Dengan di dahului suara bentakan nyaring yang memecah kesunyian pagi Lima Elang Api berkelebat kedepan. lima buah senjata berbentuk cakar besi bersinar kemerahan pertanda mengandung racun serta kesaktian menyambar ganas mengancam lima bagian tubuh yang paling mematikan. kepala, dada, leher, perut dan punggung si pemuda pincang.!
Yang di serang sesaat masih menikmati keindahan cahaya mentari pagi, namun berikutnya tubuh si pincang bergerak lebih dalam menunduk. tongkat besi hitam berkepala tengkorak yang ada di tangannya di putar cepat di atas kepala lalu membabat kiri kanan terus menusuk ke tiga penjuru. kakinya yang cacat turut melangkah ringan mengikuti putaran tongkatnya. meskipun pincang tapi gerakan kakinya justru jauh lebih cepat dan luwes dibanding orang lain.
'Sheet., Sheet. Bheet.,!'
'Traaang., traang., treeeng..!'
Terdengar benturan senjata berulang kali yang di sertai pijaran bunga api. dalam gebrakan pertama Lima Elang Api sudah melancarkan tidak kurang dari dua belas serangan beruntun, tapi serangan pertama mereka bukan saja gagal tapi dalam keadaan yang terjepit lawan bahkan mampu balas menyerang.!
Lima Elang Api merutuk dalam hati. tubuh kelima orang ini terpental kebelakang, sementara si pincang masih sanggup berdiri dengan tubuh terhuyung.
"Ganti jurus.!" seru Jingga Rani sambil mendahului meloncat ke udara disusul keempat saudara seperguruannya. dari atas sana Lima Elang Api meluruk deras ke bawah , senjata cakar besi merahnya menyambar cepat cahaya merah panas mendahului serangan kelima orang ini yang tak ubahnya burung elang buas sedang memburu mangsanya.
"Jurus Cabikan Cakar Elang Terbang.!" batin si pincang terkesiap mengenali jurus lawan. kabarnya jarang orang persilatan yang sanggup lolos dari serangan ini. dengan kepala tetap menunduk dan tubuh sedikit membungkuk, pemuda pincang ini kembali putar tongkatnya melindungi tubuh. sambaran tongkatnya yang cepat sampai menimbulkan pusaran angin keras hingga membuat debu pasir beterbangan menutupi pandangan.
Gerakan ini hanyalah sebuah jurus pertahan, karena serangan balasan si pincang yang sesungguhnya justru datang belakangan.
Saat hempasan debu pasir sedikit membuat serangan jurus lawannya tertahan. pemuda pincang hantamkan telapak tangan kirinya ke atas di susul tusukan tongkat hitamnya.
Bayangan selusin telapak tangan berwarna merah menyala dan menebar bau anyir darah bertaburan di udara. selarik sinar hitam melabrak bagai sambaran geledek.!
''Pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!''
''Jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.,!'' jerit Lima Elang Api hampir bersamaan. tubuh mereka terlanjur meluruk ke bawah. sudah tidak mungkin lagi untuk menghindar, terpaksa Lima Elang Api nekat adu jurus pukulan sakti.!
'Plak., plang., plang !'
'Dheees., dess., braak.!'
Benturan jurus kesaktian terjadi, debu pasir semakin tebal menggulung. enam sosok tubuh bermentalan di udara dibarengi jeritan parau yang kembali memecah keheningan pagi.
Lima Elang Api terjungkal roboh terkapar di atas hamparan gurun pasir. dua diantaranya mengalami luka cukup parah hingga tidak mampu bangkit. Jingga Ratih dan seorang rekannya sesaat masih mampu berdiri tapi kejab berikutnya kedua orang inipun terbatuk muntah bercampur darah lau.jatuh terduduk dengan muka pucat pasi.
Hanya Jingga Rani yang masih sanggup berdiri tegak, meskipun beberapa bagian baju jingganya robek- robek, sepintas pimpinan dari Lima Elang Api ini terlihat masih segar bugar, tapi terlihat dari sudut bibir merahnya yang menawan juga menetes cairan darah merah. tangan kanannya yang terkulai lemas masih menggenggam senjata cakar elang besinya yang terlihat somplak dan hampir patah kuku- kukunya.
Jingga Rani mendengus, matanya tajam melihat si pemuda pincang yang masih diam berdiri dengan kepala menunduk. secarik kain batik lurik melilit kening dan rambut hitam gondrong yang menutupi sebagian wajahnya. meskipun baju hitamnya yang lusuh sudah tercabik- cabik cakar elang lawan hingga sebagian kulitnya turut tersayat dan merembeskan darah merah kehitaman tanda keracunan, tapi orang ini masih lebih baik dari Jingga Rani dan kawan- kawannya.
Keadaan ini tidak luput dari perhatian gadis itu. ''Seharusnya siapapun yang terkena cakaran senjata kami akan langsung mati keracunan, paling tidak dia pasti mengalami luka dalam. atau jangan- jangan kabar yang kudengar benar adanya., orang ini sudah mencapai tingkatan kebal racun.!'' batinnya terkesiap kaget.
''Pemuda pincang keparat., hari ini aku Jingga Rani akan mengadu jiwa denganmu.!'' geram gadis pimpinan Lima Elang Api itu. senjata cakar baja merahnya di angkat tinggi keatas kepala. senjata yang sudah somplak bengkok beberapa bagian itu terlihat merah membara kepulan asap merah panas menyelimuti senjata itu hingga ke bagian lengan pemiliknya.
''Cakar Asap Neraka.!'' desis Jingga Ratih cemas. dia tahu betul ilmu ini sangat ganas dan menyedot banyak tenaga dalam, sementara sang kakak belum sempurna menguasainya. timbul rasa khawatir di hati Jingga Ratih.
''Kakak Rani., jangan nekat melakukannya. kau belum bisa menguasai ilmu pukulan itu.!'' jerit Jingga Ratih cemas.
''Hentikan Jingga Rani., kau bisa celaka nanti..!'' seru rekannya tidak kalah cemas.
''Sudah diam., aku tidak percaya kalau orang pincang ini bisa lolos dari kematiannya.!'' bentak Jingga Ratih marah karena merasa direndahkan sang adik dan saudara seperguruannya.
Di pihak lain si pemuda pincang cuma mengangkat sedikit kepalanya. dengan ujung matanya dia melirik senjata cakar berapi lawan. melihat kenekatan Jingga Rani yang sombong membuatnya mulai jengkel.
Tongkat kepala tengkorak di tancapkan di tanah berpasir. kedua tepak tangannya di buka menghadap keatas. sikapnya seperti seorang pengemis yang sedang mengharap sedekah, sinar merah kehitaman muncul menyelimuti kedua telapak tangannya.!
''Jingga Rani awas., si pincang ini hendak keluarkan jurus pukulan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa.! cepatlah menyingkir..!'' seru pemuda saudara seperguruannya mengenali ilmu pukulan lawan. meskipun belum pernah melihatnya langsung tapi Lima Elang Api sudah mendengar kalau pemuda pincang yang tidak di ketahui namanya dan entah berasal dari mana itu mempunyai beberapa jurus ilmu pukulan sakti yang didapatkan dari para dedengkot persilatan aliran hitam.
Dalam pertarungan yang berlangsung belum sampai dua puluhan jurus itu setidaknya si pincang sudah mengeluarkan tiga jurus ilmu kesaktiannya.
Jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah' dan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa.!' dua ilmu ganas ini hanya di miliki oleh si Pengemis Tapak Darah. juga jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' andalan si Nenek Tabib Bertongkat Maut. dua nama besar dari golongan hitam yang di takuti para pendekar dunia persilatan waktu itu.
Jingga Rani bukannya tidak tahu bahaya maut yang mengancamnya. tapi dia sudah terlanjur mengerahkan ilmu 'Cakar Asap Neraka'. jika dia menariknya kembali ilmu itu akan berbalik menghantam dirinya sendiri. tidak ada jalan lain kecuali saling labrak beradu pukulan dengan si pincang itu.
Tenaga pukulan sakti sudah berada di puncaknya, maka saat senjata cakar baja berapi itu menghantam, sinar merah disertai bara asap panas melabrak ke depan dengan ganasnya.!
Hanya berselisih sekejab mata saja dari serangan ilmu pukulan Cakar Asap Neraka, pemuda pincang juga hantamkan sepasang telapak tangannya. dua larik cahaya merah kehitaman berbentuk telapak tangan sedang meminta sedekah menderu. hawa panas berbau anyir darah menghampar di udara pagi.!'
'Wuuuss., Whuus., Bheeet.!'
'Bheeet., Blaaamm., Blaaar!'
Terdengar suara dentuman dahsyat. debu pasir membumbung tinggi menutupi pandangan, memedihkan mata. jeritan menyayat terdengar dari mulut Jingga Rani yang disertai terpentalnya tubuh gadis itu.
''Kakak Jingga Rani..!'' jerit Jingga Ratih panik. bersama saudara segurunya yang masih tersadar dia berusaha bangun untuk menolong sang kakak tapi keduanya kembali jatuh ke bawah.
Di jurusan lain si pincang berdiri terbatuk- batuk. dari ujung bibirnya menetes darah, bajunya koyak tercabik seakan baru di cakar binatang buas.
Saat melihat tubuh lawannya yang mencelat ke udara, pemuda inipun turut menyusul ke atas menyambar tubuh Jingga Rani yang meluncur deras ke bawah. meskipun hanya sesaat tapi berada dalam dekapan pemuda pincang membuatnya merasa malu. dia ingin berontak tapi tubuhnya terasa lemas. seumur hidup baru kali ini tubuhnya di peluk lawan jenis. ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya.
