...Aku tidak akan menyalahkan keadaan. Justru keadaan telah mengajarkanku tentang arti kehilangan dan cara mengikhlaskannya....
...~ Agra Le Bluezer (the last Blue Clan)~...
..._________________________________________________...
"Tolonglah kami nona! Kumohon." gadis itu memohon.
"Mm ... maaf tuan, nona saya tidak mengetahuinya." - Jawab Vendrinna.
"Benarkah? Kalau begitu jika anda bertemu dengan orang ini harap hubungi kami melalui chip ini." Pria berjubah itu memberikan sebuah chip card berbentuk kotak kecil dengan tombol bulat diatasnya.
"Hmm ... baiklah ...!"
"Kalau begitu kami pergi dulu."
Pria berjubah merah bersama gadis bergaun sederhana itu kemudian pergi dari rumah Vendrinna. Entah apa yang dipikirkannya wajah Vendrinna pun terlihat resah dan bingung dengan situasi ini.
"Hey Vendrinna, kenapa kau terlihat resah? Dan siapa mereka tadi?" Tanya Jessy.
"Oh ... itu? Itu hanya kurir yang mengantar pesanan ku." - Vendrinna.
"Lalu kenapa kau terlihat cemas?" - Jessy.
"Aku cemas karena pesanan itu keliru, aku memesan benang woll satu ranjang beserta alat rajutnya, namun yang diantar kemari tidak sesuai dengan pesananku, mungkin dia salah kirim, hehe ..."
Vendrinna terpaksa memberi alasan palsu agar Jessy tidak bertanya hal-hal aneh lagi yang membuatnya kebingungan untuk menjawabnya.
"Ohh ... kirain apa." - Jessy.
"Haha ... iya ..." - Vendrinna.
"Tapi kau tidak pernah memesan kepada kurir, biasanya kan kau sendiri pergi ke tokonya untuk membeli barang rajut." - Jessy.
"Aku sedang malas untuk pergi ke sana, jadi aku pesan kurir saja untuk mengantarkan barang itu kerumah, sudahlah ... aku pergi ke ladang dulu." - Vendrinna.
"Tunggu dulu! Kau pergi sendiri lagi? Jika ada apa-apa disana siapa yang akan menyelamatkanmu? Jadi beban saja kau ini." - Jessy.
"Heyy ... kebalik, seharusnya kau yang jadi beban tolol!" - Vendrinna.
"Beban? Aku bebanmu? Lalu siapa yang bersihkan rumah sebesar ini, merapikan rumah, memasak di dapur, mencuci baju semua tugas rumah aku yang melakukannya, belum lagi ketika kau di sungai Hollow Vender, ingin menyelamatkan seseorang tapi tidak mau berenang, akuu ... lagi yang jadi sasaran empuknya." Jessy dengan nada kesalnya.
"Tapi kan kau tidur dirumahku, aku yang beli rumah ini, kau kan hanya numpang disini." - Vendrinna.
"Kau ... dasar pelupaa ..." Sambil memukul kepala Vendrinna menggunakan teflon dapur, Jessy ternyata baru sadar kalau dia tadi membawa teflon di tangannya, akhirnya alat yang seharusnya digunakan untuk menggoreng pun seketika dijadikan ajang pemukul bola tengkorak.
"Aduhh ..." Vendrinna pun kesakitan.
"Apa kau lupa? Kau sendiri yang menyuruhku numpang di rumahmu, dan mengajakku tinggal bersama saat dipinggir pasar. Tau seperti ini lebih baik aku memilih menjadi tukang rajut jalanan kembali." Jessy merasa kesal.
"Ehh ... kenapa kau menganggap ini serius? Aku hanya bercanda Jessy, kenapa malah jadi begini sih? Maaf lah ..." - Vendrinna.
"Hmm ...." - Jessy.
(Beberapa detik kemudian)
"Sepertinya ada bau-bau gosong." - Vendrinna.
