Hari sudah beranjak menuju senja, udara di lereng gunung Bhisma terasa lebih dingin. apalagi tadi baru saja turun hujan meskipun tidak lebat. angin yang berhembus kencang menerpa pepohonan yang tumbuh di tepi pelataran perguruan silat Gunung Bhisma hingga merontokkan dedaunan tua yang basah. sekali lagi angin menghembus, kali ini terasa lebih kencang dan dingin menerpa sesosok tubuh kurus yang berdiri mematung di depan tiga buah makam.
Sosok pemuda kurus bermuka pucat seperti orang penyakitan itu umurnya mungkin enam belas atau tujuh belas tahunan. kedua tangan dan kakinya dikotori tanah berlumpur. pakaiannya yang basah kuyup oleh siraman air hujan tidak mampu menghilangkan bau anyir darah yang melekat di kulit tubuhnya. entah sudah berapa lama dia berdiam diri di depan tiga buah makam yang sepertinya baru saja di buat.
Pada papan nisan makam yang ada di sebelah tengah tertulis 'Ki Rangga Wesi Bledek., si Tangan Guntur Besi.' makam yang sebelah kiri hanya tertulis 'Makam murid perempuan perguruan Gunung Bhisma. sedangkan nisan makam terakhir yang berada di kanan terukir tulisan 'Makam murid laki- laki perguruan Gunung Bhisma.!'
Pemuda kurus pucat yang bukan lain Pranacitra adanya itu menghela nafas berat seakan hendak mengurangi sesaknya beban yang menggumpal di hatinya. kepalanya menengadah ke atas wajahnya basah oleh air mata dan sisa rintik hujan gerimis yang turun dari langit.
''Kenapa mesti mereka yang harus mati dan bukan diriku saja.?'' jerit Pranacitra penuh kesedihan. pemuda ini lalu jatuh berlutut di depan ke tiga buah makam guru dan semua saudaranya. hujan gerimis terus tercurah dari atas langit yang bermendung tebal. sesekali suara gemuruh guntur terdengar menyeramkan. terbayang kembali olehnya suasana canda tawa semua teman- teman seperguruannya juga sikap sang guru yang selalu tegas berwibawa.
Kini semuanya telah hilang meninggalkan rada duka dendam dan sepi yang mendalam. tiba- tiba saja hatinya merasa takut. meski hanya seorang pemuda kurus yang lemah tapi dia tidak pernah takut pada kematian, karena yang dia takuti adalah perasaan kesepian.!
Pemuda ini terbatuk- batuk dengan kerasnya. kesakitan di tubuhnya akibat keracunan tidak separah rasa sakit yang yang menghantam jiwanya. semakin dia terbatuk semakin banyak darah yang menetes keluar dari bibirnya. tapi dia tidak perduli, mungkin dengan begini dia bisa cepat mati menyusul semua saudaranya. tapi yang aneh dalam kehidupan kadang ada orang semakin ingin cepat mati, tapi justru malah makin panjang umurnya.
Darah yang keluar terlihat menggumpal dan terasa dingin. dua orang tua yang mengaku kenalan baik Ki Rangga Wesi Bledek bernama Nyi Lintang Wungu dan Malaikat Serba Hitam itu telah menjejalinya butiran obat yang katanya untuk menahan racun pembeku darah dan jantung.
''Hek., he., obat penahan racun pembeku darah dan jantung.?'' Pranacitra tertawa pahit. ''Apa gunanya semua itu, karena biar kalian mencoba menyembunyikannya tapi aku tahu racun ini tidak dapat dimusnahkan.''
''Kalau cuma untuk hidup dalam kesepian menunggu ajal, lalu kenapa tidak kalian biarkan saja diriku mati.?'' geram si pemuda terengah- engah. kedua tangan kurusnya mengepal, kukunya sampai menembus kulit. darah kebencian yang dingin menetes.
''Galilah lubang itu lebih selengan tangan lebih dalam, kedua barang pusaka yang kalian berdua cari ada di sana, setelah itu kuharap nenek Lintang Wungu dan kakek Malaikat Serba Hitam dapat membawa serta kedua saudaraku Arga Pangestu serta Ajeng Larasati bersama kalian..'' ucap Pranacitra lemah. ''Kuharap mereka bisa mendapatkan bekal yang baik dari kalian berdua..''
