Pranacitra mengejang bergulingan di atas tanah, sekujur tubuhnya basah oleh keringat yang bercampur dengan darahnya sendiri. dari mulutnya keluar suara erangan yang lebih mirip lenguhan binatang yang sedang digorok lehernya. perasaan yang dialaminya tidak bisa dikatakan lagi., sakit yang teramat sangat.!
''Kalian berdua cepat geledah semua tempat di sini. bagaimanapun juga kita harus dapatkan kedua benda itu..!'' ujar Pengemis Arit Rombeng kepada kedua kawannya yang langsung berkelebat cepat memasuki empat buah bangunan yang berada di perguruan silat Gunung Bisma itu.
Sebentar saja terdengar suara gaduh dan bermacam barang terbongkar. beberapa lama kemudian Setan Hijau Rombeng sudah datang kembali disusul Setan Bungkuk Rombeng. raut muka keduanya terlihat masam dan penasaran.
Melihat kedua rekannya kembali dengan tangan kosong, Setan Arit Rombeng turut merasa geram dan heran. ''Apa kalian yakin sudah memeriksa semua tempat..?''
''Aku bahkan sampai mencari ke dapur dan tempat mandi. tapi barang yang kita cari tidak ada disana..'' gerutu Setan Bungkuk Rombeng kesal.
''Dari empat bangunan yang ada, dua digunakan untuk tempat tidur para murid. letaknya di ujung kiri dan kanan. satu lagi semacam tempat pertemuan. yang terakhir dipakai sendiri oleh Ki Rangga. hanya saja tidak ada satupun benda berharga yang berada disana. cuma ada balai bambu dan meja kursi kayu saja..'' tambah Setan Hijau Rombeng.
Setan Arit Rombeng mendengus. matanya melihat Pranacitra yang terus menggerung kesakitan tubuh pemuda kurus ini benar- benar kepayahan, nyawanya seakan sudah ada di penghujung batasnya. tapi anehnya biarpun merasakan siksaan berat, anak ini tidak juga mau merengek minta ampun.
Dengan gerakkan kelima jari tangannya untuk menotok dua buah jalan darah di dada Pranacitra, Setan Arit Rombeng bermaksud sejenak hentikan siksaan yang dialami si pemuda kurus itu. tangan kirinya bergerak mencengkeram leher Prancitra.
''Bocah keparat., cepat bilang pada kami dimana Ki Rangga biasa berdiam dan menyimpan semua barang- barangnya..!' damprat Setan Arit Rombeng. ''Katakan sekarang juga atau kami tambah lagi siksaanmu..!'' sambung Setan Hijau Rombeng geram. sementara itu rekannya si Setan Bungkuk Rombeng beberapa kali melirik tubuh Ajeng Larasati yang pingsan tertelungkup dengan pandangan mata penuh nafsu jahat.
Bukannya menurut, malah dengan sisa tenaganya si pemuda meludahi wajah si Setan Arit Rombeng yang memang seburuk muka siluman.
Kali ini Setan Arit Rombeng cepat bergerak menghindar. 'Hek., he., kau akan rasakan lagi siksaanku karena telah berani bermain- main melawanku..'' ancamnya penuh kemarahan. sekali lagi jarinya bergerak menotok dua buah jalan darah di dada Pranacitra, maka untuk kedua kalinya pemuda kurus itu harus mengalami siksaan pembuangan darah yang bahkan terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Pranacitra berkelojotan di tanah, tubuhnya terlalu lemah untuk bergulingan. kini dia cuma bisa berharap agar malaikat maut secepatnya datang mengambil nyawanya, agar dia tidak terlalu lama merasakan siksaan ini. pemuda pucat dan ringkih itu khawatir jika tidak sanggup bertahan lalu mengatakan tempat penyimpaan rahasia Ki Rangga.
Tiba- tiba saja dia teringat akan sesuatu, suatu pesan sang guru yang bahkan tidak seorang muridpun mengetahuinya kecuali dia sendiri.
''Kau ingat bocah ceking., bila dalam keadaan terdesak dan tidak ada lagi jalan keluar, kau boleh berikan peti wasiatku yang terpendam di dalam tanah. ingat hanya peti yang ada di atas..!'' itulah pesan mendiang Ki Rangga Wesi Bledek yang pernah di wasiatkan kepadanya kira- kira empat tahun lalu.
Saat itu di tengah malam dingin dan hujan gerimis menyiram bumi, Ki Rangga diam- diam mengajaknya untuk menguburkan sebuah peti kayu. letaknya tidak jauh dari depan rumah sang guru. sambil berpesan agar Pranacitra menjaga rahasia ini dari siapapun juga.
Sepasang mata Pranacitra sekilas berkilatan sinar merah ''Ingat bocah ceking., hanya peti yang di atas..!''
Dengan mulut menggerung lemah, tangan kurusnya yang bermandi keringat darah terlihat bergerak lemah menggapai- gapai. ''Hek., hee., Bocah ceking sialan ini akhirnya menyerah juga..'' batin Tiga Setan Berbaju Rombeng tertawa licik dalam hati.
''Bagus bocah., rupanya kau tidak sebodoh yang kami kira., setiap orang memang harus bisa melihat keadaan yang terjadi di depan mata agar bisa selamat dan bertahan hidup. Hak., ha., ha..!'' ujar Setan Bungkuk Robeng.
''Sekarang katakan dimana gurumu menyimpan semua miliknya. terutama kitab pukulan 'Tangan Guntur Wesi Kuning' dan sebilah senjata pusaka yang bernama pedang 'Mentari Biru..!'' desak Setan Arit Rombeng sambil kembali menotok jalan darah di dada Pranacitra sekaligus menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengurangi rasa kesakitan si pemuda.
''Aaahk., baa., baiklah., akan aku kat., katakan., tap., tapi kalian harus., be., baskan dulu kedua sau., saudaraku..!'' ucap Pranacitra dengan susah payah.
''Huhm., sudah bagus saat ini kami tidak membunuhmu, masih berani main tawar menawar., soal saudaramu yang perempuan aku bisa mengurusnya sendiri., sekarang katakan saja dimana gurumu menyimpan semuanya..!'' maki Setan Bungkuk Rombeng.
Mata merah berdarah Pranacitra sekilas membersit sinar tajam. ''Penawaranku cuma sekali., kal., kalau kalian tidak mau ter., terima lebih baik kalian bun., bunuh saja kami bertiga sekarang. kujamin kalian tid., tidak bakal pernah mendapatkannya..!'' tegas si pemuda sambil pejamkan matanya pasrah.
Setan Arit Rombeng mendengus gusar, matanya melirik tajam rekannya yang bungkuk. orang tua ini sesaat merasa bergidik dan tidak enak hati.
''Jangan perdulikan orang tua bungkuk ini., kami berjanji akan melepaskan mereka berdua..'' si Setan Hijau Rombeng turut membujuk. rekannya Setan Arit Rombeng mengangguk setuju.
''Prana., Pranacitra, apa yang kau lakukan., jang., jangan mengatakan apapun pada mer., mereka..'' geram Arga Pangestu yang sadar dari pingsannya. ''Kau jangan per., pernah meng., mengkhianati guru kita..!'' rintih Ajeng Larasati pelan, rupanya dia juga sudah tersadar dan mendengar semuanya.
''Lebih baik kita semua mati dari pada berkhianat., kau., kau dengar Pranacitra..!''
Arga masih hendak berbicara tapi sebuah totokan keras dari Setan Bungkuk Rombeng membuatnya kembali hilang kesadaran. berikutnya Ajeng juga menyusul roboh.
''Jangan khawatir kedua kawanmu cuma pingsan. sekarang katakan dimana barang itu disimpan..!'' desak Setan Arit Rombeng sambil jejalkan sebutir obat berwarna kuning ke mulut Pranacitra. pemuda ini langsung merasakan segulung hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya. lalu rasa sakit akibat siksaan sudah agak berkurang. hanya pernafasannya sedikit berat.
''Aku sudah berikan obat penawar racun padamu. soal racun cakar yang menyerang kedua kawanmu, nanti Setan Hijau Rombeng pasti akan memberikan penawarnya..''
Pranacitra sesaat seperti berpikir keras sebelum akhirnya mengangguk dan menunjuk ke satu arah. ''Lima langkah dari depan pintu rumah guru., galilah tanah di sana sampai sedalam satu lengan. barang yang kalian cari ada di dalam peti kayu yang terpedam di sana..!'' bisik Pranacitra lirih.
Tiga Setan Berbaju Rombeng saling pandang lalu menyeringai licik. dengan memakai tongkat besinya Setan Bungkuk Rombeng menggali tanah yang di tunjukkan Pranacitra. orang ini langsung terkekeh saat merasakan tongkatnya membentur sesuatu.
Dengan bantuan Setan Hijau Rombeng, mereka mengeluarkan sebuah peti kayu jati sepanjang lima jengkal.!
''Apakah peti itu yang kau maksudkan.?'' tanya Setan Arit Rombeng. dia menyeringai saat Pranacitra mengangguk membenarkan. orang bermuka menakutkan ini memberikan isyarat pada dua orang rekannya agar membuka peti kayu itu.
Dengan cakarnya Setan Hijau Rombeng mencungkil tutup peti kayu jati berlepotan tanah lumpur itu. saat terbuka melesat tiga buah pisau terbang dari dalam peti.
''Keparat., Setan alas..!'' rutuk Setan Hijau Rombeng dan Setan Bungkuk Rombeng. hampir bersamaan keduanya mencelat menghindar. untung mereka waspada hingga masih bisa selamat dari maut.
Peti kayu jati itupun terjatuh, papan tutupnya terbuka. kini terlihatlah isinya. ''Kitab ilmu pukulan Tangan Guntur Wesi Kuning..!'' seru Setan Bungkuk Rombeng saat melihat sejilid kitab ilmu pukulan dalam peti itu. cepat dia mengambil dan sekilas memeriksa isi kitab itu.
''Hek., he., he., Pedang pusaka Mentari Biru.!'' ujar Setan Hijau Rombeng sambil meraih sebilah pedang yang bercahaya redup kebiruan. ''Bocah ceking ini tidak berdusta..'' gumam Setan Arit Rombeng lalu terkekeh.
''Aku sudah mengatakan semuanya, kalian juga telah mendapatkan yang kalian cari., sekarang berikan kami penawar racun yang sudah kalian janjikan..'' kata Pranacitra rada tegang. Setan Bungkuk Rombeng tertawa bergelak lalu menjejalkan dua butir obat berwarna kuning ke mulut si pemuda. kembali ada hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya. meskipun mulai agak kedinginan dan sesak nafas tapi rasa sakit ditubuhnya jauh berkurang.
Setan Hijau Rombeng masukkan sebutir obat berwarna putih ke mulut Arga Pangestu dan Ajeng Larasati yang masih tergeletak pingsan. lalu tanpa berkata apapun ketiganya pergi tinggalkan tempat itu.
Di luar perguruan Setan Bungkuk Rombeng bertanya pada kedua rekannya. ''Kenapa kalian memberi obat penawar racun pada ketiga bocah itu.?''
''Penawar racun apa., itu cuma obat sakit perut biasa..!'' jawab Setan Hijau Rombeng. saat dia melirik rekannya Setan Arit Rombeng cuma menjawab ''Racun Pembeku Jantung..!''
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Cakrawala
merinding
2025-01-31
0
👁Zigur👁
namanya penjahat pasto berbohong..huh
2024-07-29
0
Kang_Wah_Yoe
🐣🐣🐣🐣
2023-04-15
2