Pagi-pagi Renata seperti biasa sudah bangun untuk masak sarapan pagi mereka. Angel yang tidak biasanya bangun pun sekarang ikutan bangun dan di dapur bersama Renata.
"Sejak kapan kamu sama Liam pacaran?" tanya Angel masih penasaran.
"Hmmm... Emangnya kenapa?" tanya Renata balik.
"Nggak, kalian kan baru kenal, dan lagian lo bukannya nggak suka sama Liam?" ucap Angel masih sulit percaya.
"Siapa bilang kita baru kenalan, sebelum Liam pindah kesini juga gue udah kenal sama dia," ucap Renata masih terus dengan kegiatan memasaknya. "Ini masak juga buat dia, dia mintak di bikinin sarapan," ucap Renata seraya menunjukkan nasi goreng yang sedang di masaknya.
"Lo ya, Re. Tampang aja yang lugu, tapi juga pinter godain cowok, kayak *****, tau nggak?" rutuk Angel yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi.
"Apa lo bilang?" tanya Renata balik dengan sorot mata tajam. Tangan kanannya masih memegang spatula panas. "Jangan sampe spatula panas ini gue jejel ke mulut lo, ya!" ucap Renata mulai naik darah. Angel langsung ciut, dia pun bergegas pergi.
"Gue mau siap-siap pergi kerja lagi." Angel segera pergi meninggalkan Renata yang tampak marah itu. Saat bersamaan ada Liam yang baru datang, Liam yang tidak tau apa yang terjadi tampak cuek, dia hanya melihat sekilas kepergian Angel, lalu langsung menemui Renata yang sedang masak itu.
"Mana baju gue? Gue mau pakek," ucap Liam pada Renata.
Renata pun segera mematikan api kompornya dan segera ke kamarnya untuk mengambil pakaian Liam yang sudah di setrikanya. Itu lah kesepakatan nya bersama Liam untuk membayar hutangnya pada Liam. Dia segera kembali dengan setumpuk pakaian Liam yang sudah rapi. Tanpa mereka sadari Robert yang baru datang.
"Bener-bener pasangan suami istri yang harmonis ya kalian berdua," ledek Robert, Liam hanya tersenyum usil mendengarnya. Sedangkan Renata tampak cuek dan tidak peduli.
"Mana duit belanjaan? yang kemarin udah habis!" seru Renata menagih dengan menampung tangan kanannya.
"Waahhh... Pakek duit belanja lagi, ck, ck, ck... " ucap Robert berdecak tidak percaya.
"Iya, tinggal gue kasih nafkah batin aja lagi ntar malam," ucap Liam menatap Renata dengan senyum seraya menaikan alisnya, membuat Renata melotot kesal.
"Udah ya, tadi udah Angel yang ngajak gue ribut, jangan sampe kalian berdua juga," seru Renata seraya mengacungkan spatula nya, ia mulai tidak tahan dengan kelakuan penghuni kosan ini. Liam dan Robert terkekeh seraya pergi meninggalkan Renata yang masih tampak kesal itu.
***
Siang itu Liam cek lapangan di rumah mewah yang menjadi proyeknya, setelah selesai ia pun pergi. Tiba-tiba dia mendapatkan telpon dari Laura.
"Li, kita ketemuan, ya. Aku mau ngomong sama kamu," ucap Laura.
"Jam makan siang aja," jawab Liam yang langsung mematikan telponnya dan langsung kembali fokus dengan pekerjaannya yang tengah membahas tentang proyeknya itu yang sedang ia kerjakan bersama mandor.
***
Siangnya Liam pun menemui Laura di tempat yang di janjikan. Tampak Laura sudah menunggunya di sana. Liam pun segera menghampirinya di sambut senyum dan ciuman cipika-cipiki oleh Laura pada Liam. Liam entah mengapa merasa canggung melakukan itu. Entah lah, mungkin perasaan nya mungkin berlahan memudar pada Laura. Dia juga tidak begitu antusias dengan pertemuan mereka ini. Walau Liam tahu, mungkin saja Laura akan membujuknya seperti biasa setelah perselingkuhannya. Biasanya Liam dengan mudah akan menerimanya, tapi entah lah untuk kali ini rasanya sudah tidaka ada lagi.
