"Ibu!!"
Vendrinna seketika terbangun dari dunia roh dan kembali ke kamar aslinya, mendengar suara teriakan Vendrinna, Jessy pun pergi ke kamarnya dan mengecek keadaan Vendrinna.
"Apa yang terjadi?"
Vendrinna saat itu menghela nafasnya dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah kembali ke dunia manusia tempat ia hidup sekarang.
Jessy pun ikut bingung karena Vendrinna seketika terdiam dan tidak mau bicara apapun kepadanya.
"Hey ... kenapa? Apa kau mimpi buruk lagi? Aku mendengar teriakanmu saat kau memanggil ibumu."
"Hmm ... iya kupikir itu mimpi."
~Apa aku harus mengatakan sesuatu kepada jessy tentang pertemuanku dengan ibuku.
"Jangan melamun cepat bersiaplah karena ada dua orang tamu yang sedang menunggumu."
"Hah ... tamu? Siapa?"
"Ya gatau pokok nya mereka ingin berbicara hal penting kepadamu ... ayo buruan siap-siap."
Jessy pun pergi meninggalkan Vendrinna yang sedang bersiap-siap dikamarnya. Pertanyaan pun timbul dalam benaknya pasalnya tidak ada seorang tamu sepenting ini hingga sampai datang kerumah Vendrinna pagi-pagi.
Ia pun juga tidak pernah menjalin ikatan oleh orang asing kecuali Jessy dan Agra setelah ia melarikan diri dari kastil ayahnya.
~kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya? Ah ... sudahlah lebih baik temui mereka dulu dan cari tau siapa mereka.
Setelah merapikan dirinya Vendrinna bergegas turun dari tangga untuk mencari tahu siapa dan apa tujuan tamu itu menemui Vendrinna.
"Mohon tunggu sebentar ya ... tuan ... nona ..."
"Hm ... baiklah ..."
"Vendrinna! cepat turunlah!"
"Iya sabar kena ... pa."
Vendrinna pun akhirnya turun dari tangga kamarnya dan ia pun seketika terkejut melihat siapa tamu yang menunggunya pagi ini. Ya ... mereka adalah pria berjubah merah dengan gadis bergaun sederhana yang dulu pernah bertemu dengan Vendrinna di tempat yang sama sekitar dua pekan lalu.
"Selamat pagi nona."
"Kalian!"
"Kenapa nona terkejut!? Apa nona takut akan sesuatu? Apakah wajah kami begitu menyeramkan?"
~Gawat! Mereka kembali! Apa mereka mengetahui keberadaan Agra disini? Sepertinya apa yang dikatakan Agra itu benar, mereka bukan keluarganya, aku mulai bisa melihat aura dan niat buruknya kepada Agra ... apa yang harus kulakukan? Lagipula dimana dia? kenapa dia tidak muncul-muncul juga dari tadi?
"Lho! Ada apa ini sebenarnya, kenapa suasananya berubah menegangkan begini?"
Jessy yang dari tadi bingung melihat mereka yang saling bertatapan tajam mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Vendrinna pun seketika menggeret tangan Jessy menjauh dari mereka agar tidak mendengar pembicaraan Vendrinna.
"Jessy kenapa kau membiarkan mereka masuk kedalam rumah ini?"
"Ada apasih sebenarnya? Sepertinya ada hal yang sedang kulewatkan disini?"
"Ck ... mereka adalah orang jahat! Mereka mencoba mengincar Agra dengan cara mengaku-ngaku menjadi keluarganya, mereka memanipulasi semua orang dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu keluarga mereka yang sedang kabur dari rumah."
"Hah? Orang jahat? Sebenarnya apasih maksudmu? Darimana kau tahu namanya adalah Agra? Aku masih belum begitu faham?"
"Huh dasar otak lemot, aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang."
Ditengah pembicaraan Vendrinna dengan Jessy, gadis misterius disamping pria berjubah itu mencoba memotong pembicaraan mereka.
"Permisi nona-nona apa bicara kalian sudah selesai?"
