"Tenanglah Jessy ... kau akan segera baik-baik saja."
Jessy sosok gadis yang tegar dan mandiri kini tergeletak dipangkuan Vendrinna, wajahnya yang selalu memancarkan semangat berubah redup setelah dia menjadi korban serangan Laurent.
Vendrinna kini mencoba menenangkan Jessy dengan cara memeluk tubuhnya agar dirinya merasa lebih tenang.
Setelah pertempuran itu rumah Vendrinna menjadi hancur dan rusak berat, ditambah lagi Jessy yang terluka membuat Vendrinna kebingungan harus melakukan apa.
"Vendrinna ... rumah ini sudah hancur, mau kemana lagi kita?"
Mendengar nada pasrah dari Jessy, Vendrinna pun hanya bisa terdiam tanpa jawaban pasti untuk masalah ini.
Markas besar Rival.
Terlihat didalam markas besarnya, Rival mencoba mengikat tubuh Agra dengan tali dan dibaringkan dalam sebuah peti khusus agar mempermudah proses pengirimannya ke kastil Redfire clan.
"Akhirnya kau ada di tanganku juga, sampai kapanpun kau tidak akan bisa lolos dariku!"
Ucap Rival yang dari tadi sibuk mengikat Agra.
"Hey ... jika bukan aku yang menemukannya terlebih dahulu mungkin kau akan gagal dalam rencanamu itu!" Ujar Laurent dengan wajah sinisnya.
"Terserah kau saja hari ini aku sedang malas untuk berbicara denganmu!"
"Apa? Malas? Barusan kau bicara denganku?"
"Hm."
"Oh."
Tiba-tiba ledakan yang disusul asap pun datang dari dalam peti dan seketika mereka dibuat terkejut oleh asap yang menggumpal tersebut.
Tidak lama kemudian asap itu mulai menghilang dan Rival pun memberanikan diri untuk mengecek keadaan peti tersebut, namun setelah mendekat dan melihatnya sendiri ternyata hal buruk pun terjadi.
"Ti ... tidak mungkin!?"
"Rival, ada apa?"
Laurent pun ikut mendekat dan melihat kondisi peti tersebut.
"Huh ... mana mungkin ini terjadi!?"
Didalam peti itu ternyata Zonk!!!
Bersamaan dengan ledakan yang terjadi tubuh Agra pun menghilang tanpa jejak. Kini semua merasa bingung dengan kejadian ini, Rival yang melihat situasi barusan merasa marah dan tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Emosinya pun tidak terkendali dan mengundang bara api yang sukses menghanguskan markasnya sendiri.
"Sial! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu Agra!"
****
On Vendrinna's House
"Vendrinna!"
Suara itu terdengar tidak asing ditelinga Vendrinna, langkahan kaki pun terdengar dari sudut kamarnya dan semakin lama semakin jelas suara langkahan itu.
"Siapa kau?"
"Ini aku ..."
Suara langkahan dari sosok laki-laki itu mulai mendekat, semakin lama semakin jelas wajahnya, kemudian disusul nekko dari belakang pria tersebut.
"Nekko untunglah kau selamat!" -Jessy
"Miauw ..." -Nekko
"Jessy jangan banyak bergerak dulu!" -Vendrinna
"Aku khawatir denganmu nekko!" -Jessy
Pria itu mendekat dan wajahnya pun terlihat jelas.
"Apa suaraku didunia roh dan dunia manusia berbeda? Sehingga kau tidak mengenali suara ini?"
"Huh!? Agra!?"
"Ya ... aku Agra ... dan aku telah kembali."
Senyum bahagia melintang di kedua ujung bibir Vendrinna, melihat Agra yang tiba-tiba muncul didepan mata membuat Vendrinna terkejut seakan itu sebuah mimpi.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku melihat tubuhmu dibawa oleh pasukan yang bernama Rival itu!?"
"Haha ... jangan percaya hal itu, itu adalah tipuan yang aku buat bersama nekko."
"Hah tipuan? Ohya ... satu lagi yang membuatku bingung, bagaimana kau bisa menyatu dengan tubuhmu kembali?"
"Nanti saja aku menjelaskannya? Sepertinya Jessy mulai kehilangan kesadarannya, sini biar ku bantu menghilangkan efek ilusi itu."
"Baiklah ... kumohon bantu dia."
Agra mengeluarkan energinya dan menyalurkannya kedalam tubuh Jessy, secara perlahan ia mampu mengeluarkan efek ilusi dari chakra milik Laurent. Luka dalam milik Jessy pun mulai hilang bersamaan dengan efek ilusi tersebut.
"Uhuk ... uhuk ..."
Jessy pun tersadar dan mencoba melonggarkan nafasnya dengan memaksakan tubuhnya untuk berbatuk agar tidak terjadi hal buruk lainnya, seperti gagal nafas.
