Bara menghampiri wanita paruh baya itu, berniat mencium tangannya.
Namun nampaknya perempuan itu tak terlalu terkesan dengan Bara.
Bara tetap menyalaminya meskipun mendapat perlakuan yang tak mengenakkan.
"Selamat pagi nyonya Hendrawan..," sapa Bara sambil meraih tangan wanita itu untuk di cium layaknya ibunya.
Saat di salami pun nyonya Hendrawan hanya berlaku sekedarnya saja.
Kemudian Bara di ajak kembali menemui pria sepuh yang masih nampak gagah dan sehat, yang ada di ruang lain lagi.
Pria sepuh itu sedang berbicara dan bercanda dengan pak Budiman dan pak Beni yang nampak sangat menghormati pria sepuh tersebut.
"Papi.., perkenalkan ini Bara..," kata tuan Hendrawan dengan pelan dan nampak sangat hormat.
Pria sepuh tersebut berbalik dan menatap Bara sedikit lama.
Bara terpaku di tempatnya, sedikit sedih bila mengingat sikap nyonya Hendrawan, dia juga tak menghendaki pernikahan ini dan tak menginginkannya, dia merasa hanya sebutir debu di hadapan orang orang ini.
"Waah..cucu menantuku..!!," teriak pria sepuh tersebut kemudian memeluk Bara yang masih kaku di tempatnya.
Bara tak menyangka akan mendapat perlakuan yang berbeda seratus delapan puluh derajat.
Bara buru buru tersadar dan mencium tangan pria sepuh yang masih bugar tersebut.
"Selamat pagi tuan," sapa Bara dengan sopan sembari mencium tangan pria sepuh itu.
"Eh..no..no...no...! panggil saja opa Santosa..," kata pria sepuh tersebut sambil menepuk nepuk pundak Bara.
Setelah di perkenalkan dengan orang orang penting di sana, Bara kembali di ajak ke ruang dimana pertama kali masuk setelah habis tanda tangan perjanjian tadi.
Ruangan dengan dekorasi serba putih yang sangat mewah dan indah itu sudah di sediakan podium mini, tingginya hanya setengah meter dari lantai utama.
Bara di arahkan menuju ke podium yang sudah di pasangi permadani yang sangat indah itu.
Di tengah permadani itu sudah ada meja kecil dan tampak seseorang sudah duduk di seberang meja, nampaknya petugas dari KUA.
Bara kemudian duduk bersila di seberang petugas KUA yang ada di balik meja.
Mereka masih menunggu calon mempelai wanita yang masih di dandani oleh MUA.
Hanya beberapa saat saja, seorang gadis sudah nampak muncul dengan di dampingi nyonya Hendrawan.
Gadis yang memakai pakaian pengantin serba putih itu berjalan pelan dan duduk di samping Bara yang hanya diam tak berani menoleh sedikitpun.
Dengan di pandu dan di pimpin oleh petugas KUA itu akhirnya akad nikah di laksanakan.
Dengan lancar Bara mengucapkan apa yang sudah di perintahkan untuk dihafalnya.
"Saaah..! Saaah.!!
Teriakan para saksi yang ada di sana, menyatakan bahwa pernikahan itu sudah sah di mata hukum dan agama.
Petugas KUA meminta pengantin wanita untuk membuka kain penutup kepala yang menyatu dengan mahkota indah ala ala princess, dan memerintahkan sang wanita untuk mencium tangan suaminya.
Jrreeerngg..!!
kain penutup wajah pengantin wanita di sibakkan ke belakang, sesaat mata bara bertemu dengan gadis tersebut, mereka saling menatap diam termangu.
Bara hanya terpana melihat kecantikan gadis yang kini sudah menjadi "istri" kontraknya.
Dengan rambut panjang hitam terurai sedikit bergelombang di bagian ujungnya, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Mata bulat besar hitam dengan bulu mata yang panjang dan alis tebal alami.
Hidung yang cantik sesuai dengan bentuk wajahnya, dan bibir yang sangat menggoda dengan warna yang sesuai
Semua itu membuat Bara sesaat terpana sebelum kesadarannya kembali.
"Silahkan pengantin wanita mencium tangan sang suami," perintah petugas KUA.
Dengan kaku gadis itu meminta tangan Bara untuk di ciumnya.
Kemudian di lanjutkan oleh Bara yang mencium kening gadis yang baru saja menjadi "istrinya".
