Sejak malam itu Frans dan Anin berjanji akan memulai dari awal lagi hubungan mereka. Kebahagian yang selama ini sebenarnya hanya kepalsuan belaka, hanya demi Tera yang mengalami gangguan depresi agar tidak tertekan dengan pertengkaran mereka beberapa waktu lalu.
Sejak saat itu lah keluarga Liam tampak bahagia, tapi kebahagian mereka kembali hancur setelah teman selingkuh ayah Liam kembali hadir di tengah mereka dengan skandal vidio syur mereka, yang membuat gangguan depresi Tera memburuk dan akhirnya bunuh diri.
"Aku sudah menghindarinya, Anin. Tapi dia tetap bersikukuh untuk bertahan. Aku mencintaimu, Anin. Aku hanya sedang gila dengan mengundang dia diantara kita. Tidak aku sangka itu pula yang membuat aku seolah telah membunuh Tera. Aku menyesal. Semua berantakan dan hancur. Maafkan aku ... Maaf kan aku...." ungkap Frans penuh penyesalan, Anin pun memeluk suaminya itu. Dia tidak dapat pungkuri bahwa dia juga sangat mencintai suaminya.
"Sudah lah, Frans. Yang sudah ya sudah, asal kau berjanji tidak mengulanginya lagi. Aku mau memulainya dari nol lagi bersamamu," ungkap Anin di pelukan Frans, yang sontak membuat Frans semakin mempererat pelukannya.
***
1 minggu telah berlalu, mereka mencoba untuk menata hidup mereka lagi di tengah cemoohan dan gonjang-ganjing sana sini pasca skandal dan kematian Tera dan skandal Frans. Liam masih berat untuk memulai sekolahnya lagi, dia masih belum siap dengan semua nya. Tapi dia harus ke sekolahnya untuk menghadapi ujian akhirnya di sekolahnya. Karena sebentar lagi Liam akan masuk ke jenjang perkuliahan, jadi mau tidak mau dia harus ke sekolah nya sekarang.
Di sekolah Liam masih mendapati simpati, tidak ada yang berani secara gamblang menggunjing Liam, karena teman-teman Liam sudah mengingatkan teman-temanya yang lain untuk tidak macam-macam. Jadi selama di sekolah Liam di lindungi oleh para sahabatnya itu.
"Jika Liam datang, pastikan mulut kalian diam. Atau kalian akan menjadi bagian dari sejarah di sekolah ini. Ingat itu!" ancam sahabat-sahabat Liam dengan bahasa Jerman. Mereka takut apa yang terjadi pada Tera akan terjadi juga pada Liam sahabat mereka. Mereka takut Liam akan depresi dan bunuh diri seperti Tera kakaknya, yang bunuh diri karena tidak tahan dengan cemoohan teman-teman kampusnya.
Liam termasuk primadona di sekolahnya, karena selain tampan, pintar, Liam juga punya banyak bakat, terutama di dunia desain. Liam sama seperti ayahnya. Berbakat di dunia arsitektur. Liam juga di kenal Humble dan tidak sombong, jadi wajar jika dia di sukai banyak orang dan memiliki sahabat yang peduli pula.
"Are you fine?!" tanya salah satu temannya itu. Liam mengangguk pelan. Karena memang sepanjang jam pelajaran Liam hanya diam, tidak seperti biasanya, biasanya Liam ceria dan gampang tersenyum. Tapi sekarang Liam terlihat murung dan tatapannya pun tampak kosong.
Teman-teman Liam memang menggunakan bahasa Inggris dengannya, karena Liam yang tidak begitu fasih berbahasa Jerman. Liam hanya baru beberapa tahun ini di Jerman.
***
Di sisi lain tampak Renata yang baru pulang dari mengantar pesanan bersama neneknya. Renata yang sebentar lagi SMA itu memang sudah menjadi tangan kanan neneknya di rumah. Karena selain Renata anak yang rajin dia juga tau statusnya menumpang di rumah neneknya dan semua biaya hidup dia dan adiknya pun ditanggung oleh neneknya selama ini.