"Huh!? Siapa orang yang berdiri disana?" -Jessy
"Jessy ... kau sudah mulai sadar?" -Vendrinna
"Kepalaku agak pusing dan tubuhku masih terasa panas, seperti kena demam." -Jessy
"Itu efek dari ilusi tadi, aku dulu pernah merasakannya tapi bukan wanita itu yang mengeluarkan jurus itu." -Agra
"Hah? Apa kau Agra? Kau sudah sadar dari komamu? Bagaimana kau bisa selamat dari mereka." -Jessy
"Aku sebenarnya sudah sadar dari tadi pagi, dan sepertinya nekko merasakan kesadaranku jadi dia datang ketempatku, nah ... dari situlah nekko menceritakan segalanya tentang tamu agung kita tuan Rival dan nona Laurent dengan siasatnya yang ingin menangkapku." -Agra
"Oh ... pantas saja nekko menghilang saat pertempuran tadi." -Jessy
"Ya ... dia membantuku menjalankan rencana ini yaitu membuat tiruan mirip diriku, aku sengaja mengelabui mereka dengan membuat tiruan menyerupai diriku dari bayanganku sendiri, berkat chakra dari nekko akhirnya tipuan itu jadi, hingga saat pertempuran itu dimulai aku meninggalkan ruangan itu bersama nekko dan lari dari rumah ini."
"Jadi yang dibawa oleh pasukan Rival itu hanya bayanganmu?" -Vendrinna.
"Tepat sekali." -Agra.
"Dan kau kembali setelah pertempuran selesai agar tidak ada yang menyadari bahwa yang mereka bawa hanyalah bayanganmu?" -Jessy.
"Yap ... benar sekali!" -Agra.
"Dasar bodoh! Kau tidak berfikir bagaimana kami berjuang melawan mereka hingga rumahku hancur! Dan rumah Ini adalah tempat satu-satunya agar kita bisa berlindung!"
Vendrinna seketika mengamuk, seperti biasa Agra menerima pukulan dan ocehan dari Vendrinna. Namun kali ini Agra tidak melawannya dan ia hanya membalas amukan Vendrinna dengan menundukkan kepalanya dan terdiam.
"Maaf!"
Vendrinna menghentikan pukulannya dan mencoba mendengarkan rintihan maaf dari Agra.
"Maaf kalau selama ini aku telah menjadi beban, aku berjanji akan bertanggung jawab atas kejadian ini, dan aku pun juga berjanji akan mencarikan kalian tempat tinggal yang lebih aman agar kalian tidak menjadi sasaran lagi oleh mereka. Aku juga sudah berniat untuk pergi dari kehidupan kalian agar kalian tidak terlibat oleh masalahku lagi. Terima kasih atas segalanya, terima kasih juga karena kalian telah rela mengorbankan diri kalian hanya untuk menyelamatkanku." -Agra.
Vendrinna seketika terpaku dengan keadaan Agra yang sedang putus asa, ia pun mengurungkan niatnya untuk memukul Agra.
*dia benar-benar terlihat putus asa, apa yang telah kulakukan? Sebagai teman seharusnya aku menyemangatinya dan meyakinkan dirinya untuk terus berjuang bersama.
Dalam hati Vendrinna merasa bahwa Agra adalah hal yang istimewa dibalik kerapuhannya ia memiliki tanggung jawab besar untuk dunia, Vendrinna pun mencoba mendekati Agra dan memegang tangannya erat.
"Kau bukanlah beban ... mungkin hari ini kau tidak mampu melakukan apa-apa, tapi siapa tahu kelak kau akan menjadi orang yang terkuat seperti para emperor fighters."
Tiba-tiba Agra melongos ke arah pintu luar dan ia mulai merasakan ada aura negatif yang sedang menghampiri rumah Vendrinna.
"Gawat mereka kembali! Kita harus segera pergi dari tempat ini!"
"Lalu kita harus kemana!?"
"Kemana saja yang penting kita selamat dari mereka!"
"Lalu jessy gimana?"
"Biar kugendong dia, nekko tunjukkan jalur cepat agar kita bisa keluar dari negeri Lavender ini!"
"Miauw!"
Dari kejauhan terlihat pasukan Rival dan Laurent bergerak menuju rumah Vendrinna. Mereka pun akhirnya terpaksa meninggalkan rumah itu dan pergi dari negeri Lavender.
Disisi lain Rival dan Laurent telah sampai di rumah itu namun dia tidak menemukan jejak apapun dari Agra dan lainnya.
Lagi-lagi Rival dan Laurent gagal menangkap Agra, namun itu tidak mematahkan niat Rival untuk terus mencari Agra hidup atau mati.
BERSAMBUNG
Thanks for Reading❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
anggita
tipuan~ Jessy
2021-03-24
1