Dengan berada disini aku bisa merasa aman dan segera sembuh dari luka-lukaku serta kembali ke tubuhku seperti semula. Dengan dibantu oleh kedua gadis ini dan merawatku dengan cara yang tulus kupikir aku bisa tinggal sedikit lama disini.
Namun ternyata mereka memiliki masalah masing-masing sehingga mereka harus menghadapinya dengan cara tersenyum.
Aku sangat kagum kepada mereka, mereka begitu saling menghargai satu sama lain dan memiliki asumsi untuk melewati segalanya dengan bersama.
Yang aku pikirkan sekarang hanyalah ketakutanku, aku takut menjadi beban bagi mereka jika aku terus disini. Apalagi Vendrinna yang saat ini dicari-cari oleh ayahnya.
Entah masalah apa yang membuat Vendrinna melarikan diri dari kastilnya, aku belum begitu paham. Tapi yang kutahu Vendrinna adalah putri dari raja kastil Venderland sekaligus pimpinan dari Vander Clan bernama raja Vedern Mighton.
Apa yang harus kulakukan? Sejujurnya aku tidak ingin melibatkan seseorang lagi mengenai masalahku. Sudah cukup sampai disini pengorbanan orang-orang kepadaku, aku harus bangkit dan mencari jalanku sendiri.
(On Vendrinna's House)
At night.
Dimalam hari terlihat Vendrinna sedang duduk diteras rumah memandangi bintang-bintang bertebaran di langit. Wajahnya yang dulu penuh keceriaan kini tenggelam dalam bayangan angan-angan, disusulnya air mata yang meluap ke pelupuk mata dengan kepala masih menengadah ke langit-langit malam.
Agra yang dari tadi berdiri dibelakangnya mencoba mendekatinya, Agra tahu bahwa Vendrinna saat ini sedang terbebani oleh beberapa masalahnya.
Seperti biasa Agra selalu duduk disampingnya setiap Vendrinna bersedih meskipun ia saat ini masih dalam perwujudan roh. Agra mulai memandang wajah Vendrinna dengan senyumannya dan ia tidak akan melepaskan pandangannya ke arah lain, bahkan nyamuk yang sedang menembus dirinya sekalipun.
"Kenapa kau memandangku dengan wajah seperti itu? Bikin risih tau!"
"Agar kau melupakan kesedihanmu!"
Vendrinna memalingkan wajahnya ke Agra karena ia tidak tahan dengan deguban jantungnya yang semakin menguat. Perasaan sedih, senang, dan gugup pun bercampur menjadi satu.
~Sial! Dalam situasi seperti ini dia masih bisa mengguncang jantungku kembali! aku harus bagaimana ini?
"Kenapa diam, senyum donk!"
Vendrinna pun mulai menghapus air matanya dan tersenyum lebar kehadapan Agra.
"Puass kauu!?"
"Kurang ikhlas!"
"Apasih maumu!? Jangan menggangguku! Aku sedang ingin sendiri, kenapa kau selalu muncul dihadapanku! Pergi sana!"
"Aku kesini untuk menghiburmu kenapa kau malah marah?"
"Kau tidak menghiburku tapi malah membuat beban dipikiranku! Tahu tidak? Pergi saja sana!"
Deg ...
Ucapan Vendrinna barusan masih terngiang-ngiang dikepala Agra, dia pun berhenti bicara dan terdiam sejenak. Agra seketika merasa hilang semangat dan ia mulai berdiri dan menghilang di hadapan Vendrinna.
"Baiklah jika itu maumu, tapi aku menyarankanmu untuk tidak terlarut dalam kesedihanmu, karena itu tidak baik bagi kesehatanmu."
Agra pun menghilang meninggalkan Vendrinna dan seketika lenyap dari pandangannya.
"Astaga! Apa aku barusan menyakiti perasaannya!?"
