Saat Renata akan bersiap pulang, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Dia adalah Arman, laki-laki yang selama ini sudah seperti kakak bagi Renata dan diam-diam menaruh hati pada Renata.
Padanya lah selama ini nenek Renata menitipkan Renata untuk di jaga oleh Arman. Arman dengan senang hati memenuhi permintaan itu, dia bekerja di salah satu PT di Jakarta sebagai karyawan di sana.
"Rere pulang sama Lusi aja, mas Arman," tolak Renata lembut.
"Nggak papa, Re. Gue bisa pakek taksi, kok," ucap Lusi memberi kesempatan pada Arman.
"Jangan gitu, Si. Kita bareng aja, udah malam gini, masak iya lo pulang sendirian," seru Renata mencoba menolak tawaran Arman. "Mas Arman, maaf ya, Rere pulang bareng Lusi aja," tolak Renata lembut.
Akhirnya Renata pun pulang bersama Lusi yang dengan cepat di tarik Renata saat ada kesempatan untuknya menghindari Arman. Lusi merasa tidak enak melihat raut kecewa Arman, dia hanya bisa mengikuti langkah Renata yang keburu menyeretnya cepat itu. Sedangkan Arman hanya mematung di atas motornya dengan helm di tangannya.
"Ih, lo, Re, kasian, tauk. Gue yang jadinya nggak enak sama Arman," gerutu Lusi di dalam taksi.
"Udah nggak papa, kok. Gue males ntar dia semakin berharap sama gue," terang Renata. Lusi hanya tersenyum mendengar jawaban Renata.
Renata sengaja menjaga jarak dengan Arman, karena Renata yang takut Arman berharap lebih darinya. Renata mulai menangkap gelagat berlebih dari perhatian Arman padanya akhir-akhir ini. Apa lagi setelah mendengar dukungan tante Ayu terhadap kedekatan keduanya. Itu membuat Arman semakin gencar mendekati Renata, yang lantas membuat Renata semakin tidak nyaman.
***
Keesokan harinya, di siang yang terik dan mentari yang bersinar tepat di atas kepala. Liam keluar dari mobilnya menuju salah satu mall yang cukup besar. Dengan gaya santai dan coolnya yang rapih, segera membuat dia menjadi pusat perhatian, banyak mata yang mengekori langkahnya Liam saat dia melewati orang-orang yang ada di mall, tapi Liam tetap cuek seolah tidak mengetahui itu.
ya, Liam memiliki wajah yang rupawan, dengan tubuh tinggi dan atletis walau agak kurus, itu memberi kesan jangkung yang mempesona. Apa lagi penampilan sederhana nya yang rapih menambah kesan dia adalah pria cerdas dan elegan.
Siang itu Liam berencana menemui Laura. Saat Liam sampai, tampak Laura sudah menunggu di sana. Dia tengah duduk manis di salah satu kursi di sana. Saat dia melihat kedatangan Liam, dia tersenyum. Liam masih tak dapat memungkiri, bahwa wanita cantik itu masih mempesona di matanya. 2 tahun yang telah mereka lalui bersama, masih membekas di hati Liam.
Laura menyambut Liam dengan senyum, Liam pun segera duduk berhadapan dengan Laura. Laura mulai membicarakan tentang hubungan mereka.
"Maaf, Li. Aku nggak bisa pungkiri, aku masih sayang sama mas Gio. Maaf, Li ... Kita ... Putus, ya," ucap Laura berlahan, Liam merasa bak petir di siang hari mendengarnya. Dia tidak menyangka Laura akan memutuskan hubungan mereka begitu saja demi dia yang baru datang.
"Kita udah deket lagi semenjak dia pulang dari Singapur. Dia bilang, dia masih sayang sama aku. Aku juga nggak bisa boong, kalo aku juga masih sayang banget sama dia. Aku harap kamu ngerti, Li," gumam Laura yang semakin membuat Liam terluka.
Tak ada ekspresi apapun dari Liam untuk pernyataan Laura barusan. Liam hanya diam mendengar penjelasan Laura, lalu Laura pun meninggalkan Liam yang masih mematung di sana. Liam mencoba untuk menguasai dirinya, dia laki-laki, dia tidak boleh lemah hanya karena seorang Laura wanita penghianat.
'Kamu bilang dia sayang sama kamu? apa aku kurang sayang sama kamu? Semua mau kamu aku ikutin. Aku ada setiap kamu butuh, aku menjaga kesetiaan ku dengan baik, tapi masih saja buat kamu kurang puas, Laura' batin Liam seraya tertunduk.
