesekian kalinya nih thor
2024-02-10
2