Pisau belati yang biasanya dia gunakan untuk merajang sayuran, memotong daging atau mengupas ubi dan buah kini berubah menjadi senjata pembunuh. pisau dapur itu terlempar tak jauh darinya. dalam keadaan terluka dan siksaan hawa dingin membeku yang menusuk sekujur tubuhnya hingga ke dalam tulang, pemuda ini tetap berusaha bangkit, tapi semuanya sia- sia tubuhnya terlampau lemah. matanya yang nyaris terpejam masih sempat melihat kilatan cahaya golok yang berkelebat di atas kepalanya.
Suara gemuruh guntur diatas langit mengiringi datangnya hujan. langit terang berubah gelap. air yang tiba di atas tanah menjadi merah tercampur darah. Pranacitra terkekeh, dia merasa hujan selalu saja datang disaat kematian hendak datang menjemputnya, atau bisa juga hujan sengaja menertawakan kelemahannya. dalam beberapa detik menjelang ajalnya pemuda ini kembali terkenang masa lalu.
''Seumur hidup baru kali ini aku membunuh orang, sayangnya aku juga bakalan mati., tapi kurasa bagus juga, setidaknya aku bisa lebih cepat menyusul semua saudaraku..''
''Aah., saudaraku Arga Pangestu, Ajeng Larasati., kalian berdua saling menyukai tapi malu untuk mengakuinya, dasar bodoh., di pundak kalianlah semua tanggung jawab perguruan Gunung Bhisma terpikul, aku akan menyusul guru dan yang lainnya. semoga kalian berdua bahagia.."
Matanya terpejam seiring golok di tangan sang pemimpin Lima Begundal Brewok yang berkelebat membacok lehernya. darah menyembur. jeritan parau terdengar menembus suara gemuruh hujan.
Pranacitra berteriak tertahan saat sesosok tubuh tinggi besar menimpa tubuhnya. cahaya kilat sesaat menerangi gagang sebilah pisau belati yang menancap di punggung pemimpin Lima Begundal Brewok sampai menembus jantungnya. pisau dapur itu kembali memakan korban.!
Saat mata si pemuda penyakitan melirik, dilihatnya gembel cilik tukang copet itu sedang berdiri gemetaran. tubuhnya bukan saja menggigil oleh siraman air hujan tapi juga karena perasaan seram akibat sudah membunuh manusia. dia menatap kedua tangannya yang kurus berlepotan darah segar. Pranacitra tahu meskipun darah bisa hilang tersapu hujan, tapi ingatan tentang pembunuhan itu tidak akan pernah lenyap dari kepala si bocah copet.
Entah berapa lama dia terbaring diatas sebuah balai bambu. tubuhnya masih lemah dan menggigil kedinginan. tapi sebuah perapian batu yang berkobar tak jauh darinya memberi sedikit rasa hangat. matanya memandang sekeliling tempat. rupanya dia berada di dalam sebuah gubuk bambu.
Tidak ada seorangpun di dalam gubuk selain dirinya, dari celah dinding bambu dia dapat mengira kalau hari sudah gelap.
Perlahan dia bangkit, dengan susah payah Pranacitra berhasil duduk bersila. disamping balai ada sebuah meja kayu reot. diatasnya terdapat tiga potong ubi rebus dan periuk kecil tanah liat berisi cairan berbau tajam. di sampingnya ada selembar daun rontal yang bertuliskan pesan agar meminum ramuan obat yang ada di periuk tanah liat. dia ingat ubi rebus itu salah satu pemberian orang pasar, tapi siapa yang memberinya ramuan obat ini. dari gaya tulisannya diatas daun rontal yang halus dan rapi menandakan dia seorang perempuan. jadi jelas tidak mungkin si bocah copet. sekali.lagi dia memandang sekeliling.ruangan gubuk yang terlihat bersih. ada beberapa peralatan memasak dan puluhan periuk berisi biji- bijian juga akar tanaman kering tersusun di atas sebuah rak kayu. mungkin ini tempat tinggal seorang tabib.
Perlahan dia meminum ramuan itu, meski rasanya cukup pahit tapi saat sampai di perut menimbulkan rasa hangat yang menyebar keseluruh raganya. dengan mengatur pernafasan Pranacitra mencoba memeriksa keadaan tubuhnya. tenaga dalam pemberian dari Malaikat Serba Hitam dan Nyi Lintang Wungu sudah habis terkuras. kini tubuhnya tidak lagi memiliki tenaga sakti untuk menahan racun pembeku darah dan jantung.
Tubuh pemuda ini memang lemah, tapi dia bukan orang dungu yang tidak tahu apa- apa soal ilmu silat kanuragan. setiap kali Ki Rangga memberikan pelatihan pada para muridnya Pranacitra sering kali ikut sekedar mendengarkan. saat senggang kadang kala dia mencoba berlatih ilmu pernafasan itu. meskipun dia merasakan tubuhnya menjadi lebih baik tapi justru dia malas melatihnya lebih lanjut. semua pelajaran silat dan tenaga dalam yang didengarnya dia coba terapkan dalam pekerjaannya sehari- hari. karenanya saat mencuci dan memasak, menyapu halaman juga membersihkan ruangan dia jadi jauh lebih cepat dan tangkas dibandingkan semua kawannya.