"ya sudah! Sebenarnya apa tujuan kalian datang kesini?" Vendrinna yang sedang kesal mencoba menenangkan dirinya.
"Tunggu sebentar! Bisakah kita duduk dahulu?"
Tatapan Vendrinna semakin sinis melihat mereka yang mulai menunjukkan gerak-geriknya, Vendrinna pun mempersilakan mereka untuk duduk di kursi tamu dengan hati yang sangat tidak ikhlas.
"Sebelum menuju ke pembicaraan inti, kami ingin memperkenalkan diri kami terlebih dahulu, namaku adalah Rival dan gadis disampingku adalah Laurent, jadi kami datang kembali menemui nona untuk meminta permohonan agar nona menyerahkannya kepada kami secara baik-baik."
"Siapa yang kau maksud?"
"Nona ... jangan berpura-pura tidak tahu tentang pria itu! Nona pasti menyembunyikan dia kesuatu tempat, dimana dia!"
"Kenapa kalian menatapku dengan mata seperti itu?"
"Nona pikir kami tidak tahu? Temanmulah yang mengatakan segalanya kepada kami bahwa nona menemukannya hanyut disungai dan membawanya kerumah ini, jadi kuminta sekali lagi kepada nona untuk menyerahkannya kepada kami! Atau kami akan melakukan tindakan lebih lancang lagi."
"Jessy kau benar-benar ... huuh ... jika kau bukan sahabatku akan kuhajar kau habis-habisan!"
"Ya ... maaf ... aku kan tidak tahu apa-apa?"
"Hey! kalian pikir aku percaya kalau kalian adalah keluarga dari Agra, malah aku percaya kalau kalian itu adalah orang yang jahat dan mencoba membunuh Agra dengan cara menyembunyikan wajah aslimu dibalik topeng sandiwara kan?"
"Berhenti mengatakan omong kosong! Katakan dimana dia sekarang atau kuhancurkan tempat ini!"
"Berhenti membuat kekacauan ditempat ini! Aku punya kendali penuh dirumah ini dan jangan pernah mencoba lancang dirumahku!"
"Lakukan penggeledahan sekarang!"
Teriak Rival sebagai kode perintah darurat, seketika rumah Vendrinna dimasuki oleh puluhan pasukan bertopeng dengan baju serba hitam seperti ninja. Mereka mulai bergerak menelusuri segala penjuru rumah untuk menemukan keberadaan Agra.
Rumah Vendrinna sekarang dikepung oleh Anggota pasukan milik Rival dan mereka mulai menggeledahi setiap sudut rumah, Vendrinna pun mencoba menghentikan tindakan anarki mereka dengan mengundang ribuan kupu-kupu beracun didalam rumahnya.
"Sudah kubilang jangan mencoba lancang dirumah orang atau aku akan menancapkan racun kedalam tubuh kalian dengan ribuan kupu-kupu beracun ini?"
"Oh ... kupu-kupu ... jadi kau menantangku dengan hewan melata ini?"
"Wahai kupu-kupuku! Serang mereka!"
Kupu-kupu itu mulai menyerang Rival dan seluruh pasukannya.
"Hm ... Lumayan hebat kupu-kupu itu, tapi permainan ini akan segera berakhir secepatnya."
Rival mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu pedang flashfire, pedang itu mengeluarkan cahaya seperti lidah api dan menjulur keatap-atap rumah, seketika rumah Vendrinna pun serasa ingin hancur akan kedahsyatan pedang itu.
Sesekali Rival menebaskan pedangnya, puluhan kupu-kupu pun jatuh dari langit-langit rumah milik Vendrinna. Rival pun meneruskan tebasannya berkali-kali dan puluhan bahkan ratusan ekor kupu-kupu beracun pun berhasil dikalahkan.
Belum sempat menancapkan racun kemusuh kupu-kupu itu sudah berkurang jumlahnya dengan cepat, pedang flashfire pun semakin lama digunakan semakin meningkat potensi kekuatannya.
"Sudah habis!? Hahaha ... pedang ini terlalu mudah untuk menaklukkan ribuan kupu-kupu beracunmu itu!"