''Tapi tadi kau bilang Tiga Setan Berbaju Rombeng dari partai Gapura Iblis sudah mengambil semuanya.!'' potong Nyi Lintang Wungu. ''Lalu apa gunanya menggali lagi..?'' tanya Malaikat Serba Hitam. tapi sesaat kemudian keduanya saling pandang, orang tua itu bergerak lebih dulu lalu disusul Nyi Lintang Wungu, dengan gunakan sebatang kayu dan kesaktiannya bukan hal yang sulit bagi kedua tokoh silat itu untuk menggali lubang tanah lebih dalam. mereka serentak berhenti saat merasakan kayunya membentur sesuatu yang keras. sebuah peti kayu ada di dalam sana.!'
Meskipun tidak bisa melihat apa isinya, tapi Pranacitra yakin dalam peti kayu itulah tersimpan kitab Ilmu pukulan Tangan Guntur Wesi Kuning dan pedang Mentari Biru yang sedang dicari oleh Nyi Lintang Wungu alias Dewi Pedang Bintang Kali Serayu serta Malaikat Serba Hitam .
Dengan pandangan matanya yang semakin meredup dia masih sempat melihat kedua orang itu berkelebat mendatanginya. wajah keduanya terlihat gembira sekaligus cemas. dia merasakan mulutnya dijejali beberapa butir obat berwarna putih oleh Nyi Lintang Wungu yang rasanya sangat asam dan pahit. selain itu telinganya juga sempat mendengar ucapan terimakasih dan harapan agar dia terus dapat bertahan hidup.
Hanya peti yang di atas., itulah pesan rahasia yang pernah Ki Rangga wasiatkan padanya. orang tua itu sengaja menaruh dua buah peti dalam satu lubang. peti kayu yang ada diatas adalah peti berisi barang pusaka palsu, sedangkan yang asli tertimbun di bawahnya.!
Sebelum pandangan matanya menjadi gelap dan tubuhnya hilang kesadaran, si pemuda merasakan gelombang arus tenaga panas menjalari sekujur tubuh, saat dua telapak tangan Malaikat Serba Hitam menghentak punggungnya.
Saat dia tersadar waktu sudah mendekati awal senja. di pelataran perguruan sudah bertambah tiga buah kuburan yang basah oleh curahan air hujan. ditangannya juga tergenggam selembar kain ungu yang berisi beberapa pesan.
''Kami berdua tidak dapat berbuat banyak padamu, karena racun pembeku jantung yang sangat ganas itu sudah terlanjur merasuki tubuhmu. apalagi tubuhmu memang lemah dan kau juga sudah kehilangan banyak darah..''
''Yang dapat kami lakukan cuma memberimu obat agar bisa menahan racun yang bersifat sangat dingin itu. kami juga memberikan tambahan tenaga dalam panas agar racun tidak sampai menyerang jantungmu..''
''Sesuai janji kami berdua, Nyi Lintang Wungu dan Malaikat Serba Hitam telah membawa pergi kedua kawanmu agar dapat kami selamatkan. perlu kau ketahui obat dan tenaga sakti yang kami berikan padamu hanya dapat bertahan paling lama tiga bulan saja. kami mohon maaf atas segala ketidak mampuan kami berdua..''
''Dalam tiga bulan itu carilah orang pandai yang sanggup memusnahkan racun pembeku darah dan jantung yang masih mengendap di dalam tubuhmu. meskipun dunia ini begitu luas dan orang hebat bertebaran di segala penjuru, tapi terus terang saja kami sendiri juga tidak tahu siapa tabib yang bisa mengobatimu..''
''Sedikit petunjuk untukmu, dalam surat ini kami berikan juga beberapa nama orang persilatan yang mempunyai kemampuan ilmu pengobatan yang tinggi. mungkin diantara para tabib sakti ini ada yang dapat menolongmu. hanya semuanya kembali tergantung dengan peruntunganmu sendiri..''
