Bocah gembel sekaligus tukang copet cilik itu tersenyum masam melihat lima orang lelaki brewok bertampang seram yang mengepungnya. buntalan kain kumal berisi makanan dan uang di dekapnya erat- erat, seakan biar matipun tidak bakalan dia lepaskan. sesekali matanya melirik Pranacitra seakan meminta perlindungan. dia heran melihat pemuda pucat itu masih duduk tenang sambil menikmati jagung rebus ditangannya tanpa ada rasa takut.
''Muka pucat sialan., apa yang sedang kau lakukan, matamu buta atau bagaimana sampai tidak perduli dengan kedatangan Lima Begundal Brewok ini.?'' umpat copet cilik itu gemas.
''Hak., ha., kulihat hari ini rejekimu banyak juga copet kecil, sampai punya buntelan makanan sebanyak itu..'' ujar salah satu dari Lima Begundal Brewok yang berhidung besar dan perutnya buncit.
''Yang aku ingat sudah hampir sebulan copet cilik ini menghilang tidak tampak batang hidungnya, setiap kali kita datang untuk menarik pajak dia selalu saja lenyap. kurasa sekarang dia mesti membayar berikut bunganya.!" tambah anggota Lima Begundal Brewok yang tubuhnya paling tinggi besar.
"Kakang berlima apa kabarnya., maafkan beberapa hari belakangan diriku sangat sibuk jadi tidak sempat bertemu kalian He., he., he.!" copet cilik itu mencoba berbasa- basi sambil mencari peluang untuk kabur.
"Berhenti bicara omong kosong, sekarang cepat kau serahkan buntalan kainmu itu pada kami, aku tahu kau dan pemuda pucat itu baru saja menerima banyak pemberian dari orang- orang pasar..!'' bentak si brewok tinggi besar. copet cilik itu tersurut mundur tangannya semakin erat mendekap buntelan kain lusuh berisi makanan.
''Kurang ajar., cepat berikan padaku atau kami hajar.!'' gertak brewok tinggi besar yang rupanya menjadi pimpinan dari Lima Begundal Brewok itu sambil tangannya mengambil paksa buntelan kain dari pelukan si bocah pencopet. karena kalah tenaga bocah itu tidak mampu mempertahankan buntelan kainnya yang penuh makanan.
Tapi bocah gembel pencopet itu nekat juga, dengan meraung gusar dia menyerbu dan berusaha merebut kembali buntelannya.
''Kembalikan buntelanku., itu milikku., cepat kembalikan padaku dasar brewok jelek.!'' maki bocah pencopet kesal sambil ayunkan tangan kakinya kedepan. yang diserang bagian perut dan selakangan lawan. meskipun ilmu silatnya kasar tapi cukup bertenaga.
Pemimpin dari Lima Begundal Brewok ini cukup punya ilmu silat yang lumayan tinggi. tapi karena tidak menyangka bakalan di serang, dia tidak sempat menghindar dari tendangan bocah copet yang mengarah ke selakangannya, sementara tinju kirinya terus mengarah keperut lawan. tapi walaupun terkejut dia tidak menjadi gugup. tangan kirinya cepat menyapu ke bawah, dalam sekali kebut si brewok bermaksud hendak menangkis tinju, menangkap kaki sekaligus membanting remuk tubuh bocah copet itu.!
Tapi di luar dugaannya., hanya sejengkal saja serangan itu tiba, mendadak bocah copet itu tarik kembali serangan tangan kakinya. tubuhnya membungkuk lututnya menekuk membuat tumpuan. kejab berikutnya bocah ini membuat gerakan melompat ke atas, kepalan tangan kanannya yang sedari awal tersimpan di belakang terayun deras menghajar dagu si brewok besar.!'
'Whuut., wheess., dhueess.!'
'Aakh.!'
Biarpun pukulan bocah gembel pencopet itu tidak terlalu keras tapi cukup menyakitkan juga. belum hilang rasa terkejutnya, tahu- tahu buntelan kain di tangan kanannya sudah terenggut kembali oleh si bocah copet yang terus saja putar tubuhnya kabur melarikan diri.
''Ayoh cepat kita kabur.!'' teriaknya pada Pranacitra yang baru saja menghabiskan jagung rebusnya. kejadian ini sungguh diluar dugaan siapapun. Lima Begundal Brewok yang menjadi penguasa pasar dan daerah sekitarnya bukannya gampang direcoki. bahkan para prajurit kerajaan yang bertugas di sana rada enggan jika harus berurusan dengan mereka.
Maka sangat mengejutkan kalau sekarang ada seorang bocah gembel yang berani mati melawan mereka, bahkan mampu memukul dagu si pemimpin sekaligus juga merebut buntelan kainnya. meskipun berhasil meengambil kembali buntelan miliknya, tapi soal kabur bukanlah masalah gampang, terlebih lagi kelima orang brewok itu sedang dilanda amarah. cepat mereka bergerak mencegat si bocah. dua diantaranya malah langsung menghantam, mencakar sekaligus mencengkeram tubuh si bocah copet.
Walaupun punya sedikit bekal ilmu bela diri, tapi bocah gembel itu tidak mampu berbuat banyak, setelah tiga kali menangkis dan dua kali kirimkan pukulan balasan, tubuh kecil itupun sudah terjungkal roboh. empat hingga lima kali bocah copet menerima tendangan dan pijakkan kaki kelima pengeroyoknya hingga babak belur dan berdarah.
Bocah gembel pencopet itu pasti mati jika saja tidak ada yang menghentikannya. dua buah kepalan batu tiba- tiba menghantam bagian belakang kepala si brewok hidung besar dan begundal brewok yang berkepala botak. saking kerasnya lempatan batu itu hingga kepala keduanya menyemburkan darah segar. tanpa sempat menoleh kedua orang itupun tersungkur pingsan.
''Bangsat., berani betul kau melakukannya, jangan pernah mengharap bisa tetap hidup.!''
''Habisi si pucat keparat ini .!'' geram brewok tinggi besar sambil mendahului menyerang dengan terlebih dahulu mencabut golok di pinggangnya diikuti kedua rekannya yang bertelanjang dada dan berambut gimbal.
Pranacitra hanyalah seorang pemuda lemah, meskipun punya nyali dan kenekatan yang kadang diluar nalar tapi tetap saja dia tidak bakalan sanggup menghadapi serangan tiga orang begundal yang membekal golok tajam.
Tiga golok membabat nyaris bersamaan, ketiga orang brewok itu berniat menjagal tubuh si pemuda pucat itu dalam sekali serangan. yang diserang berdiri agak membungkuk. ke dua tangannya yang terkepal di belakang pungung mengayun, kembali dua buah batu sebesar kepalan tangan menyambar ke muka. cara dia melempar cukup aneh, tangannya tidak langsung melempar tapi lebih dulu memutar pergelangan tangannya.
Hasilnya batu itu bergerak memutar saat dilemparkan hingga arahnya tidak menentu. meskipun kecepatan dan daya luncurnya menjadi berkurang tapi arah sasarannya juga susah di tebak. sesaat ketiga orang anggota begundal brewok itu terkesiap bingung sebelum mampu menangkis dua buah batu itu dengan babatan goloknya.
''Huh., permainan anak kecil. mampuslah kau muka pucat keparat.!'' geram si pemimpin setelah kibaskan goloknya menangkis salah satu batu yang menyambar. tiga golok menderu deras, dalam bayangan mereka pemuda pucat penyakitan itu sesaat pasti rencah bersimbah darah.
Tapi bayangan tinggal khayalan belaka, entah sejak kapan pemuda pucat itu telah lenyap dari hadapan mereka. belum hilang kagetnya terasa sebuah pukulan mendarat di rusuk dan bawah perut. di susul sebuah sodokan siku menghajar iga kiri si brewok yang bertelanjang dada. meskipun baju dibagian dada si pemuda sempat robek tersambar golok hingga kulitnya sedikit tersayat berdarah. tapi serangan kilatnya berhasil menyusup ke tubuh tiga orang begundal itu.
Tanpa perduli dengan luka sayatan golok di dadanya, Pranacitra terus menggebrak, dia sadar tenaganya sangat terbatas. meskipun pengetahuan jurus silatnya lumayan banyak, tapi cuma sebatas ingatan kasar dan belum pernah sekalipun dia gunakan, bahkan untuk sekedar berlatih tanding dengan rekan- rekan seperguruannya juga belum pernah. dia mesti menyelesaikan pertarungan pertama ini secepat mungkin. atau dia dan si bocah copet yang jadi mayat.
Sambil memutar tubuh, tangan kanannya merogoh kebalik bajunya yang dekil. sebilah pisau dapur tergenggam di tangannya. pisau dapur sederhana yang umum di jual di pasar manapun, tapi sangat berarti baginya. karena pisau ini satu- satunya pemberian sang guru Ki Rangga Wesi Bledek kepadanya saat tahu dia suka memasak. pisau sederhana yang tajam dan penuh kenangan. pisau dapur sepanjang satu jengkal lebih dua ruas jari yang kini berkelebat membuat tiga sambaran menyilang membabat perut lawannya.!
'Whuuut., whuut., wheet.!'
'Traang., chraass., chraass.!'
'Aakh., aakh.!'
Darah muncrat., usus terburai., isi perut berhamburan. dua orang brewok tekap perutnya yang robek. jeritan tertahan mengiringi tumbangnya tubuh mereka. Pranacitra terhuyung lalu roboh. bahu kanannya terbacok, sebuah golok juga masih menancap di kaki kirinya. darah merah yang mengalir terasa dingin. sedingin tubuhnya yang mulai menggigil. racun pembeku darah dan jantung yang mengeram di tubuhnya kembali kambuh.
Begundal brewok tinggi besar yang tersisa mendatangi, ada rasa dendam berbalut kengerian di raut mukanya, bagaimana bisa seorang pemuda lemah mempecundangi empat rekannya. biarpun sekarang si pucat penyakitan ini terlihat sedang sekarat, tapi perbuatannya memang mengejutkan hati. golok terangkat keatas, pemimpin Lima Begundal Brewok ingin menyudahi permainan ini dalam sekali bacokan.!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Cakrawala
aaaaaaaaaa......
ngeriiii kaliiiii.. semoga Pranacitra nggak apa apa.
2025-02-09
0
Cakrawala
hiii
gk kebayang pas darahnya menyembur..
2025-02-09
0
Cakrawala
woooaaaahhh hebat juga kau cil 1 iklan untukmu Cil
2025-02-09
0