"Astaga! Demi bokong panci yang gosong aku lupa sedang menggoreng ikan!"
Jessy pun lari menuju dapur untuk mengecek tingkat kegosongannya.
"Hayolo ... gosong ... hahahaha ..."
Vendrinna seketika tertawa lepas melihat tingkah temannya yang aneh itu.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan lupa jaga pangeranku yaa ... tapi jangan di embat ..." Teriak Vendrinna ke arah dapur.
Vendrinna pun menuju ke ladang bunga Lavender, seperti biasa dia berjalan kaki dengan riangnya dan memakai pita kupu-kupu di atas kepalnya.
****
(On Lavender field)
Sesampainya di ladang bunga Lavender, seperti biasa Vendrinna duduk dibawah pohon favoritnya dengan rileks dan mengatur napas agar semakin menyatu dengan alam sekitar. Suara burung berkicau masih terngiang di telinganya, kupu-kupu berterbangan di atas bunga lavender, aroma sensasi menyegarkan dari bunga Lavender membuat kupu-kupu enggan pergi dari ladang itu.
Seketika ia teringat dengan pria berjubah merah dan gadis disampingnya itu. Vendrinna masih memegang chip dari pria itu dan memandang chipnya secara detail.
"Buang chip itu sekarang!"
Tiba-tiba muncul suara orang lain dibalik pohon yang ia sandari, Vendrinna pun menengok ke belakang.
"Kau lagi ... kenapa kau membuntutiku terus? Kembali ke ragamu sana!" - Vendrinna.
"Hmm ... sudah kubilang aku belum bisa kembali ke ragaku, ragaku terus menolak."
Sosok itu ternyata tak lain adalah roh dari Agra. Jiwa yang terlepas dari tubuhnya saat dirinya hanyut di sungai Hollow Vender.
Vendrinna memiliki kemampuan visual yang tajam dan memiliki unsur spiritualnya yang peka terhadap hal-hal yang berbau halus, contohnya seperti makhluk halus. Namun selama ini Vendrinna merahasiakan kemampuannya karena sikapnya yang tidak suka menonjol, apalagi terlihat hebat oleh orang lain.
Saat itu awal bertemu dengan roh Agra tepat ketika ia mencoba membuang tubuh Agra kesungai. Roh Agra saat itu berdiri di depan Vendrinna dengan posisi kaki mengambang di air, dengan wajah pucat dan bersedih Agra mengatakan kepada Vendrinna untuk tidak membuang tubuhnya. Karena roh Agra merasakan ada nya sedikit respon antara tubuh dan roh nya, bisa dikatakan ia mati suri, hingga sampai saat ini kondisinya masih berstatus kritis.
"Bersabarlah, mungkin ini belum waktunya kau kembali ke ragamu." - Vendrinna.
"Ya, aku selalu menunggu saat itu tiba." - Roh Agra.
"Kenapa kau ada disini? Biasanya kau berkelana tak jelas arahnya." - Vendrinna.
"Aku datang kesini untuk menyuruh kau membuang chip itu!" - Roh Agra.
"Ada apa denganmu? Tadi kau menyuruhku mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak mengetahui keberadaan mu! Dan sekarang kau menyuruhku membuang chip ini? Mereka itu keluargamu!" - Vendrinna.
"Dia bukan keluargaku!!" Roh Agra.
"Jika dia bukan keluargamu, kenapa dia sampai menunjukkan sketsa wajahmu kepadaku dan mereka terlihat sedih ketika mencarimu?" - Vendrinna
"Ternyata kemampuanmu dalam membaca karakter masih lemah, itu hanya rekayasa tolol! jangan percaya kepada mereka."
"Justru sebaliknya aku yang seharusnya tidak percaya dengan mu! Kau pasti lari dari rumah dan melakukan percobaan bunuh diri kesungai kan?!"
"Hufhh ... jika kau belum tau masalahku, jangan pernah kau mengambil kesimpulan secepat itu."
"Lalu siapa kau sebenarnya?"
"Manusia."
"Haaahh ... ketika aku bertanya siapa kau selalu saja menjawab seperti itu! Aku tau jika kau manusia tapi darimana kau berasal huuhh!?"
"Di bumi."
"Huwaa ... kau selalu membuatku gila setiap saat." Vendrinna melempar selopnya ke arah roh Agra.
"Tembus tuh ... kau lupa ya? Aku saat ini sedang menggunakan mode transparan, jadi anti tuh benda kasar melayang di mukaku hahaha ...."
Vendrinna seketika duduk dengan kaki dan tangannya dilipat, dirinya masih merasa kesal dengan ejekan Agra.
Mereka kemudian terdiam beberapa detik.
"Bagaimana rasanya lepas dari raga sendiri?" - Vendrinna.
Agra yang saat itu berdiri disampingnya langsung menoleh kebawah sembari melihat rambut Vendrinna yang tertiup oleh hembusan angin.
"Hmm ... rasanya sangat sakit saat tertarik dari ubun-ubun kemudian semuanya seketika terasa ringan seperti kapas, kenapa kau bertanya seperti itu?" - Agra.
"Tidak, aku hanya teringat ibuku saja. Ibuku meninggal 14 tahun yang lalu, dia mati terbunuh oleh orang misterius yang tidak dikenal. Aku pun tak begitu ingat kejadian itu karena saat itu aku berumur 4 tahun, tapi yang jelas aku melihat sendiri ibuku saat meregang nyawa, aku melihat ibuku kesakitan saat menghadapi ajalnya hingga terlepas dari raganya. Waktu itu aku masih melihat roh ibuku lepas dari tubuhnya, dia berdiri disamping tubuhnya dan mengucapkan selamat tinggal padaku."
Mendengar ucapan Vendrinna barusan Agra merasa kesedihan itu bukan hanya dialami oleh dirinya sendiri, namun orang lain pun juga merasakan hal yang sama.
Saat itu Vendrinna terdiam dengan kepala menunduk dan ia tak kuasa menampung beban air mata di pelupuknya, hingga meneteslah air mata itu saat setiap kali teringat masa lalunya yang buruk.
Agra mencoba mendekat dan menghapus air matanya, namun semua itu sia-sia saja, tangannya yang penuh kehangatan tak mampu menyentuh pipi gadis malang itu.
Ia lupa bahwa dirinya masih terpisah dari tubuh aslinya, tangannya menembus pipi gadis itu. Agra pun kemudian menarik uluran tangan yang tadinya ingin menghapus air mata Vendrinna dan melihat kedua tangannya yang saat ini tidak bisa berguna bagi orang lain.
"Mm ... maaf ... aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghiburmu ..." - Agra.
"Mendengarkan curhatanku saja aku sudah senang." Vendrinna tersenyum kepada Agra.
Agra pun membalas senyumnya.
"Kau tahu? Apapun yang terjadi aku tidak akan menyalahkan keadaan. Justru keadaan telah mengajarkanku tentang arti kehilangan dan cara mengikhlaskannya."
Mendengar ucapan Agra ia pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke Agra, lalu Vendrinna menghapus air matanya dan tersenyum kembali ke Agra.
"Hm ... Terima kasih."
"Sama-sama, oh iya ... namamu siapa?"
"Namaku Vendrinna, kamu?"
"Aku Agra, salam kenal gadis perenung, haha ..."
"Aku bukan perenung! huh!"
"Hehe ..."
Mereka kemudian melanjutkan senda guraunya, dan menghiraukan segalanya meski saat ini mereka terpisah oleh alam yang berbeda.
#BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE👍
JANGAN LUPA VOTE 🌟
JANGAN LUPA COMENT 💬
JANGAN LUPA FOLLOW😁👌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
👑Meylani Putri Putti
like
2021-03-10
1