Kenapa mataku selalu tertutup? kenapa aku sulit membuka mata lebar-lebar? apakah dunia sedang mengutukku? sehingga aku tidak bisa melihat bayanganku dan mengenali diriku sendiri. Aku terus saja menutup mata hingga aku tidak bisa membedakan titik terang dari kegelapan yang menyelimutiku.
Titik terang itu datang dan pergi sesukanya, seakan ia mengejekku. Sudah berapa kali aku jatuh bangun? mungkin berkali-kali. Mulai sekarang aku harus benar-benar bisa keluar dari keterpurukan, aku muak terjebak terus menerus didalam dimensi ini. Gelap, sepi, hanya aku saja yang ada disini.
Ya ... Akan kupastikan ini adalah terakhir kalinya aku terjatuh didimensi yang sangat menyebalkan.
"hey sob ... sadarlah ..."
Agra mulai mengedipkan matanya perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya dan mengembalikan kesadarannya. Dia mulai melihat sosok pria yang sedang berdiri dipinggiran danau Van, tempat terakhir dia bertempur dengan pasukan dari kastil Venderland.
Pada penglihatan pertama ia merasa semuanya masih terasa tidak jelas dan sangat absurb. Matanya masih berkunang-kunang hingga ia terpaksa memejamkannya kembali.
Namun pada penglihatan kedua dia mulai bisa melihat jelas pemandangan disekitarnya bahkan dia bisa menangkap jelas sosok pria yang berdiri disana. Pria itu terlihat sedang memancing dipinggiran danau. Rambutnya hitam pekat dengan kain panjang berwarna coklat mengikat kepalanya.
"hey sob ... sudah sadar ternyata kau? maaf aku sedang sibuk jadi aku belum sempat menengokmu."
Pria itu hanya mengatakan sepatah kalimat dan tidak begitu menghiraukan kesadaran Agra, ia tetap terfokus dengan kail pancingnya. Agra pun terbangun dan duduk menatap punggung pria itu.
"Siapa kau?" Tanya Agra kepada pria aneh itu.
"Aku hanyalah orang lewat yang tidak sengaja menemukan pria lemah sedang pingsan dipinggir danau. Ohiya ... tadi aku yang memindahkanmu ketengah daratan agar kau tidak terjebur didanau, kasian kau nanti sudah jatuh tertimpa tangga pula, hahaha ..."
"Hey jaga ucapanmu!"
"Bukankah itu benar Agra Le Bluezer."
Agra terkejut mendengar pria itu menyebut namanya, pasalnya tidak ada seorang pun tahu nama lengkapnya kecuali orang-orang yang berasal dari masa lalunya, termasuk orang-orang yang pernah mengenal Agra sebelumnya.
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Ayolah kawan, mana mungkin kau lupa dengan sahabatmu sendiri."
Pria itu meletakkan kail pancingnya dan membalikkan badanya menghadap Agra yang saat itu sedang tercengang.
"Ka ... Kau? Apa kau Axcelion Cavalerie, bagaimana kau tahu keberadaanku?"
" Rahasia. Ohya aku juga menemukan tas ini, didalamnya ada peralatan wanita, kupikir ini milik pacarmu jadi kukembalikan saja padamu."
"Tas itu milik temanku."
"Oh ... Kupikir punya pacarmu."
Agra hanya terdiam dan dia mencoba mengingat kembali apa yang sudah dia lewatkan.
"Dia ... ehm ... maksudku mereka saat ini telah pergi dibawa sekumpulan pasukan dari kastil Venderland."
"Siapa yang kau maksud?"
"teman-temanku, mereka yang sudah menyelamatkanku dan merawatku sampai aku pulih, tapi aku malah membalasnya dengan menyakiti perasaan mereka. Aku harus segera mencari mereka."
Agra bergegas untuk berdiri namun tangan Axcel menahan pundak Agra seakan ia ingin Agra tetap disini.
"Agra, tunggu!"
Axcelion memanggil Agra dengan tatapan serius, ia menepuk bahu Agra dan mencoba berbicara kepada Agra secara pribadi.
"Aku bersyukur melihatmu selamat dari pertempuran itu dan aku senang bisa bertemu denganmu, selama ini aku mencarimu kemana-mana."
"Mencariku? Sejak kapan kau percaya bahwa aku masih hidup?"
"Sejak beredarnya pemberitahuan dari Redfire Clan bahwa Blue Clan telah hancur dan pengalihan kekuasaan untuk Redfire Clan."
"Apa? pengalihan kekuasaan?"