...***...
Liam berjalan berlahan keluar dari restoran tersebut. Liam masih tampak kacau, Liam menghentikan langkahnya di depan sebuah bangku di mall itu dan duduk di sana. Dari lantai 2 Liam mendengar ada acara di lantai bawah, Liam pun berdiri dan mendongak kebawah dengan berdiri di pinggir pagar pembatas itu.
Terdengar ada pertunjukkan musik di lantai bawah, terdengar lagu 'Aku Merindu, oleh band Padi' sedang di nyanyikan oleh seorang penyanyi laki-laki, itu membuat Liam semakin larut dalam lukanya. Lirik demi lirik seolah menggambarkan luka yang Liam rasakan saat ini. Liam menatap dengan tatapan kosong, pikirannya menerawang jauh, membawa ia kembali pada kebersamaannya bersama Laura dahulu kala. Setiap baitnya terus membawa Liam pada kenangannya yang semakin dalam. Liam menatap wallpaper handphone nya, masih ada potret Laura di sana.
Di saat yang bersamaan ada Renata yang tengah berjalan bersama di mall itu, mereka sedang istirahat makan siang. Mereka tampak berjalan santai seraya bercanda ala anak muda yang ceria.
"Cie... Pacar om Arman," ledek Lusi, membuat Renata kesal dan mengejar Lusi yang terus meledaknya itu.
"Apaan sih, Si!" seru Renata yamg malu di buatnya. Renata pun segera mengejar Lusi yang kabur.
Terjadi lah adegan kejar-kejaran antara Lusi dan Renata. Renata mencoba menyerang Lusi yang terus meledeknya. Karena posisi Renata yang tengah memakai heels membuat dia hampir terjatuh karena tidak hati-hati, secara spontan Renata mencoba berpegangan, tapi malah membuat nya menabrak tubuh Liam yang tengah berdiri membelakanginya. Dan karena kaget itu membuat gawai yang di pegang Liam pun terjatuh.
Liam segera membalikkan tubuhnya, dia mendapati Renata yang tampak takut dan kaget juga. Menyadari apa yang terjadi. Renata pun segera meminta maaf.
"Maaf, mas. Saya tidak sengaja," ucap renata dengan menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permohonan permintaan maaf.
Liam tampak dingin menatap Renata. Dia segera turun untuk mengambil gawainya yang terjatuh tadi. Renata melihat ada kesempatan untuk kabur, ia pun segera kabur, di ikuti oleh teman-temannya juga.
"Gawat, pasti rusak kan? Jatuh nya dari lantai 2," seru Renata pada teman-temannya dengan expresi panik.
"Mending lo tanggung jawab deh, Re," nasehat temannya.
"Itu pasti handphone mahal. Kalian nggak liat gayanya necis gitu. Duuuhh.... Gimana, nih." Renata terlihat sangat panik. Teman-temannya pun tidak bisa berbuat banyak.
Renata mencoba mengintip dari kejauhan, Liam tampak celingukkan mencari Renata. Orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Renata terlihat semakin panik, apa lagi saat melihat Liam tidak berhenti mencarinya.
"Gimana, nih?" Seru Renata yang rasanya ingin menangis karena ketakutan.
"Udah, Re. Kita cepetan pergi aja. Dia pasti nggak ingat sama kita, dia kan cuman liat kita sekilas tadi," ucap Lusi mencoba menenangkan Renata.
***
Di sisi Lain, Liam tampak panik dan marah dengan kondisi handphone nya yang sudah retak itu, walau masih bisa di hidupkan kembali. Dia menatap layar handphone nya yang rusak dan mengusapnya. Dia segera kembali berlari ke lantai atas untuk menemui wanita yang menabraknya tadi.
Tapi sesampainya di lantai atas, sudah tidak ada. Liam mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mall, tapi tetap tidak menemukannya.
"Sialan tuh, Cewek. Liat aja ntar kalo ketemu, dia pikir bisa lepas gitu aja," rutuk Liam kesal.
Karena masih ada pekerjaan, Liam harus segera pulang. Di dalam mobil Liam masih kesal dan mengedumel sendirian.
"Nggak tanggung jawab banget. Awas aja kalo ketemu lagi," rutuk Lian kesal seraya tancap gas. Anehnya berkat kejadian tadi, dia bisa melupakan sejenak permasalahannya dengan Laura.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments