Meskipun bayangan tubuh si kaki pincang sudah lenyap dari pandangan mata, tapi Jingga Rani masih terdiam di tempatnya, keempat rekannya saling pandang lalu tertawa menyindir ''Orangnya sudah pergi masih saja ditunggu.,''
''Kalau kau masih mau bicara dengannya, yah., kejar saja dia sekarang ha., ha..''
''Heiih., tidak kusangka pimpinan Lima Elang Api yang terkenal cantik tapi dingin dan galak bisa tertarik dengan seorang pemuda yang cacad kakinya.,!'' gurau ketiga saudara seperguruannya. membuat Jingga Rani merasa malu dan mendelik sebal. anehnya wajah cantiknya jadi terlihat lebih menarik.
''Tapi., tampang pemuda gelandangan yang pincang itu lumayan menarik juga., kakak Jingga Rani benar tertarik dengannya.?''
''Sudah diam.!'' bentak Jingga Rani pada adik dan ketiga saudara segurunya.
''Kalian semua hanya bisa bicara omong kosong yang tidak berguna., kita pergi dari sini.!'' putusnya sambil mendahului melesat pergi. ''Ooii., Jingga Rani., kau mau kemana., jalan pulang kita ke arah timur bukan malah sebaliknya.!'' seru pemuda yang berambut pendek.
''Jangan- jangan kau benar mau menyusul pemuda itu sampai salah arah.!'' sambung yang lain. ''Aduh celaka., saudaraku ini sudah mulai linglung rupanya., Hik., hi.,!'' olok Jingga Ratih tertawa mengikik.
Jingga Rani mendengus kesal dan salah tingkah, tubuhnya berbalik arah lalu lenyap secepat angin berhembus. keempat saudaranya menyusul sambil tergelak melihat tingkahnya.
*****
Sepuluh tahun silam.,
Saat itu sudah memasuki akhir musim penghujan, meskipun siang ini cuaca cukup cerah tapi udara terasa agak dingin. hujan gerimis yang turun semalaman membuat jalanan yang mengarah ke kota raja menjadi becek berlumpur.
Segerombolan penunggang kuda yang membawa dua buah kereta berisi tumpukan barang serentak berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup besar. dari luar terlihat pengunjung rumah makan itu cukup ramai. hanya tersisa beberapa bangku dan meja kosong saja di dalam sana.
Pemimpin rombongan berkuda itu adalah seorang lelaki gemuk kekar berkepala plontos dan brewokan. sepasang golok besar bergagang kepala seekor naga tergembol di belakang punggungnya. dengan berkacak pinggang orang ini memberi isyarat kepada seorang anak buahnya agar masuk ke dalam memesan tempat dan makanan.
"Kita beristirahat sebentar dan makan di warung ini., tiga orang berjaga di luar untuk mengawasi barang- barang dan kuda kita..!'' kata si pemimpin sambil melangkah masuk kedalam rumah makan itu. saat melewati gerobak berkuda yang ujungnya di tancapi sebuah bendera kuning bergambar dua ekor naga dan awan putih, orang itu tertawa bangga.
Dengan memakai nama perkumpulan jasa pengawalan barang 'Naga Awan' miliknya, dia sudah menjadi orang ternama, bukan saja usaha jasa pengawalan barangnya bertambah besar sampai punya cabang di tanah pasundan dan daerah pesisir timur Blambangan, tapi juga membuatnya berlimpah kekayaan. bahkan sampai punya tiga istri dan beberapa wanita simpanan.
Meskipun orang bernama Ki Bagaspati ini bukan manusia jahat, tapi dia cukup serakah dalam urusan perempuan. julukan si 'Golok Naga Kembar' membuatnya percaya diri meskipun tampangnya cuma pas- pasan. baginya nama tenar dan kekayaan bisa membeli semua yang dia inginkan termasuk wanita cantik.
Saat masuk dia sempatkan memandang sekeliling, beberapa orang terlihat tertegun lalu berkasak- kusuk melihat kehadirannya. Ki Bagaspati menyeringai jumawa, dia sudah mulai terbiasa dan menikmati saat melihat tampang segan dan kagum orang lain pada dirinya.
Seorang pelayan warung bersama satu anak buahnya yang lebih dulu masuk segera menyambutnya. sebuah meja besar berikut hidangan makanan sudah tersaji di atasnya. tanpa ragu Ki Bagaspati yang berjulukan Golok Naga Kembar itu langsung duduk dan menyantap hidangan yang ada diikuti anak buahnya. ''Pelayan., bawakan juga makanan untuk ketiga orangku yang berjaga di luar. kurasa sekendi arak juga boleh tapi jangan yang paling keras.,!'' kata Ki Bagaspati.
Saat sedang menikmati makan siangnya, dari luar terdengar suara keributan. beberapa anak kecil berbaju rombeng terlihat mengemis minta meminta makanan pada tiga pengawal barang yang berada di luar warung. rupanya ketiga orang itu merasa terganggu hingga mengamuk.
''Heh., pergi kalian semua anak- anak gembel, jangan menganggu orang sedang makan.!'' bentak orang yang bibirnya tebal dan berlepotan nasi sambal.
''Muka kotor dan bau badan kalian membuat selera makan kami berkurang., cepat enyah dari sini.!'' hardik yang lain.
Lima orang anak kecil kurus berbaju dekil tambalan yang terdiri dari tiga laki- laki dan dua anak perempuan itu tersurut mundur ketakutan. satu diantaranya masih mencoba maju mengemis.
''Tolong kami tuan- tuan., sejak kemarin kami belum makan. berilah sedikit makanan untuk kami.,'' ratap bocah lelaki gembel yang umurnya paling tua, mungkin sepuluh atau sebelas tahunan.
''Kasihanilah tuan., teman kami yang terkecil juga sedang sakit dan tidak ada yang mau menolong membelikan obat untuknya..'' sambung bocah gembel perempuan yang wajahnya cukup manis meskipun kotor sambil menunjuk seorang bocah laki- laki bertubuh paling kecil. beberapa kali anak itu terbatuk dan menggigil. meskipun pucat dan dekil muka bocah gembel ini cukup menarik hati.
Orang yang makan dan minum tuak sambil duduk di atas gerobak kuda mendengus gusar., ''Di beritahu supaya menyingkir malah merengek- rengek tidak karuan. apa kalian semua minta kugebuk duluan baru mau pergi, Hhah..!'' gertaknya sambil turun dari atas gerobak. bungkusan daun pisang berisi sisa nasi dan lauk yang masih banyak di buangnya ke atas tanah.
Seakan mendapat durian runtuh, kelima anak itu berebutan memakan sisa nasi itu. tidak perduli makanan itu tercampur dengan tanah yang kotor. ketiga orang pengawal barang itu saling pandang lalu tertawa bergelak.
Dengan sombong dan menghina dua orang lainnya juga turut membuang sisa nasi bungkusnya ke tanah. kembali para gembel cilik itu berebutan memakannya.
Sebenarnya ini pemandangan yang cukup menyedihkan hati, tapi sayangnya bagi sebagian orang malah menjadi semacam hiburan yang menarik. kadang penderitaan orang lain bisa menjadi kesenangan bagi manusia lainnya, semua itu tergantung dari hati nurani masing- masing orang.
Karena kelaparan dan berebut makanan seorang bocah yang berkulit paling hitam mulai tersedak, dia kebingungan mencari air minum. penjaga yang bermuka tirus mirip seekor tikus terkekeh. sekendi minuman di berikan pada bocah gembel itu yang tanpa ragu langsung meneguk isinya. ''Gluk., gluk.'' terdengar suara bocah gembel itu minum.
Tapi baru beberapa tegukan bocah itu sudah terbatuk- batuk sampai mau muntah. tenggorokannya terasa panas, hidungnya seakan tertusuk bau menyengat. rupanya kendi minuman itu berisi arak yang cukup keras. kalau keempat kawannya menjadi khawatir dan geram, sebaliknya ketiga anggota pengawal barang Naga Awan malah tertawa terbahak melihat kejadian itu.
''Kenapa kalian tertawa., bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan teman kami ini.?'' bentak bocah gembel yang umurnya paling tua. anak ini terlihat lebih pintar dan berani jika dibandingkan semua rekannya. kalau saja lebih terurus dia bisa menjadi anak yang gagah dan tampan.
''Kurang ajar., berani benar kau membentak kami, salah temanmu sendiri yang meminum tanpa bertanya dulu apa isinya.,Hak., ha.!''