Semua yang ada di sana bertepuk tangan dan di lanjutkan dengan pesta di tempat itu.
**
POV Bara
Pagi pagi aku sudah bersiap menunggu jemputan.
Setelah jemputan ku datang, aku segera memasuki mobil mewah tersebut menuju butik yang kemaren itu.
Disana sudah ada petugas Santosa Group yang kemarin menemaniku.
Selesai dari butik kami langsung meluncur menuju ke suatu tempat, yang hanya sopir dan pegawai Santosa Group itu yang tahu.
Aku malas berbasa basi pikiranku masih puyeng memikirkan jalan hidupku.
Mobil memasuki sebuah bangunan yang mewahnya mirip istana Raja di film film yang aku lihat.
Disana sudah menunggu pak Budiman dan pak Beni.
Aku di ajak ke sebuah ruang untuk menandatangani kontrak perjanjian.
Kubaca isi kontrak tersebut setelah sebelumnya meminta ijin tuan Hendrawan.
Secara garis besar aku sudah bisa menangkap isi kontrak tersebut, lalu ku tanda tangani surat kontrak itu.
Setelah selesai menandatangani kontrak perjanjian itu, aku di ajak tuan Hendrawan menemui seseorang.
Mula mula seorang wanita paruh baya cantik dan elegan, ternyata itu istri tuan Hendrawan.
Aku ingin menyalaminya, namun pandangan nyonya Hendrawan nampak tak suka terhadap ku.
"Tak apalah nyonya Hendrawan tak menyukai ku, kalau boleh memilih pun aku enggan melakukan pernikahan sandiwara ini, aku hanya sebutir debu di hadapan orang orang kaya itu."
Namun aku tetap menyalami nya, aku tak perduli bagaiman sikapnya terhadap ku.
Selesai menemui nyonya Hendrawan aku di ajak lagi menemui seorang pria sepuh tapi masih nampak bugar.
Ternyata beliau adalah ayah dari tuan Hendrawan bernama tuan Santosa.
Aku semula takut bila kejadian seperti saat bertemu nyonya Hendrawan terulang, namun di luar dugaan ternyata tuan Santosa sangat humbel alias ramah.
Bahkan memintaku memanggilnya Opa Santosa.
Setelah selesai dari sana aku di giring kembali ke ruang yang sudah di hias mewah tadi, di sana sudah ada podium mini yang juga tak kalah mewah.
Ditengah nya ada meja kecil dan sudah duduk seorang petugas KUA.
Aku duduk di depan petugas KUA tersebut, sesaat kemudian mempelai wanita datang dengan di dampingi nyonya Hendrawan.
Dengan pakaian yang senada denganku yaitu putih, wanita itu nampak anggun duduk di sampingku, meskipun aku tak berani menoleh sedikitpun.
Acara akadpun selesai dengan lancar kuucapkan, cuma menghafal beberapa baris kata saja mudah bagi otakku yang cerdas ini...he..he...sombong dikit ya...
Setelah terdengar teriakan Saah...! Saaah..!!
Resmi lah kami menjadi suami istri di mata hukum dan agama, namun tidak di hati dan kehidupan kami.
Tibalah saat pengantin wanita di perintahkan membuka kain penutup wajahnya.
Jrreeerngg...!!!
Aku terpana melihat kecantikan wanita di depanku ini.
"Subhanallah...!!, aku sampai tak bisa mengucapkan apa apa."
"Sempurna..,'' hanya kata itu yang mewakili pikiran ku.
Kami saling menatap lama, aku tak tahu apa yang di pikirkan gadis tersebut hingga dia juga menatapku sangat lama.
Hingga akhirnya aku kembali berdebar hebat saat gadis itu di perintahkan mencium tanganku dan aku mencium keningnya.
"Ya Allah..kuatkan hamba mu."
________
**Gimana reader semua ...
seru..gak...ya....
tinggalkan jejak ya dan dukung karya penulis remahan ini**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
PERNIKAHAN SAKRAL, DI JADIKAN PERMAINAN OLEH HENDRAWAN, PASTI OPA SANTOSA TDK TAU TTG STTUS PERNIKAHAN BARA & YOLANDA.
2023-01-10
0
AbhiAgam Al Kautsar
klo ada POV di skip aj ya para pembaca yg Budiman
2022-09-22
0
Herro Madmuar
trll byk POV bosan
2021-10-07
2