"Woi ... berhenti!"
Langkahan kaki yang cepat dari dua orang yang saling beradu kecepatan lari pun terjadi. Mereka saling mengadu kecepatan dan juga argumen.
Axcel terus mengejar Agra yang masih belum begitu jauh dari sekitar danau Van. Alat penangkap seperti jala yang biasanya dipakai untuk berburu pun terpaksa banting fungsi untuk menangkap Agra.
Axcel melempar jala itu tepat dibelakang Agra dan pada akhirnya jala itu mengenainya hingga terjatuh.
"Akhh ... Dasar teman tidak punya akhlak kau!"
"Lah ... Seharusnya kau yang tidak punya akhlak, teman belum selesai ngomong malah ditinggal. Akhirnya kupakai jala saja untuk menangkap sosok teman yang keras kepala seperti kau."
"Ehh ... Apalagi ini?"
"Tali, sini tanganmu!"
"Apa yang kau lakukan denganku."
"Mengikatmu agar kau tidak lari lagi."
Saat itu posisi Agra sedang tengkurap dengan jala yang menjiratnya, hal ini mempermudah Axcel untuk mengikatkan tali di tangan Agra.
"Apasih maumu? Lepas nggak? Aku ingin menolong mereka!"
"Lalu yang sekarang didepanmu itu siapa? Setan?"
"Bukan, tapi biawak komodo yang suka mengganggu perempuan di seluruh bazar kastil."
"Ehh ... Aduh ... Jangan ungkit-ungkit masa laluku."
"Bodo amat! Lepasin nggak?"
Axcel mendekat kearah Agra dan menepuk punggungnya, ia mencoba meyakinkan Agra dengan kata-kata mutiara yang akan ia gunakan.
"Urusan mereka biar aku yang membantumu, tapi kau harus kembali ke jalan takdirmu hanya kaulah satu-satunya orang yang bisa menghadapi Anggota Redfire Clan yang sedang merajalela untuk menguasa dunia ini. Jangan biarkan dunia ini hancur tanpa keadilan. Aku jauh-jauh dari Cavalie clan hanya untuk mencarimu Agra!"
Axcel meninggikan nada bicaranya dan melanjutkan bicaranya.
"Apa kau tahu aku rela meninggalkan klanku dan berjanji kepada ayahku untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, aku rela melepaskan aset klanku yang telah dirampas oleh Leviathan agar tidak ada pertumpahan darah yang terjadi diantara kami. Aku dan ayahku juga memiliki tanggung jawab besar Agra, kenapa kau tidak bisa sepertiku?"
Agra hanya terdiam setelah mendengar Axcel bicara, ia termenung dan matanya berbinar. Agra kini berfikir sangat keras untuk mengambil keputusan itu. Axcel pun melanjutkan bicaranya,
"Agra kau sahabatku, aku akan selalu membantumu. Aku berdiri disini karena aku telah menanamkan sebuah keyakinan besar tentangmu dan satu hal lagi kau masih hidup pun aku bisa merasakannya."
masih dalam posisi terikat dan tubuh tengkurap Agra menatap mata Axcel dengan sangat jeli.
Dilihatnya Axcel benar-benar serius mengatakan itu semua, ia meluapkan emosinya dengan mengucapkan kata-kata yang mungkin membuat Agra sedikit menurut dan terdiam.
"Agra ... kau mungkin tidak percaya dengan apa yang kukatakan, tapi semua yang kukatakan benar adanya. Aku tahu aku bisa merasakan bahwa kau masih hidup, bahkan aku pun tahu kalau kau pernah mengalami koma, jadi jangan meragukanku, Agra!"
Deg!
Agra terkejut mendengar ucapan sahabatnya barusan, Agra hanya bisa menjawab dengan diam seribu bahasa. Agra kembali menundukkan kepalanya dan mungkin yang diucapkan Axcel berhasil melelehkan hatinya yang telah lama membeku akibat masa lalunya sendiri.
"Apa kau benar-benar melupakanku?"
Axcel merendahkan nada bicaranya seakan ia merasa lelah atas sikap sahabatnya itu. Agra yang mendengar nada pasrah sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Katakan sesuatu Agra! jangan hanya diam saja!"
Dengan amarahnya Axcel menancapkan pedangnya ketanah tepat disamping kanan kepala Agra. Mata Agra terbelalak saat melihat Axcel semarah dan sekecewa itu.
"Maaf ..."
Mendengar ucapan Agra tadi, Axcel sedikit bingung dan dia mulai menarik pedangnya dan menyimpannya kembali.
"Apa maksudmu?"
"Maaf selama ini aku egois, aku tidak bermaksud untuk melupakan siapapun yang ada dimasa laluku. Tapi aku takut kalau aku kembali apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak tahan melihat mereka membunuh satu per satu orang disekelilingku."
"Itu memang resiko terbesar yang harus kita hadapi kedepannya, namun jika kita bersatu kita tidak akan bisa dikalahkan."
Axcel mengulur tangannya kearah Agra dengan aura penuh harapan dan keakraban.
"Ayo kita berjuang bersama!"
Agra masih terdiam dan tidak mau menjawab apalagi merespon sahabatnya.
"Sombong sekali kau sekarang!"
"Hey sob, bukannya aku sombong tapi ... Apa kau tidak lihat kalau tanganku masih terikat oleh talimu ini? Dasar tolol!"
"Ehh ... iya lupa."
"Buka dulu ikatannya! baru aku mau menerima tawaranmu."
Axcel membuka tali yang menjerat tangan dan kaki Agra lalu mereka saling menyepakati tawaran yang telah diberikan oleh Axcel.