Ki Rangga bukannya tidak tahu semua yang di lakukan Pranacitra, tapi dia malah seperti sengaja membiarkannya. asalkan pemuda ceking yang aneh dan pendiam itu senang baginya tidak jadi masalah. beberapa tahun belakangan orang tua itu sudah mencoba mencari tahu penyebab lemahnya tubuh Pranacitra, juga berusaha mengobatinya. tapi segala usahanya sia- sia. seakan semua ramuan obat yang di telan pemuda itu masuk kedalam sebuah lubang sumur yang dalam, hilang begitu saja tanpa menimbulkan akibat sedikitpun. sampai akhirnya Ki Rangga menyerah dan menganggap tubuh pemuda itu memang di takdirkan lemah selamanya.
"Aneh., jelas sekali kalau tenaga sakti yang kudapat dari kedua pendekar itu sudah hilang akibat pertarungan dengan Lima Begundal Brewok, tapi meskipun aku masih merasakan serangan hawa dingin dari racun pembeku darah dan jantung, kenapa aku masih bisa bertahan dan rasanya tidak separah sebelumnya.?" batin pemuda itu bingung.
"Eeh., kemana bocah copet cilik itu, apa yang terjadi dengannya., dan siapa yang telah membawaku kemari, tempat apa ini.? batin Pranacitra. rasa khawatir timbul dalam hati si pemuda.
Baru saja dia hendak bangun, tiba- tiba saja dia merasakan kesakitan pada betis dekat pergelangan kaki kirinya. baru dia menyadari kalau kakinya terluka cukup parah akibat tikaman golok salah satu anggota Lima Begundal Brewok. seingatnya saat pisau dapurnya berhasil membabat perut lawan, orang itu langsung terjungkal roboh, sialnya sebelum tewas dia masih mampu menancapkan goloknya ke betis kaki kirinya. meskipun luka itu sudah dibalut kain yang di bubuhi ramuan obat tapi masih terasa sangat perih. noda darahnya terlihat merembes dari kain itu.
Pintu gubuk terbuka, dua orang lelaki berjalan masuk kedalam. seorang diantaranya bukan lain si bocah pencopet. wajah kotor anak ini terlihat sumringah melihat Pranacitra sudah sadar dari pingsannya. dengan gembira dia menghambur dan memeluk si pemuda. ''Baguslah kau telah sadar., sudah dua hari ini dirimu terbaring pingsan. aku., aku takut sekali terjadi sesuatu denganmu..'' bisiknya menunduk.
''Terima kasih sudah menolongku., maaf jika telah merepotkanmu sobat copet kecil..'' ujar Pranacitra mengelus rambut hitam si bocah.
''Eeh aku lupa mengenalkanmu pada seseorang, sebenarnya beliau inilah yang telah menyelamatkanmu..'' kata bocah copet itu sambil menunjuk seorang lelaki lima puluhan berbaju hijau bertampang bersih dan kelihatan sangat ramah.
Pemuda itu cepat menjura hormat. ''Aku yang rendah bernama Pranacitra, mengucapkan terima kasih atas semua pertolongan paman., bolehkah saya tahu siapakah paman dan juga sobat kecilku ini sebenarnya.?''
''Aah tidak perlu sungkan, aku cuma seorang tabib kampung yang biasa dipanggil Ki Suta., bocah ini sering menginap di gubukku, nama panggilannya si Coreng..'' jawab orang yang mengaku bernama Ki Suta itu dengan ramah.
''Aku sudah memeriksa dan mengobati lukamu, kaki kirimu yang terbacok bisa segera sembuh, tapi mungkin saja dirimu akan sedikit pincang karena ada urat kaki yang terputus..''
''Soal penyakit hawa dingin dalam tubuhmu, aku sudah berusaha mengobatinya, tapi itu cuma bisa menahan dan mengumpulkan racun ke satu titik saja agar tidak menyebar. ramuan obat yang kau minum tadi berguna untuk menguatkan tubuhmu..'' tutur Ki Suta sambil tersenyum. mendengar itu Pranacitra jadi terharu dan sekali lagi mengucapkan terima kasihnya.
Dari cerita si Coreng, saat dia tidak sadarkan diri akibat pertarungan, bocah itu berusaha membawanya ke gubuk KI Suta yang jauh dari keramaian. beruntung tanpa sengaja mereka bertemu di tengah jalan. saat tiba di gubuknya Ki Suta langsung berusaha mengobati Pranacitra. rupamya ilmu pengobatan orang ini cukup hebat hingga mampu menahan racun dingin yang menyerang pemuda itu. anehnya saat dia bertanya ada hubungan apakah antara si bocah dengan KI Suta, gembel copet itu terlihat gugup seakan menghindar, sekilas Pranacitra juga merasakan ada tatapan tajam yang menggidikkan di mata Ki Suta.
Tiga hari sudah terlewati, Pranacitra sudah bisa berjalan, meskipun masih terpincang kaki kirinya. keadaan tubuhnya juga terasa lebih baik. keesokan paginya pemuda itu berpamitan hendak meneruskan perjalanan. dia beralasan hendak mengunjungi seseorang. mendengar itu KI Suta terlihat gembira sebaliknya entah kenapa si bocah copet justru nampak murung dan takut.
''Ki Suta., sobat Coreng., aku mohon pamit. sekali lagi kuucapkan terima kasih atas semua pertolongan kalian, mungkin selamanya aku tidak akan sanggup membalasnya..'' ucap Pranacitra sembari membungkuk hormat.
''Kau tidak perlu bicara sungkan, tolong menolong itu sudah kewajiban bagi sesama manusia., pergilah dan hati- hatilah dalam perjalananmu anak muda..'' ujar Ki Suta balas menjura mengantarkan kepergian pemuda itu. Pranacitra sempat melirik si Coreng, entah kenapa dia merasa khawatir dengan si bocah yang terlihat sedih dan ketakutan seakan menyembunyikan sesuatu. saat dia hendak bicara, bocah itu sudah berbalik masuk ke dalam gubuk.
''Sudahlah, tidak perlu risau. anak itu cuma agak sedih berpisah, nanti juga akan kembali tenang. hari sudah mulai siang sebaiknya kau mulai pergi ke tempat tujuanmu..'' kata Ki Suta menghela nafas. Pranacitra mengangguk berbalik dan mulai melangkah pergi.
Ki Suta tersenyum, tapi senyuman ramah itu perlahan menjadi seringai kejam. matanya yang teduh berubah menyorot penuh nafsu jahat. dengan mendengus orang ini berbalik masuk ke dalam gubuknya.
Di sana sudah menunggu si bocah copet. berdiri tertunduk ketakutan di sudut gubuk. sepasang mata Ki Suta menyorot buas, air mukanya beringas penuh nafsu setan. nafasnya memburu dengan seringai menjijikkan, seakan manusia ini sudah berubah menjadi orang lain.
''Cuci mukamu, buka semuanya., sekarang.!'' bentak Ki Suta bengis. dengan meratap dan menangis bocah copet itu membuka ikat kepalanya. rambut hitam panjang terurai sepunggung. berikutnya dia membasuh mukanya yang kotor dengan air yang ada di dalam gentong tanah liat. seraut wajah bersih yang manispun terlihat .
Berikutnya bocah itu mulai membuka pakaiannya yang dekil, kini dia telanjang bulat. meskipun masih bocah tiga belas tahunan, tapi jelas dia adalah seorang bocah perempuan yang cantik. bocah cantik yang ketakutan dan menderita. kulit tubuhnya yang tadinya putih mulus kini penuh bekas luka yang telah mengering.
''Guru., kumohon jangan lakukan itu lagi padaku., sadarlah aku ini muridmu.!'' ratap bocah perempuan itu.
''Justru karena kau muridku maka harus bersedia melayaniku., cepat kemari dasar anak cengeng.!'' bentak Ki Suta beringas. dengan seutas cambuk orang ini mulai memukuli bocah malang itu. dari dalam gubuk terpencil itu terdengat suara jerit kesakitan dan ratapan minta ampun dari mulut si bocah copet yang ternyata seorang perempuan.
Rupanya Ki Suta adalah seorang tabib.yang punya kelainan jiwa, dia suka menyiksa gadis kecil untuk memuaskan nafsu bejatnya. dulu Ki Suta bukan orang seperti itu. dia tabib dan guru yang baik bagi si copet cilik. tapi suatu ketika dia melakukan kesalahan meramu sejenis obat peningkat tenaga dalam hingga merusak sebagian otaknya. sejak saat itu meskipun tenaga saktinya meningkat tapi Ki Suta juga berubah menjadi jahat dan gemar menyiksa gadis di bawah umur. korban pertamanya tentu saja si Coreng muridnya sendiri.
Karena tidak tahan, sang muridpun kabur dan menyamar menjadi bocah lelaki tukang copet. karena ingin menolong Pranacitra dia terpaksa harus kembali menemui Ki Suta gurunya. gadis itu berjanji akan menuruti semua kemauan Ki Suta asalkan dia mau menolong si pemuda. seandainya saja Pranacitra tahu semua pengorbanan gadis kecil tukang copet itu untuk dirinya, pasti dia lebih memilih mati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Cakrawala
iklannya malah belum ada hhahaha ganti dua mawar merah aja ya
2025-02-10
0
Cakrawala
eh Ki Suta jahat bener kamu dah. anak kecil lho.
eh pikiranku kok jadi traveling ih..xixixi
2025-02-10
0
Cakrawala
ah udah deg degan ini. kukira Pranacitra bakalan itu.
hufft
2025-02-10
0