''Benar., lagi pula kami cuma bercanda dan sudah memberi kalian makanan. seharusnya kalian berterima kasih pada kami bertiga..'' timpal si bibir tebal.
''Tapi kami cuma bocah kecil., seharusnya tuan- tuan mengerti batasan kalau mau bercanda.,'' gerutu bocah gembel berkulit hitam marah.
''Kalau saja tidak sedang kelaparan, tidak bakalan kami sudi memakan sisa sampah orang- orang jahat dan sombong macam kalian.!'' geram gembel perempuan cilik yang sedari tadi diam.
''Huh., semoga saja kalian cepat mendapat balasan atas semua perbuatan jahat kalian pada kami.!'' gembel cilik yang umurnya paling tua menyumpahi, lalu mengajak semua kawannya pergi.
Karuan saja ketiga penjaga itu naik pitam di sumpahi para gembel kecil itu. tangan orang yang berambut riap- riap cepat maju mencengkeram leher bocah gembel yang jadi pimpinan dan langsung membantingnya.
si bocah gembel menjerit kesakitan. kedua temannya yang perempuan cepat menolong. sedangkan dua gembel lainnya nekat membalas dengan lemparan batu. orang itu meraung gusar saat batu itu mengenai lehernya. meskipun bertenaga lemah tapi cukup menyakitkan.
''Bocah sialan., kalian para pengemis busuk memang harus dihajar adat.!" bentak si bibir tebal. tadi perutnya yang agak buncit sempat terkena lemparan batu. sebenarnya dia merasa malu kalau harus menganiaya para pengemis cilik di depan banyak orang yang mulai berkerumun melihat keributan itu. tapi kegeraman hatinya sudah memuncak, bersama kawannya yang bermuka mirip tikus mereka menggebuki kawanan bocah gembel, tanpa perduli suara tangisan dan jerit kesakitan dari mulut para pengemis kecil itu.
"Heii, hentikan., mereka cuma pengemis kecil yang kelaparan.."
"Apa kalian tidak merasa sudah keterlaluan, menghajar mereka sampai babak belur.!"
"Kalau mereka sampai mati, urusannya bisa panjang." seru beberapa orang yang merasa simpati dengan nasib ke lima gembel itu. meskipun merasa kasihan tapi tidak satupun yang berniat melerainya. apalagi saat semua anggota pengawalan barang Naga Awan termasuk ketuanya keluar,
"Sudah cukup., hentikan.!" seru Ki Bagaspati. meskipun sebenarnya dia tidak perduli dengan kelima pengemis cilik yang sudah babak belur, tapi orang ini juga tidak mau nama basarnya tercoreng karena ulah anak buahnya. dengan melemparkan beberapa keping uang tembaga orang ini bermaksud menyudahi perkara ini.
Diluar dugaan tidak satupun dari gembel cilik itu yang mau mengambilnya. "Kau pikir kami mau dengan uang busukmu itu., dasar orang- orang sombong, kalian cuma berani menindas anak kecil., Chuiih..!'' maki pemimpin pengemis cilik sambil meludah. air ludah si bocah terlihat bercampur darah tanda terluka.
Sambil tertatih dia mengajak keempat temannya pergi. Ki Bagaspati alias si Golok Naga Kembar merasa terhina. turut maunya hendak dicincang kelima anak gembel itu sekarang juga. tapi dia masih bisa menahan diri. lain halnya dengan ketiga anak buahnya, serentak mereka mencegat lima bocah itu. tangan mereka langsung menggampar para bocah gembel itu., ''Plaak., plak. buuk.,''
Jerit tangis kesakitan para pengemis cilik itu kembali terdengar memilukan hati. mereka berlima pasti mati jika saja tidak ada seseorang yang muncul memberikan pertolongan. entah dari mana datangnya orang ini, dia mendadak muncul di tengah ketiga orang anggota Naga Awan yang sudah beringas memukuli para gembel cilik.
Dengan gerakkan kedua tangan serta kakinya, lelaki setengah umur berjubah cokelat itu dengan sangat mudah menghajar ketiga anak buah Ki Bagaspati hingga jatuh terkapar dan patah tulang tangan kakinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
💫0m@~ga0eL🔱
slm knl thor, mampir, baca nya nyantai y 🤗
2024-11-04
0
Luthfi Afifzaidan
up
2025-02-09
0
Cakrawala
nggak heran sih.😁😁
2025-01-13
0