Oleh karena itu Renata sangat tau diri, dia dan adiknya selalu mengalah di rumah neneknya. Neneknya kadang kasian dengan kepasrahan mereka berdua, tapi dia sering tidak dapat berbuat banyak, apa lagi Ayu memang terlalu vokal dan suka mengatur karena merasa dirinya ikut membantu perekonomian keluarga.
Sekarang Renata baru saja menginjakkan kakinya di rumah dengan menenteng kotak makanan kosong, karena memang mereka baru pulang dari salah satu tempat pelanggan yang memesan ketringan kue nenek Renata.
Tiba-tiba terdengar teriakan Ayu dan tangisan Rio adik Renata.
"Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya kamu dorong Tita sampe jatuh. Kamu disini itu numpang, tau diri dikit, donk," bentak Ayu yang terdengar oleh Renata dan neneknya.
Renata segera berlari ke dalam rumah, dia mendapati adiknya tengah duduk tertunduk dengan isak yang ia tahan. Renata segera menghampirinya.
"Ada apa ini, Ayu? Kamu teriak sampe semua orang bisa dengar dari luar," seru nenek.
"Ini, Buk. Si Rio dorong Tita sampe jatuh. Tuh liat tangan Tita sampe merah gini," terang Ayu cepat dan masih tampak emosional seraya masih memeluk Tita yang masih berusia 8 tahun itu sedangkan Rio masih berusia 6 tahun. Memang Tita di perlakukan bak putri raja di rumah ini oleh orang tuanya, terutama oleh ibunya. Tidak boleh kenapa-kenapa walaupun dia yang salah.
"Ada apa, Rio? Kenapa Rio dorong, Tita?!" tanya Renata lembut pada adiknya.
"Kak, Tita pukul, Rio," Tunjuk Rio pada kepalanya yang bengkak membiru di sela isaknya. Ayu membulatkan matanya kaget, dia melihat memar dengan bengkak yang cukup besar di jidat Rio, dia tidak melihat itu tadi. Sedangkan Tita hanya bisa tertunduk takut dan bersembunyi di balik tubuh ibunya. Nenek tampak geram dan kesal, dia menatap Ayu dengan tatapan menghunus.
Sedangkan Renata tanpa bicara segera membawakan adiknya ke kamar, dan Nenek terus menatap tajam pada Ayu. Sekarang giliran dia yang naik darah pada Ayu.
"Kamu itu kebiasaan, Ayu. Belain anak kamu tanpa tau duduk perkaranya. Rio itu bukan anak nakal yang suka cari masalah tanpa alasan. Anak kamu saja kalau lihat Rio kayak lihat apa gitu, ringan sekali tangannya sama rio. Kalian bisa seenak ini karena ibu dan ayahnya tidak ada, kan? Dulu mana berani kalian seperti ini," bentak nenek yang marah, menatap Alin sebentar.
Anak itu terlihat ketakutan melihat neneknya yang marah pada ibunya, sedangkan Ayu mulai merasa malu, karena sudah memarahi Rio, bahkan mencubitnya tanpa tau duduk perkaranya.
Di kamar tampak Renata yang tengah mengompres luka lembab adiknya.
"Rio kangen mama, Rio mau susul mama. Semua orang jahat semenjak mama nggak ada, kak," adu Rio membuat Renata menitikkan air matanya, dia segera menyekanya sambil terus mengompres kepala adiknya dengan air hangat.
"Rio, kalo ada Tita main di kamar aja, ya. Kalo seandainya kakak lagi nggak ada di rumah. Jangan keluar kamar lagi, main di kamar aja kalo pulang sekolah," nasehat Renata seraya mengusap kepala adiknya. Dia merasa hiba melihat adiknya di perlakukan begini.
Sebentar kemudian nenek pun datang. Dia menghampiri Rio dan Renata. Dia mengusap kelapa cucu laki-lakinya itu dengan lembut.
"Lain kali kalo ada Tita Rio pergi, ya. Nanti kalo ada apa-apa Rio di aduin lagi Tita sama bundanya. Jadi, Rio saja yang menghindar, ya," nasehat neneknya lembut. Rio mengangguk dengan tatapan lugunya.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments