Lima bocah gembel bergerak mengerubungi Ki Rangga. si pemimpin yang berada paling depan mendahului membungkuk hormat dikuti keempat kawannya.
''Ki Rangga., saya dan kawan- kawan menghaturkan terima kasih atas pertolongan kakek. kami cuma para pengemis kecil, mungkin seumur hidup tidak akan mampu membalas budi baik ini.!'' ucap si pemimpin. meskipun seorang gembel jalanan yang hidup tak teratur tapi sikap dan tutur katanya sangat tegas dan santun pertanda anak ini punya kecerdasan.
Hal ini juga tidak luput dari pandangan mata Ki Rangga, dalam hati dia mengakui kalau bocah ini lebih menarik dibanding keempat kawannya yang lain. hanya ada satu lagi yang harus dipastikan terlebih dulu.
''Kalau kau cuma jadi pengemis, selamanya hidupmu akan susah dan diinjak orang lain.!'' tutur Ki Rangga sambil melirik si bocah.
''Di dunia ini mana ada orang yang punya keinginan jadi gembel. kami seperti ini juga karena terpaksa.!'' seru bocah yang berkulit kehitaman. sepertinya dia agak kesal dengan ucapan Ki Rangga.
''Benar Kakek Rangga., kami semua anak yatim piatu. orang tua kami ada yang mati karena wabah penyakit, bencana alam, juga peperangan..'' timpal bocah gembel perempuan yang paling manis. kalau saja dia lebih bersih dan terurus pasti tidak berbeda dengan anak dari keluarga berada.
''Teman kami yang paling kecil dan sakit itu bahkan baru dua bulan lalu kehilangan ayahnya akibat dibunuh para perampok yang sedang mabuk di warung makan miliknya. sedang Ibunya sudah meninggal saat melahirkannya.,'' sambung bocah perempuan yang satunya. meskipun tidak semanis temannya tapi juga tidak jelek- jelek amat.
''Warung itu cukup ramai, tapi karena tidak ada yang mengurus menjadi terbengkalai. sekarang sudah di jual oleh kerabat jauhnya pada juragan Karto Jenar, orang paling kaya di kampung ini. dia hanya diberi setengah karung beras, ikan asin, sekantung ubi jalar dan beberapa keping uang tembaga saja. sekarang semuanya sudah habis tanpa sisa..'' si pemimpin para bocah gembel menyambung cerita temannya sambil menunjuk bocah pengemis yang badannya paling kecil dan terlihat lemah dan terbatuk- batuk.
Ki Rangga tertegun sesaat lamanya, kejadian yang menyedihkan seperti ini sudah sering didengarnya, selama ini dia paling cuma bisa bersimpati atau memberi sedikit bantuan. tapi mengetahui langsung dari mulut si bocah yang menjadi korban mungkin baru kali ini dialami olehnya. orang ini sampai tidak tahu harus berkata apa.
''Apakah tidak ada orang di kampung ini yang mau menolong kalian.?'' tanya Ki Rangga heran sambil memandang sekeliling. salah satu orang yang hadir disana dan usianya cukup tua memberanikan diri menjawab ''Ki Rangga., bukan kami tidak mau menolong, tapi lihatlah desa ini, meskipun nampak ramai tapi penduduknya miskin. hampir semua jenis usaha dan sawah ladang di sini dimiliki oleh Ki Karto Jenar, juragan kaya yang juga salah satu kerabat dekat orang keraton..''
''Itu benar., lebih dari separuh penduduk di kampung ini bekerja padanya, meskipun dengan upah murah tapi kami masih dapat hidup. kalau kebetulan ada kelebihan makanan kami sisihkan untuk anak- anak ini. tapi sayangnya beberapa hari belakangan tidak ada yang dapat kami berikan pada mereka. meskipun kasihan tapi kami lebih dulu mementingkan keluarga sendiri..'' sahut lelaki di sebelahnya yang berumur sedikit lebih muda dan membawa cangkul. mungkin dia hendak pergi ke sawah.
Ki Rangga Wesi Bledek termenung. satu lagi masalah yang sering ditemui dalam kehidupan tapi hampir selalu diabaikan orang, kemiskinan dan ketidakadilan. siapa di dunia ini yang tidak pernah melihat keadaan seperti ini, sedikit orang yang kaya raya dan berkuasa diatas banyak manusia melarat. memeras tenaga si miskin dan apapun demi kepuasannya.
''Sebenarnya masih ada beberapa anak yang senasib dengan bocah- bocah ini, beberapa kali kami para prajurit di perintahkan atasan untuk mengusir mereka karena dianggap mengotori kampung ini yang merupakan jalan utama menuju kota raja., tapi kami tetap saja tidak tega.,!''
''Yah., akhirnya kami cuma menyuruh mereka cepat menyingkir setelah mendapat makanan biar kami juga tidak kena damprat atasan. meskipun kami juga tahu kalau dia sebenarnya juga tidak suka melakukan pengusiran itu karena hanya menerima perintah orang pusat saja.!'' ucap beberapa prajurit jaga. mereka dan kepala pasukannya adalah para prajurit tangguh, jujur dan setia. tapi dalam kehidupan kadang semua itu tidak ada gunanya.
Para bawahan yang masih punya hati nurani, jujur, berani dan bertanggung jawab pada tugas seringkali malah tersingkir dan jadi batu pijakan kaum penjilat untuk cepat naik ke atas. sejak jaman dulu masalah seperti ini memang kerab terjadi dan akan terus saja berulang.
''Baiklah., aku akan berikan sedikit pemberian pada kalian para penduduk desa agar dapat merawat empat anak ini. tiga bulan sekali aku akan kembali memberikan bantuan lagi untuk kalian. sedangkan bocah yang satu itu biar ikut denganku.!'' kata Ki Rangga sambil menunjuk si pemimpin para gembel cilik. para penduduk itu hanya diam tanpa menjawab. sementara keempat gembel cilik sesaat saling pandang dengan perasaan sedih. tapi kemudian mereka merubung si pemimpin gembel yang terlihat bingung.
''Kesempatan ini tidak boleh kau sia- siakan, meskipun sedih berpisah tapi kami akan mendukungmu.!'' ucap si hitam tegas.
''Kau harus patuh dan giat belajar pada Kakek Rangga agar kelak bisa menjadi pendekar hebat pembela kebenaran sepertinya..!'' tutur si muka manis, sementara temannya mulai terisak tapi turut juga memberi dukungan. cuma gembel yang paling kecil saja masih diam terbatuk- batuk.
''Kalian bicara apa., mana mungkin aku pergi meninggalkan kalian juga teman- teman lainnya. kita senasib susah senang harus selalu bersama.!'' sentak si pemimpin gusar. meskipun matanya mulai sembab dan berair.
Semua orang yang melihat kejadian ini seakan ikut terharu melihat kesetia kawanan para pengemis kecil ini.
Tiba- tiba saja pengemis kecil yang sedari tadi diam maju kedepan, karena kalah tinggi dia harus mendongak. dengan tangannya yang kurus dan kotor dia menampar pipi sang pemimpin pulang balik. karuan semua orang kaget melihatnya.
'Plaak. plak.!'
''Hei ceking., apa yang kau lakukan pada pemimpin kita.?''
''Kenapa kau menamparnya, apa salah dia padamu.!''
''Kau ini gila yah., atau baru kesambet setan.?'' bentak ketiga kawannya marah. si hitam sampai mendorong si kecil ceking itu hingga jatuh terjengkang. sementara yang di tampar malah hanya diam saja meskipun dalam hati dia heran sekaligus kaget dengan tingkah rekannya yang selalu pendiam ini.
''Sejak kapan dia menjadi pemimpin kita., hah.?'' Aku tidak sudi punya pemimpin yang cengeng. apa dipikirnya kita tidak dapat hidup tanpanya..!''
''Walaupun aku baru kenal dengan kakek tua ini, tapi aku yakin banyak orang yang ingin menjadi muridnya tapi beliau menolak. dan sekarang kakek Rangga sudah bersedia mengajaknya tapi dia malah menolaknya.!''
''Tapi aku menolak karena memikirkan kalian dan teman- teman pengemis lainnya. aku tidak sanggup berpisah dengan kalian yang sudah seperti saudaraku sendiri.!'' bantah si pemimpin mulai marah. si ceking cuma menyeringai sinis mendengarnya.
''Omong kosong.!' kau bilang memikirkan kami, tapi apa kau pernah berpikir dengan perasaan kami sendiri jika harus menjadi bebanmu untuk bisa melangkah maju.,''
''Orang tua ini bilang kalau hanya jadi gembel maka selamanya akan di injak kaki orang lain. tapi dengan menjadi murid Ki Rangga paling tidak salah satu dari bocah pengemis di sini bisa menjadi orang hebat dan berguna. pergilah dengan orang itu dan buat kami semuanya merasa bangga.!'' ujar si kecil ceking itu dengan tatapan tajam.
Hampir semua orang di sana tahu kalau anak ini sangat pendiam dan kadang rada goblok. tapi sekarang ucapannya terasa sangat beralasan seakan berasal dari mulut orang lain.
''Hak., haa. haa., Bagus., sungguh bagus. yang satunya enggan berpisah, yang lain malah menyuruh pergi.!''
''Hhm., saudara- saudara sekalian yang ada di sini, juga para prajurit yang perkasa. hari ini kita semua telah belajar dari kelima anak kecil ini arti dari sebuah kesetikawanan. dengan disaksikan kalian semua aku Ki Rangga Wesi Bledek secara resmi mengangkat para pengemis kecil ini untuk menjadi murid- murid perguruan silat yang akan kudirikan di gunung Bisma.!''
''Jika ada yang ingin beguru silahkan datang ketempatku. asalkan punya kemauan keras dan hati nurani luhur. mungkin saja aku bisa menerimanya juga.!'' ujar Ki Rangga alias si Tangan Guntur Besi sembari tertawa. semua orang ikut merasa senang hingga bertepuk tangan. para prajurit jaga turut merasa lega, paling tidak pekerjaan mereka jadi lebih ringan dengan perginya para pengemis kecil itu.
Serentak kelima anak ini berlutut sungkem di telapak kaki Ki Rangga Wesi Bledek dan menyebutnya guru. dari cerita si pemimpin Ki Rangga tahu kalau masih ada beberapa bocah pengemis lagi yang ada di desa itu. mereka memohon agar semua temannya juga di perbolehkan ikut belajar ke gunung Bisma. orang tua itu hanya dapat pasrah mengangguk. sudah terlanjur basah, yah mandi saja sekalian., mungkin itu yang ada di pikirannya.
Ki Rangga sempat membagikan sekantung penuh uang kepada para penduduk, juga prajurit yang berjaga disana untuk membereskan mayat dan barang- barang kawalan Ki Bagaspati. dia memakai salah satu kereta kuda milik perkumpulan pengawalan barang Naga Awan untuk digunakan mengangkut para gembel itu. keseluruhan orang tua ini membawa sebelas bocah pengemis, empat perempuan dan tujuh laki- laki ke gunung Bisma.!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Cakrawala
tepuk tngn buat para bocil.
2025-01-16
0
Abu Yub
lanjut thor
2025-03-22
0
Kalimat Fiktif
Next Next Next!
2024-11-22
0