"Masih belum! Itu baru seribu masih banyak lagi yang ingin aku tunjukkan padamu!"
Vendrinna kini mengirim dua ribu kupu-kupu beracun lagi dan membangkitkan kupu-kupu yang sudah mati agar menambah kemampuan tempurnya.
"Unik! Mari kita bermain-main dulu!"
Pertempuran itu terus berlanjut didalam rumah Vendrinna, dan mereka menyerang satu sama lain. Disisi lain Laurent lolos dari serangan kupu-kupu tadi dan mulai memanfaatkan situasi itu dengan melanjutkan pencarian Agra di ruang perawatan khusus.
Hanya ruang itulah yang belum digeledah oleh pasukan dari Rival dan ia mulai mendekati ruangan itu, sesampai didepan pintu ia dihadang oleh Jessy.
"Mau apa kau!"
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan membiarkanmu membuka pintu ini."
"Apa kau ingin berkelahi denganku?"
"Tentu."
Jessy memukul bagian rahang Laurent dan pukulan balik dari laurent pun datang menghampirinya. Jessy pun tergeletak dan mencoba menjegal kaki Laurent dengan kaki kanannya agar dia gagal menemukan Agra yang saat itu sedang terbaring kritis diruang perawatan khusus.
Jatuhnya Laurent membuatnya semakin kesal dengan Jessy yang terus menghalanginya membuka pintu ruang tersebut. Laurent pun terpaksa menggunakan chakranya untuk menaklukkan Jessy.
Fire eyeshadow lock on.
Chakra Laurent pun terbuka matanya mengeluarkan cahaya seakan ada api didalam matanya yang mulai menyembur keluar. Jessy yang menatap matanya langsung berteriak kesakitan setelah ia merasakan bayangan itu berubah menjadi api saat keluar dan membakar wajah Jessy.
"Hah? Chakra apa ini!? Wajahku panas sekali."
"Makanya jangan main-main denganku, waktuku tidak banyak lagi sekarang aku harus bergegas menemukannya."
Laurent meninggalkan Jessy yang tengah kesakitan dan mulai mendekati pintu ruangan itu lagi, tanganya sudah menyentuh pegangan pintu itu dan seketika ia membuka pintunya dengan rasa tidak sabarnya.
Disana terlihat tubuh Agra terbaring dengan lemah dan penuh alat-alat medis lainnya, Laurent pun mendekatinya perlahan-lahan.
"Ketemu juga kau ... akhirnya misiku berhasil ..."
Laurent bergegas memberi aba-aba kepada Rival akan keberhasilannya merebut Agra dari Vendrinna.
"Bagus! Semuanya! Ayo mundur kita sudah mendapatkan targetnya."
"Baiklah"
Mereka pun pergi dengan cepat membawa tubuh Agra pergi dari rumah Vendrinna. Rival dan Laurent pun juga pergi dengan kekuatan transisi berpindah tempatnya.
"Kemana kalian!"
"Panaaass ...."
"Huh? Jessy ..."
Mendengar teriakan Jessy, Vendrinna menghampiri Jessy dengan rasa cemasnya.
"Ada apa Jessy?"
"Wajahku panas rasanya seperti terbakar."
"Tenang saja wajahmu baik-baik saja, kau hanya terkena efek ilusi dari Laurent, akan kuredakan efek itu."
Vendrinna pun menyalurkan hawa murninya kepada Jessy untuk menghilangkan efek ilusinya.
"Dimana Agra?"
"Maaf Vendrinna ... aku tidak bisa menjaganya hiks ... hiks ..."
"Tidak apa-apa kita pikirkan cara lain untuk membebaskannya kembali."
~Agra apakah kau juga merasakan tanda bahaya itu? Kenapa tiba-tiba kau menghilang? Kuharap rohmu segera muncul dihadapanku. Kini sekarang rumahku hancur, jessy juga terluka bahkan nekko pun entah pergi kemana.
BERSAMBUNG
Thanks For Reading❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Laa~❤
dimana kamu Agra?
2021-03-01
1