Mereka mengakhiri pertikaian ini tanpa permusuhan apalagi pertempuran yang merugikan keduanya. Semuanya berakhir dengan perdamaian tanpa adanya perselisihan pandangan dan pola pikir diantara mereka.
****
"Kamu siapa?"
Aku melihat sosok bocah laki-laki berambut putih pendek menatap kearahku, dia berada diseberang utara sungai Hollow Vender.
Mata birunya menyala dalam rembulan malam, ia terlihat diam dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Apakah kamu kesepian?"
Aku mengajukan pertanyaan lagi berharap dia mau menjawabku. Alhasil dia hanya meresponku dengan anggukan kepala saja.
"Bisakah kita berteman? aku juga kesepian."
"Teman?"
"Iya, kita berteman tapi kau harus janji dulu untuk tidak meninggalkanku sampai kapanpun, Oke."
"Oke, janji."
"Aku mau menyusulmu. Tetap disana ya ...."
Aku meneriaki bocah itu agar dia mau menungguku, kulihat perahu kecil dengan dua dayung dipinggiran sungai Hollow Vender. Kunaiki saja perahu itu dan kudayung terus sampai menuju ke tepi utara sungai Hollow Vender.
"Akhirnya aku sampai juga."
"Lihat!"
Bocah itu menunjukkan kepadaku wadah kaca yang berisi lima cahaya kecil berterbangan didalamnya.
"Apa itu?"
"Bukalah!"
"Aku buka tutupnya ya."
"Iya."
"Wahh ... kunang-kunang, indah sekali kunang-kunangnya terbang keluar dari wadah kaca ini."
Dialah teman pertamaku dan aku bahagia bertemu dengannya.
"Ohya namamu siapa? dari mana kau berasal?"
Dia hanya diam.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak punya nama? Baiklah aku panggil kamu Blue bagaimana? karena kamu punya mata biru yang terang."
Dia menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dengan nama panggilan yang kuberi.
"Blue! berjanjilah untuk tidak meninggalkanku?"
"Janji."
"Janji jari kelingking?"
"Iya ... janji jari kelingking."
Dia akhirnya mengikat janji denganku, aku senang mendapatkan teman pertamaku.
Tapi ....
Ada sesuatu yang terlintas dibenakku, yaitu kekosongan.
"Hah, tunggu! Jangan pergi!"
Dia menghilang, Bayangan itu menghilang, bahkan satu per satu dihadapanku telah menghilang dan memudar. Disekelilingku berubah menjadi gelap dan sepi.
Aku pun kembali kesepian ....
Lagi ....
****
"Kumohon jangan pergi! kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku kan?"
Terlihat tangan raja Vedern Mighton menyentuh dahi Vendrinna yang saat itu sedang mengalami demam.
"Apa yang kau lakukan dengan putri Vendrinna?"
"Maaf saya hanya memberinya jarum bius yang sudah diracik oleh tim medis dari kastil Venderland. Tentu saja saya menggunakannya sesuai dengan anjuran mereka."
"Tapi kenapa badannya panas sekali."
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak tahu mengenai hal ini. Mungkin saja putri Vendrinna sedang memikirkan sesuatu hingga memberatkan hati dan pikirannya."
Raja Vedern Mighton hanya terdiam mendengar penjelasan dari panglima Askaria.
"Maafkan ayah, jika saja ayah dulu tidak melakukan kesalahan besar, mungkin kau tidak menderita sekarang."
****
Sementara itu Agra dan Axcel masih berada didanau Van, waktu berlalu begitu cepat. Pergantian malam pun tiba menyelimuti suasana danau suci Van, bulan purnama turut muncul menghiasi langit malam.
Axcel menyalakan api sebagai penghangat tubuh dan tentunya juga untuk membakar ikan hasil tangkapannya. Sementara Agra hanya bisa duduk termenung menatap bulan purnama yang jauh dari pandangannya.
"Hey Agra! kau tidak lapar? di danau Van ini banyak sekali ikan yang kutangkap lumayan buat makan malam kita."
Agra hanya terdiam dan melamun.
"Hey! jangan melamun, kau sedang memikirkan apa?"
"Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya, apa yang terjadi dengannya sekarang."
"Sepertinya kau harus tahu satu hal, danau Van adalah danau suci milik kastil Venderland. Biasanya disini akan ada banyak petarung yang kumpul untuk berendam didanau ini, konon katanya mereka yang berendam disini akan mendapatkan energi yang luar biasa dari leluhurnya."
"lalu apa urusannya denganku?"
"Bodoh! mereka yang berendam disungai ini kebanyakan dari kastil Venderland. Esok hari setelah mereka berendam, kita ikuti saja rombongan petarung itu kembali ke kastilnya, itu akan mempermudah kita untuk menemukan teman-temanmu."
"Hmm ... Kau benar juga, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"
"Jika aku memberitahumu sejak tadi kemungkinan kau akan melakukan hal yang gegabah."
Agra hanya diam dan menyetujui rencana Axcel.
"Ini sudah malam, lebih baik kita kembalikan tenaga kita dan mengumpulkan energi untuk perjalanan esok hari."
"Iya kau benar juga!"
Agra akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan didanau Van menunggu esok hari tiba.
~Vendrinna aku akan menyusulmu, aku janji.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
anggita
👌👌👍
2021-03-26
1
👑Meylani Putri Putti
3like langsung mendarat
2021-03-16
0
Laa~❤
next yu kak.
kok lama up nya.
ayo semangat
2021-03-09
0