Pertarungan sengit di gurun pasir Bromo itu sudah berakhir, pemenangnya juga sudah ditentukan.
Seorang pemuda anggota Lima Elang Api sedang berusaha membantu dua orang kawannya yang terkapar pingsang. Jingga Rani juga sedang mendapatkan pertolongan dari adiknya. obat luka dalam pemberian si pincang memang luar biasa, hanya beberapa saat saja pimpinan Lima Elang Api ini.sudah mampu duduk bersila mengatur pernafasan. mukanya yang pucat tak berdarah berangsur pulih.
''Dari apa yang pernah kudengar, siapapun yang terkena ilmu Sepasang Telapak Mengemis Nyawa bakal mati mengering kehabisan darah., apakah kau sengaja mengurangi kekuatan ilmu pukulanmu hingga kakakku masih bisa selamat.?'' Jingga Ratih memberanikan diri bertanya.
''Kakakmu berilmu tinggi, dia tak bakalan gampang terbunuh.'' kata si pincang seakan enggan menjawab. matanya melirik dua anggota Lima Elang Api yang mulai sadarkan diri tapi belum mampu bangkit. dengan obat pemberiannya mereka akan lebih cepat pulih.
Mentari pagi sudah mulai naik, kabut dan embun dingin sudah tersapu bersih. si pincang mencabut tongkat kepala tengkorak yang tertancap di tanah lalu balikkan badannya hendak berlalu.
''Tunggu., katakan padaku kenapa kau menolong kami.?'' bertanya Jingga Rani sambil berusaha bangun.
Pemuda itu menghela nafas, ''selama ini orang yang mati ditanganku sudah cukup banyak. meskipun mereka semua memang pantas untuk di habisi, tapi aku tetap tidak pernah merasa suka melakukannya..''
''Kalian berlima bukanlah orang yang layak mati., lagipula dunia masih membutuhkan tenaga Lima Elang Api untuk memberantas kejahatan seperti yang kalian lakukan selama ini.!''
Lima Elang Api tertegun, jawaban si pincang seakan menyindir mereka. hanya karena ingin mempertahankan nama besar mereka berlima mulai menjadi sombong dan lupa dengan tujuan awal menjadi seorang pendekar. kekalahan dalam pertarungan ini terasa menyakitkan karena adalah yang pertama bagi Lima Elang Api. terlebih lagi justru sekarang lawanlah yang menolong luka dalam mereka berlima. perasaan malu, kecewa bercampur kekaguman terasa didalam hati.
''Kami Lima Elang Api tidak pernah sudi menerima pertolongan. selamanya tidak punya hutang budi pada orang lain. ada ubi ada talas, ada budi ada pula balasannya. katakan bagaimana kami membalasnya.?'' tanya Jingga Rani. sementara dalam hatinya dia masih merasa penasaran dengan pemuda berkaki pincang itu.
''Siapa sebenarnya pemuda ini, dari mana dia berasal, kudengar dia mewarisi bermacam ilmu kesaktian dari para pentolan golongan hitam yang punya banyak sekali musuh. kabarnya dia jahat dan kejam dalam bertindak hingga ditakuti sekaligus dimusuhi banyak pihak. tapi., yang kulihat sekarang sungguh berbeda. orangnya cukup baik, pendiam, juga tampan. kakinya cacat sejak lahir atau bagaimana., 'Aah., sesungguhnya dia orang macam apa.?'' batin Jingga Rani penuh pertanyaan.
Yang ditanya cuma tersenyum tanpa menjawab. sambil tetap tundukkan kepala pemuda ini mulai pergi meninggalkan tempat itu sambil menyiulkan lagu berirama menyedihkan hati. langkah kakinya tetap sama seperti saat dia datang. kaki kanan melangkah yang kiri terseok mengikuti. kalau di lihat seperti merayap dan lucu. hanya bedanya sekarang tidak satu orangpun yang berani menertawakannya.
''Apakah dia akan baik- baik saja diluar sana.?'' tanpa sadar Jingga Rani berucap. sang adik dan ketiga saudaranya agak tercengang saling pandang. ''Tidak biasanya kakakku menaruh perhatian pada seseorang. atau., jangan- jangan dia mulai Aah., hik hi.!'' batin Jingga Ratih tertawa.
''Kenapa kau tersenyum sendiri., ada yang lucu.?''
''Aah tidak ada, tapi kurasa ada yang mulai kena benih asmara..'' gumam Jingga Ratih tertawa sambil melirik wajah cantik sang kakak yang bersemu merah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
mulai baca lanjutannya dari sini 😊👍
2024-12-19
1
upil Dinosaurus
wow
2025-03-17
0
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
2025-02-09
0