Vendrinna pun bergegas pergi mencari Agra ke sudut-sudut rumah namun ia tidak merasakan keberadaan Agra disitu dan ia pun terus mencarinya hingga pada akhirnya ia berhasil menemukannya.
Terlihat roh Agra sedang mencoba masuk kedalam tubuhnya yang saat itu dibaringkan di kamar darurat khusus pengobatan medis milik Vendrinna dan alhasil tubuhnya masih menolak untuk dimasuki rohnya.
"Agra!"
Merasa dirinya terpanggil secara refleks Agra menoleh ke belakang dan mengarah ke sumber suara itu berasal, disana terlihat Vendrinna sedang berdiri didepan pintu kamar daruratnya.
"Jangan begitu memaksakan dirimu untuk kembali ke ragamu, itu tidak akan berhasil tapi malah membuat energimu semakin habis."
"Lalu apakah aku harus seperti ini terus-menerus? Menunggu sesuatu yang belum pasti kedatangannya? Aku takut aku akan menjadi beban dirumah ini nantinya."
"Apa kau marah kepadaku? Maaf atas perkataanku tadi."
"Tidak, aku tidak marah, hanya saja aku sedang berfikir tentang kebenaran ucapanmu tadi, sepertinya kau benar, aku hanyalah beban disini."
"Tidak! Kau bukan beban! aku mengatakan hal itu karena tadi aku benar-benar gugup, aku tidak bermaksut untuk membuatmu merasa down, aku sedang ingin sendiri dan kau datang membuat ku menjadi salah tingkah. Sebab itu aku mengatakan kata-kata itu agar kau bisa pergi, namun aku sadar kalau aku seharusnya tidak mengatakan seperti itu kepadamu, maaf kan aku kumohon."
Agra pun terdiam sejenak kemudian ia tersenyum lagi dihadapan Vendrinna.
"Aku memaklumimu, lagipula kau benar-benar terlihat lelah menghadapi hari ini kan? Lebih baik kau tidur saja, ini sudah larut malam Jessy dan nekko sudah tidur dari tadi tinggal kau yang belum tidur."
"Lalu? Kau?"
"Mana bisa aku tidur?"
"Ohiya hehe ... baiklah kalau begitu aku akan pergi keatas untuk tidur, selamat malam."
"Selamat malam."
Mereka pun tersenyum dan hari sudah semakin malam, kini Vendrinna harus beranjak tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah dengan beban masalahnya. Agra yang melihat Vendrinna tidur dengan lelap merasa tenang dan lega.
"Setidaknya kubuat kau terlelap dalam tidurmu agar kau tidak syok esoknya saat kau harus melihat hal yang mungkin tidak ingin kau lihat."
Ia pun menyalurkan energi nya ke tubuh Vendrinna agar ia semakin terlelap dalam tidurnya.
Malam yang begitu sepi dan hening menerka setiap jajaran pohon di depan teras rumah, suasana malam itu begitu sunyi dan dedaunan pun terus diterpa oleh angin malam.
****
Keesokan harinya seperti biasa matahari tetap menyapa setiap bunga-bunga baru di ladang lavender, Vendrinna yang tertidur lelap pun terbangun dalam tidurnya karena ia melihat sosok pria yang datang membangunkannya, tangannya yang hangat menyentuh tangan Vendrinna dengan penuh kelembutan.
"Vendrinna ... bangunlah ...."
Terdengarlah sayup-sayup suara dari samping tempat tidurnya, suara itu berasal dari sosok pria yang sedang duduk di samping tempat tidurnya.
Saat itu sinar mentari pagi mulai menembus jendela kamar Vendrinna sehingga membuat wajah pria itu tidak begitu jelas karena silauan matahari dibelakangnya.
"Ayo bangun, kok malah tidur lagi?"
"Siapa sih!? Ganggu orang tidur aja."
"Apa kau lupa? Aku Agra."
