Pagi hari Bara dengan di antar seorang sopir pergi ke kampung halamannya.
Mereka sengaja berangkat pagi pagi sekali, karena di usahakan tidak menginap di kampung agar bisa segera bersiap untuk melangsungkan "pernikahan" itu.
Mobil yang di pakai adalah mobil jenis sport, jadi bisa di pacu dengan kecepatan tinggi, sampai sampai Bara sedikit ketakutan.
"Pak enggak usah buru buru, kita kan enggak mengejar waktu..lagian operasinya di jadwalkan malam kok pak, soalnya paginya dr ortopedi nya kan tugas di RSUD," kata Bara mencoba mengurangi kecepatan pak sopir menginjak gas nya.
"Tenang aja mas..,bapak sudah mahir kok ngebawa mobil ini," jawab pak sopir dengan enteng.
"Apa...? mahir...? mahir dari mananya coba, bukankah kecelakaan terjadi bukan hanya di sebabkan mahir tidaknya seseorang mengendarai mobil, tapi juga di pengaruhi Kondisi kendaraan, situasi lingkungan dan cuaca dan juga human errornya kan? kita mahir tapi orang lain tidak,kita mahir tapi cuaca buruk.waah..bapak ini.."
"Maaf pak.., saya takut akan kecepatan," kata bara berbohong.
"Mas Bara takut dengan kecepatan..? yang benar mas ..?.."
"Lho..bapak tahu nama saya tho...?," Bara sedikit kaget.
"Ya mesti kenal to ..mas, kan calon juragan kita."
"Apa..? Juragan..? enggak salah dengar..?," batin Bara.
"Memangnya bapak tahu dari mana saya calon juragan pak, kuliah aja belom kelar mana bisa jadi juragan, bapak peramal ya."
Pak sopir tersebut malah tertawa ngakak.
"Pak...tertawanya jangan keras keras.. takutnya setirnya oleng lho pak," teriak Bara yang masih ketakuatan.
"Mas..Bara..,kan mas mau nikah sama non Yolanda, berarti kan nanti mas bara jadi juragan bapak..gitu aja enggak perlu jadi peramal mas..," kata bapak sopir itu.
"Ooh..,"
"Eeh...siapa tadi nama calon istriku..emm maksudnya istri bo'ongan ku...Yolanda..?," batin Bara.
"Lho...? Bapak juga sudah tahu masalah itu..?"
"Semua pegawai di rumah tuan Hendrawan Santosa sudah tahu.. lah ..mas..."
Bara mengangguk anggukan kepalanya, kayak mengerti aja.
"Eem..boleh nggak pak saya sedikit bertanya ..?," kata Bara dengan ragu ragu.
"Nanya ..apa mas..? shok atuh..?."
"Kenapa non ..siapa tadi pak..?"
"Non Yolanda..."
"Ya..itu, non itu enggak menikah dengan pacarnya..?," tanya Bara.
"Non Yolanda enggak punya pacar..mas."
"Lho..ngapain coba..nggak punya pacar tapi malah menikah..?," tanya Bara penuh tanda tanya.
"Waah mas aku enggak berani ngomong banyak, takut salah.
Ini aja sudah banyak cerita sama mas Bara, pokoknya jangan bilang bilang kalau saya yang bercerita ya mas, bisa bisa aku nanti di pecat," kata pak Bandi.
Ya sopir itu bernama pak Bandi yang di tugaskan mengantar Bara menuju kampung halamannya untuk menengok bapaknya.
**
POV Bara
Pagi pagi aku sudah bersiap menuju kampung halamanku untuk menengok bapak yang akan di operasi malam nanti.
Lumayanlah aku di antar salah satu mobil tuan Hendrawan.
"wuih mobil sport bro.., baru kali ini dah seumur umur naik mobil sport yang isinya cuma dua orang," batinku bergejolak.
Mobil melaju menuju arah ke kampung halaman ku.
memasuki jalan tol bapak sopir itu mulai menginjak gas kayak kesetanan.
Sampai aku ketakutan dengan kecepatan mobil itu, padahal aku suka kebut kebutan lho, tapi pake motor doang.
Aku memintanya mengurangi kecepatan, eeh...eh..malah bapak itu tertawa, akhirnya kami berkenalan dan bercerita deh sana sini, ehh..bukan berkenalan karena ternyata pak sopir yang bernama Bandi itu sudah tahu namaku bahkan tahu aku "calon menantu" keluarga tuan Hendrawan Santosa.
Hingga akhirnya aku tahu gadis yang akan "ku nikahi" bernama Yolanda.
Nama yang cantik, sesaat aku membayangkan nama Yolanda pasti cantik orangnya, namun ku tepis angan dan pikiran konyolku, aku ini hanya remahan, sebutir debu bagi mereka.
Saat pak Bandi aku tekan kenapa mesti ada pernikahan, bapak itu tak menjawab, alasannya takut.
"Hadeeh...gagal deh interogasi ku," batinku.
**
Tanpa terasa oleh keduanya mobil sport itu sudah keluar dari jalan tol.
"Mas kita sudah mau keluar tol, nanti di pandu ya lewat jalur yang mana..?," kata pak Bandi.
"Ya pak..," jawab Bara singkat.
"Kita langsung ke Rumah Sakit aja pak, soalnya pesan dari pak Budiman dan pak Beni begitu," kata Bara kepada pak Bandi.
"Ok..siap mas."
Setelah melewati beberapa belokan dan traffic light akhirnya mobil sampailah di depan sebuah Rumah Sakit Swasta.
Mereka melapor ke Satpam penjaga pintu masuk soalnya saat itu bukan jam bezuk.
"Pagi pak maaf saya keluarga pak Darmais, saya mau nitip uang muka untuk operasi nanti malam dan ketemu keluarga di dalam untuk penandatangan persetujuan operasi," kata Bara kepada Satpam penjaga pintu.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Bara di perbolehkan masuk oleh Satpam itu, karena mau nitip uang DP operasi, sedangkan pak Bandi hanya menunggu di depan pintu masuk hingga jam bezuk tiba.
_________
**Lanjutkan enggak ceritanya reader...
Tapi tinggalkan jejak ya....biar otor cemungut nulis nya**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Nusa thotz
koq wasting typing ya..atau ngejar batas kata buat upload...banyak bener kejadian yg di ulang ulang nulisnya...bukan lagi ujian yg perlu di ulang ulang sampai apal
2024-08-16
0
Sulaiman Efendy
SEMOGA YOLANDA MSH PERAWAN, BLM DI MAKAN PACARNYA...
2023-01-10
1
sun 💥
coba POV nya ngk ada
2022-04-04
0