Pranacitra melihat beberapa nama orang ditulis di bawahnya. meskipun tidak disebut siapa yang memberikan pesan di dalam lembaran kain ungu itu, tapi dilihat dari gaya tulisannya yang indah dan halus juga warna kainnya. dia bisa menduga kalau itu tulisan pesan dari Nyi Lintang Wungu.
Pemuda itu masih berlutut di depan makam, kepalanya yang sedari tadi menunduk tiba- tiba terangkat. sepasang matanya berkilat tajam, tubuh kurusnya mengejang, kedua kepalan tangannya yang kurus terkepal hingga kembali menembus dan melukai kulitnya. wajah pucat itu memancarkan hawa menggidikkan hati. ''Biarpun diriku harus berubah menjadi siluman atau bersekutu dengan setan, asalkan bisa membalaskan kematian guru dan semua saudaraku, pasti akan aku lakukan..!'' gertak si pemuda penuh dendam.
Pranacitra bangkit berdiri setelah sempat sekali bersujud di depan makam. dengan langkah pelan dia menghampiri lubang bekas galian tanah dimana sebelumnya terpendam dua buah peti kayu berisi barang pusaka. peti pertama yang di rebut oleh Tiga Setan Berbaju Rombeng isinya pusaka palsu. sedang yang asli berada di peti kedua yang terpendam selengan lebih dalam.
Peti kedua itu telah di bawa oleh Nyi Lintang Wungu dan Malaikat Serba Hitam. isinya sebuah kitab ilmu pukulan dan sebilah pedang pusaka sakti. mereka berdua juga membawa Arga Pangestu dan Ajeng Larasati untuk di sembuhkan dari racun di tubuhnya.
Meskipun tidak secara langsung, tapi baik Tiga Setan Berbaju Rombeng, Nyi Lintang Wungu, maupun Malaikat.Serba Hitam sempat menanyakan apakah Ki Rangga memiliki benda pusaka yang lainnya. atau pernahkah gurunya memberikan pesan rahasia lain padanya.?
Tentu saja jawabannya tidak. karena gurunya hanya mengatakan dua buah peti saja yang boleh diambil. meskipun begitu Pranacitra tahu betul jika dia menggali lubang itu dua jengkal saja lebih dalam, dia akan dapat menemukan peti kayu yang ke tiga. maka dengan sepasang tangannya yang kurus berlepotan lumpur tanah bercampur darah dia mulai mengeruknya.
Hanya peti yang di atas., maksud sebenarnya dari kalimat ini adalah hanya peti paling bawah yang tidak boleh diambil siapapun. Ki Rangga bilang peti kayu yang paling bawah adalah sebuah benda yang dapat membawa malapetaka, kesialan dan kejahatan bagi umat manusia. sempat dia memberanikan diri bertanya pada sang guru ''Kalau benda itu hanya menimbulkan keburukan dan bencana, kenapa tidak guru musnahkan saja.?'' tapi Ki Rangga hanya diam seakan enggan menjawab.
Peti itu kayu itu cukup kecil dan tidak ada ukiran apapun di atasnya. saat dibuka bagian dalamnya tersimpan selembar gulungan kulit kambing yang terlihat sudah sangat tua dan usang. Pranacitra lalu membuka gulungan kulit itu, di sana terlukis gambar gunung, bukit, danau, hutan dan sungai juga jalur- jalur aneh berwarna hitam merah. mungkin itu gambar jalan atau semacamnya. rupanya benda itu adalah sebuah peta. dibagian atasnya tergambar sebuah lukisan tengkorak dan sebaris tulisan aneh 'Lembah Seribu Racun.!'
Pranacitra tidak tahu peta itu menunjukkan tempat apa., Lembah Seribu Racun.? si pemuda sedikitpun tidak pernah mendengar tentang semua itu. meskipun demikian dia yakin dengan bekal peta ini dia mampu berbuat sesuatu yang menggemparkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Abu Yub
aku datang lagi thor/Beer/
2025-03-30
0
Luthfi Afifzaidan
up
2025-02-10
0
Cakrawala
ya itu memanglah benar
2025-02-09
0