"Li, kita balikan lagi, ya. Aku janji akan ninggalin Gio. Awalnya aku pikir, aku benar-benar jatuh cinta sama dia, tapi setelah sama dia, aku malah terus kangen sama kamu. Li, aku nggak bisa kehilangan kamu. Kamu tinggalin cewek itu, ya. Dan kita balik kayak dulu lagi, aku bersumpah nggak akan selingkuh lagi. Li, aku benar-benar sayang sama kamu," ucap Laura meyakinkan Liam, dan mencoba untuk memeluk Liam yang segera di tolak Liam. Itu membuat Laura kaget. Tidak biasa nya Liam begitu.
"Maaf Laura. Kayaknya kali ini kita benar-benar harus putus dan nggak balikan lagi. Aku rasa selama ini kita cuman terjebak di zona nyaman kita. Kita nggak bisa jalanin hubungan kayak gini terus. Maaf, Laura. Aku nggak bisa," ucap Liam. Membuat Laura kaget.
"Li, aku janji, ini terakhir kalinya. Aku akan ninggalin semua yang kamu nggak suka. Aku nggak akan keluyuran malam lagi, nggak akan selingkuhin kamu lagi, aku nggak akan ambil job kalo kamu nggak suka. Aku akan berusaha jadi kayak yang kamu mau, Li," bujuk Laura dengan linangan air mata. Liam tidak tega, tapi ia harus tegas kali ini. Atau dia sekali lagi akan masuk di lingkaran yang sama, yang tidak ada ujungnya.
"Maaf Laura," ucap Liam lirih.
"Li, jangan kayak gini," ucap Laura yang juga lirih dengan linangan air mata.
Yang sontak membuat mereka menjadi pusat perhatian. Sebelum semua benar-benar kacau, Liam pun segera beranjak pergi, Laura melepas Liam dengan isak tangisnya yang kali ini tidak mampu meruntuhkan hati Liam.
Mungkin ini lah titik lelah Liam memahami Laura, berkali-kali ia lakukan, Liam masih diam. Tapi kali ini dia tidak bisa lagi.
***
Liam segera pulang, Renata melihat Liam pulang dan langsung menuju kamarnya tanpa sepatah katapun. Tidak biasanya Liam seperti itu, biasanya dia selalu menyapa orang-orang saat pulang. Renata entah kenapa jadi penasaran, ia pun pergi menyusul Liam ke kamarnya yang kebetulan terbuka.
"Tumben pulang siang!" sapa Laura.
"Lagi capek aja," ucap Liam singkat seraya membuka sepatunya dan membuangnya begitu saja.
"Aku udah masak, makan aja gi," ucap Renata pada Liam yang tengah terbaring di ranjangnya itu.
"Nanti aja, aku mau tidur sebentar dulu," ucap Liam seraya memejamkan matanya. Renata pun beranjak pergi meninggalkan Liam yang tengah terbaring dan memejamkan matanya itu.
***
Setelah agak sore, Liam pun terbangun, dia melihat ke luar jendela yang mulai terlihat senja jingga kemuning di luar sana. Liam berdiri kearah jendelanya sesaat dan setelahnya menutup hordeng jendela nya itu dan kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Pikirannya masih tidak menentu. Dia melihat layar ponsel nya ada banyak pesan masuk dari Laura. Dia tidak membukanya, hanya melihat sekilas lalu kembali melempar handphone nya ke sampingnya seraya mengusap wajahnya.
Sesaat dia berfikir kembali tentang keputusannya tadi siang, apa dia bisa menjauhi dan melupakan Laura yang telah menemaninya bertahun-tahun itu.
"Lihat nanti saja lah. Aku benar-benar sudah lelah dengan hubungan kita Laura," gumam Liam lirih seorang diri. Dia mencoba memejamkan matanya sesaat dan membukanya berlahan.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments