Pranacitra merasakan sekujur badannya mulai kedinginan dan nafasnya berat. biarpun begitu rasa sakit di tubuhnya sudah jauh berkurang. dengan nafas tersengal dia berusaha merangkak mendekati kedua saudara seperguruannya yang pingsan. tapi jangankan merangkak, untuk sekedar membalikkan tubuhnya saja dia merasa sangat kesulitan.
"Sial., apa yang terjadi dengan tubuhku, rasa dingin ini semakin menusuk tulang. nafasku juga sesak dan berat..!" batin Pranacitra sambil menggigil. matanya yang setengah terpejam berusaha melihat kedua rekannya.
"Arga., Ajeng., kalian berdua mendengarku.?" teriak Pranacitra gemetar menahan hawa dingin. "Kumohon., tolong bangunlah dan katakan kalau kalian berdua baik- baik saja..!” seru si pemuda tercekat. meskipun sudah sekuat tenaga berteriak tapi yang keluar dari mulutnya cuma suara menggumam mirip erangan.
Rasa dingin yang semakin menggigil dan tarikan nafas berat yang seakan menyumpal rongga dadanya membuat Pranacitra tidak sanggup lagi bertahan. tubuhnya yang kurus meringkuk kedinginan. hembusan nafasnya sampai mengeluarkan asap dingin.
''Aa., apa yang terjadi pada tubuhku., aa., aku merasa ding., dingin dan susah sekali ber., naa., bernafas..'' rintih pemuda itu tersengal. sebelum segalanya menjadi gelap, sudut matanya yang semakin lamur masih sempat melihat kedatangan dua orang asing yang melesat cepat ke arahnya.
''Kita berdua terlambat datang.!'' geram satu sosok lelaki tua enam puluhan. begitu tiba dia langsung memeriksa tubuh Ki Rangga yang terbujur kaku. orangnya tinggi besar berjubah dan berikat kepala hitam. meskipun sudah berumur tapi rambut orang ini masih terlihat hitam lebat begitu pula kumis dan janggutnya. demikian juga dengan kulitnya hitam legam, terutama pada kepalan tangannya. kalau di amati orang tua ini seakan hanya terlihat hitam seluruhnya.
Dalam rimba persilatan kakek hitam ini bukanlah tokoh silat sembarangan. nama besarnya sejajar atau bahkan sedikit lebih tinggi dari Ki Rangga Wesi Bledek terutama di wilayah timur. semua yang berwarna hitam pada dirinya membuat orang tua itu disebut sebagai 'Malaikat Serba Hitam.!'
''Sialan., padahal begitu mendapatkan berita, kita langsung bergerak cepat menuju kemari. tapi tetap saja ada yang mendahului kita berdua..!'' rutuk orang kedua yang datang bersama Malaikat Serba Hitam.
Dia adalah seorang perempuan setengah umur berjubah kain sutra ungu tua berambut panjang hitam tergelung. wajahnya cantik dan anggun tapi juga membayangkan sifat keras dan tinggi hati. di bahu kanannya tersembul gagang sebatang pedang berbentuk bintang segi empat berwarna keperakan yang terselip di belakang punggungnya. di dalam dunia persilatan wanita ini juga bukan pesilat kemarin sore. karena Nyi Lintang Wungu si 'Dewi Pedang Bintang Kali Serayu' adalah pesilat wanita jago pedang yang cukup ternama di daerah tengah dan selatan.
''Semua murid Ki Rangga sepertinya sudah menemui ajal. siapa orang yang sampai begitu tega melakukan pembantaian ini.?'' batin Nyi Lintang Wungu geram. saat itulah Malaikat Serba Hitam berseru ''Nyi Lintang Wungu., rupanya dua orang muda- mudi ini masih hidup. tapi sepertinya mereka berdua pingsan keracunan., cepat kita tolong mereka.!''
Dengan cekatan orang tua berjubah hitam itu mengerahkan tenaga dalamnya ke tubuh Arga Pangestu. sementara Nyi Lintang Wungu melakukan hal yang sama pada tubuh Ajeng Larasati. tapi biarpun sudah mengerahkan cukup banyak tenaga saktinya, tapi kedua murud Ki Rangga itu belum juga berhasil di sadarkan.
Terpaksa kedua tokoh silat itu menghentikan usahanya. ''Kita tidak tahu jenis racun apa yang menyerang kedua anak muda ini., tapi paling tidak kita sudah bisa mencegah penyebaran racunnya ke jantung., untuk sementara nyawa meraka selamat..'' ujar Nyi Lintang Wungu atau Dewi Pedang Bintang Kali Serayu.
''Kau benar Nyi Lintang Wungu., tapi mereka tidak bisa di biarkan tanpa pengobatan terlalu lama, karena racun yang berasal.dari goresan luka di punggungnya sangat ganas..'' jawab Malaikat Serba Hitam sambil kembali berdiri mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat. perhatiannya berhenti pada satu sosok tubuh ringkih yang sedang meringkuk di sudut pelataran.
''Pemuda itu sepertinya mengalami siksaan dan penderitaan yang hebat sebelum mati..'' batinnya prihatin. dia melihat Nyi Lintang Wungu berkelebat masuk ke dalam rumah kayu yang di ujung kiri untuk memeriksa keadaan. ''Sobatku Malaikat Serba Hitam., sebaiknya kau periksa bangunan lainnya. siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk..!''
Tanpa mengucap apapun orang tua ini juga turut melesat masuk ke dalam bangunan yang di ujung kanan. sekali lihat saja kedua pesilat kawakan ini sudah menyadari kalau ruangan di dalam bangunan itu sudah ada yang lebih dahulu mengobarak- abriknya. setelah tidak menemukan sesuatu apapun di dua bangunan kayu lainnya, dengan kesal mereka kembali keluar hampir bersamaan.
''Kita benar- benar terlambat., sekarang tidak ada lagi petunjuk untuk menemukan senjata pusaka Mentari Biru milik kakakku., Sialan., Bedebah..!'' maki Nyi Lintang Wungu sambil kaki kanannya menendang dua buah tiang penyangga atap teras bangunan kayu di perguruan Gunung Bisma. tiang kayu itu terbuat dari kayu jati dan besarnya sama dengan paha kaki orang dewasa. tapi dengan sekali sapuan kaki saja tiang kayu itu dibuat patah, atap teraspun roboh seketika.
'Whuuk., Bheet.!'
'Sraak., Braaak.!'
''Setan Alas., Menyebalkan.!'' bentak Malaikat Serba Hitam turut geram, bersamaan itu kepalan tangan kirinya menghantam ke muka, serangkum angin keras berhawa hitam dan panas melabrak salah satu bangunan kayu yang sudah roboh terasnya.
''Whuuuss., Blaaar.!'
Terdengar suara bergemuruh yang disertai robohnya bangunan rumah kayu itu hingga hancur. bahkan sebagian ada yang sampai terbakar hangus. biarpun tidak sampai mengerahkan kekuatan penuh, tapi ilmu pukulan 'Pusaran Bara Hawa Hitam' yang di lepaskan Malaikat Serba Hitam tetap saja mengerikan.!
''Aku juga tidak bisa mendapatkan kitab ilmu pukulan Tangan Guntur Wesi Kuning, yang sudah lama berada di tangan Ki Rangga..'' geram kakek tua itu marah. ''Seharusnya menurut perjanjian yang sudah kami sepakati, kita bisa saling meminjamkan kitab ilmu pukulan yang kami latih agar dapat lebih meningkat. sebaliknya dia juga berhak meminjam kitab Pusaran Bara Hawa Hitam dariku., tapi sekarang semuanya kacau..!''
''Aku sudah pernah mendengar sebelumnya kalau kau dan Ki Rangga pernah beberapa kali bertanding untuk mengetahui siapa yang lebih unggul diantara kalian berdua. lalu kenapa bisa timbul perjanjian aneh seperti yang kau katakan tadi.?'' tanya Nyi Lintang Wungu seakan curiga. kakek berjubah hitam itu menghela nafas sedih sebelum menjawab.
''Kami berdua memang sudah lama saling berseteru. lebih dari lima kali kita berdua bertarung tapi semuanya berakhir imbang., sampai akhirnya dari saingan kami jadi saling mengagumi. saat itulah Ki Rangga mengusulkan perjanjian itu. akupun setuju..''
''Seharusnya seminggu lalu adalah waktu yang sudah kita tetapkan. tapi Ki Rangga tidak pernah muncul. tadinya kusangka dia ingkar janji, tapi setelah kupikir itu tidak mungkin karena orang ini punya kehormatan dan harga diri tinggi. jadi mustahil dia mau menjilat ludahnya sendiri..''
''Jadi aku berkesimpulan kalau pasti ada sesuatu yang menghalanginya., seketika kuputuskan untuk menyambanginya di gunung Bisma. lalu saat menuju kemari di tengah perjalanan malah bertemu denganmu..'' terang Malaikat Serba Hitam tanpa dapat tutupi rasa kecewanya. ''Lantas bagaimana ceritanya sampai pedang Mentari Biru milik kakak seperguruanmu Nyi Suryaning alias 'Pendekar Wanita Terbang' bisa berada di tangan Ki Rangga..?'' selidik kakek itu balik bertanya.
Nyi Lintang Wungu terdiam menunduk, ada ganjalan dalam hatinya sebelum akhirnya menjawab ''Hhmm., sebenarnya Ki Rangga dan kakak seguruku dulunya sepasang kekasih. bahkan mereka pernah menikah sampai akhirnya berpisah karena keduanya sama punya sifat keras dan tidak ada yang mau mengalah..''
''Saat itu Ki Rangga baru saja kembali dari berpetualang. sang istri yang merasa kurang diperhatikan menjadi marah, hingga mereka bertengkar hebat. Ki Rangga yang selalu berkelana tidak tahu kalau istrinya di usianya yang sudah tidak muda lagi malah tengah hamil. tanpa sengaja dia membuat kakakku terjatuh dan keguguran. Ki Rangga merasa sangat menyesal..''
''Karena sangat marah dan kecewa dengan suaminya, masih dalam kesakitan akibat keguguran Nyi Suryaning kabur dari rumah tanpa membawa apapun. ditengah jalan dia bertemu dengan seorang musuhnya yang dengan mudah menghabisinya., Ki Rangga dan aku terlambat datang..''
''Walaupun pada akhirnya kami berdua mampu membalaskan kematiannya tapi rasa menyesal selalu menghantuinya sepanjang hidup. untuk mengobati kerinduan pada sang istri pedang Mentari Biru milik kakak seperguruanku di bawa olehnya..'' tutur Nyi Lintang Wungu. dari sudut matanya menetes air mata. Malaikat Serba Hitam tertegun, sungguh dia tidak mengira kalau Ki Rangga punya masa lalu yang cukup menyedihkan. keduanya terpekur sesaat lamanya.
''Sepertinya kita tidak mendapat apapun dari tempat ini. sebelum pergi ada baiknya kita makamkan Ki Rangga dan para muridnya, soal dua orang yang keracunan bisa kita urus nanti..'' usul Malaikat Serba Hitam. Nyi Lintang Wungu menyetujuinya. dengan menggunakan ilmu kesaktian masing- masing sebentar saja mereka sudah mampu membuat tiga buah lubang makam di tanah pelataran perguruan Gunung Bisma.
Pertama mayat Ki Rangga yang lebih dulu di kuburkan, menyusul lubang kedua yang cukup besar untuk mayat murid perempuan. karena tidak cukup waktu, mereka sengaja menguburkannya bersama. hanya terpisah Ki Rangga, murid perempuan dan lelaki saja.
''Aah masih ada seorang murid lagi di ujung sana..'' ujar Malaikat Serba Hitam saat hendak menimbun lubang makam murid pria. Nyi Lintang Wungu cepat bergerak mengambil mayat pemuda kurus yang meringkuk itu. Malaikat Serba Hitam merasa heran menyadari Nyi Lintang Wungu cuma berdiri didepan mayat meringkuk itu tanpa berbuat apapun.
''Nyi Lintang Wungu., ada apa denganmu, cepat bawa mayat itu kemari., waktu kita tidak banyak. lihatlah., sebentar lagi akan turun hujan..!''
''Sobatku Malaikat Serba Hitam., pemuda kurus ini sepertinya sudah disiksa dengan sangat kejam. kulit tubuhnya penuh dengan cairan darah. tapi tidak ada luka luar yang parah. ada hawa sangat dingin menusuk tulang yang menebar dari sini. sepertinya dia sengaja di beri racun pembeku darah dan jantung., seharusnya anak ini pasti sudah mati. tapi gilanya dia masih mampu bertahan hidup..!'' ucap Nyi Lintang Wungu dengan suara tercekat ngeri dan tubuh gemetaran.!!!
Seketika Malaikat Serba Hitam berkelebat menyusul, apa yang dia lihat sama persis seperti yang di katakan rekannya. siapa bocah kurus ini, bagaimana mungkin dia dapat bertahan hidup dengan tubuh keracunan hebat begini. orang biadab dari mana yang telah membuatnya seperti manusia darah begini rupa..?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Cakrawala
ternyata Ki Rangga punya kisah menyedihkan.. eh aku jd baper.
2025-02-03
0
Cakrawala
benar. klo sm sm keras jdinya bubar.
2025-02-03
0
Cakrawala
kali serayu?
ah jd inget sesuatu disana.
2025-02-03
0