"Iya, ayahku menyuruhku untuk pergi dari kastil karena disana mereka memeras tenaga pemuda-pemuda untuk membuat senjata terkuat dengan sumber daya yang kami miliki sekarang. Oleh karena itu aku butuh bantuanmu! karena kau adalah anggota clan blue yang tersisa sebagai perwujudan dari perdamaian."
Agra kembali terdiam, kini ia mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Axcel maaf ...."
"huh?!"
"Sebaiknya mulai sekarang kau harus melupakan sosok Agra dan seluruh anggota klan Blue dari pikiranmu. Anggap saja aku sudah mati."
Mendengar ucapan itu Axcelion berdiri dengan wajah yang berkerut ia menatap Agra dengan mata yang tajam dan mulai membantah perkataan Agra.
"Apa maksudmu? kau sahabatku sampai kapanpun kita akan berteman, apa kau lupa saat kita masih berumur 10 tahun? kau selalu mengatakan bahwa apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, bahkan sampai dunia ini hancur kau akan melindungi dan menjaga dunia ini. Itu tugasmu sekarang!"
"itu hanyalah khayalan yang dilakukan oleh anak kecil pada umumnya. Kenapa kau menghiraukan itu?"
Agra berdiri dan pergi meninggalkan Axcel, dengan merangkul tas milik Vendrinna ia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Axcel yang tak tahan dengan perlakuan sahabatnya itu akhirnya memutuskan untuk segera menghadang Agra dan mengeluarkan pedang andalannya.
"Pedang Axeleton, sudah lama kau tidak mengeluarkan pedang itu. Hmm ... biasanya kau mengeluarkannya saat kau ingin bertarung dengan serius, tapi maaf ... aku tidak mau meladenimu aku harus mencari mereka, menyingkirlah!"
"Tidak sebelum aku bisa merubah pikiranmu kembali."
"Sampai kapanpun aku tidak bisa menjadi orang yang kau harapkan!"
"Hanya kau satu-satunya jalan keluar agar bisa menghancurkan kepemimpinan Redfire Clan, itu sudah menjadi takdirmu!"
Axcel menyerang Agra secara mendadak, beruntung Agra mampu menghindari serangannya. Pertarungan yang dilakukan dua sahabat itu semakin marak. Mereka saling menyerang satu sama lain. Pedang Axceleton terus ditebaskan ke Agra hingga ia tidak memiliki celah untuk melawan balik.
"Hey kau tahu bahwa sahabatmu ini tidak punya kemampuan apa-apa?"
"Siapa suruh kau mengurung dirimu di kastil ayahmu."
"Aku bukannya mengurung diri, tapi ayahku sendiri yang melarangku keluar dari kastil."
Agra mengalihkan pandangannya kebawah dan melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Sampai suatu hari aku mengetahui bahwa aku memiliki chakra istimewa, ayahku mulai takut jika aku keluar sendirian apalagi tanpa pengawalan karena raja Leviathan sangat menginginkan chakra ini. Bukan hanya raja Leviathan tapi beberapa organisasi gelap juga mengincar chakra ini. Bukankah aku sudah menjelaskan hal itu kepadamu?"
"Iya, aku tahu, tapi seharusnya kau sadar hubungan antara masa lalumu dengan masa depan itu sangat bersangkutan. Jika kau lari dari tanggung jawabmu maka kau, teman-temanmu bahkan seluruh dunia clonning akan musnah dan jauh dari keadilan."
Agra terdiam beberapa saat dan ia mulai berfikir keras. Ia mulai mengepalkan tangannya serta mengerutkan dahinya sebagai tanda bahwa ia marah dan muak dengan segala hal yang terjadi dihidupnya.
"coba kau pikir lagi, dari ratusan anggota klan blue yang masih bertahan hidup sudah dibantai habis-habisan oleh klan keji itu, bahkan mereka sudah membunuh keluargaku. Kini hanya aku yang masih hidup, hanya aku sendiri Axcel! Apakah dengan satu orang dunia clonning bisa berubah? itu mustahil!"
"Tidak ada yang mustahil asal kita bisa bersatu."
"Tidak! aku hanya ingin hidup normal dan aku ingin hidupku yang baru, bukan sebagai anggota klan blue apalagi pemangku tanggung jawab didunia cloning ini."
"Itu sudah takdirmu!"
"Tidak! aku tidak mau!"
Dengan cepat Agra melangkahkan kakinya dan lari dari hadapan sahabat kecilnya itu. Sebagai seorang sahabat Axcel harus terus menyadarkan Agra untuk mengikuti jalan takdirnya itu. Dengan segala cara akhirnya ia gunakan untuk mengubah jalan pikir Agra agar lebih baik kedepannya.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
👑Meylani Putri Putti
like
2021-03-16
0
Laa~❤
wihh ada tokoh baru. Bikin semangat baca🤩
2021-03-09
0