~astaga mimpi apa aku kemarin, pagi-pagi sudah ada pria tampan yang datang membangunkanku tidur. Andai saja dia membangunkanku setiap hari, rasanya terasa nge-fly. Sentuhan tangannya pun terasa lembut dan hangat dengan nada suara yang lirih, fiks dia pangeran idaman.
"Oh ... kamu ternyata ... aku masih ngantuk."
"Kumohon bangunlah, ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadamu."
"Iya bicara apa? Cepat katakan?"
"Bangun dulu!" Tangan Agra memegang hidung Vendrinna sebagai tanda kesal karena Vendrinna susah untuk dibangunkan.
~astaga dia mencubit hidungku, its so sweet.
"Lho! Kok senyum sih? Vendrinna ... Apa kau mengigau? Hey ... banguunn ...."
Agra kini menepuk pipi Vendrinna dengan tangannya.
~aduh keras sekali tepukannya, padahal kan aku sudah bangun, cuman nanggung aja kalau cepet-cepet bangun jarang banget aku dibangunin sama laki-laki setulus dan setampan dia. Ehh ... tunggu dulu! Agra kan bukannya masih koma dan mustahil roh nya bisa memegang tanganku apalagi pipi dan hidung pasti nembus lah ... lalu yang disini siapa? (Mata Vendrinna pun mulai terbelalak lebar).
"Hai! Akhirnya kau bangun juga!"
"Huwaaa ...."
Vendrinna yang nyawanya belum seutuhnya kembali merasa terkejut melihat Agra yang bisa menyentuh tubuhnya.
"Kenapa kau berteriak?"
"Ka ... kau ... sudah sadar?"
"Belum."
"Lalu bagaimana kau bisa menyentuhku?"
"Tenangkan dirimu dulu!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Melihatmu menyentuh tanganku saja membuatku panik hingga aku sempat berfikir kalau aku juga mati."
"Hahaha ... tenang saja kau tidak mati ... hanya saja kau masuk kedalam dunia roh."
"Kau bercanda? Aku melihat disekelilingku bahwa aku tidur dikamarku dan tempatnya pun tidak ada yang berubah."
"Aku memang sengaja membuat objek disekitar menjadi mirip seperti suasana dikamarmu agar kau tidak syok melihat dunia roh yang aslinya."
"Lalu kenapa kau membawaku kesini? Cepat kembalikan aku ke tempat asalku."
"Tenang saja aku akan mengembalikanmu seperti semula, tapi berikan aku waktu sebentar untuk memberitahumu hal penting yang harus kau ketahui."
"Hal penting apa sih?"
"Ada seseorang yang ingin menemuimu dari dunia roh."
"Hah? Siapa?"
"Vendrinna ...."
Terdengar suara sosok perempuan yang sedang memanggil Vendrinna dengan iringan suara langkahan kaki dari depan pintu kamarnya, kedatangannya disambut oleh cahaya putih dari belakang hingga menyilaukan mata Vendrinna, tak lama setelah cahaya itu menerka disusul pula dengan hembusan angin di sekitar kamar Vendrinna.
Sosok perempuan tersebut memakai baju serba putih dengan warna rambut ungu kegelapan. Perempuan itu berjalan mendekati Vendrinna yang saat itu sedang duduk di tempat tidurnya.
Dengan rambutnya yang lurus dan lembut membuat angin mudah menerpa rambutnya, wajahnya pun tertutupi oleh bayangan dari pusat cahaya putih dibelakangnya hingga Vendrinna sempat menduga bahwa sosok perempuan itu adalah bidadari.
"Siapa kau? Apa kau bidadari?"
Tanya Vendrinna dengan herannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
👑Meylani Putri Putti
like lagi
2021-03-14
1
Desshio08
siapp... masih pemrosessan.. ditunggu jam 3 ya...
2021-02-28
0
Laa~❤
next kak... ceritanya seru...
2021-02-28
1